Narsis 2.0
April 12th, 2009 | PersonalMungkin Anda sudah tahu. Dalam mitologi Yunani kuno, konon seorang pemuda bernama Narcissus sedang berjalan-jalan menyusuri danau. Suatu saat ia membungkuk di tepi danau hendak meminum sedikit airnya. Narcissus baru sadar betapa tampan dirinya dari bayangan yang tercermin di atas permukaan danau dan jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Ia mencoba mengulurkan tangannya dan hendak mencium bayangannya sendiri. Sayangnya, Narcissus kemudian tergelincir dan mati tenggelam. Para dewa mereinkarnasi jasadnya menjadi bunga yang dinamai bunga narcissus.
Agak sulit menebak kapan pertama kali gelombang narsis 2.0 menyerbu dunia maya di Indonesia. Sejak kali pertama blog menjadi populer di Indonesia, gelagatnya memang sudah terlihat. Orang-orang ngeblog hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya eksis di dunia maya—-atau lebih parah lagi, biar nongol kalau kita googling namanya. Tapi gelombang yang agak santer mungkin terjadi ketika Friendster menjadi sangat ngetren ditunjang dengan murahnya ponsel-ponsel berkamera VGA.
Bisa ditebak, semua jadi berlomba-lomba mengoptimalkan jumlah foto di Friendster. Foto dilakukan di mana saja demi kejar setoran. Posenya juga benar-benar gak nahan—-dengan gaya diimut-imutkan, didekatkan kamera dengan angle yang tinggi, sudut bibir sedikit dimonyongkan, dan mata disipitkan agar mirip artis Jepang. Kalau kurang, Photoshop bisa dikerahkan untuk memanipulasi foto, terutama untuk menyembunyikan jerawat dan tanda lahir yang tidak diinginkan.
Friendster mendadak jadi aneh. Kosakata baru seperti “akyu”, “luthu”, “kamuwh” mendadak jadi populer. Friendster sontak penuh dengan glitter dan blip animasi yang menyolok mata. Profil ditulis dengan kombinasi huruf kapital dan huruf kecil yang menyusahkan pembacanya. Jumlah teman dan testimonial sudah menjadi indikator populer tidaknya seseorang. Inilah mengapa akhirnya saya menutup Friendster sejak sekitar setahun lalu.
Kini, penderita narcissistic personality disorder (NPD) nampaknya justru kian akut. Kehadiran Facebook (dan microblogging seperti Twitter dan Plurk) agaknya membuat narsisme kian populer. Banyak anak sekolah merengek minta dibelikan Blackberry dengan alasan untuk menunjang tugas—-padahal hanya untuk update status atau chatting dengan teman di jam pelajaran. Mejeng di kafe dan mall menjadi rutinitas wajib dengan “sengaja” menonjolkan Blackberry. Walhasil, ponsel berfitur canggih itu hanya digunakan sepersekian dari kemampuan maksimalnya.
Dulu, bermain laptop cuma menjadi privilege para eksekutif muda. Tapi sekarang, banyak anak muda yang pamer laptop di coffee shop. Masa bodoh dengan spesifikasi, chipset, dan semacamnya. Kalau perlu beli Apple yang lebih cute dan seksi—-walaupun tak tahu bagaimana mendayagunakan MacOS. Hotspot gratisan menjadi target utama demi mengakses Facebook atau bermain game online. Kalau perlu, pesan minum satu tapi buat barengan dan pura-pura cuek nongkrong berjam-jam.
Kamera SLR, yang dulunya cuma dipakai para profesional, kini menjadi kamera sejuta umat. Dengan dalih hobi dan meningkatkan kreatifitas, kamera canggih ini malah cuma jadi senjata untuk menambah foto-foto narsis dengan resolusi tinggi. Kamera yang setidaknya dibanderol Rp 7-15 juta menjadi tidak optimal karena setting yang dipakai hanya default/auto. Album di Facebook penuh dengan foto diri sendiri. Yang lebih parah, setiap teman di-tag di foto-foto tersebut.
Facebook memang fenomena. Ia bisa membuat penggunanya seolah wartawan infotainment yang selalu memburu informasi tentang dapur orang lain. Ia membuat penggunanya sibuk memelototi status orang lain, memberi komentar, atau bergantian menulis di wall orang lain. Sama seperti yang terjadi di Friendster, makin gaul di Facebook berarti makin eksis. Hari ini add 100 orang, besok 200, minggu depan 1000 orang—-padahal yang benar-benar dikenal cuma 50an saja. Menulis notes di Facebook menjadi wajib, walaupun cuma asal comot dari tulisan/blog orang lain.
