Politik di Indonesia Tahun 2009
January 5th, 2009 | Politics“Di masyarakat, popularitas dari ketokohan atau figur masih diperlukan, untuk itu kami memilih artis karena dia sangat dikenal.” [link]
“Artis hanya menjual payudara dan pantat. Ini malah menurunkan derajat politik di Indonesia… Jangan-jangan artis ditarik ke politik, politisi ini mengintip diatas panggung. Di belakang main di hotel. Mau dibawa kemana politik ini?” [link]
Seorang teman menutup tahun 2008 lalu dengan mengumpat tak karuan. Ia mengeluh karena sepanjang tahun situasi negeri ini benar-benar kacau balau akibat produk kebijakan DPR yang tak jelas. Ia berpendapat bahwa UU MA, BHP, APP, dan peraturan lainnya tak lebih dari (maaf) sampah. Semua dibuat dengan cara instan, tanpa pikir panjang, apalagi melihat visi jangka panjang.
Celakanya, semua itu dibiayai dengan duit negara (rakyat) yang dihamburkan begitu saja. Ia makin jengkel ketika tahu bahwa keringat yang ia setor lewat pajak ternyata hanya digunakan untuk memarkup nilai proyek, melakukan kunjungan kerja yang tak jelas, atau “studi banding” (misal: untuk membandingkan harga Lous Vuitton di Jakarta dengan luar negeri). Kejengkelannya makin menumpuk ketika saya sodori nama-nama artis yang ingin terjun ke ranah politik, misalnya:
Gerakan Indonesia Raya (Gerindra): Jaja Mihardja, Jamal Mirdad, Rachel Maryam, Rita Sugiarto, dan Tesa Mariska.
Partai Amanat Nasional (PAN): Adrian Maulana, Cahyono, Derry Drajad, Eka Sapta, Eko Patrio, Henidar Amroe, Ikang Fawzi, Intan Sevilla, Irene Librawati, Krisna Mukti, Lucky Artadipraja, Mandra, Mara Karma, Marini Zumarnis, Maylaffayza, Poppy Maretha, Raslina Rasyidin, Tito Soemarsono, Wanda Hamidah, dan Wulan Guritno.
Partai Bintang Reformasi (PBR): Paramitha Rusady dan Peggy Melati Sukma.
Partai Damai Sejahtera (PDS): Bella Saphira, Maya Rumantir, Tamara Geraldine, Tessa Kaunang, Ricky Jo, dan Ronny Pangemanan.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P): Dedi ‘Miing’ Gumelar, Edo Kondologit, Rieke Diah Pitaloka, dan Sony Tulung.
Partai Demokrasi Pembaruan (PDP): Luna Maya.
Partai Demokrat: Adjie Massaid, Angelina Sondakh, H. Qomar, Inggrid Kansil, Tere, dan Venna Melinda.
Partai Golongan Karya (Golkar): Dharma Oratmangun, Jeremy Thomas, Nurul Arifin, Puput Novel, dan Tantowi Yahya.
Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura): Anwar Fuadi, Azizah Rahma, David Chalik, Dimas Andrean, dan Gusti Randa.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB): Didi Kempot dan Tengku Firmansyah.
Partai Patriot: Camelia Malik dan Hengki Tornado.
Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP): Denada, Emilia Contessa, Evie Tamala, Ferry Irawan, Icuk Sugiarto, Kristina, Lyra Virna, Marissa Haque, Mat Solar, Mieke Wijaya, Okky Asokawati, Rahman Yacob, Ratih Sanggarwati, dan Soultan Saladin.
Memang bukan hal baru artis masuk ke politik. Di masa Soeharto, alm. Edy Sud (Golkar) dan Rhoma Irama (PPP) sudah lebih dulu terjun. Di Pemilu lalu, Adjie Massaid, Dede Yusuf, Marissa Haque, dan H. Qomar sukses masuk ke Senayan. Yang pro berpendapat bahwa rakyat sudah bosan dengan politisi yang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka butuh suasana baru yang lebih menjanjikan. Para artis dipercaya sudah hidup mapan sehingga risiko korupsi mungkin lebih kecil. Sementara yang kontra menganggap bahwa panggung politik hanya pelarian karena mereka tak laku lagi di televisi.
