Pengaruh Televisi Bagi Masyarakat Indonesia
January 14th, 2009 | EntertainmentBenjamin Olken, ekonom dari MIT, beberapa tahun lalu pernah meneliti pengaruh televisi di kalangan rumah tangga Indonesia. Kita tahu bahwa pulau Jawa adalah daratan yang terdiri dari sejumlah gunung dan dataran tinggi. Akibatnya ada wilayah yang mendapatkan sinyal televisi bagus namun ada juga yang terperangkap bayangan dataran tinggi sehingga penerimaan sinyalnya terbatas.
Olken mensurvei lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta membandingkan antara desa yang bisa menjangkau sedikit dengan desa yang bisa menerima banyak saluran televisi. Hasilnya cukup menarik. Setiap bertambah satu channel televisi yang bisa dilihat, maka rata-rata mereka menonton televisi lebih tujuh menit lebih lama. Ketika survei ini dilakukan, hanya ada 7 stasiun televisi nasional. Kalau survei tersebut dilakukan saat ini, bisa jadi waktunya akan bertambah besar.
Temuan lain yang tak kalah menarik adalah di pedesaan dengan penerimaan sinyal televisi yang lebih bagus menunjukkan adanya tingkat partisipasi kegiatan sosial yang lebih rendah. Artinya, orang lebih suka menonton televisi daripada terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Lebih dari itu, di pedesaan tersebut juga terlihat adanya tingkat ketidakpercayaan yang lebih tinggi di antara penduduk yang berakibat pada lesunya kerjasama perekonomian dan perdagangan.
Olken adalah orang yang sangat jarang menonton televisi namun merasa heran ketika melihat kecanduan orang Indonesia terhadap kotak hitam tersebut. Katanya, “I’ve been in many, many households in Indonesia that have a dirt floor, but they also have a television.” Ironis memang.
Senada dengan Olken, saya berpendapat bahwa maju tidaknya suatu bangsa bisa dilihat salah satunya dari tayangan televisinya. Alasannya:
- Consumerism and materialism is killing nature. Dua hal tersebut merupakan jargon yang senantiasa didendangkan televisi dalam setiap detik tayangannya. Padahal, mengkonsumsi dan membeli lebih sedikit barang-barang (terutama yang sifatnya non-essential) tidak hanya menghemat anggaran tetapi juga meminimumkan dampak negatif terhadap lingkungan.
- Living with social pressure. Televisi mengajarkan kita untuk living the way society wants it, not the way we want (need) it. Identitas diri kita bukan lagi apa yang ada dalam hati dan pikiran kita, tetapi menjadi apa yang didiktekan oleh televisi. TV menyiarkan A, besoknya kita ikut-ikutan A. TV mendengungkan B, kita merasa malu kalau tidak ikut B.
Memang bisa dimaklumi kalau uang lagi-lagi jadi alasan. Rumah produksi ingin membuat acara berbiaya rendah tapi laku keras. Orientasi komersial jadi prioritas ketimbang kualitas acara. Karenanya wajar jika sinetron dan (un)reality show masih menjadi primadona. Sekali sinetron digemari, sekuelnya segera dibuat—-karena risikonya lebih kecil daripada harus membuat judul baru. Ketika Playboy Kabel dianggap sukses, maka Katakan Cinta, Truk Cinta, Cinta Monyet, Mak Comblang, Cinta Lokasi, Backstreet, Pacar Pertama, Harap-harap Cemas, Termehek-mehek, dan sebagainya langsung mencuat.
Jadilah kemudian lingkaran setan yang susah diputus. Produser membuat acara berdasar rating. Rating dibuat karena basis jumlah penonton. Rating acara-acara semacam itu biasanya cukup tinggi yang berarti bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang “bandel” menonton acara semacam itu. Kalau acara-acara semacam itu masih menjamur, artinya harus diakui bahwa selera mayoritas masyarakat kita masih begitu rendah.
Sebaliknya, mungkin ada juga orang-orang dunia hiburan yang ingin membuat tayangan berkualitas namun lagi-lagi terbentur rating. Serial Arisan atau Jomblo mungkin cukup seru dan bermutu, namun harus bubar jalan. Barangkali ada yang pernah berniat membuat acara seperti Animal Planet atau National Geography namun terbentur biaya tinggi dan rating yang rendah. Akibatnya iklan yang masuk minim dan pengeluaran pastinya lebih besar daripada pemasukan.
Belum lagi tayangan kuis tengah malam yang nakal menggoda atau iklan SMS interaktif yang menawarkan berbagai “keuntungan” bagi Anda. Dengan kualitas tayangan yang babak belur, mereka bisa jor-joran beriklan. Hal ini menunjukkan bahwa perolehan mereka cukup lumayan. Nyatanya mereka makin menjamur dan berkembang dengan variasi yang begitu banyak. Mau tahu ramalan masa depan Anda? Ketik REG spasi omong kosong, kirim ke XXXX. :)
Tahun lalu, kabarnya Indosiar merugi cukup besar hingga Rp 24 miliar gara-gara kurang mampu mengikuti “tren.” Sebaliknya, RCTI (dan MNC secara umum) menangguk untuk yang sangat menggiurkan karena cepat menangkap peluang di pasar.
Ini memang sudah menjadi pembodohan terselubung yang dilakukan secara berjamaah. Kalau sudah begini, solusinya cuma dua. Pertama, sebisa mungkin minimalkan waktu Anda dan keluarga untuk menonton televisi dan batasi hanya untuk program-program tertentu saja. Kedua, pemerintah mustinya lebih keras membatasi tayangan televisi. Misal, 40% tayangan televisi harus bersifat edukatif dan sinetron dan infotainment masing-masing hanya boleh 20% dan 5% saja. Kalau perlu, Kelompencapir di era Soeharto dibuat episode baru karena toh sebagian besar penduduk kita adalah petani.
