Deciding When to Invest
February 5th, 2009 | InvestmentEarlier this week I received a number of questions from readers. They were asking quite similar questions whether it is the right time to top-up their investment in either stocks or mutual funds. As Warren Buffet said, “Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.” One or two years ago, we were very fearful when others are very greedy. But today, others are fearful yet we have not turned greedy.
I should clarify that to be a successful investor, you have to look beyond the conventional realm of the financial markets in today’s economic climate. First, being contrarian does not always mean taking an opposite direction on the same road—-sometimes it just means taking a different road. Secondly, there is a difference between a contrarian and a reverse conformist. A contrarian is not someone who is blindly take an opposite position of the crowd indiscriminately.
It also should be noted that there is one major difference between us—-regular “Joe Average” investor—-and Warren Buffett. We can only think of investments in the context of a financial market, but for Buffett it may mean investing outside the financial system. He has a lot of money and influence to cut deals in order to secure entire business outright. Many of these businesses are simply inaccessible from the stock market.
Although Buffett is one of the globe’s wisest investor, he is not always good at everything. He has never experienced the Great Depression or hyperinflation period. The world today is at a turning point and certainly there is no guarantee that it will return to the world that Buffett experienced all his life. Indeed, I admire him as an exceptionally astute businessman, a legendary investor, and a great philanthropist. But “copy-paste” his perspective into the general is a dangerous trap to base one’s investment decisions on. If you just follow Buffett’s way as is, it might put you at a severe disadvantage.
I would love to see a strong rally although I don’t think it will happen in a month or two. At this moment, everyone is sitting on their hands until they see everyone else move first. Unfortunately, no one knows what the trigger will be. Quoting Marc Faber, financial institutions are sitting on huge piles of cash as they sell their assets and hoard it. It is probably only a matter of time before there’s a positive trigger.
I believe there will be an Obama rally which will stimulate the U.S. economy which in turn will stimulate our stock market as well. We’re preparing for a massive country-wide election in 2009 that if run smoothly will also stimulate our economy. However, in the mean time, we will have a bumpy ride with the stock market having good days and bad days.
My investment strategy during this crisis period is simply liquidate and wait. The idea is fairly straight forward. First, you’ve got to ask yourself what you think the aftermath of this crisis will be. If you believe that hyperinflation will occur just like in the great crash of 1929, then it is a priority to accumulate gold—-or buy ETF gold and gold mining stocks. If you believe that this crisis is temporary, you might want to buy cheap stocks from invulnerable sectors such as consumer goods.
The next step of this strategy is to liquidate a portion of your assets and wait for the crash. If you had already identified the second step after this crisis, then it’s time to buy up the assets. Again, this strategy is not perfect. The financial crisis may take quite a long while to arrive. Keeping your assets in the form of fiat money will mean that they will lose their value through the ravages of monetary inflation in the meantime.
I don’t know whether this strategy to be good or bad because it will depend on one’s personality, risk-tolerance, and personal circumstances. However, if you are the sort who is particularly risk-adverse, perhaps this strategy may be suitable for you. Using this strategy allow me to minimize losses while reaping the benefit of capital gain and stock dividend at the same time.
Share on Facebook
Comments
February 7th, 2009 at 6:41 am
Great post, Iman! This all makes great sense to me. Thanks.
February 7th, 2009 at 6:59 am
Salam
The point is how to choose the best strategy, rait?
Nice post, trims..
February 7th, 2009 at 3:16 pm
Glad I found this site – I’m finding the content very useful – thanks!
February 8th, 2009 at 6:02 pm
In my opinion, you’re unlikely to invest all your money at one particular point in time. It’s far more likely that you’ll invest small amounts of money on a regular basis. So while you might see immediate stock market falls some of the time, most of the time this won’t be the case.
Nice article, though.
February 12th, 2009 at 7:48 pm
I agree with most of your points. And when you are ready to invest, don’t forget to diversify.