Saya sendiri agak heran. Kalau memang ingin menjadi vote getter, nama seperti Hengki Tornado, Maya Rumantir, Nurul Arifin atau Puput Novel kini sudah tak banyak dikenal. Nurul Arifin mungkin hanya dihafal oleh generasi tahun 80-90 yang sering menonton film panasnya dulu. Bagi partai, tentu lebih “mak nyus” kalau mau menggaet Tukul Arwana, Ruben Onsu, Olga Syahputra, atau Sandra Dewi yang sedang populer.
Mungkin bisa dimaklumi bahwa kapasitas para artis tersebut seringkali dipertanyakan. Apalagi banyak dari para artis tersebut tidak mempunyai latar belakang pendidikan formal berbasis poleksosbud maupun pengalaman organisasi yang memadai. Jadi tak aneh bila banyak yang meragukan kemampuan mereka. Jangankan orang baru yang out of the blue, mereka yang sudah bertahun-tahun nongkrong di Senayan pun tak sedikit yang disebut politisi gagal.
Masalah kedua adalah stereotip yang melekat dalam diri artis. Tak bisa dielakkan bahwa artis (walau tidak semua) dikenal bergaya hidup glamor dan serba wah—-mulai dari cara berpakaian, potongan rambut, kendaraan pribadi, dan gaya hidup lainnya. Padahal kita tahu bahwa yang kita butuhkan sekarang justru bagaimana mengencangkan ikat pinggang dan mengefektifkan setiap pengeluaran kita. Kalau perlu, ganti kendaraan dinas anggota DPR dengan Kijang kapsul atau APV.
Harusnya kejadian meninggalnya salah seorang artis sekaligus politisi gara-gara touring moge di tahun 2008 lalu menjadi pelajaran. Sepanjang perjalanan tak sedikit pengguna jalan yang menghujat rombongan ini karena mereka menggunakan jalan seenaknya, menerobos lampu merah, menutup sejumlah jalur, mem-booking pompa bensin, hingga marah tak jelas jika ada yang menyalip mereka. Walaupun mengusung nama merah putih, mereka menggunakan motor luar negeri dan tur tersebut sama sekali tidak mencerminkan nilai ke-Indonesia-an.
Tentu terlalu dini untuk menyimpulkan bagaimana kira-kira situasi politik negeri ini di tahun 2009. Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa negara ini rupanya benar-benar telah menjadi korban kebiadaban televisi (dan sinetron). Nampaknya perlu puluhan tahun lagi agar negeri ini bisa menghasilkan gerilyawan revolusioner yang legendaris seperti Tan Malaka atau politikus yang tajam namun sederhana semisal Haji Agus Salim—-bukan politisi karbitan yang asal dicomot dari dunia hiburan.
Tak terasa Pemilu tinggal menghitung hari. Tentukan pilihan Anda dengan bijak dan hati-hati karena masa depan negeri ini ada di tangan Anda.
*) Daftar tersebut di atas dirangkum dari berbagai situs berita tanah air. Akurasi tidak dijamin karena penulis tidak hafal dan tidak memantau nama dan perkembangan para artis.
July 7th, 2009 at 8:55 am
Comments
January 5th, 2009 at 7:53 pm
Soal politik saya setuju sama Robin Williams, “Politicians are a lot like diapers – they should be changed frequently and for the same reason”.
Soal mereka diganti dengan ketersediaan saya ngantri di bilik suara? Kayaknya saya mah Insya Allah golput. Mau ada artis yang jadi caleg ataupun caleg yang jadi artis, tetep aja saya gak peduli… Kalo Barack Obama ikutan pemilu di Indonesia, mungkin saya nggak lagi golput.
January 5th, 2009 at 9:01 pm
Rasanya memang tidak ada wakil rakyat jaman sekarang. Yang ada wakil dari kepentingan – kepentingan tertentu, bukan rakyat kebanyakan. Pemilu adalah ajang pemodal berinvestasi membiayai jagoannya untuk bisa memperjuangkan kepentingannya sendiri. Saat pemilu seperti ini ganti rakyat yang disuap. Di desa2, penyuapan berlangsung meriah & rakyat makan dengan lahap. Pada kenyataannya, memang mental sebagian besar bangsa ini sudah rusak. Ga pejabat ga rakyat sama – sama doyan suap.