Orang sering mengeluh bahwa jaman sekarang kepentingan-kepentingan asing begitu agresif menjajah bangsa ini. Salah besar. Menurut saya justru penjajahan dilakukan oleh orang kita sendiri yang sama sekali tak peduli dengan masa depan bangsanya.
Bagaimana menurut Anda?
Comments
January 14th, 2009 at 9:15 am
1000% i agree with you
January 14th, 2009 at 9:23 am
Tv dan koran nasional memegang peranan luar biasa penting dalam setiap negara. Apa yang mereka sampaikan akan dipercayai oleh mayoritas rakyat negara bersangkutan.
Siapa pemilik saham pengendali di stasiun tv nasinal kita? (metrotv, rcti, sctv, tpi, dll.)
Apakah juga perusahaan internasional para yahudi zionis?
Moga-moga tidak. Kalau iya, jangan heran lagi kenapa mutu sinetron kita gak mendidik, memang itulah tujuan yang ingin dicapai ownernya.. membodoh-bodohi masyarakat…
January 14th, 2009 at 1:05 pm
Tontonan saya sekedar tawa sutra dan lucu2an yg semacamnya. Haha…, rasanya yg semacam ini jd tambah banyak. Lumayanlah cukup menghibur pas lagi senggang, drpd sinetron bersambung…., liat aja nambah beban pikiran.
January 15th, 2009 at 12:21 am
sedikit koreksi, kalau menurut philip kotler, consumerism itu bukan suatu hal yang buruk. Malah itu merupakan paham yang mengajarkan kita agar jadi konsumen yang cerdas.
selain itu, nice post lha, mas :)
January 16th, 2009 at 12:53 am
Gimana mau naek ratingnya,..pangsanya yg nonton tivi itu kan menengah ke bawah,..yg menengah keatas udah terlalu sibuk ama kerjaan, malahan ngabisin waktunya dijalan gara2 macet shueek..makanya kalo udah diatas jam 9 biasanya acara2nya baru yg mulai sedikit..berbobot,..
dan juga para ibu2 yg biasanya pada ngawasin anak2nya nonton sekarang2 dah pada jadi wanita carrier semua..jadi kena deh tuh anak2nya nonton acara2 ga bermutu itu…gara2 yg ngejaganya pada nonton itu semua..
Kalo jaman dulu kan ibu2 masih pada dirumah, udah gitu juga biasanya kalo pulang kerja paling2 jam 5 ato 6 dah ampe rumah…
January 16th, 2009 at 5:49 am
orang indonesia kan rata2 SUFI..SUKA TELEVISI..heheh
January 16th, 2009 at 11:01 am
Mas Nofie, Kalo kecenderungan nonton TV orang luar, like USA or Europe, gimana ya?
(Maaf belum pernah ke USA or Europe)
Kelompencapir!!!, Saya paling suka tuh, nambah ilmu pertanian banget, koq gak ada yg mau buat ya?
January 16th, 2009 at 11:09 am
Menambahi wenny: iyah mas, mungkin maksud Mas Nofie “konsumtifisme”, bukan consumerism…
Nice article mas.
January 16th, 2009 at 11:41 am
Jangan lupa acara2 berita kriminal semacam Sergap, Buser dll. Acara2 tsb. menayangkan kekerasan yang nyata, baik itu memperlihatkan mayat yang berdarah2, rekonstruksi kejahatan yang kesannya jadi petunjuk “bagaimana caranya mencuri / membunuh dll.” . Yang nonton gimana apa tidak jadi penjahat?
Bandingkan deh dengan acara2 luar semacam FBI Files, World’s Wildest Police Chases. Yang ditonjolkan ‘kan professionalisme aparat dan peran masyarakat dalam mengungkap kasus kejahatan.
January 17th, 2009 at 6:16 am
Saya sangat sepakat dengan Anda :)
January 18th, 2009 at 7:46 pm
Dengan masiv nya kepemilikan televisi di Indonesia seharusnya bisa dimanfaatkan positif oleh pemerintah untuk lebih mengembangkan dunia pendidikan kita. Salut untuk TVRI yang eksis dengan E-TV nya. Klo saja setiap TV swasta diwajibkan 10% waktu tayangannya diisi dengan tayangan pendidikan/akademik, akan bagus sekali untuk membuka wawasan masyarakat. G kayak salah satu TV swasta, “T**”, kepanjangannya aja TV Pendidikan, tapi gak ada acara yang arahnya pendidikan
btw nice article
January 19th, 2009 at 10:10 am
Very nice article, aku juga mengulas di blogku
http://omgemblung.blogdetik.com/2008/12/26/mengapa-sebaiknya-anak-dilarang-nonton-tv/
menurutku emang pemerintah perlu menjadikan TVRI sebagai televisi nomor satu lagi, persis jaman aku kecil dimana, acara untuk anak2 hanya pada jam 4-6 sore, sehingga setelah itu anak2 pasti bisa belajar karena gak ada lagi acara untuk mereka
sekarang ini film di TV swasta begitu banyak tanpa mengenal waktu sehingga merampas jam belajar anak. Anak jadi tidur lebih malam namun diharuskan bangun lebih pagi karena situasi (rumah jauh, kemacetan serta jam sekolah yang dimajukan) akibatnya pas jam sekolah malah gak bisa konsentrasi
soal siapa yang menghancurkan negara kita lewat emang gak selalu dari luar dari dalam juga bisa oleh sebab itu maka seharusnya pemerintahlah yang harus berperan besar dalam hal ini kalo nggak maka di indonesia akan berlaku hukum rimba, siapa yang kuat adalah yang menag
January 20th, 2009 at 1:34 pm
saya pernah membaca kolom di Majalah Tempo mengenai lembaga survey ini,..
katanya sebuah lembaga riset dan survey terkenal mematok batasan seseorang yang memiliki TV, radio dan bergaji minimal 1 juta sebulan , sebagai representasi kalangan kelas A.
