Apalah Arti Sebuah Nama

April 28th, 2008 | Education

Dulu saya sempat penasaran soal pemberian nama di depan gelar seorang professor. Misalnya, Michael Porter punya gelar “Bishop William Lawrence University Professor” atau Philip Kotler yang digelari “S. C. Johnson & Son Professor of International Marketing“. Apa sih yang dimaksud dengan “Bishop William Lawrence” atau “S. C. Johnson & Son” itu?

Setelah saya tanya ke orang-orang yang memang bergelut di bidang itu, gelar semacam itu disebut dengan istilah named chair, endowed chair, atau professorship. Nama tersebut diberikan oleh individu, perusahaan, atau penggalangan dana yang memberi donasi kepada universitas. Dana (endowment) tersebut kemudian digunakan untuk kepentingan seperti membiayai operasional universitas, memerbaiki rasio dosen-mahasiswa, mendanai riset, sampai untuk kegiatan pemasaran dan membajak professor-professor baru.

Konon, pemberian gelar tersebut diawali dari Inggris sejak beberapa abad yang lalu. Ratu Margaret, Raja Henry VIII, hingga penguasa sesudahnya biasa memberikan hadiah kepada Universitas Oxford dan Cambridge. Sebagai kontraprestasinya, nama mereka diabadikan dalam bentuk professorship. Kabarnya, sekarang diperlukan dana sekitar US$1-3 juta untuk itu—-namun di state universities bisa lebih murah.

Tentu saja tidak semua staf pengajar bisa mendapatkan gelar tersebut karena hanya diberikan pada orang-orang tertentu yang dihormati dan dipandang memberikan banyak kontribusi kepada universitas atau departemennya. Di Harvard misalnya, hanya belasan professor yang mendapatkan dari ratusan professor yang ada di sana. Read more »

What is Your Ultimate Goal?

April 21st, 2008 | Personal

Today, I was talking to my long-time-no-see friend. The chat, as usual, proceeded from weather and economic downturn to what she ultimately wants to do in her life. She is an old-fashioned woman, so she want a loving husband who is intelligent with the charm of a Sundanese gentleman.

Her whole philosophy led me to think what are my goals—-both in personal and professional life. I have thought often about it and have realized that as I change, times change, my goals will change. I am in the point that if we don’t know what we want, we don’t get what we want. This is true for professional and personal life. Read more »

Kelemahan Seorang Pria

April 15th, 2008 | Personal

Saya pernah bertanya kepada salah seorang kawan mengapa tempat-tempat perjudian dan kasino dipenuhi dengan perempuan cantik dan seksi—-entah itu petugas dan pelayan yang bekerja di situ, hiasan dinding dan dekorasi interior, sampai gambar dalam kartu yang digunakan untuk bermain.

Ternyata, konon katanya pria yang ditunjukkan hal-hal erotis akan cenderung bertaruh lebih besar daripada bila ditunjukkan hal-hal yang netral. Sembari tertawa, kawan tersebut juga mengutip sebuah lelucon kuno, “God gave men a p***s and a brain, but not enough blood to operate both effectively at the same time.Read more »

Buku Memulai Investasi Reksadana

April 14th, 2008 | Investment

Buku Memulai Investasi Reksadana

Puji syukur alhamdulillah, pada 2 April lalu telah diluncurkan buku saya berjudul “Panduan Singkat dan Praktis: Memulai Investasi Reksadana” (ISBN 978-979-27-2434-9). Buku setebal 227 halaman tersebut diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo. Saat ini sudah bisa diperoleh di Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas, dan sejumlah toko buku lainnya dengan harga hanya Rp 44.800 saja.

Sesungguhnya buku tersebut lahir karena didorong postingan pada blog ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan pendekatan dan brainstorming dengan penerbit. Dibandingkan buku lain yang serupa, buku ini disusun sedapat mungkin dengan menggunakan bahasa yang gamblang dan mudah difahami oleh pemula. Secara singkat, buku ini menjelaskan tentang apa itu reksadana, bagaimana step-by-step investasinya, sampai strategi yang bisa Anda terapkan untuk mendapat hasil yang memuaskan.

Satu hal yang saya pelajari dari proses ini adalah bahwa menulis buku itu tidak pernah mudah. Apalagi memikirkan bagaimana agar ide yang kita tulis bisa diserap 100% seperti apa yang kita mau oleh pembaca kita. Oleh karenanya, setelah Anda mendapatkan buku tersebut, jangan segan-segan untuk memberikan kritik, saran, dan masukan kepada saya. Terima kasih sebelumnya.

Seperti Al Pacino

April 4th, 2008 | Investment

Al Pacino adalah salah satu aktor favorit saya. Aktingnya bisa membuat suatu film dengan cerita yang biasa-biasa saja menjadi jauh lebih menarik dan berkarakter—-mulai dari The Godfather, Any Given Sunday, Donnie Brasco, The Devil’s Advocate, Glengarry Glen Ross, City Hall, The Recruit, Scarface, Scarlito’s Way, dan seterusnya. Setiap karakter ia mainkan 150%, seolah-olah karakter tersebut memang diciptakan khusus untuk Al dan bakalan kurang afdol bila dimainkan oleh aktor lain.

Entah mengapa, namun saya selalu membayangkan Temasek seperti Al-nya dunia bisnis. Temasek seolah-olah ditakdirkan untuk menjadi konglomerasi yang sangat menguntungkan, dimana (hampir) seluruh keuntungannya disedot dari Indonesia. Bukan karena kepiawaian Temasek, melainkan karena kebodohan bangsa kita sendiri. Rasanya seperti kurang afdol kalau perusahaan-perusahaan bagus di Indonesia dibeli dengan sangat murah oleh selain Temasek. Read more »