Bisa disimpulkan bahwa we have trained our selves and our communities to be narcissistic. Memang benar, Freud pernah mengatakan bahwa narsis “is an essential part of all of us from birth.” Manusia, by its nature, memang punya hasrat ingin dicintai, dihormati, dan dipuji. Namun segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak bisa dibenarkan. Apalagi kalau ujung-ujungnya justru membuat kita sombong dan cenderung menganggap remeh orang lain.
Dalam mitosnya, ketampanan Narcissus sampai membuat orang mempertanyakan umurnya kepada peramal Tiresias. Kata Tiresias, “Narcissus bisa hidup lama, kecuali jika dia belajar mengetahui dirinya sendiri.” Jadi, jangan terlalu narsis deh, kalau kita ingin berumur panjang. :)
Share on FacebookPossibly Related:
- No related posts
October 9th, 2009 at 5:17 pm
Comments
April 12th, 2009 at 10:55 pm
Walah, berarti secara tidak langsung bung nofie mengakui kalau dirinya narsis ya
wakakaka
btw, PERTAMAX lagi murah
April 13th, 2009 at 12:52 am
Mungkin. :)
Saya tidak punya account Friendster. Facebook hanya dibatasi untuk orang-orang yang saya kenal. Saya tidak punya account di Twitter, Plurk, dan lainnya. Saya juga tidak punya keinginan untuk memiliki kamera SLR atau Blackberry.
April 13th, 2009 at 1:54 am
sedikit banyak saya sepaham sama mas nofie, saya juga ngerasa lama2 FS & FB malah bikin annoying (no offense to all) hingga kedua akun itu saya tutup tahun lalu…
tinggal blog yg masih bertahan selain untuk narsis2an n curhat2an, tapi sekaligus juga buat catatan unforgettable moment ataupun sharing ilmu…
April 13th, 2009 at 8:53 am
Ga hanya fs, fb, dll. Poster caleg juga narsis banget, om.
April 13th, 2009 at 9:17 am
Kembali lagi ke konsep, tergantung yg pake aja kok, ada yg ikutan FB untuk silaturahmi dengan temen2 lama, update link lagu2 lama drpd googling sendiri..
April 13th, 2009 at 12:01 pm
Saya yakin mas Nofie sudah mengambil sample yang banyak sebelum mengeluarkan pernyataan diatas :).
April 13th, 2009 at 6:00 pm
Bener banget mas Anang.. hehe,, Merusak keindahan –yang masih belom indah– aja tuh,, huehehe..
*Mas Nofie, bener banget mas, saya setuju banget sama mas.
Kira2 apa ya Mas yang menyebabkan hal itu. Apakah kebebasan berekspresi itu memang ciri anak muda di negera yang menganut sistem demokrasi? Apakah anak muda di negara maju juga seperti itu? kalo bisa ditambahin dampak dan manfaatnya mas, juga pembandingannya. Lumayan buat nambah pengetahuan..:)
Very Nice Blog Mas,, keep writing for us ya Mas..
April 14th, 2009 at 11:20 pm
wah kalo sya mah makin kesini makin gak eksis … hehe
facebook baru aja dihapus …
ym sering nya invisible .. (sering visible ke rekan kerja aja)…
friendster didiemin aja ..
plurk gak ikutan ..
btw, nice posting …
April 15th, 2009 at 6:53 pm
Kalau kata GM, bukan narsisime, tapi ekshibisionisme. Narcissus mengagumi wajahnya sendiri di kolam, sendirian. Kalau ekshibisionisme, memperlihatkan tampangnya ke semua orang…
hehehe
April 16th, 2009 at 1:31 pm
Hidup dengan sebatas kulit muka memang seperti itu. Bisa saja teknologi menjadi ajang pelampiasan berbagai hal yang tidak masuk ranah esensi dan kebermangpaatan.
Tapi itulah hidup. Hal remeh temeh adalah bagian dari suatu kebudayaan. Sifat memamerkan diri atau kebendaan yang dimiliki mungkin dianggap kurang atau bahkan tidak wajar.