Jadi apa yang diharapkan kalau mereka sudah salah memposisikan target audiens dalam FGDnya.
Jadi memang seharusnya harus ada lembaga riset independen, ( mudah mudahan yang dibuat Garin dkk bisa berjalan ),mengingat sangat susah kalau hanya tergantung dengan lembaga yang itu itu saja.
January 21st, 2009 at 2:37 pm
Saya pernah baca pengaruh negatif dari menonton TV. Kecenderungan dari orang yang terlalu lama nonton TV, lebih agresif (tergantung acara TVnya), anti-sosial (karena dirumah terus), menghambat kreativitas (krn kemampuan otak mencerna dan memaknai suatu informasi dibutuhkan jeda waktu 1-2 menit, kalo tidak salah dari majalah wanita : paras).
Menurut saya, perlu ada gerakan moral untuk terus men-sounding bahaya negatif nonton TV terlalu lama, dan acara TV di Indonesia yang masih banyak kurang bermutu. Sekalian juga perlu disampaikan lewat wakil rakyat kita untuk membuat UU penyiaran yang lebih edukatif.
January 21st, 2009 at 5:50 pm
“Menurut saya justru penjajahan dilakukan oleh orang kita sendiri yang sama sekali tak peduli dengan masa depan bangsanya.”
setuju mas, para pebisnis penyelenggara program aneh2 itu memang hanya memikirkan perut mereka sendiri, sama sekali tidak kepikiran untuk “mencerdaskan bangsa”
Yang lebih dodol lagi, pemerintahnya ikutan asyik menikmati acara tontonan itu kali ya,,
padahal peranannya diperlukan sekali untuk “sedikit” mensortir acara2 ga mutu, atau minimal di gempur dengan tontonan mutu yang mereka buat sebagai program pendidikan masyarakat misalnya “belajar mengaji” oleh departemen agama, atau “online english” oleh departemen pendidikan atau apa deh gitu. Udah habis pikir deh kl memikirkan government, bukannya mereka yang memikirkan kita gitu loh,,
January 22nd, 2009 at 2:56 pm
Selain pemerintah peran orang tua juga sangat penting, karena anak terbiasa dengan menirukan apa saja tindakan orang tua.
Kalo orang tua suka dengan sinetron kemudian tayangan kekerasan waduh bisa bahaya itu anak kecil.
Kalo sudah begitu ya balik ke diri masing2, tahu mana yang benar dan mana yang seharus nya dijauhi. Bisa jadi dengan filter diri sendiri dan pendidika cukup.
Regards.
January 23rd, 2009 at 9:49 am
Langganan TV kabel aja dech.. biar tontonannya (agak) bermutu…
January 24th, 2009 at 11:09 am
Beettt, bett, beettuuuulll… dan menariknya, ternyata ini ada kaitannya dengan lemahnya budaya baca di masyarakat Indonesia.
Budaya besar itu termasuk (secara berurutan) dongeng, baca tulis dan lalu Audio visual (dan internet). Tidak seperti masyarakat dunia maju yang melalui tahap dua budaya awal (dongeng dan baca tulis) secara mendalam, Masyarakat Indonesia tidak sempat mendalami budaya baca secara utuh dan keburu digilas oleh budaya Audio Visual yang cepat menular. Walhasil, lihatlah di layar kaca anda apa program2 yang ratingnya tinggi? Gosip, hantu, setan dan segala yang ada kaitannya dengan dongeng.
Jadi, singkirkan televisi anda dari kamar tidur secepatnya, dan secepatnya ganti dengan bahan bacaan.
January 24th, 2009 at 3:27 pm
selalu temani si buah hati ketika menonton televisi.
itu bagus banget buat perkembangannya. soalnya sekarang acara-acara televsisi semakin tak terkendali tayangannya.
January 25th, 2009 at 4:36 pm
sangat setuju bung!!!!!
Terus terang saya sudah lama mengamati kondisi Indonesia, … pendapat saya Indonesia sangat parah!!!
tayangan TV kita saat ini..SANGAT TIDAK BERMUTU, PEMBODOHAN MASYARAKAT.. parahnya artis kita ikut2an MENSUKSESKAN pembodohan negeri kita, hanya karena iming2 kaya, tenar.. dari tayangan sinetron kita tau tidak ada pesan mendidik… kebanyakan mereka berlaga dengan latar belakang serba WAH… shooting dengan pakai mobil mewah, rumah mewah, yang mau sekolah ke AMRIK lah… yang punya perusahaan lah.. banyak lagi yang tidak bisa disebutkan.. padahal konsumsinya banyak dari masyarakat kita yang tidak mampu… sangat disayangkan.
saya menghimbau pada para produser agar jangan menjerumuskan bangsa indonesia.. khususnya yang dari india… karena anda sudah meracuni bangsa kami!!!