January 6th, 2009 at 8:55 am
Saya prihatin jangan2 para bintang tadi memang benar2 tidak mampu memahami persoalan bangsa ini. Coba aja mereka ditanya bagaimana cara mengatasi kelebihan kapasitas produksi ditengah krisis begini. Atau gimana cara menurunkan tingkat pengangguran sekaligus meningkatkan upah riil buruh kita secara bersamaan. Berani taruhan deh mereka kesulitan memikirkan hal2 begituan.
Jangan2 ntar wajib belajar 9 tahun berubah jadi wajib sinetron 9 tahun :P
January 6th, 2009 at 9:07 am
Sekadar menyumbang fakta-fakta:
1. Zaenal Ma’arif. Sebelum tahun 2004 berlabuh di PPP. Tahun 2004 berlabuh di Partai Bintang Reformasi (PBR). Tahun 2009 masuk gerbong Partai Demokrat (PD).
2. Rieke Dyah Pitaloka. Sebelumnya artis ini aktif di DPP PKB. Namun, sudah beberapa waktu lalu pindah ke PDIP. Sekarang Rieke jadi caleg PDIP dari Dapil Jabar II.
3. Chatibul Umam Wiranu. Mantan anggota FKB DPR ini sempat terkenal pada periode 1999-2004. Namun pada 2004-2009 nama dia tidak lolos masuk Senayan. Kali ini, Chatibul Umam menjadi caleg dari PKNU.
4. Budiman Sudjatmiko. Tahun 1999 lalu, dia adalah Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD). Namun, setelah Pemilu 2004, dia gabung ke PDIP. Kini, Budiman jadi caleg PDIP dari Dapil Jateng VIII
5. AS Hikam. Dia menjadi anggota DPR 1999-2004, namun di tengah jalan diangkat menjadi Menristek oleh Presiden Gus Dur. Tahun 2004-2009, dia menjadi anggota DPR dari PKB, namun direcall di tengah jalan. Kini, dia maju menuju Senayan melalui Partai Hanura.
6. Saleh Husin. Tahun 2004 lalu dia aktif di Partai Amanat Nasional (PAN). Namun, kini dia gabung di Partai Hanura. Dia menjadi caleg nomor 1 dari Dapil NTT II.
7. Pius Lustrilanang. Di awal era Reformasi, Pius aktif di organisasi underbouw PDIP. Namun salah satu korban penculikan 1998 itu maju menjadi caleg Pemilu 2009 dari Gerindra.
8. Satu rumah, dua partai, sama-sama jadi caleg. Marissa Haque (PPP) dan Ikang Fawzi (PAN)
Politik itu emang bullshit. Makin bullshit kalo para artis yang gak ngerti apa2 ikut terjun di dalamnya. Makin hari makin parah negara kita ini. Makin banyak anggota parlemen yang bisa akting. Yang duduk berkuasa makin lama bukannya tambah bagus… Malah makin hancur. Siap2 urus PR/Green Card negara lain deh..
January 8th, 2009 at 11:46 pm
Memang susah jadi manusia saat ini. Karena sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak ikut edan nggak keduman. Makanya banyak anggota dewan yang makan dana siluman. Bahkan ketika ada anggota dewan yang terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang jika tidak dimanfaatkan, untuk modal bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike manakankah sosok iman, yang seharusnya Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan hanya semangat dan indah saat diucapkan, dalam kajian – kajian rutin pekanan.
Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami. Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari. Karena langganannya adalah para anggota Dewan yang baik hati. Dengan alasan membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka sudah tidak punya harga diri, umbar aurat hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak ada jalan keluar lagi, seolah jika tidak melakukan itu mereka akan mati. Bukankah rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita untuk menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang halal itu telah menanti.
Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada kesempatan kita sikat saja. Halal haram sudah dilupa. Uang korupsi dibilang untuk bisnis jualan permata. Yang penting rumah megah ada dua, mobil mewah ada lima serta banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah mereka bahwa dunia ini hanya sementara, dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira telah datang kepada mereka, akan adanya syurga yang siapapun akan kekal didalamnya. Maka mengapa mereka tidak tergoda untuk masuk kedalamnya.
Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa harus terikat dengan aturan agama untuk hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar kost dan pergaulan bebas barulah greng. Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan mereka hanya memuaskan para pemilik modal yang berotak gendeng.
Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing nggak dianggap orang penting. Makanya banyak orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah yang menggauli anaknya sampai bunting. Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting. Akibatnya banyak Anggaran Negara dan Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting keluarga dan rekan kerja puas main banking, tak peduli banyak rakyat yang bunuh diri karena pusing. Lupakah mereka dengan hari yang genting. Di Yaumul Hisab kala amal mereka ditimbang ternyata banyak yang garing, dengan hadiah azab neraka yang mendengarnya saja bikin bulu kuduk merinding.
Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin yang tutup mata kala banyak pengusaha membangun bedeng. Bedeng untuk jual miras dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena merekalah yang mensuplai dana kampanye Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng. Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, yang ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka ketika menjabat seharunya mereka menutup bedeng – bedeng, yang membuat masyarakat berbuat sedeng.
Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat lurus dianggap lucu. Makanya KKN adalah motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku, yang wajib dibeli oleh para wali murid yang pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing untuk bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini itu. Seharusnya mereka bahu membahu, untuk menghilangkan kebodohan yang sudah membeku, yang dirintis oleh para penjajah sejak ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu. Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu, lantas berikan bukti jutaan anak didik yang sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang Satu.
Katanya zaman burik, jadi orang baik malah dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan yang terjadi adalah polemik. Guru tak mau mendengarkan kebenaran dari anak didik. Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan orang tua malah dibawaan badik. Bukankah Rosulullah datang untuk meningkatkan akhlak manusia menjadi baik. Buahnya adalah hubungan antara sesama adalah ibarat kilauan pelangi yang menarik. Sehingga ketika nasehat datang seharusnya yang terucap adalah labbaik.
By: Tedi Setiadi (Permata Intan UIN SGD)
January 10th, 2009 at 3:56 pm
Capek pokoknya mas. Sekarang kemana-mana mata kita kena polusi tampang2 caleg yang sok keren, nyatut gambar tokoh besar yg ga tahu tujuannya untuk apa, ujung2nya di tutup dengan janji dan mohon2an..belum kepilih aj sudah berani minta2 bagaimana kalau sudah terpilih nanti. Sudah itu tidak berani terjun langsung ke lapangan. Berani cuma lewat poster yang benda mati itu..Tapi tetap, kita tidak boleh berhenti berharap demi kebaikan Indonesia. Semoga Pemilu 2009 melahirkan anggota legislatif dan Presiden/Wapres yang lebih baik dari sebelumnya..
January 10th, 2009 at 9:30 pm
ini kesalahan sistem pemerintah kita yg terlalu korup. Gw tahu bahwa banyak negara juga korup, tp gak banyak yg kalahin Indonesia dalam peringkat negara terkorup. Semua serba salah.
LIhat saja tuch Pertamina, udah ada pesaing, udah ada kritik bahkan ancaman hak angket dari DPR, apakah beres ? Elpiji hilang …, sistem amburadul
salah satunya adalah pola pikir bangsa ini, yg mau mementingkan diri sendiri dari sisi ekonomi. Ada kesempatan berkuasa, ambil sebanyak – banyaknya, si satu sisi diciptakanlah ‘diskriminasi SARA’ (bahkan gak jarang anggota milis ini yg kemakan isu SARA, sedih gw Broken Heart ). Bodohnya kita, mau dipecah belah (udah dari jaman Belanda) begitu ada issue yg pelik menunjuk ke pengusutan korupsi pejabat penting negara, ‘dibuatlah’ issue yg kontroversi sehingga kita lupa pada issue seblmnya.
Di satu sisi pembodohan rakyat di-mana – mana. UU BHP membuat orang semakin materialisme, habis Universitas suruh cari uang sendiri. Nah ntar mahasiswa cuma pikir cari uang dan kembali ke kepentingan sendiri, jadi kyk lingkaran setan.
Tuhan ampunilah bangsa ini!
Coba ada yang bisa mendata caleg yang akan ikut pemilu terutama yang ada catatan miringnya, supaya bisa sebarkan luaskan dan tidak dipilih. Sdh muak liat kelakuan anggota DPR/MPR.