February 13th, 2009 at 11:15 pm
FYI. Kalo mo analisis FA Banking lebih mudah dibandingkan dengan sektor lainnya karena sektor ini memiliki aturan yang super ketat dari regulator. Salah satunya dari Bank Indonesia. BI udah netapin pengukuran kinerja laporan keuangan berdasarkan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dengan menggunakan metode CAMEL (Capital, Assets, Management, Earnings, Liquidity).
Nah, buat investor atau calon investor, metode ini benar2 harus diperhatikan untuk mengevaluasi serta mengekpektasikan kinerja keuangan perusahaan perbankan yang diincar atau yang sedang dimilikinya berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan per tahun atau per kuartal.
Gw persingkat aja rasio yang cukup mudah dianalisis berdasarkan metode yang telah ditetapkan BI itu diantaranya adalah:
1. CAR (Capital Adequancy Ratio) CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
CAR = Total ATMR x 100%
Modal Bank
2. Rasio Aktiva Tetap terhadap Modal (ATTM). Rasio ini mengukur kemampuan manajemen bank dalam menentukan besarnya aktiva tetap dan inventaris yang dimiliki bank yang bersangkutan terhadap modal. Semakin tinggi rasio ini artinya modal yang dimiliki bank kurang mencukupi dalam menunjang aktiva tetap dan inventaris sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
ATTM = Modal x 100%
Aktiva Tetap dan Inventaris
3. Rasio Aktiva Produktif Bermasalah (APB). Rasio ini untuk menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktif bermasalah terhadap total aktiva produktif. Semakin tinggi rasio ini maka semakin burukkualitas aktiva produktif yang menyebabkan PPAP yang tersedia semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Aktiva produktif bermasalah adalah aktiva produtif dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Rasio ini dapat dirumuskan sebagi berikut:
APB = Total aktiva produktif x 100%
Aktiva produktif bermasalah
4. NPL (Non Performing Loan). Rasio ini menunjukan bahwa kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Kredit dalam hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk kredit kepada bank lain. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 3/30DPNP tgl 14 Desember 2001) :
NPL = Total kredit x 100%
Kredit bermasalah
5. Rasio PPAPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif terhadap Aktiva Produktif). Rasio PPAP menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menjaga kualitas aktiva produktif sehingga jumlah PPAP dapat dikelola dengan baik. Semakin besar PPAP maka semakin buruk aktiva produktif bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Cakupan komponen aktiva produktif dan PPAP yang telah dibentuk sesuai dengan ketentuan Kualitas Aktiva Produktif yang berlaku.
Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
PPAP terhadap Aktiva Produktif = Total aktiva produktif x 100%
PPAP yang telah dibentuk
6. Rasio pemenuhan PPAP. Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menentukan besarnya PPAP yang telah dibentuk terhadap PPAP yang wajib dibentuk. Semakin besar rasio ini maka kemungkinan bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil karena semakin besar PPAP yang telah dibentuk dari PPAP yang wajib dibentuk. Penghitungan PPAP yang wajib dibentuk sesuai dengan ketentuan Kualitas Aktiva Produktif yang berlaku.
Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
Pemenuhan PPAP = PPAP wajib dibentuk x 100%
PPAP yang telah dibentuk
7. ROA (Return on Assets). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan dari rata-rata total aset bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Laba sebelum pajak adalah laba bersih dari kegiatan operasional sebelum pajak. Sedangkan rata-rata total asset adalah rata-rata volume usaha atau aktiva. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
ROA = Rata – rata total asset x 100%
Laba sebelum pajak
8. ROE (Return on Equity). Rasio ini digunakan untuk mengukur kinerja manajemen bank dalam mengelolah modal yang tersedia untuk menghasilkan laba setelah pajak. Semakin besar ROE, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Laba setelah pajak adalah laba bersih dari kegiatan operasional setelah dikurangi pajak sedangkan rata-rata total ekuitas adalah rata-rata modal inti yang dimiliki bank, perhitungan modal inti dilakukan berdasarkan ketentuan kewajiban modal minimum yang berlaku. Rasio ini dirumuskan sebagi berikut:
ROE = Rata – rata ekuitas x 100%
Laba setelah pajak
9. NIM (Net Interest Margin). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Semakin besar rasio ini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
NIM = Aktiva produktif x 100%
Pendapatan Bunga bersih
10. BOPO (Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional). Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Biaya operasional dihitung berdasarkan penjumlahan dari total beban bunga dan total beban operasional lainnya. Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total pendapatan bunga dan total pendapatan operasional lainnya. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:
BOPO = Pendapatan Operasional x 100%
Biaya Operasional
11. LDR (Loan to Deposit Ratio). Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar. Kredit yang diberikan tidak termasuk kredit kepada bank lain sedangkan untuk dana pihak ketiga adalah giro, tabungan, simpanan berjangka, sertifikat deposito. Rasio ini dapat dirumuskan sebagi berikut:
LDR = Total dana pihak ketiga x 100%
Total kredit
FA kurang cocok untuk banking karena ada beberapa FA yang ga bisa diterapin di sektor ini. contohnya di banking ga ada receivables yang bisa diukur rasionya karena receivables dy dalam bentuk penyaluran kredit jadi namanya kredit yang disalurkan ato diberikan deh, trus di banking ga ada inventory jadi analisis pake quick ratio ga bisa dipake di banking
February 20th, 2009 at 1:37 pm
Nice. With u’r permission, i’d like to forward this to my friends. Thanks
March 8th, 2009 at 12:18 am
I’ve re-worked an earlier essay of mine on wealth, taking into account the last six months and my thoughts on future prospects:
When people think of wealth, they typically get it backwards. They think of luxuries like huge mansions and expensive sports cars. They think of treasures like fine jewelry, collector cars and paintings by the Old Masters. But these things are the least important aspects of wealth.
So what is wealth? I will list the fourteen categories of wealth, along with some comments on each. The list is generally in order of importance, with category one being the most important, and category thirteen the least important. If you want to achieve true wealth and the freedom and security that wealth provides, then you need to concentrate your efforts on the lower numbered categories. If you do this, the higher numbered categories will eventually move into your life of their own accord.
REMEMBER: The first rule of wealth is “Have no debt.” Wealth is not wealth if you owe it to someone else.
Health – Without your health, all is for naught. You will be unable to enjoy any of the other categories. There is a reason the airlines tell parents to take care of themselves first, not their children, in an emergency. The parents have to stay calm and alive if they are going to be of any help to their children.
Relationships – Having strong healthy relationships is critical for future wealth. Be a relationship builder. Build healthy relationships with family, friends, neighbors, co-workers. For the spiritual minded, build a strong healthy relationship with your God and/or with nature.
Clean Water, Food & Clothing – We are talking the basics here. Classic clothing, not designer labels or the fad-of-the-day.
Knowledge, Skills, & Abilities – Material possessions come and go. They can be lost, damaged, used up, stolen or taken from you. Your knowledge, skills and abilities are yours forever (as long as you stay healthy). Be a life long learner.
Land & Basic Shelter – Not city apartments or mansions in the suburbs. Instead this category is a small home on a plot of land. Land is useful because it can produce food and water, wood for fuel and lumber, and opportunities for exercise and recreation. Healthy soil is important to grow food.
Tools, Equipment, Seeds & Weapons – Items used to produce or repair things, or are useful for protection.
Cash – Finally we come to the first category that fits what most people think of as wealth. This category includes money in hand and in checking and savings accounts, CDs, money market accounts, and savings bonds. Note: Not all cash is created equal. You need to consider the stability of the institution holding your cash, as well as the currency your cash is in.
Hard Assets – Physical assets that you can touch – gold & silver, industrial metals, land, timber, agricultural commodities. This category also includes tools, seeds, and equipment beyond your own needs (for barter or selling at a later time).