.. saya kadang bingung sebenarnya pemerintah ini siapa?.. kok pemimpin kita juga tidak punya kuasa… terus terang saya sudah tidak simpatik lagi dengan pemerintah indonesia.. pajak yang tidak realistis, larinya juga kemana kita ga tau… sistem pendidikan kita yang ketinggalan , obat kesehatan yang dipalsukan (Aparat PAYAH).. , para artis berebut jadi caleg, suruh bikin NPWP (masyarakt kita belum mampu) tapi uang dipake sendir.. pake iming2 ga kena fiskal : emang tiap bulan ke luar negri? yang keluar negeri justru yang kerja di dinas pajak, makan kena pajak kendaraan kena pajak, ga bayar pajak kena denda tapi kita ga dapet apa2 … , menteri keuangan yang ga bisa ‘manage’ saat indonesia krisis, sekolah mahal, satpol pp yang bisa disogok, masuknya produk cina yang membahayakan kesehatan, makanan berformalin yang sampi sekarang masih beredar (pedagang ga jera karena bisa bebas asal bayar), aparat jaksa yang menyuap, .. satu kesimpulan dibenak saya… negara kita adalah negara Dhzalim… mudah2an Allah menyadarkan Mereka
January 29th, 2009 at 5:57 am
maybe yes or maybe no, maybe rain or maybe snow….
February 2nd, 2009 at 11:34 am
Hantaman Cerdas kang… Payahnya lagi di Kota Malang dan Sekitarnya… Beberapa Stasiun HILANG… sekarang tinggal RCTI, SCTV, Indosiar, ANTV dan TPI dan yang seperti kita tau semua.. acaranya TIDAK TEPAT SASARAN
Apalagi RCTI dan SCTV duh SINETRON ndak ada UJUNG :(
ANTV kasih GUYONAN BASI, TPI ngebor terus….
INDOSIAR??? kenapa yaa ada orang bikin sinetron seperti itu? Titi Kamal lagi Artisnya *DUOH*
Saya bukan ANTI TELEVISI tapi ANTI TIDAK ADANYA pendidikan dan penuh PEMBODOHAN seperti itu
February 3rd, 2009 at 7:28 pm
Andai kata setiap orang yang telah berpendidikan juga berpikir untuk mengembangkan bangsa, maka setidaknya yang berkecimpung di multi media juga punya kewajiban tersebut.
Dengan demikian, setiap program juga akan dianalisa apa akibatnya bagi masyarakat.
Syukurlah saya dan anak-anak tak pernah tergantung pada televisi….masih lebih asyik membaca buku
February 8th, 2009 at 9:22 am
Salam
Bangsa sendiri yang tak peduli plus kepentingan asing yang mencengkram adalah kombinasi sempurna penghancuran generasi selanjutnya.
February 18th, 2009 at 11:39 am
selengkapnya bisa baca buku “Bercinta dengan Televisi” karya Dr. Deddy Mulyana (dosen Unpad Bandung). memang betul media info adalah raja yang akan menguasai peradaban. kata Ziauddin Sardar: “The new source of power is not money in the hand of a few, but information in the hand of many.”
February 22nd, 2009 at 12:41 am
Baru kali ini saya membaca tulisan yang 100% sama dengan apa yang ada di pikiran akhir2 ini. 100% setuju dgn Mas Nofie.
February 22nd, 2009 at 7:10 am
Wahh…SETUJU Paaa…
ANTI-SINETRON mode on. Termehekmehek dan cs nya is a fake.
Mending nonton discovery chanel (tp g ada, hiks). Di tv lokal palingan saya nonton TVe di tvri atau acara lintas agama lintas budaya di JogjaTV.
February 22nd, 2009 at 11:44 pm
apalagi kebanyakan artis indonesia hobi cerai, bisa2 si penonton ikut2
February 24th, 2009 at 5:44 am
Mampir baca-baca …
Iya nih, tv lbh byk dampak negatif dibanding positif, misal sekarang dengan fenomena tv yg banyak memberitakan kekerasan di SMA dan dukun cilik. Bknnya membuat masyarakat semakin sadar, tp malah membuat sebagian besar masyarakat meniru perbuatan itu… menyedihkan ..
February 26th, 2009 at 11:50 pm
Setuju. Sebenarnya beberapa iklanan masyarakat sudah lumayan sih, seperti kampanye kebersihan, membaca buku, dsbnya. Nah, kenapa tidak disambut dengan tayangan2 pendek yang bersifat edukasi dengan frekuensi lebih sering. Agar ke depannya bisa menyaingi sinetron2 yang menyebalkan itu.
February 27th, 2009 at 10:00 am
Ya… kalau saya sih, setuju. Memang di era sekarang ini banyak tayangan2 televisi tak mendidik yg tayang pada jam utama, sehingga bisa ditonton oleh anak2 kecil. Parahnya lagi, kebanyakan tayangan2nya bercerita tentang cinta remaja. Lha kalau anak2 kecil disodori dengan tayangan semacam itu, bisa2 mereka juga menirunya, ya…seperti pacaran, gosip2an, dll. Padahal sudah banyak masyarakat Indonesia yang mengeluh, bahkan sampai mengadu ke KPI, tapi ya…tetap saja masih belum ada perubahan. Mengenai soal rating, sebenarnya rating itu hanya bohongan belaka. Wong saya sendiri lho pernah me-rating tayangan film di tv tanpa dilakukan oleh sekelompok orang banyak, ckup saya saja. Buktinya, saya juga bisa memberi skor rating pada sebuah tayangan televisi berjumlah 100 vote tanpa harus sign-in melalui E-mail (sign-in pun juga bisa dilakukan oleh satu orang dengan jumlah email yg ia miliki, misal 10 e-mail). Jangan percaya rating, percaya saja pada keluhan2 masyarakat sekarang ini yg anti dengan tayangan2 sinetron, spt mereka2 yg mengadu ke KPI yg kebanyakan mengeluh soal tayangan tv yg tak mendidik.