Kecendrungan itu seiring perkembangan jaman. Industri kreatif menumbuhkan berbagai ide produk, jasa dan pertunjukkan, dan berbagai sajian prosumer lainnya. Pada akhirnya sekadar angka-angka, dan:
Jauh dari kebermaknaan hidup.
April 17th, 2009 at 2:53 am
hahaha….
anda benar mas nof..
bahkan di lingkungan saya ada yg gak sungkan2 bikin komunitas BHNC (batuhijau narsis club)
April 17th, 2009 at 4:27 pm
Kalau semua orang gak mau bercerita, ntar dituduh narcis, informasi yang perlu disampaikan gak tersebar dong..??? :(
April 18th, 2009 at 2:05 am
Saya ketika punya account friendster juga kurang antusias, dan tidak mengerti di mana asyiknya mempunya banyak teman dan menjadi narsis. Namun Facebook tampaknya beda, dan terbukti jauh melebih social network yang lain. Sisi interaktif FB tergali dengan baik, sehingga terasa nyaman sebagai ajang sosialisasi, tidak sekedar menggali kenarsisan pribadi. Lagipula FB menjadi pembuka jalan atau platform untuk aplikasi-aplikasi social web, misalnya game-game online. Mafia War, Street Racing, Space Wars, dst, itu punya penggemar luar biasa banyaknya, dan aktif dimainkan setiap hari.
Jadi rasanya cukup aneh bila ada yg sampai menutup FB karena menolak menjadi narsis atau membatasi teman agar tidak terganggu privacynya. Seperti ekonomi liberal, akan selalu terbentuk titik keseimbangan baru, karena FB menjadi semacam arena bermain bagi banyak orang. Sebelum ada FB tidak terbayang bahwa ada tempat berkumpul orang + aplikasi dalam 1 wadah. Munculnya FB membawa inovasi cemerlang ke arah sana. Narsis hanya kosmetik sesaat, tapi pertemanan berdasarkan kepentingan itu yg akan abadi.
April 18th, 2009 at 3:21 am
iyaa. sya setuju ma mas nofie
emang kok…fs fb ato apalah..cm bikin orang pamer aja..meski untuk itu kadang hrs memamerkan hal2 yg gk sebenernya
misal aja foto..foto di dunia maya ..jauh beda ma kenyataan
saya lihat sendiri teman2 saya..yahhh geleng kepala aj lihatny.. :P
dan saya pribadi..sampe sat ini blm buat fb meski sdh diajakin ma tmn2
kecuali email & ym yg saya gunakan utk keperluan urgent & lbh menjaga privasi
toh…in the real world…everybody can’t run from the fact..it’s it?…
and the last..it is the fine blog ..mas…
April 18th, 2009 at 9:07 am
Sekalian aja mas, di klasifikasi narsis normal sama narsis ekstrim. Narsis normal, misalnya punya blog serius (seperti nofieiman.com) sedangkan narsis ekstrim seperti disebutin di artikel di atas. Karena menurut saya narsis juga hak dan perlu meskipun juga jangan ekstrim.
April 18th, 2009 at 4:48 pm
Pendapat orang kan berbeda-beda mas.Tidak semua orang berpikiran seperti mas nofie. Ada juga orang yang merasa bangga dengan status narsisnya dan itu juga hak semua orang, lha wong ada fasilitas buat jd narsis. :)
aku jg punya fs, tp udah status idle, fb jg punya tp udah mulai malas buka dan temannya jg cuma yg aku kenal doank, kalo gak kenal ya gak diapprove.
Tapi aku suka dengan tulisan ini, aku link ya mas ke blogku.. hehehe
April 18th, 2009 at 8:13 pm
jadi baiknya gimana mas, apa ndak usah ada internet saja biar semua orang jadi komentator hihihi
eh eh orkut gimana kabarnya yah :)
April 20th, 2009 at 11:58 am
Salam
Hmm berarti kenarsisan saya belum akut soalnya lom tertarik facebook, atau plurk masih suka “sumpah serapah” di blog aja :D
Btw ngomong-ngomong soal dicintai, mungkin harus sering mrefleksi diri, layakah kita dicintai karena kelayakan dicintai katanya adalah definisi dari sebuah kapasitas diri, so apa dengan bernarsis diri di dunia maya sudah merasa dicintai? Ah entahlah :D
April 21st, 2009 at 9:46 am
saya malah bersyukur banget ada facebook..jadi bisa networking dengan temen2 lama terutama untuk info lowongan pekerjaan.soalnya kalo sekarang nglamar langsung dari internet susah banget nembusnya.minimal ada reference lah dari temen kita yang di facebook itu. Para boss2 juga punya account facebook lho..makanya penting juga sih. terserah orang melakukanya untuk tujuan yang berbeda beda, kalo yang mau narsis ya silakan..itu semua cuma trend kok…
April 22nd, 2009 at 11:50 am
wabah kayak gini musim2-an aja koq, bung nofie
jd inget dulu.waktu blogger pertama kali meledug jg gitu, org pd rame2 nulis blog, skrg blog lesu, diganti microblog kayak twitter.