Susah juga ya, berarti msh byk caleeg seperti suami kristina dirpilih lagi. ato max moein.
January 11th, 2009 at 12:38 pm
spt-nya masih sulit utk mencapai indonesia bangkit klo ngliat calon2 wakil rakyat dan sistem politik msh kayak gini :(
January 12th, 2009 at 9:25 pm
Ya ALLAH jauh kan lah wakil rakyat kami dari artis2 yang hanya bisa bersolek..tanpa tahu penderitaan rakyat yang mereka ( katanya ) wakili..
January 12th, 2009 at 9:51 pm
Ngomong2 soal pemilu dan cari2 duit… Masih ada parpol lain yg nyakut lagi nih ,cuman mereka blum berani buka2an hati2, mas
baguslah…….kalo partai2 pada bangrutkan kampanyenya gak bikin macet dimana-mana lg, parpol2 selama inikan banyak menzolmi dan membohongi konstituennya, ahirnya tuhan memberi tamparan yg keras lewat tangan BUMI ……taun 2009 bakal jg pemilu paling memprihatinkan no dangdut no macet2an, disadari atau tidak ternyata bumi nyungsep ada hikmahnya juga buat rakyat
January 19th, 2009 at 10:36 am
menurut om gemblung, gara2 MK yang secara ngawur menetapkan sistem suara terbanyak dalam pemilu (seharusnya merupakan sistem yang paling bagus, cuman MK menetapkan 3 bulan sebelum pemilu) maka nanti yang dipilih rakyat pastilah artis2 ato orang2 yang pernah tampil di media masa/televisi. sementara orang2 yang secara kualitas bagus gara2 gak pernah bikin gosip jadi gak pernah nongol di TV/koran sehingga mana mungkin dikenali oleh rakyat
Pokoknya nanti yang masuk ke senayan ya kayak artis2 sinetron,orang2 yang cuakep2 gak ketulungan ama orang2 yang jeleknya gak ketulungan, orang2 yang baiknya kaya malaikat ato jahatnya kaya setan, adegan2 rapat di senayan juga pasti penuh dengan gelak tawa ataupun tangis duka.
mo dibawa kemana negara kita ini??
baca juga ulasan om
http://omgemblung.blogdetik.com/2008/12/25/mengapa-politisi-indonesia-di-jaman-reformasi-ini-cenderung-lebih-gila-2-an-korupsi/
January 21st, 2009 at 4:16 pm
Saya masih pesimis dengan politik di indonesia. Caleg di level daerah yang ditawarkan oleh partai, belum terbukti punya kontribusi kepada masyarakat disekitarnya. Lagian orang2 yang sudah terbukti menjadi kontributor, biasanya tidak akan mau ikut partai, karena khawatir hanya kontraproduktif dengan misi yang sebelumnya dia perjuangkan.
Terkadang saya tertawa, kalau melihat spanduk atau poster yang menampilkan wajah caleg di jalan-jalan berharap masyarakat mau begitu saja memilihnya dengan modal iklan seperti itu.
January 29th, 2009 at 1:38 pm
bagaimana dengan pembahasan sistem kekhalifahan pak Nofie?
February 2nd, 2009 at 11:55 am
Emang bener sih…..kayaknya keadaan politik negara kita udah parah banget….tapi yang paling penting kita sebagai masyarakat, kontribusi lah untuk ngatasin masalah…bukan cuma bisa ngeluh aja….karena gak ngatasin masalah dan buat kita jadi pesimis dengan bangsa kita sendiri….dan akhirnya pesimis terhadap diri kita sendiri.
Jadi kalau saya saranin kita buat deh….yang bikin politik negara kita jadi lebih baik misalnya buat penyuluhan ke tetangga2x kita supaya milih caleg yang baik so pasti dengan membuat catatan -catatan caleg yang akan kita pilih.
Dan kalau perlu kita buat kontrak politik terhadap caleg yang akan kita pilih………
Pokok nya apa aja deh yang sedikit berarti buat bangsa kita Bangsa Indonesia.
Merdeka!!!!!!!!!
February 3rd, 2009 at 4:19 am
Ayo saatnya memilih.