February 27th, 2009 at 10:06 am
Di era globalisasi ini mestinya pihak tv swasta di Indonesia lebih memprioritaskan acara2 pendidikan ataupun tayangan2 yang bermoral, sejenis tayangan Si Doel, Keluarga Cemara, ACI, dll, bukannya disodori tayangan sinetron2 percintaan, perselingkuhan. Gitu katanya Indonesia dituntut maju?Mana buktinya?Gak ada…gak ada….Bisa2 Indonesia dijuluki dengan nama “Negeri Sinetron Cinta” (acara2nya bermayoritas tayangan cinta).
March 2nd, 2009 at 5:06 pm
Saya setuju dengan Anda. Semakin banyak orang Indonesia yang bodoh. Setiap hari acaranya Sinetron penyiksaan yang peran jahat bukan hanya orang dewasa anak kecilpun berperan jahat dan kelewat licik(parah-parah), Sinetron hidayah yang terlalu mengada-ada karena menurut saya cara penyampaiannya kurang tepat untuk dijaman seperti ini (Di tuntut jadi orang baik tapi dengan cara di takut2i dengan adegan penyiksaan), belum lagi ajang bakat yang kalau menang harus didukung dengan sms, SMS ketik reg semua itu adalah menurut saya sifatnya sudah judi terselubung. Buat TV Swasta harap memikirkan dosa anda atas kreatifitas yang anda buat berguna tidak buat masyarakat luas. Buat acara edukatif 50%, 20% berita umum, 20% hiburan, 10% tuh buat acara terserah dech mo judi *Ketik REG atau acara yang ngga mutu kaya sinetron aneh yang berseri, penuh penyiksaan dan anak-anak yang pada ketuaan tapi otaknya bodoh.
March 3rd, 2009 at 9:58 am
life is beautifull..
inilah realitanya! sayangnya beautifullnya bangsa ini standarnya rendah. saya tidak setuju kalo ada yang menduga negara ini negara itu yg membuat kita semakin tidak berjalan di rel yang kita harapkan. semua itu bermula dari pribadi-individu. stasiun tv dan orang dibelakangnya juga karyawan yang mati-matian cari ide biar produknya terjual dan eksis-bisa gajian. industri televisi (jarak-transportasi bisa diabaikan) adalah industri tergantung pada demand. bukan seperti makanan bisa ada istilah “daripada tidak makan ya makan yang ada”. kalo acaranya tidak sesuai seleranya cukup klik di remote. kalo mengkambinghitamkan pemerintah??? apakah tidak kita pertimbangkan nantinya yang teriak di masyarakat kalo misalnya pemerintah menguji kelayakan tayang suatu stasiun tv terus memblokir?
jadi.. solusinya menurut saya adalah dimulai dari kampanye kepada individu biar berubah. sama seperti kampanye besar besaran kb jaman 80 – 90an sempat berbuah hasil, kampanye aids juga memberikan tanggapan positif dari masyarakat. nah… mari kita kampanyekan bila perlu diperdalam lagi dampak negatif yang bisa diakibatkan tontonan yang memepengaruhi warga. ayo para surveyor dan peneliti kasih analisa mulai dari keluarga, rt/rw, kecamatan dst.
dengan sendirinya para artis yang dodol (yg mau berperan seperti orang bodoh) mau memilih peran yg lebih pantas. mengapa disebut demikian? perannya lebih rendah dari kualitas dirinya secara menyeluruh. peran seharusnya kedalaman makna lewat tampilan-ekspresi dan intuisi.
saya sudah mencoba menerapkan larangan: jangan tonton ini – jangan tonton itu! hal ini memang ada hasil tapi kurang memuaskan karena tidak diimbangi dengan perbaikan di acaranya dan pendekatan pendapat sosial dan masyarakat. menurut saya tontotan tidak berkualitas lebih laten dari yang sering dikoarkoarkan lembaga xxx. kenapa? karena kalo berbuat dosa bisa dengan gampang kita katakan: bertobatlah! kalo laten!!!!??? jalan terus tau tau udah gelap masa depan, karena kreasi anak anak kita secara pribadi juga tidak jauh dari mimpinya. lah.. mimpinya sinetron, temannya juga berpendapat demikian, poster larangan dan pendidikan sosial umum kurang komentar tentang keburukan itu.
intinya kita harus kampanyekan! jangan sampai anak anak kita nanti mengatakan: “seandainya aku tau kalo tontonan itu membuatku kurang berkembang….!”
March 9th, 2009 at 7:31 pm
Setuju, karena itu untuk langkah awalnya mari kita mulai dari Diri sendiri, kemudian menyebarkan ke keluarga, teman, orang dekat
sehingga semakin banyak orang tahu kalau mereka di bodohi, maka semakin banyak pula orang yang bisa disembuhkan, dan lambat laun acara itu akan mati sendiri tanpa harus peraturan pemerintah,
Takes time but we should start with something.
March 11th, 2009 at 11:02 am
mendingan nonton piala dunia, piala citra, piala rt, piala kakak, piala panjat pinang, piala ng saham. itu kek nya lebih seru
March 11th, 2009 at 3:12 pm
Sebenarnya televisi tidak bisa di salah kan juga kan? ya seperti yang telah di ulas tadi masalah rating dan ongkos produksi menjadi pertimbangannya, seandainya ada acara di televisi yang berbobot tetapi ratingnya sedikit tentu tidak balik modal kan? sebenarnya dalam hal ini masyarakat kitalah yang patut di pertanyakan “kenapa mau mengkonsumsi acara yang tidak ada mutunya?”
Dalam dunia Media kita kenal dengan apa yang di katakan feedback, kalau seandainya feedback yang media dapatkan bahwa acara yang tidak bermutu memiliki rating yang bagus, otomatis acara tersebut seumur hidup akan menjadi andalan dari televisi meskipun tidak ada bobotnya sama sekali.