besok2 musim apa lg ya :)
April 23rd, 2009 at 4:54 pm
Wah,, dapet info link ini dari senior,,, nice post !! ^^
emh,, FS udah jarang diliat,, FB masih aktif tapi cuman temen2 yang saya kenal yang ada di fren list,, yang ga kenal gak di approve. Blackberry mah kalo cuman buat update status mah beuuh,,, sayah juga males beli. hape sayah masih yang biasa,, yang penting bisa denger mp3 ^^
laptop dipake bukan buat fesbuk duank,,, tapi buat updating berita2 tentang science,, yang notabene,, di Indonesia kurang banyak info tentang science ^^
tapi sampe saat ini,,, narsis mah tergantung orangnya juga,,,, ada yang emang comfort dengan kenarsisannya,,, ada yang biasa aja… sayah mah asalkan narsisnya sayah jga tidak mengganggu orang2 lain.. ^^
salam hangat
^.^
April 24th, 2009 at 11:04 am
narsis adalah satu sifat dasar manusia, masalahnya kadar masing2 orang berbeda…
Zaman dan teknologi yang semakin maju membuat orang mempunyai ‘tools’ yang lebih banyak dan lebih canggih buat mengekspresikan narsismenya…
April 30th, 2009 at 3:57 pm
nice post..
mas nofie, saya setuju dengan anda, kadang fb dan social networking web lainnya, menjadi ajang penyaluran hasrat eksibisionis seseorang…kadang malah berlebihan dan mengganggu pengguna fb lainnya..
menurut saya sih fb masih bisa diambil segi positifnya…bisa silaturahim sama temen2 lama yg kini dah ga tahu keberadaannya…
salam
May 1st, 2009 at 2:11 am
Kalau narsis sebetulnya sibuk dengan diri sendiri. Dia mengagumi dirinya sendiri.
Tapi kalau fenomena termaksud lebih dekat ke eksibisionisme: merasa senang jika orang melihat/diperhatikan.
May 1st, 2009 at 2:13 am
Btw, soal SLR, apakah kesimpulannya sudah didukung riset yang valid? :)
May 2nd, 2009 at 5:10 pm
wow mantap.. narsis 2.0 gw kena gejalanya nggak ya T_T
May 2nd, 2009 at 6:08 pm
semua orang punya sisi narsis tinggal seberapa besar aja kadarnya.. ^_^
May 2nd, 2009 at 7:11 pm
The Kode Secret says : “Narsis normal, misalnya punya blog serius (seperti nofieiman.com) sedangkan narsis ekstrim seperti disebutin di artikel di atas. Karena menurut saya narsis juga hak dan perlu meskipun juga jangan ekstrim.”
Ini saya setuju mas!!
May 2nd, 2009 at 10:58 pm
Betul sekali mas. Tapi ga semuanya narsis begitu.
Saya sendiri menggunakan facebook agar lebih mudah kenal dengan orang-orang yang beli buku saya, karena saya kerjanya penulis buku. Saya juga banyak nyari temen buat diskusi, status saya biasanya isinya link-link berita. Siapa tau ada temen yang baca.
Masalah DSLR, saya pikir itu tergantung kebutuhan. Kalo orangnya perfektionis, mau hasil gambar yang tidak buram, tajam, dan sering moto dalam ruangan memang standarnya harus yang DSLR. Kamera pocket pasti hasilnya buram, trus kalo di dalam ruangan hasilnya bakal buram.
