1984 dan Brave New World

Brave New World & 1984

1984 karya George Orwell (1949) dan Brave New World karya Aldous Huxley (1932) mungkin dua novel dystopia paling berpengaruh di abad ke-20. Keduanya menggambarkan masa depan yang suram. Masyarakat dikendalikan oleh kekuasaan yang opresif, namun dengan cara yang sangat berbeda.

1984 berlatar di Oceania, sebuah negara totaliter yang dipimpin oleh partai dan sosok pemimpin yang disebut Big Brother. Novel ini menceritakan kekuasaan absolut yang dipertahankan melalui pengawasan ketat (seperti telescreen dan polisi pikiran), propaganda, serta penghapusan kebebasan berpikir. Pemerintah memanipulasi kenyataan dengan konsep doublethink (memercayai dua hal yang bertentangan) dan Newspeak (bahasa yang dirancang untuk membatasi pemikiran kritis). Tokoh utama, Winston Smith, memberontak tetapi akhirnya dihancurkan melalui penyiksaan dan cuci otak. Pesan Orwell jelas: tirani bisa muncul melalui kekerasan, pengawasan, dan penindasan kebebasan.

Sementara itu, Brave New World menggambarkan dunia dengan manusia yang dikendalikan bukan dengan kekerasan, melainkan melalui kenikmatan dan kepuasan artifisial. Masyarakat diatur secara ketat dengan rekayasa genetika, pengkondisian sejak lahir, dan obat penenang bernama soma yang membuat orang selalu bahagia. Konsep seperti keluarga, cinta, dan seni dihapuskan demi stabilitas sosial. Tokoh utamanya, seperti Bernard Marx dan John “Si Liar” mencoba melawan sistem, tetapi pada akhirnya, masyarakat lebih memilih kepatuhan demi kenyamanan. Huxley memperingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah penindasan melalui kekerasan, melainkan ketidakpedulian manusia yang terbuai oleh hiburan dan kesenangan semu. Continue reading

Cengkeraman Spektakel dalam Transisi Kekuasaan

Indonesia kini tengah memasuki fase penting dalam sejarah politiknya. Dengan berakhirnya masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) 2014-2024 dan dilantiknya Prabowo Subianto sebagai presiden berikutnya 20 Oktober ini, banyak pihak berharap akan terjadi perubahan signifikan dalam kebijakan dan arah negara. Namun, di balik permukaan, ada kekhawatiran bahwa perubahan ini hanyalah sebuah spektakel—ilusi dari transformasi politik yang dalam kenyataannya tidak menyentuh akar persoalan, yaitu kekuatan oligarki yang terus mengendalikan jalannya negara.

Dalam karya filsuf Perancis Guy Debord, The Society of the Spectacle (1967), ia menguraikan bagaimana masyarakat modern, khususnya di bawah kapitalisme global, diatur bukan oleh kekuasaan politik yang terlihat, melainkan oleh gambar dan penampilan yang menutupi realitas. Di Indonesia, fenomena ini semakin jelas terlihat ketika perubahan politik yang terlihat di permukaan ternyata hanya menyembunyikan kontrol yang terus dipegang oleh para elit ekonomi dan oligarki. Continue reading

Regulating the (yet) Unregulable?

While we are perhaps only at the beginning of what AI can accomplish, the horse has already left the barn. Other than widely praised OpenAI’s ChatGPT and Microsoft’s Bing Chat, there are massive developments as well such as Google Bard, Adobe Firefly, Canva AI, Microsoft Loop, Bing image creator, Instruct-NeRF2NeRF, Ubisoft’s AI tool, Runway’s text-to-video, among others. Such development represents how AI is starting to transform every aspect of our lives, from education to transportation, from media entertainment to education.

While AI has the potential to bring enormous benefits to humanity, it also poses significant risks and challenges. For instance, AI can reflect and amplify human biases that are present in the data or algorithms used to train and deploy it. AI can also raise serious privacy concerns, as it enables the collection, analysis, and sharing of massive amounts of personal and sensitive data. AI could potentially disrupt the labour market that were previously performed by humans and alter the distribution of income and wealth that eventually widen the gap between those who own and benefit from AI technologies and those who are left behind or harmed by them. Furthermore, AI can create new forms of monopoly power, as a few dominant firms capture most of the data, talent, and profits in the AI sector.