Lagi-lagi saat ini kita di benturkan oleh masalah kapitalisme yang sudah mengakar dalam setiap sendi kehidupan kita, apapun itu, asalkan mendatangkan keuntungan maka akan terus di produksi, memang masyarakat awamlah yang menjadi korban dari kapitalisme tersebut….nah dari sini kita menemukan bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat penting untuk menangkal kejamnya kapitalisme, dimana masyarakat yang pendidikannya sudah mapan, akan sangat mampu untuk meredam budaya kapitalisme
Duh kalau sudah begini pusing ya membicarakan dampak dari pertelevisian semua sendi harus kita kupas satu satu, mulai dari budaya, pendidikan, ideologi dan lain sebagainya….tapi pada intinya intinya kembali pada diri kita sendiri, butuhkah kita terhadap tayangan yang tidak bermutu?
March 14th, 2009 at 10:22 am
@iman brotoseno
kebetulan saya pernah bekerja di lembaga survey yang dimaksud. Tidak benar kalau SES A itu adalah yang memiliki gaji >1 juta/bulan. Parameter yang digunakan adalah pengeluaran bulanan, bukan pendapatan bulanan.SES Parameter ini hanya berlaku di beberapa negara saja, karena umumnya memang menggunakan pengeluaran bulanan sebagai parameter SES (socio-economic status).
Terakhir waktu saya resign, yang dipakai adalah SES A pengeluarannya di atas 3 juta. Angka ini direvisi terus tiap 2 tahun sekali.
Rating memang masih jadi acuan dalam pemasangan iklan. Sayangnya rating tinggi biasanya memang acara yang “bodoh2″, karena yang nonton ya banyak orang yang “bodoh2″. Tapi itu lah potret penonton kita, acara yang laku adalah yang memancing emosi penonton, konflik dan gosip :(
Saya sendiri menganggap TV lebih banyak mudharatnya dari manfaatnya, jadi saya memilih hidup tanpa TV :D
March 18th, 2009 at 8:05 pm
Luar biasa analisa Pak Nofie Iman tentang ‘penyakit masyarakat’ yang satu ini. Bahaya penyakit masyarakat yang satu ini sebenarnya lebih bahaya dari penyakit masyarakat yang lain, penyakit masyarakat pada umumnya terlihat sangat jelas, orang langsung dengan sadar dan sepakat menyebut bahwa maling, rampok, kenakalan remaja,dkk adalah penyakit masyarakat, tapi mereka tidak sadar bahwa yang menyebabkan semua itu adalah akibat dari hidup mereka yang diperbudak oleh televisi.
Sangat disesalkan ketika para ibu bersama anaknya dengan rukun dan adem ayem nonton sinetron pada jam-jam anak belajar. Sang ibu yang dipikirannya hanya ada segepok pertanyaan dari lanjutan episode kemarin pasti akan lupa bahwa saat itu ada tugas besar yang pasti mempengaruhi masa depan anaknya, begitu pula sang anak, tahu ibunya lengah ga menyuruhnya belajar lagi, dia semakin berusaha meyakinkan sang ibu kalau cerita sinetronnya benar-benar bagus dan sayang kalu dilewatkan.
Sang ibu yang diiyakan semakin bersemangat nonton bareng anaknya.”Wah kalau saya nonton sinetron sendirian, siapa nanti yang akan saya curhatin tentang kesediahan aktor aktris protagonis di dalam sana? Siapa nanti yang akan jadi pelampiasan kejengkelan saya ketika sang antagonis semakin berkuasa?” Mungkin begitu kira-kira pemikiran sang ibu.
Dua jam sudah lewat, tibalah waktu sang anak beranjak tidur, sang bapak baru masuk rumah, mungkin habis pulang kerja atau habis ngumpul-ngumpul di tetangga. Tangan sang ibu masih serius megang remote control, biar lebih meyakinkan ke sang suami kalau aktifitas dia yang satu ini tak bisa diganggu gugat. Mimik serius (setengah ngantuk) dipasang untuk mengikuti cerita senetron lain yang sudah menjadi tontonan langganannya beberapa minggu ini.
Dengan menelan ludah kekecawaan batin ayah berbisik, “Ga ada kopi lagi malam ini, ga ada teh lagi malam ini, ga ada lagi becandaan-becandaan ringan sebelum kita berdua tidur, ga ada lagi tawaran mijit yang selama ini membuatku merasa benar-benar menjadi kepala keluarga”.
Cerita di atas mungkin terkesan hiperbol, lebay atau apa pun istilahnya. Tapi saya yakin itulah potret sebagian besar masyarakat kita yang terlalu gampang dibuai oleh hal-hal yang berbau pemanjaan otak. Kalau anda menyangka bahwa cerita saya di atas adalah terlalu mengada-ada maka bersyukurlah bahwa keluarga anda adalah termasuk 20% masyarakat Indonesia yaitu masyarakat yang masih suka upgrade otak dan update isi di dalamnya. Diakui atau tidak mental sebagian besar masyarakat kita adalah pemalas.
March 19th, 2009 at 2:10 am
tulisan pak mustov sedikit hiperbol tetapi mungkin seperti itu keadaanya.
kalo televisi diganti ama komputer dan koneksi internet, gimana jadinya y?