Your Own Business – Being your own boss puts you in charge of your life, instead of someone else. Industries to consider: sustainable agriculture, sustainable forestry, renewable energy, water systems, as well as businesses dealing with energy & resource efficiency.
***** The above nine categories are the most important for building wealth. *****
***** The below five categories are of low importance for building wealth. *****
High Quality Mutual Funds/ETFs – Historically, a fairly safe investment over the very long-term. Provides professional money management, government oversight, and broad diversification. However, in a market crash this category will fall sharply. Do not invest money you cannot afford to lose in this category.
Blue Chip Stocks & Bonds – Individual stocks and bonds are more risky because they lack the diversification of mutual funds, but also offer more potential upside. However, in a market crash, this category will fall very sharply. Do not invest money you cannot afford to lose in this category.
Treasure – Gemstones, jewelry, antiques, true works of art and other tangible and lasting luxuries. Since these are real items, they will always have some value if only as objects of beauty, unlike paper wealth (funds, stocks, bonds) which can become totally worthless.
Speculative Stocks, Bonds, and Funds – These offer more potential wealth, but at much greater risk. Will be among the first and hardest hit in times of economic turmoil.
Luxuries – Think of these as short-lived treasure. Those designer jeans will wear out. You will eventually wreck or wear out that sports car. That $100 meal at that fancy restaurant will be pooped out of your system in less than 24 hours.
March 16th, 2009 at 12:43 pm
Good article! Really throws some light on how to invest and when to invest. I agree with the article that we are in different period than what Mr. Buffet used to. So one should have their own thoughts and research on current economic scenario before investing.
March 16th, 2009 at 12:51 pm
The article provides some basic thoughts and inputs on investing! Thanks!!
March 16th, 2009 at 12:54 pm
Yes, investments in current scenarios require a different approach, considering all the factors such as the recession, job-cuts, low industrial outputs, etc.
March 16th, 2009 at 12:55 pm
Really worth reading! Thanks!!
March 25th, 2009 at 1:19 pm
Good reading! Yes, I accept we are in ‘different time’ than what Mr.Buffet has been! So investment strategies also should change accordingly!!
May 26th, 2009 at 10:08 am
The concept investmen are : when you bught in low price, then you must buy next in high price, or you must consistencys your point investment year by year, Jadi sok tahu nih, wah blog aku juga seperti ini nih konsepnya bebas tapi menyikapi hal yang kritis, dan bermanfaat bagi orang, semoga tetap eksis biar aku banyak belajar eksistensinya, cherss.
May 26th, 2009 at 10:09 am
The concept investmen are : when you bught in low price, then you must sell next in high price, or you must consistencys your point investment year by year, Jadi sok tahu nih, wah blog ini nih sama kaya blog aku konsepnya bebas tapi menyikapi hal yang kritis, dan bermanfaat bagi orang, semoga tetap eksis biar aku banyak belajar eksistensinya, cherss.
August 14th, 2009 at 5:48 pm
kalo disederhanain, dan konteksnya indeks secara umum.., biasanya dikalangan professional FM dikenal jargonnya tuh faktor2 yg secara signifikan mempengaruhi pergerakan indeks saham sebagai L.E.V.I.S (Liquidity, Earning, Valuation, Interest, Sentiment)
Liquidity : Ini Faktor yang hampir mutlak dan paling mempengaruhi Indeks saham jangka pendek-menengah, yaitu ada tidaknya pasokan dan ketersediaan dari Dana segar yang masuk ke instrumen keuangan dan pasar modal.. (ato sebaliknya ada tidaknya “faktor-penyedot” dana dari instrumen keuangan). simpelnya kita lihat sendiri efek ketika likiditas dunia “mengering”, fireselling regardless of the valuation and price level.., ato sebaliknya rally belakangan ini jga terjadi sangat jelas ketika likuiditas dipompakan dan mulai tersedia mengisi kembali kantong2 yang sebelumnya dipaksa “dikeringkan”… stimulus fiskal, M 1 Growth, Kenaikan Cadangan Devisa, Gelontoran belanja pemerintah, kepemilikan asing, total deposito pihak ketiga, penguatan/pelemahan kurs.