May 5th, 2009 at 3:10 pm
pengertian narsis dari cerita yang diatas tadi itu ya….
baru tau :D
salam kenal
nice blog
May 7th, 2009 at 4:31 pm
saya kutip artikelnya ya mas..tx
May 12th, 2009 at 12:03 am
narsis ato tidak,itu pilihan.. biarkan mereka memilih..
akan sangat tidak bijaksana jika anda membuat tulisan yg mengesankan “i’m right,you’re wrong”
May 13th, 2009 at 4:19 am
kok dah sebulan ngak kiriim postingan??
always wait your blog…. :p
May 15th, 2009 at 6:39 am
Mohon maaf kalau ada yang merasa tersindir karena tulisan ini. Sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Mohon maaf juga lama tidak update. Belakangan memang sedang benar-benar sibuk. Salam.
May 18th, 2009 at 11:10 am
Bener-bener tuemen…
Hee..he.. emang kalo ak c gak punya FS, blog, FB………padahal udah daftar n smuanya berhasil, tapi tiap kali m sign in kagak bisa ………Mungkin inilah yang namanya Allah SWT masih menjaga ak dari rasa narsis….he..he
Jadi solusiku liat-liat blog orang laen n cari artikel n penting2 aja.
May 25th, 2009 at 1:54 pm
wah aq setuju banget ma bung nofie..
ya meskipun aq punya FS dan FB..
tp tulisannya mengena banget dan sempet berpikir ulang jg…hahhaa
mantaff bung nofie
saya tggu tulisan2 berikutnya
May 26th, 2009 at 10:03 am
Narsis itu cenderung untuk sifat orang yang kurang perhatian. Effeknya ya gitu, mulai membangga-banggakan diri sendiri karena merasa gak pernah dibanggakan waktu kecil, oleh karena itu kita harus mulai saling memperhatikanlah satu sama lain dari hal yang terkecil, karena itu bermanfaat, kalau ada yang salah diingatkan, karena kebanyakan orang tingkat kesadarannya sedikit, jadi gak sadar-sadar, apalagi dibawah alam sadar yang mempengaruhi orang lain, menurut saya intinya jadi seseorang itu biasa-biasa, ga usah terlalu menonjolkan diri yang penting terus berkarya dan berguna bagi orang.cherss.
May 27th, 2009 at 1:20 pm
pak Nofie, tolong analisa capres dan cawapres memakai analisa swot, untuk memudahkan pilihan…
May 27th, 2009 at 9:29 pm
baru tahu narsis berawal dari kisah narcissus…dapet pengetahuan lg gw dari mas nofie..thx bos
fb baru2 ini dibilang haram.dibilang narsis oleh mas nofie,klo menurut saya tergantung dari si pemakai..bisa baik bisa juga buruk sama kayak pisau bisa dipakai buat membunuh org bisa juga dipakai untuk hal2 yg bermanfaat.teknologi ibarat mata uang koin ada 2 sisi,tergantung dr kita mau pakai sisi yg mana.
salam
May 30th, 2009 at 11:22 am
betul sekali.saya juga sebetulnya sempat minder soalnya kalo gak eksis di fb, di bilang gak gaul.tapi que sera sera lah, yang penting gaul sehari-hari daripada punya temen banyak cuman buat pajangan.saya lebih senang berhubungan baik dengan sedikit orang daripada berhubungan dengan banyak orang tapi gak jelas.artikel yang anda tulis bagus sekali! Saya sangat sependapat dengan anda.
May 30th, 2009 at 1:41 pm
Narsis, saya pikir sudah menjadi bagian dari manusia, “wadow kalo narsis bikin pendek usia bisa brabe juga.. ha..ha…, sampe lupa ya, klo usia itu yang nentuin yang di atas”
June 1st, 2009 at 11:33 am
Well, kayaknya tergantung orangnya sih…
Tp sepokat kok klo FS n FB bisa bantu silaturahmi…
Klo gw sih.. blog selain ajang buat belajar tentang “punya situs ndiri” juga buat share pengalaman ato pikiran2 yg kadang lewat ga sengaja karena liat kejadian sekitar.. selebihnya.. ya tempat nyimpen copas2 artikel bagus deh he he
June 5th, 2009 at 1:02 pm
pokoke narsis is the best
June 13th, 2009 at 7:20 am
bagaimana dengan narsis dot tivi yang ada di salah satu tivi swasta?
June 19th, 2009 at 11:19 am
narsis memperpendek usia
sedekah memperpanjang usia
brarti biar te2p exist, kadar sedekah harus lebih banyak narsis y?
