Paradoks Kebahagiaan

February 1st, 2012

Dulu saya berpikiran bahwa ketika kelak saya mempunyai uang, maka hidup saya akan lebih bahagia. Sewaktu belum punya kendaraan, saya beranggapan bahwa setelah nanti punya motor/mobil sendiri, saya akan lebih happy. Saya juga dulu sering berangan-angan bisa travelling ke luar negeri karena hal itu mungkin akan membuat saya senang dan bangga.

Tapi setelah membaca buku Passion and Purpose: Stories from the Best and Brightest Young Business Leaders, saya seperti disadarkan bahwa rahasia bahagia itu tidak terletak pada diri saya sendiri, melainkan pada kebahagiaan kita bersama.

Happiness comes from the intersection of what you love, what you’re good at, and what the world needs. We’ve been told time and again to keep finding the first. Our schools helped developed the second. It’s time we put more thought on the third. Putting problems at the center of our decision-making changes everything. It’s not about the self anymore. It’s about what you can do and how you can be a valuable contributor.

Bahagia itu didapat ketika kita memindahkan pusat dari “to the end of yourself” menuju “to the greater good.”

Hal ini kemudian menyadarkan saya bahwa semata-mata mengejar keinginan atau passion pribadi, tidak serta merta akan membuat kita bahagia. Pernyataan bahwa “follow your passion and everything will turn out great” adalah sesuatu yang misleading. Lebih parah lagi, hal itu justru membuat kita terlihat sangat egois. Fulfillment comes only when your passion, talent, role, assignment, and the greater good all come together.

Pada dasarnya, di lubuk hati dan pikiran terdalam setiap manusia, pasti ingin membuat perbedaan. Kita ingin memberi kontribusi. Kita ingin memberi pengaruh kepada lingkungan sekitar kita. Kita ingin merubah dunia. Kita ingin memberi impact. We want to matter. Sayangnya, seperti ditulis pada kutipan di atas, selama ini kita hanya berfokus pada aspek what we love dan what we’re good at—-bukan pada what the world needs.

Yang menarik, buku tersebut juga menjelaskan bahwa makin kita berfokus pada diri kita sendiri, maka kita akan cenderung makin tidak bahagia. Sebaliknya, ketika kita mulai mengabaikan perhatian pada diri sendiri dan mulai melihat dunia yang lebih besar, kita akan jauh lebih bahagia. We become happier if we worry less about what makes us happy.

Jadi, mulai sekarang coba lihat ke sekeliling kita. Adakah peluang dimana kita bisa melakukan perubahan positif? A genuine impact? A positive contribution? Adakah tempat dimana kita bisa mengarahkan passion dan talenta kita untuk membuat perbedaan?

Mari berhenti mengejar kebahagiaan diri sendiri. Mari mulai memberi kontribusi! Mari mulai membawa perubahan!

__________
PS: Bagi rekan-rekan yang ingin berbagi kebahagiaan bersama, mari bergabung di #SedekahRombongan. 100% dana disampaikan untuk para dhuafa yang menjadi sasaran! Sukarelawan yang mendukung gerakan bahkan turun ke lapangan tanpa mendapatkan imbalan. Selengkapnya kunjungi http://sedekahrombongan.com/.