March 19th, 2009 at 1:50 pm
“Diakui atau tidak mental sebagian besar masyarakat kita adalah pemalas” mungkin memang sudah sejak dulu Pak. Saya kebetulan sedang membaca buku sejarah Banten, dan beberapa buku sejarah lainnya yang baru terbit tahun-tahun belakangan ini (heran juga ya sejarah Indonesia yang sudah terbit di luar negeri 20 sampai 60 tahun yang lalu kok baru diterbitkan zaman sekarang). Mental masyarakat kita memang nampaknya tidak berubah banyak. Benar2 tidak siap untuk menerima “kemudahan” karena bisa langsung terhipnotis dengan kemudahan itu. Apalagi kemudahanyang ditampilkan oleh acara2 TV belakangan ini. Tv barangkali lebih hebat dari batu Ponari karena satu-satunya Setan yang kelihatan tapi sudah dianggap menjadi teman.
March 21st, 2009 at 10:11 pm
campur tangan pemerintah sangat kecil dalam mengontrol lajunya perkembangan siaran tv, wujud campurtangan Pemerintah adalah pada alokasi APBN. memang benar siaran beberapa stasiun tv yang yang produk unggulannya adalah Sinetron bernuansa cinta, cenderung mendidik anak bangsa menjadi anak yang bermental “cengen”
Bravo,TVRI.
March 26th, 2009 at 10:41 am
agree with u mas!
mulai sekarang sudah harus diterapkan strategi menghadapi TV ini.
mohon untuk ibu-ibu tidak tergiur untuk melihat infotainment….please, apakah anda lebih bangga dengan topik Dewi Persik diperbincangkan di arisan keluarga daripada menanyakan tempat kursus matematika yang bagus di jakarta? pilihlah program siaran TV yang dapat mengedukasi keluarga. bayangkan anak anda lebih hafal warna kontak lens dewi persik daripada ‘ada berapakah warna pelangi???( hi mum :)….sorry)
bapak2……bawalah anak2 anda ke taman, ke pantai, ke kebun, main petak umpet,origami, buatlah kegiatan outdoor/indoor.jadwalkan kegiatan nonton TV not as major activities.anda mau bukan mempunyai anak2 yang kreatif, pintar dan tidak autis??so…berfikirlah.sedikit lebih cape, sedikit lebih ‘kreatif’, sedikit lebih tegas….sedikit lebih ‘tidak egois untuk nonton bola’.
Mum&Dad, we r team. We need u, to fight this TV’s seduce.
April 23rd, 2009 at 5:15 pm
ih,,, bener banget bang!!! untung saya dah lepas dari yang namanya tivi sejak kuliah,,, secara waktu kuliah yang super padet det det… skarang malah jarang banget nonton,, kalopun nonton ya nonton persib =p atow motogp,,, berita2.. udah deh! habis itu,,, balik ke kamar…hohoho…
sempet liat tayangan2 televisi tuh.. ampun!!! pembodohan masyarakat ini mah (no offense)..
April 24th, 2009 at 1:02 pm
TV Hiburan Murah Rumah Tangga
Itulah kemampuan media dalam memberikan sajian informasi, terkadang informasi itu juga palsu atau informasi itu dapat menumbuhkan sikap bagi masyarakat untuk berbuat tindakan. Perlu dipahami tentang penggunaan media khususnya televisi. Medium itu sampai saat ini menjadi bagian dari primadona hiburan masyarakat yang sangat murah dan terjangkau. Pelaku media juga terus berupaya memberikan hal-hal yang positip bagi masyarakat, dengan berbagai program tayangan, yang menjadi perhatian bagi kita semua adalah bukan pada medianya tetapi pembuat programnya ( produser program ). Masih banyak menggunakan tolak ukur untuk konsumsi masyarakat secara menyeluruh, baik pada program sinetron, kuiz atau program komedian sekalipun. Latar belakang pra produksi acap kali langsung tancap dengan istilah jam tayang. Tidak terdapat koreksi segmentasi yang berkaitan dengan konten cerita../ nah sumber daya ini pun dikita masih banyak yang perlu diperhatikan. Pemahaman terhadap itu terus lupa…maka terjadilah sajian atau tontonan yang kurang bermutu. / lalu bagaimana yang bermutu ?
April 30th, 2009 at 4:20 pm
Saya juga heran, kenapa sekarang kualitas tayangan drama Indonesia (sebut: sinetron) begitu menurun ya? Menurun dari segi edukasinya..sinetron sekarang lebih menonjolkan sikap konsumerismenya (di salah satu sinetron diceritakan: tokoh utama seorang penjual ayam bakar tapi bawaannya blackberry….woww..), selain itu jalan ceritanya juga ga jelas dan bertele-tele…malah ada sinetron yg setiap episodenya ada adegan saling tampar.. apalagi sinetron tayangan Indosiar, jalan ceritanya malah jauh dari nalar..masak ada salah satu tokoh yang punya tambahan mata (bener2 mata dalam makna denotasi) di kening…kok ya masih bertahan ya sinetron itu?
Saya merindukan sinetron semacam keluarga cemara, si doel, ACI, atau semacamnya..yg mengusung nilai2 edukasi bukan semata mengatasnamakan komersialisme…
Kapan ya Sinetron Indonesia bisa menjadi serial yg berkualitas macam heroes, grey’s anatomy,dll ?
May 12th, 2009 at 11:46 am
site yg bagus pak nofie, bisa jadi bahan bacaan kalau saya lagi nganggur;)
n saya minta ijin buat kirim artikel ini via email ke temen2 dan milis ya pak, mungkin bisa jadi bahan diskusi,.
TV, 3-4 tahun ini saya jarang nonton tv juga, klo gak kerja, pasti ada aja tugas2 kuliah,.
semoga kedepan media di indonesia bisa lebih bermutu ya,.
tp gmana ya caranya:-?
May 13th, 2009 at 11:35 am
boleh tw pak nofi iman alamat dmn?
May 16th, 2009 at 10:32 am
iyap betul bgt…. saya setuuju… memang banyak orang yang gk pedui dengan kemajuan bangsa!!!