Earning : Faktor yang dipersepsikan paling efisien diserap pasar tentunya earning atau perolehan laba perusahaan, naik atau turun laba amat cepat diserap oleh pasar. ekspektasi laba, jump kenaikan ato penurnan laba YoY, QoQ, ini seringkali sangat cepat diserap dan menggerakkan harga. maka kadang “game”nya buat seorang FM adalah menebak menurut versinya earning yang akan dicapai vs persepsi pasar/refleksi harga. logis. bahkan dengan rating level yang tidak dirubah kenaikan earning akan menaikkan harga wajar pasar atau bahkan suat counter.
Valuation : Perubahan metode valuasi yang digunakan juga dapat merubah tembakan aproximasi harga target pasar atau target suatu saham. sewaktu indeks bearish dan market berada pada historical band level rendah biasanya picking dan valuasi saham akan bergeser ke metode2 yang cenderung “asset based” atau value based, contohnya cash per share, reproductive asset per share, tangible book per share etc, pokonya yg fokus pada “harta” yg dapat dieksekusi dan digunakan andai kata keadaan tidak membaik dan perusahaan beroperasi tidak pada kondisi full throttle (which means no growth which means no capitalisation of “future cash flow” which means what u see(now) is what get) sementara ketika likuiditas mulai bergerak masuk dan earning mulai membaik maka biasanya metode valuasi akan bergeser juga ke metode yg akan mengcapture “kekuatan pertumbuhan dan penguatan arus kas dan pendapatan perusahaan”, metode2 semacam DCF, EPV, CFROI, EVA biasanya digunakan ketika pasar mulai memaski periode bullish dikarenakan adanya perbaikan earning dan inflow likuiditas. disini biasanya lebih dari 50% dari target harga wajar didapat dari kapitalisasi arus kas masa depan yang agak jauh bahkan sampai ke terminal value nya. terakhir yang bisa mengangkat target harga biasanya ketika di kondisi puncak dan valuasi hanya menjadi alat “justifikasi” level band yg secara historikal tinggi, biasanya kapitalisasi masa depan akan lebih di”eksploitir” lagi dengan metode2 semacam PEG, EV/EBITDA , EV/ASSET etc.
tapi tentunya jelas faktor valuasi ini sifatnya cenderung “multiplier” ato hanya berlaku secara efisien ketika faktor likuiditas dan earning memberikan indikasi yang jelas.
Interest : ini jg berpengaruh signifikan kepada persepsi level wajar pasar., kenaikan suku bunga akan menurunkan target wajar karena discount factor (denominator) secara natural akan naik, sebaliknya kalo turun. juga biaya beban bunga dan modal perusahaan bisa terpengaruh outlook suku bunga dan inflasi sehingga profil neraca dan laporan keuangan perusahaan juga akan berubah dan berdampak pada forecast lapran keuangan, bahkan aktivitas operasi dan strategi bisnis yang akan dijalankan oleh emiten-emiten.
sentiment : ini mungkin lebih ke faktor psikologis, berita yg efek signifikannya terhadap kondisi ekonomi, atau bahkan operasi dan laba perusahaan tidak terlalu jelas tapi bisa membat riak dan sentimen diantara pelaku pasar. atau bahkan sentimen “favor” ato “mood” jangka pendek dari pelaku pasar. contoh : pasar Indonesia punya exposure yg unik, berita kenaikan komoditas bisa jadi buruk bagi ekonomi tapi bisa jadi driver yg berbeda di tangan sentimen pasar , proxy kenaikan komoditas baik untuk saham2 komoditas dan pertumbuhan ekonomi luar jawa, sehingga mngkin bisa berdampak mood pasar cenderung berkermun di saham komoditas, sebaliknya berita harga komoditas lesu berarti inflasi rendah dan suku bunga bisa dipastikan juga akan diturunkan sehingga baik untuk sektor finansial dan ekonomi pulau jawa. tapi di tangan pelaku pasar berita-berita ini bisa di”angkat” baik sisi positif ato negatifnya sesuai apa yang lebih menjadi “fokus” pemain saat itu…
September 6th, 2009 at 7:54 am
Interested in where to invest money? Then, our investment fund is what youwant.