PARTAI PESERTA PEMILU
01 . Partai Hati Nurani Rakyat
02 . Partai Karya Peduli Bangsa
03 . Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia
04 . Partai Peduli Rakyat Nasional
05 . Partai Gerakan Indonesia Raya
06 . Partai Barisan Nasional
07 . Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
08 . Partai Keadilan Sejahtera
09 . Partai Amanat Nasional
10 . Partai Perjuangan Indonesia Baru
11 . Partai Kedaulatan
12 . Partai Persatuan Daerah
13 . Partai Kebangkitan Bangsa
14 . Partai Pemuda Indonesia
15 . Partai Nasional Indonesia Marhaenisme
16 . Partai Demokrasi Pembaruan
17 . Partai Karya Perjuangan
18 . Partai Matahari Bangsa
19 . Partai Penegak Demokrasi Indonesia
20 . Partai Demokrasi Kebangsaan
21 . Partai Republika Nusantara
22 . Partai Pelopor
23 . Partai Golongan Karya
24 . Partai Persatuan Pembangunan
25 . Partai Damai Sejahtera
26 . Partai Nasional Banteng Kemerdekaan Indonesia
27 . Partai Bulan Bintang
28 . Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
29 . Partai Bintang Reformasi
30 . Partai Patriot
31 . Partai Demokrat
32 . Partai Kasih Demokrasi Indonesia
33 . Partai Indonesia Sejahtera
34 . Partai Kebangkitan Nasional Ulama
41 . Partai Merdeka
42 . Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia
43 . Partai Sarikat Indonesia
44 . Partai Buruh
February 5th, 2009 at 6:50 am
Salam
Ga tau bangsa ini mau dibawa kemana jika politisanya (maaf) ga kompeten begitu, jd mempertanyakan apa yang dicari sebenarnya toh nyatanya ga pernah ada poduk bahkan produk perundangan yang memihak rakyat, bingung je..
Adakah sosok seperti Umar Bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz di masa kini?
February 9th, 2009 at 2:38 pm
Wih artis ikutan jadi tokoh politik, emang nya bisa apa ya mereka…!
Tapi kalo-kalo dipikir apa yang mereka cari, sampai mau jadi tokoh politik..??
Itu yang harus dipertanyakan lebih lanjut lagi..!
Sebenarnya saya sendiri ga ngerti soal politik…!
Bikin jadi bingung…!
Mendingan pikirin coding…!
March 3rd, 2009 at 10:35 am
ya itu tandanya warga politisi indonesia minim sekali yang sanggup menempati posisi itu. ya didaulatlah artis karena masih ada pamor yang diharapkan. indikasinya politisi muda (fesh grad) tanggung-tanggung dan tidak mau bersatu – maaf ya kritik ini maksudnya membangun. kalo artis masuk politik akting kali ya :)
March 7th, 2009 at 8:19 am
Dengan segala tangis……akhirnya aku menyesali diriku kenapa aku dilahirkan di Negara Kemelaratan Republik Indonesiahina ini.
March 16th, 2009 at 10:53 am
bangsa kita sudah mencoba para birokrat untuk dijadikan anggota dewan, begitu juga dengan orang2 yang berasal dari kemiliteran. kita juga sudah mencoba dengan para pengusaha dan teknokrat dan kita masih tidak puas dengan kinerja mereka, kemudian kita juga mencoba memilih orang2 LSM yang selalu kritis terhadap kebijakan legislatif-eksekutif siapa tau mereka tidak menjadi seperti orang2 yg mereka kritik, hina, hujat, dan caci maki. daftarnya juga masih diikuti dengan para alim ulama dan juga dosen, siapa tau mereka bisa menjadikan negara ini lebih baik. dan sekarang ketika kita masih tidak puas dengan para anggota dewan kita yang terhormat para wakil-wakil rakyat kita, tentunya kita sebagai rakyat (yang mestinya lebih terhormat dari mereka karena notabene mereka cuma wakil) akan menggantinya juga. karena melihat yang sudah2, mungkin kita ingin mencoba orang2 dari golongan yang lain lagi, sekali ini dari kalangan yang kita sebut sebagai artis. siapa tau (dengan harapan yang sama seperti pada 5 tahun yang lalu terhadap golongan2 yang lain) para artis ini bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kalaupun nantinya mereka gagal juga seperti jenis2 lain sebelum mereka, yah setidaknya bangsa kita sudah menjajal satu kemungkinan dan masih belum beruntung. yang perlu dilakukan ya mencoba kemungkinan lain lagi, mereka2 yang baru lulus kuliah belum dicoba, atau mungkin yang baru lulus SMA, atau dukun, kalo masih gak bisa juga mungkin akhirnya kita akan memilih orang2 yang bukan bangsa kita sendiri buat memerintah negara ini. itu akan menjadi sangat menyedihkan.