July 1st, 2009 at 9:48 am
sepakat!!!
kebanyakan fb [saya blm survey brp banyak] cuma pamer status, mulai bangun tidur sambil ngelap iler, sampai mau tidur lagi sambil siap2 ngiler, ditulis di status, dgn mengharapkan komentar, seolah2 si empunya ini orang yg top banget, dan memang itulah mungkin salah satu tujuan orang bikin fb, pengen nge-top
August 20th, 2009 at 12:00 pm
Friendster dah lama q tinggalkan, skr tinggal FB aja yg punya namun itu pun cuma temen yg benar2 kenal. FB bagi q sangat bermanfaat bisa ketemu dgn temen2 lama, dari SD sampe jaman kuliah dulu, suka terharu kalo ada kiriman poto dari teman jaman dulu.
Nice Posting… :)
August 31st, 2009 at 4:05 pm
Kebanyakan orang eksis di dunia maya, justru absen di dunia nyata. Mereka pada umumnya menjadikan dunia maya sebagai pelampiasan ketidakeksisan mereka di dunia nyata. Biasanya orang-orang ini haus akan perhatian khalayak ramai. Mungkin ini salah satu penyakit kota besar, dimana banyak masyarakatnya kurang mendapat perhatian, entah itu dari ortu, pasangan, teman, ataupun saudaranya. Jika di dunia nyata banyak orang yang tidak mempedulikannya, maka di dunia internet-lah ia berusaha untuk menonjol dan ditonjolkan. Entah dengan selalu meng-update status, update foto, maupun memberi komentar. Dengan memberi komentarpun dia masih berharap status atau foto-fotonya akan dikomentari balik oleh temannya. Oleh sebab itu, kehadiran FB ini cukup mengobati kerinduan banyak orang yang mengalami status kurang perhatian.
Mayoritas pengguna FB, tak lebih dari 10% yang benar-benar akrab dengan teman mayanya. Yang 90% lainnya hanyalah berupa penghias halaman, agar terkesan gaul dan ngetopp. Sehingga sering terlihat bahwa yang memberi komentar pada penampilan seseorang di FB, ya itu-itu aja.
Mayoritas pengguna FB memang anak-anak muda. Tapi yang tua-tua pun kini mulai ikut-ikutan beraksi. Mungkin biar dibilang gak ketinggalan. Mayoritas yang tua inipun kadang lebih narsis dari yang muda. Merekapun tak segan-segan untuk menampilkan foto-foto pribadinya. Alih alih berharap mendapat pujian atau komentar positif dari sahabatnya, malah menjadi bahan cemoohan oleh bawahannya di kantor.
Sejak kelahiran FS yang diikuti dengan FB, Twitter, dan sejenisnya, selebrasi bukan hanya monopoli para artis ataupun politikus. Siapapun dia, entah itu masyarakat lembah Baliem, Papua ataupun penduduk New York City, selama dia bisa mengakses internet, mimpi untuk menjadi selebritis dadakan bisa terwujud. Gejala selebrasi ini tentunya merupakan berkah bagi para penjual komputer, ponsel, dan kamera. Tak heran jika kini banyak perusahaan HP, ataupun operator ponsel yang mengiming-imingi pelanggannya untuk selalu online .. online..
September 9th, 2009 at 5:59 am
Namun Facebook tampaknya beda, dan terbukti jauh melebih social network yang lain.
September 16th, 2009 at 5:45 am
Lagipula FB menjadi pembuka jalan atau platform untuk aplikasi-aplikasi social web, misalnya game-game online. Mafia War, Street Racing, Space Wars, dst, itu punya penggemar luar biasa banyaknya, dan aktif dimainkan setiap hari.
October 2nd, 2009 at 10:02 am
mohon ijin untuk saya tautkan pada blog saya ya pak..
terima kasih dan salam kenal..
October 7th, 2009 at 8:36 pm
like this
February 23rd, 2010 at 5:37 pm
Makasih mas :-) Saya gak bisa menutup Friendster. Saya sudah usaha dari tahun 2006-an akhirnya saya biarkan, tidak pernah ditengaok dan tidak pernah ditambah/dirubah. Fcbk? saya sudah deactivate…Mas, menulis lagi dong:-) Sedang sibuk ya?
March 11th, 2010 at 12:14 am
hehe tulisan yg menarik mas.. mau cerita aja pengalamanku dengan FB.. aku memakai FB untuk bercanda tawa tapi kok sekarang udah bosan ya.. LOL