MMCIS Investement Fund will let you receive stable profits and minimize risks. MMCIS Investment Fund is an active participant of innovative tendencies of investing in Europe and USA.
September 9th, 2009 at 6:01 am
Perubahan metode valuasi yang digunakan juga dapat merubah tembakan aproximasi harga target pasar atau target suatu saham. sewaktu indeks bearish dan market berada pada historical band level rendah biasanya picking dan valuasi saham akan bergeser ke metode2 yang cenderung “asset based” atau value based,
September 14th, 2009 at 6:04 pm
Deciding when to invest, I guess, is never meant to be easy. If it was we’d all be very rich. Evaluating risk is critical. In my opinion it is currently a very good time to invest in property and shares.
October 23rd, 2009 at 1:19 am
Gw persingkat aja rasio yang cukup mudah dianalisis berdasarkan metode yang telah ditetapkan BI itu diantaranya adalah
March 6th, 2010 at 11:50 am
AXA Mandiri Financial Services
Berdiri sejak Desember 2003 dan merupakan joint venture dua perusahaan besar yaitu bank terbesar di Indonesia, PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk dan asuransi terbesar di dunia AXA Group. Bergerak di bidang bisnis bancassurance, AXA Mandiri memiliki nasabah lebih dari 265.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, AXA Mandiri didukung lebih dari 1000 Financial Advisor yang tersebar di 700 cabang Bank Mandiri di sepuluh wilayah.Dengan visi untuk menjadi perusahaan penyedia layanan keuangan dan manajemen kekayaan no.1 di Indonesia. dengan kategori aset diatas 1 sampai dengan 5 triliun rupiah, serta predikat SANGAT BAGUS dari Majalah InfoBank dengan kategori aset di atas Rp 1 triliun.
PRODUK : Mandiri Rencana Profesional, Mandiri Rencana Keluarga, Mandiri Rencana Pendidikan Mandiri Rencana Emas, Mandiri Jiwa Sejahtera, Mandiri Protection, Mandiri Hospital Saving, Mandiri Income Replacement, Mandiri Rencana Sejahtera Syariah.
Contoh : #Anda Menabung Uang sebesar Rp. 50.000.000,- dalam tempo waktu 5 Tahun ( Tabungan bisa ditarik sewaktu-waktu )
AXA Mandiri memberikan jaminan atas uang anda yang di tabung akan berkembang menjadi minimal 18%/Tahun #Rp. 50.000.000,- X minimal 18%/Tahun = minimal Rp. 9.000.000,-/Tahun
Minimal Rp. 9.000.000,- X 5 Tahun = minimal Rp. 45.000.000,-
Total Rp. 50.000.000,- + minimal Rp. 45.000.000,- = minimal Rp. 95.000.000,- ( Pada Tahun ke-5 )
*Uang Tabungan anda bisa ditarik sewaktu-waktu ( Flexibel ) yang dijamin oleh LPS dan fasilitas lainnya oleh Bank Mandiri
* Info lengkap hubungi staff agen customer sevices kami Up. Mr. Ferdy di +62 341 9262769 , mobile phone : +62 856 4984 2128
March 6th, 2010 at 11:50 am
AXA Mandiri Financial Services
Berdiri sejak Desember 2003 dan merupakan joint venture dua perusahaan besar yaitu bank terbesar di Indonesia, PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk dan asuransi terbesar di dunia AXA Group. Bergerak di bidang bisnis bancassurance, AXA Mandiri memiliki nasabah lebih dari 265.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, AXA Mandiri didukung lebih dari 1000 Financial Advisor yang tersebar di 700 cabang Bank Mandiri di sepuluh wilayah.Dengan visi untuk menjadi perusahaan penyedia layanan keuangan dan manajemen kekayaan no.1 di Indonesia. dengan kategori aset diatas 1 sampai dengan 5 triliun rupiah, serta predikat SANGAT BAGUS dari Majalah InfoBank dengan kategori aset di atas Rp 1 triliun.