mengutip Maman Firmansyah diatas yg juga meng-quote Robin Williams, “Politicians are a lot like diapers – they should be changed frequently and for the same reason”
March 21st, 2009 at 9:22 am
pokoknya aq ttep golput ja dah, tu politisi pada rakuessssss ma kursi presiden. masa’ jbatan cm 1 ja, yg nyalooon 44?! capek deh
seharusnya uangnnya tu digunain yang lbh bermanfaat,misalx untuk mengentas kmiskinan, mengurangi pengangguran, pembangunan ekonm ngra dll.
March 23rd, 2009 at 1:22 pm
usul aja : ambil capres jangan dari semua partai yg SUDAH TERBUKTI :
1. bersih
2. diterima masyarakat luas dari semua golongan
3. komitmen kpd kemanusiaan dan rakyat kecil
4. BERANI
5. mandiri secara ekonomi
kok hanya satu nama yg muncul di pikiran dan jiwa saya : EMHA
March 23rd, 2009 at 6:19 pm
Kemarin malem gua nonton acara Panggung demokrasi yang dipandu oleh presenter didi petet dan alya rohali…disitu menampilkan 3 orang kandidat caleg yang berasal dari 3 partai yang berbeda,diantaranya :
1.Rachel maryam,celebritis usungan caleg dari partai Gerindra
2.Tere,penyanyi usungan caleg dari partai Demokrat
3.Meutia hafid,jurnalis usungan caleg dari partai Golkar
gua cuma mau ngebahas soal rachel maryam,karena yang terlihat paling parah dan gak tahu apa-apa ya rachel maryam…gini ceritanya:
rachel maryam yang hanya lulusan SMA diberikan pertanyaan oleh Prasojo: apa si beda antara DPR sama DPD (pertanyaan dasar banget yang gua pikir pasti bisa lah dengan gampang dijawab),tetapi kenyataannya Rachel Maryam dengan terbata-bata menjawab kalo DPR itu kan yang membuat undang-undang,sedangkan DPD itu perpanjangan tangan dari DPR (astaga anak kecil juga tau kale mbakkk),merasa tidak puas dengan jawaban itu prasojo terus mendesak rachel tuk memberi jawaban,bukannya ngejawab tapi Rachel Maryam malah tengok kanan dan kiri kek orang kebingungan,sampai tuh acara sempet bloking karena menunggu jawaban rachel maryam yg super lama gak jawab2,untung ada presenter kondang macem alya rohali yang dengan sigap mengambil alih dengan berkata mungking ada kandidat lain yang mau membantu????
ko bisa yah pengalaman politik nol besar gitu berani mencalonkan diri jadi caleg,apa gak mempermalukan diri sendiri kalo udah kayak gitu???cuma berbekal ijazah SMA dan tidak memiliki pengalaman politik,bagaimana bisa???di acara tersebut akhirnya bener2 timpang dimana 2 kandidat lainnya meutia hafid dan tere bergantian memberikan tanggapan terhadap pertanyaan2 yang dilontarkan panelis,tapi Rachel Maryam cuma diam seribu bahasa dah mirip sapi ompong.
Hasil akhirnya,debat tersebut dimenangkan oleh tere dengan dukungan untuk Tere 49%,meuthia hafid 41%,dan Rachel maryam 10%,…
satu catatan:methia Hafid mengaku setelah resmi menjadi caleg partai golkar,dia sudah lebih dulu melepas jurnalisnya karena dia mau fokus ke pencaleg an nya,sedangkan untuk Tere,dia tidak akan pernah melepaskan ke artisannya dan tetap akan selalu jadi penyanyi,hal ini diprotes oleh yeni rosa damayanti sebagai panelis,karena menurut dia seorang legislatif (anggota DPR) harus bener2 fokus jadi wakil rakyat selama 24 jam dan 7 minggu,artinya profesi keartisan tere pun harus dilepas…kalo tidak, tere adalah salah satu calon anggota DPR yang yang hilang sebanyak 35% saat sidang…tetapi tere bersikeras tidak akan pernah melepas keartisannya…35% bangku yang kosong dan tidur saat sidang di DPR akan dihuni oleh tere nih.ampun dah mau jadi apa bangsa ini….