It is no wonder that more than 1,000 tech leaders and scholars –– including business magnate and investor Elon Musk, Apple co-founder Steve Wozniak, Skype co-founder Jaan Tallinn, author Yuval Noah Harari –– have signed an open letter calling to pause development of large-scale AI systems, citing fears over the profound risks to society and humanity. Thus, how can we ensure that AI is developed and used in a way that respects human dignity, rights, and values? Continue reading

Virtual Background dan Otentisitas Kita

Selama pandemi, saya telah mengikuti puluhan (mungkin hampir seratusan) workshop, konferensi, dan seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kondisi pandemi membuat saya tidak perlu melakukan perjalanan jauh. Jadi pagi harinya bisa mengikuti acara di Singapura, siangnya kembali ke Jakarta, sore kabur ke India, ba’da Maghrib ke Eropa, lalu dini harinya pindah ke Amerika. Kondisi pandemi juga membuat kebanyakan acara diselenggarakan secara gratis atau diskon yang cukup lumayan. Jadi lumayan banyak penghematan yang bisa saya peroleh.

Yang menarik, selama mengikuti acara-acara tersebut, saya menyimak adanya perbedaan cukup signifikan antara acara di dalam negeri dan di luar negeri. Di dalam negeri, hampir semua peserta umumnya menggunakan backdrop atau virtual background yang sama sesuai dengan tema acara. Di luar negeri, sangat jarang saya temukan penggunaan backdrop atau virtual background yang seragam. Kalaupun ada, mungkin hanya digunakan oleh segelintir kecil panitia inti saja. Keseragaman ini kemudian membuat saya memikirkan gagasan tentang otentisitas (authenticity).

Sebagai seorang pengajar yang lumayan sering membimbing tugas akhir, otentisitas tentu menjadi hal yang sangat penting. Saya cukup sering menjumpai mahasiswa yang kesulitan menemukan topik penelitian tugas akhirnya. Akhirnya, solusi yang dipilih adalah solusi pragmatis. Mereka akan mencari topik yang paling mudah, mencari topik yang datanya tidak sulit diperoleh, mencari topik yang sudah pernah ditulis oleh mahasiswa-mahasiswa sebelumnya — pokoknya tidak ada upaya untuk going extra mile. Tak jarang, dosen pun juga mengalami masalah serupa. Apakah pragmatisme ini salah? Bisa ya, bisa juga tidak. Tapi yang jelas, otentisitas bisa membantu kita melakukan lebih banyak hal. Continue reading

Pereh, La Masia, dan Paradoks Kompetensi

Pereh adalah nama panggilan yang diberikan untuk kendaraan militer misterius milik Israel yang dikembangkan di awal 1980-an. Secara fisik, bentuknya tak beda jauh dengan tank pada umumnya, namun di bagian atasnya dilengkapi dengan peluncur rudal anti-tank jarak jauh. Pereh dikonversi dari tank tempur Magach 5 yang didesain mampu membawa total 12 rudal anti-tank Tamuz dengan jangkauan hingga 25 kilometer. Dengan menggunakan pemandu fiber-optic link, Tamuz memiliki akurasi yang sangat baik, bahkan pada jarak yang cukup jauh.

Pereh dikembangkan dari pengalaman Israel selama Perang Yom Kippur pada tahun 1973 akan pentingnya rudal taktis darat-ke-darat dengan pemandu presisi tinggi. Konon, versi awal Pereh menjadi salah satu kunci sukses kemenangan Israel dalam perang tersebut. Bayangkan, foto satelit udara memotret “tank” milik Israel yang di masa itu umumnya hanya memiliki jarak tembak hingga 4 kilometer saja. Tentara Mesir dan Suriah pun menyusun strategi militer berdasar informasi tersebut. Tak disangka, ternyata “tank” yang mereka antisipasi tadi ternyata memiliki jarak tembak hingga 6 kali lipatnya. Padahal kekuatan tank Suriah saja sebenarnya 7 kali lebih besar dari milik Israel.

Selama beberapa dekade, Pereh menjadi salah satu misteri terbesar di dunia militer. Apalagi, Pereh adalah kendaraan yang dibuat sendiri oleh produsen lokal bernama Rafael Advanced Defense Systems, bukan produk teknologi militer yang dibeli dari negara lain. Saking rahasianya, informasi tentang Pereh baru diungkapkan kepada publik pada tahun 2011. Foto-foto Pereh sendiri baru bocor di tahun 2013. Pada tahun 2017 Pereh ditarik dari tugas operasionalnya di lapangan dan tetap belum ditemukan informasi pasti tentang berapa banyak Pereh yang dibuat di masa itu. Continue reading