PRODUK : Mandiri Rencana Profesional, Mandiri Rencana Keluarga, Mandiri Rencana Pendidikan Mandiri Rencana Emas, Mandiri Jiwa Sejahtera, Mandiri Protection, Mandiri Hospital Saving, Mandiri Income Replacement, Mandiri Rencana Sejahtera Syariah.
Contoh : #Anda Menabung Uang sebesar Rp. 50.000.000,- dalam tempo waktu 5 Tahun ( Tabungan bisa ditarik sewaktu-waktu )
AXA Mandiri memberikan jaminan atas uang anda yang di tabung akan berkembang menjadi minimal 18%/Tahun #Rp. 50.000.000,- X minimal 18%/Tahun = minimal Rp. 9.000.000,-/Tahun
Minimal Rp. 9.000.000,- X 5 Tahun = minimal Rp. 45.000.000,-
Total Rp. 50.000.000,- + minimal Rp. 45.000.000,- = minimal Rp. 95.000.000,- ( Pada Tahun ke-5 )
*Uang Tabungan anda bisa ditarik sewaktu-waktu ( Flexibel ) yang dijamin oleh LPS dan fasilitas lainnya oleh Bank Mandiri
* Info lengkap hubungi staff agen customer sevices kami Up. Mr. Ferdy di +62 341 9262769 , mobile phone : +62 856 4984 2128 ..
March 6th, 2010 at 11:51 am
AXA Mandiri Financial Services
Berdiri sejak Desember 2003 dan merupakan joint venture dua perusahaan besar yaitu bank terbesar di Indonesia, PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk dan asuransi terbesar di dunia AXA Group. Bergerak di bidang bisnis bancassurance, AXA Mandiri memiliki nasabah lebih dari 265.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, AXA Mandiri didukung lebih dari 1000 Financial Advisor yang tersebar di 700 cabang Bank Mandiri di sepuluh wilayah.Dengan visi untuk menjadi perusahaan penyedia layanan keuangan dan manajemen kekayaan no.1 di Indonesia. dengan kategori aset diatas 1 sampai dengan 5 triliun rupiah, serta predikat SANGAT BAGUS dari Majalah InfoBank dengan kategori aset di atas Rp 1 triliun.
PRODUK : Mandiri Rencana Profesional, Mandiri Rencana Keluarga, Mandiri Rencana Pendidikan Mandiri Rencana Emas, Mandiri Jiwa Sejahtera, Mandiri Protection, Mandiri Hospital Saving, Mandiri Income Replacement, Mandiri Rencana Sejahtera Syariah.
Contoh : #Anda Menabung Uang sebesar Rp. 50.000.000,- dalam tempo waktu 5 Tahun ( Tabungan bisa ditarik sewaktu-waktu )
AXA Mandiri memberikan jaminan atas uang anda yang di tabung akan berkembang menjadi minimal 18%/Tahun #Rp. 50.000.000,- X minimal 18%/Tahun = minimal Rp. 9.000.000,-/Tahun
Minimal Rp. 9.000.000,- X 5 Tahun = minimal Rp. 45.000.000,-
Total Rp. 50.000.000,- + minimal Rp. 45.000.000,- = minimal Rp. 95.000.000,- ( Pada Tahun ke-5 )
*Uang Tabungan anda bisa ditarik sewaktu-waktu ( Flexibel ) yang dijamin oleh LPS dan fasilitas lainnya oleh Bank Mandiri
* Info lengkap hubungi staff agen customer sevices kami Up. Mr. Ferdy di +62 341 9262769 , mobile phone : +62 856 4984 2128 …,