July 3rd, 2009 at 8:53 pm
its psycho war,wait capitalist, we ll fight u
July 22nd, 2009 at 1:01 pm
siaran tv saat ini sebegitu bebasnya. tugas kita sbg ortu untuk membatasi anak2 dr tv, memilah2 mana yg pantas dan tidak ditonton sm mrk.
tp sy lihat justru para ortu (ibu2) yg mengajari anak2 nonton sinetron, krn ibunya sendiri gak mau ketinggalan sinetron
August 9th, 2009 at 9:30 pm
Bila Ingin Merubah Bangsa Ini Menjadi Lebih Baik………
Tak Usah Banyak Omonglah Kita, Yang Penting Intinya……..
Segala Sesuatunya Harus Dimulai Dari Diri Sendiri……..
August 25th, 2009 at 12:35 am
Walhasil, lihatlah di layar kaca anda apa program2 yang ratingnya tinggi?
August 31st, 2009 at 10:08 pm
isinya sinetron tok……….
jembeg….. bosen mas,,,,,, ceritanya pancet …. monoton….
apalagi yg film2 pembodohan bangsa, seperti : anak durhaka mati kubur menyempit, dan film2 kualat lainnya….
cocok buat ibu2 indonesia….
September 9th, 2009 at 6:01 am
khususnya yang dari india… karena anda sudah meracuni bangsa kami!!!
September 23rd, 2009 at 12:09 pm
Emng tuh pada gag punya otak produser sinetron dododlllll…. ngakunya sih hebat tapi
isi sinitron gag jelas ngada2 tuh,, apa jngan2 yg bikin sinetron gag pernah skolah dan di ajarin tata krama yah,,… PAYAH!!!!!!
October 2nd, 2009 at 11:10 pm
sinetron yg gak mutu kok gak disensor ama KPI ya..
October 2nd, 2009 at 11:16 pm
KPI kerjanya apa ya
October 6th, 2009 at 7:53 pm
aku ga’ punya banyak komentar karena eh karena aku ga’ pernah nonton TV…….. (aku cah nggonong)
October 12th, 2009 at 9:33 am
PENAGRUH TELEVISI TERHADAP MASYARAKAT
Semakin bertambahnya zaman semakin bekembang pula ilmu pengetahuan dan teknologi. Baik itu berupa teknologi informasi maupun telekomunikasi. Yang akhirnya kita semuapun mau tidak mau terkena arus kemajuan zaman tersebut. Salah satu contoh seperti televisi. Pada zaman dahulu televisi merupakan suatu alat untuk mendapatkan informasi. Akan tetapi semakin bertambahnya zaman, kegunaan televise sebagai alat untuk mendapatkan informasi tersebut mulai terdominasi sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan.
Televisi sekarang telah menjelma sebagai sahabat yang aktif mengunjungi anak-anak. Bahkan di lingkungan keluarga yang para orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah, televisi telah berfungsi ganda, yaitu sebagai penyaji hiburan sekaligus sebagai pengganti peran orang tua dalam mendampingi keseharian anak-anak. Ironisnya, di tengah-tengah peran vitalnya selaku media hiburan keluarga, dunia pertelevisian kini terancam oleh unsur-unsur vulgarisme, kekerasan, dan pornografi. Ketiga unsur tersebut hampir-hampir menjadi sajian rutin di sejumlah stasiun televisi serta dapat ditonton secara bebas bahkan oleh kalangan anak-anak. Padahal ketiga unsur itu mestinya dicegah agar tidak ditonton oleh anak-anak mengingat kondisi psikologi mereka yang belum mampu membedakan mana hal-hal yang positif dan mana hal-hal yang negatif dari sebuah tayangan TV.
Kita akui, tayangan televisi seperti sinetron hanya sebatas rekaan sutradara yang tak mesti sejalan denga realitas pergaulan remaja kita sehari-hari. tetapi, karena TV telah menjadi media publik yang ditonton secara luas, termasuk kalangan anak-anak, maka akan memberi dampak kurang positif jika isinya bersifat vulgar. Di samping itu, judul sinetron yang selalu mengambil topik-topik tentang percintaan dan pacaran sedikit banyak akan mengajari anak-anak untuk berpacaran, tampil sexy, bergaya hidup trendy dan berorientasi yang penting happy. Walaupun tayangan ini belum tentu ditiru namun tetap akan mengontaminasi pikiran polosnya. Karena efek tayangan TV selama ini terbukti cukup ampuh bagi mereka. Simak saja, tingkah laku sebagian anak-anak remaja kita yang sangat mengidolakan tokoh-tokoh film percintaan dan sejenisnya.
Bertolak dari sini, dapat digarisbawahi bahwa penayangan bertemakan remaja yang kental nuansa percintaannya serta mengambil background anak sekolah seperti berseragan putih biru untuk SLTP maupun berseragan putih abu-abu untu SLTA justru kurang memberikan pra-kondisi bagi tumbuhnya remaja yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, disiplin dan lain-lain. Hal inilah yang membut orang tua menjadi ngeri dan sangat menyayangkan pemutaran sinetron yang miskin kandungan nilainya seperti itu. Orang tua perlu terus mananamkan daya pikir yang kreatif anak dalam belajar. Orang tua tidak perlu melarang anaknya menonton TV. Yang justru mendapat perhatian serius adalah bagaimana orang tua memilihkan acara yang betul-betul bermanfaat bagi pendidikan dan perkembangan anaknya, agar anak tersebut dapat terangsang untuk berfikir kreatif.
November 6th, 2009 at 12:45 pm
artis nya jangan itu2 aja donk…bt tau?