Kita sekolah dan kuliah biar pinter,kalo udah pinter gampang cari kerja dan nyari uangnya (pada dasarnya),tetapi kalo orang bego aja bisa jadi anggota DPR,buat apa repot-repot sekolah sampai sarjana, cuma buang-buang waktu dan uang serta pikiran,karena ternyata orang pinter itu gak ada harganya di indonesia,saya yakin diluar sana banyak banget sarjana nganggur yang karena keterbatasan biaya jadi gak bisa berbuat apa2 meskipun pinter…
Saya sebagai rakyat bener-bener gak rela apabila saya diwakilkan oleh orang-orang yang tidak berkompeten,woi rachel maryam,sadar diri donk ama kemampuan lo,Kepedean amat lo,gak nyadar apa kalo lo tuh bego,jangan egois karena nasib rakyat ada ditangan lo….Terima kasih.
August 5th, 2009 at 1:57 pm
yah mungkin memang dunia politik di indonesia kini semakin bobrok,tak jelas apa yang di uring-uringkan,bicara sana bicara sini tapi itu semua cuma OMONG KOSONG,dan akhirnya tetap rakyat yang jadi korban,jadi saya tidak bukannya tidak setuju dengan masuknya artis di dunia politik,tapi buatlah karena kalian artis kalian bisa menunjkan bukan hanya kemampuan dalam berkarya tapi juga kemampuan untuk melihat dan ikut merasakan apa yang harus di lakukan untuk rakyat,berjuanglah untuk rakyat.
August 25th, 2009 at 12:38 am
karena melihat yang sudah2, mungkin kita ingin mencoba orang2 dari golongan yang lain lagi, sekali ini dari kalangan yang kita sebut sebagai artis.
August 25th, 2009 at 12:39 am
ntuk bisa memperjuangkan kepentingannya sendiri. Saat pemilu seperti ini ganti rakyat yang disuap. Di desa2, penyuapan berlangsung meriah & rakyat makan dengan lahap.
August 27th, 2009 at 1:02 am
nah ini adalah salah satu bentuk dimana seorang politikus di anggap sebagai salah satu perubahan dimana perubahan itu di mulai dari keluarga khususnya dan umumnya di masyarakat, dan ini salah 1 bentuk demokrasi yang transparan di mata publik dan semua ini menjadi realita dan urgene di mata masyarakat, bagi masyarakat awam yang tak kanal dengan apa dan siapa dan bangaimana melihat fenomena yang terjadi belakangan ini dan bagi kita yang mengerti akan bangaimana perubahan ( change ) di tuntut untuk bisa memberikan pemahaman bagi orang awam supaya ke depan bisa terwujud demokrasi yang sesungguh nya dan terealisasi di masyarakat madawi…….amienn…??? by feri_meulaboh@yahoo.co.id
September 9th, 2009 at 6:03 am
Makanya sekarang banyak anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami. Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari.
February 28th, 2010 at 1:55 pm
Bisa – bisa gw stres nih mikirin keadaan negara ku sekarang,,,,,
semuanya hanya mentingin KEDUDUKAN.. dan KEDUDUKAN.
para ARTIS yang gak MUDENG OPO2 tentang politik bisa jadi wakil rakyat,,,,,,wah HEBAT ya mereka,,,,semuanya sebelom pemilu pada turun ketempat orang2 miskin agar dapet perhatian,,,padahal itu kan cuman AKTING byasa mereka kan artis,,loW dah kepilih lupa deh ma janji2,low itu sich terjadi pada semua yang nyalonin jadi wakil rakyat yang dah kepilih gitu……SEMUA PADA LUPA MA JANJI2,,, Eh nggak lupa denK pi pura2 PIKUN gitu LOoh,,,,,
baGI GW seMUa orang2 politik tu JAHAT , PEMBOHONG, + GAK TAU MALU,,,,