Menulis Itu Gampang—Siapa Bilang?

Philip Roth pernah bilang, “Writing isn’t hard work. It’s a nightmare.” Harus diakui bahwa menulis adalah pekerjaan yang monoton, pasif, dan produknya relatif “tidak jelas.” Dibandingkan dengan tukang bangunan misalnya, produk yang dikerjakan seorang penulis hanyalah barisan kata-kata yang menjemukan. Maka tak heran bila diperlukan keuletan dan determinasi yang luar biasa tinggi untuk bisa menjadi seorang penulis yang jempolan.

Menulis sesuatu yang mudah dipahami pembaca juga bukan perkara gampang. If the product looks effortless, there are lots of work went into it. Kalau Anda menemukan satu kalimat atau paragraf yang “enak” dibaca, bisa dipastikan penulisnya menyusun kalimat/paragraf itu dengan susah payah. Mungkin penulisnya sudah membaca dan melakukan riset mendalam. Mungkin penulisnya telah melakukan kontemplasi yang matang. Mungkin penulisnya punya segudang pengalaman di bidang tersebut.

Menulis yang baik butuh pemahaman (reasoning) dan logika berpikir (logic) yang kuat. You can’t teach anyone to write without a basic grasp of logic and without giving them access to the critical thinking skills required for the journey that a good writing demands. Menulis juga butuh pengetahuan mendalam akan kebenaran topik (inherent truth) yang Anda tulis. Kombinasi antara reasoning, logic, dan truth inilah yang akan membuat tulisan Anda lebih berisi. This is a lot of work indeed.

Anda mungkin berpikiran bahwa istilah yang sophisticated menggambarkan tulisan yang berkualitas. Salah besar. Tulisan yang bagus justru tulisan yang menggunakan kalimat sederhana yang pendek, langsung menuju pokok masalah yang ingin disampaikan, menghindari penggunaan jargon asing, dan memanfaatkan penggunaan kata yang tepat—tidak kurang, tidak juga lebih. Using overwhelmed jargon, believe me, will only insult your readers’ intelligence.

Celakanya, pendidikan di Indonesia tidak mengajarkan kita menulis dengan baik. Kita cenderung berputar-putar dalam mengemukakan pendapat. Argumen yang seharusnya bisa ditulis dalam satu kalimat, harus dijabarkan dalam ratusan kata. Tak percaya? Lihatlah pidato politik pejabat kita: 10% isi, 90% kata-kata yang berbusa. Simak acara debat dan talkshow di televisi kita: 60 menit airtime, 15 menit useful content.

Pendidikan kita juga tidak membiasakan bagaimana menyusun argumen dan berpendapat dengan baik. Banyak tulisan mahasiswa saya yang harus “melipir” terlebih dahulu sebelum sampai pada inti permasalahan. Banyak dari mereka yang seolah sungkan menyatakan pendapatnya. Padahal, menulis yang bagus harus didasari satu gagasan pokok yang jelas. Satu saja. Namun gagasan itu harus di-backup dengan riset, data, pengalaman, atau logika yang runtut.

Tantangan lain dalam menulis adalah bagaimana memelihara konsistensi. Tidak mudah untuk menjaga agar ide dan pendapat Anda tetap kongruen satu sama lain—terutama dalam tulisan panjang seperti buku atau laporan tugas akhir. Ketika ada orang lain yang tidak sependapat dengan argumen Anda, how you’re going to defend your views? How to maintain your consistency? Can you provide evidence/example/analogy?

Anggaplah menulis seperti membuat rute perjalanan. Anda hendak berjalan dari Sudirman menuju Pondok Indah. Ada banyak jalan yang bisa Anda lalui. Tapi Anda harus memutuskan satu saja rute yang diambil. Yakinkan pembaca Anda bahwa rute itu adalah pilihan yang terbaik. Kemukakan argumen Anda. Misalnya, rute pilihan Anda terbukti paling cepat dan bebas macet. Pastikan pembaca memperoleh manfaat dari pilihan itu. Tentu orang lain akan bilang rute lain jauh lebih baik. But why should you care? This is your writing, not theirs.

Dan terakhir, yang sering dilupakan, adalah bagaimana menulis dalam bahasa pembaca. Pembaca buku-buku saya misalnya, kebanyakan tidak ingin tahu apa itu perencanaan keuangan. Mereka cuma ingin cepat kaya. Mereka tidak ingin belajar menghitung valuasi. Mereka cuma ingin tahu saham apa yang moncer hari ini. That is how we read, talk, speak, and think. Memahami apa yang ada di balik kepala pembaca Anda akan membuat pembaca lebih respek dan memiliki trust pada apa yang Anda tulis.

Mungkin dalam hati Anda berpikiran, “Wah, betul juga ya. Kok saya sampai nggak kepikiran soal itu sih?” Well, you wouldn’t. :)