Woman oh Woman

June 20th, 2008 | Personal

Woman

Pemotongan Gaji Pejabat Tidak Masuk Akal

June 15th, 2008 | Politics

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan wacana pemotongan gaji pejabat sebesar 10 persen tidak masuk akal. Alasannya, gaji para pejabat di Indonesia masih tergolong kecil… Eselon 1 itu gajinya Rp 5 juta, mungkin wartawan lebih tinggi. Tentu kurang untuk kebutuhan hidup di Jakarta. Apalagi sekarang tidak bisa macam-macam karena ada KPK,” tandasnya. [Source]

Saya heran dengan pernyataan di atas—-terutama yang dicetak tebal. Apakah bila pemotongan gaji tidak masuk akal sesungguhnya merupakan pernyataan implisit bahwa “gaji perlu dinaikkan karena lebih masuk akal”? Apakah kalau tidak ada KPK maka para pejabat tersebut bisa “macam-macam”? Sungguh sebuah pernyataan yang tidak pantas dikeluarkan oleh seorang wakil presiden. Read more »

Sampai Sini Saja, Obama

June 5th, 2008 | Politics

Barack Obama dan Hillary Clinton

Barack Hussein Obama akhirnya memeroleh dukungan 2.132 delegasi (371 delegasi super) mengungguli Hillary Rodham Clinton yang hanya mengantongi 1.925 delegasi, termasuk 289 delegasi super. Partai berlambang keledai ini memang baru akan memutuskan secara resmi saat konvensi Agustus nanti, namun Clinton menyatakan mendukung Obama untuk mengalahkan McCain dan membuka diri bagi jabatan wakil presiden.

Perang yang sesungguhnya mungkin baru akan terjadi antara Obama dan John McCain. Bukannya bermaksud rasis, namun saya sendiri sulit membayangkan Amerika dipimpin oleh perempuan atau kulit hitam. Apalagi, Obama mengusung tema perdamaian, kesejahteraan, persamaan—-yang menurut saya nggak-Amerika-banget. Seorang malah teman berkomentar sinis bahwa ini hanya upaya agar Amerika dianggap negara yang penuh demokrasi. Read more »

CEO Republik Indonesia

June 2nd, 2008 | Politics

Jusuf Kalla & Mahmoud Ahmadinejad

Sewaktu hendak membersihkan file-file yang berserakan di hardisk, saya menemukan foto di atas. Ia adalah dosen dengan PhD bidang rekayasa dan perencanaan transportasi (1987). Ia diangkat menjadi walikota Teheran pada tanggal 3 Mei 2003. Sejak 3 Agustus 2005 ia terpilih sebagai pemimpin Iran. Penampilannya santai tapi berkharisma. Ia cerdas, berani, tegas, namun tetap santun. Mike Wallace dari CBS sampai mengatakan, “He’s an impressive fellow, this guy. He really is. He’s obviously smart as hell.

Saya mulai ngeh dengan sosoknya ketika upacara tanfiz (installation ceremony) dilakukan antara Khatami dengan Ahmadinejad. Selesai acara tersebut, Khatami menggandeng tangan Ahmadinejad menuju kantor kepresidenan. Setelah dilantik, press release pertama Ahmadinejad adalah himbauan bagi semua pihak untuk tidak memasang ucapan selamat di surat kabar dan larangan agar kantor-kantor tidak memasang fotonya.

Selain kedua tokoh itu, Akbar Hashemi-Rafsanjani yang kalah Pemilu dari Ahmadinejad juga hadir dalam upacara tersebut. Rafsanjani sendiri tokoh yang juga tak kalah menarik. Walaupun ia kalah, Rafsanjani tetap melaksanakan tugas untuk memberi khotbah Jum’at dan menyerukan pada rakyat untuk bersatu mendukung presiden baru. Bandingkan dengan Megawati yang menonton pelantikan Presiden SBY dari televisi pun ogah. :) Read more »

Menyimak Penjualan Krakatau Steel

May 30th, 2008 | Politics

Melihat direktur sebuah perusahaan besar bergaya hidup mewah mungkin hal yang biasa. Situasi, kondisi, maupun tanggung jawab yang diembannya memang menuntut mereka untuk menjaga imej dan prestis dirinya. Namun menjadi agak lucu ketika perusahaan yang dipimpinnya berada dalam situasi sulit sementara dirinya tetap bermewah-mewahan tanpa ada sense of belonging.

Agaknya, hal serupa terasa di BUMN-BUMD kita. Orang tentu sudah hafal bahwa pejabat Pertamina terkenal sangat borjuis dengan segala fasilitas, pendidikan, transportasi, maupun keseharian hidupnya. Orang juga maklum bila begitu banyak BUMN maupun BUMD yang kurang terdengar dan selalu merugi—-namun tetap (sengaja dibuat) eksis.

Agaknya memang BUMN-BUMD tersebut sengaja dibuat untuk menjadi perisai bagi oknum yang ingin mendapatkan kemakmuran. Masa bodoh dengan profitabilitas perusahaan. Yang penting, gaji gede, bonus, tunjangan, dan fasilitas lengkap bisa diperoleh. Barangkali inilah mengapa ada begitu banyak unit usaha pelat merah di Indonesia yang jelas-jelas raportnya merah namun tetap dipelihara. Read more »