How Come You Call Yourself a Moslem?

April 9th, 2014

Barangkali kita perlu membedakan antara “Islam” dan “Islami”. Menjadi seorang “Islam” itu mudah: cukup lafalkan dua kalimat syahadat maka Anda sudah menjadi seorang Islam. Kalimat syahadat cukup pendek dan tak butuh waktu lebih dari 3 menit untuk mengucapkannya. Sebaliknya, menjadi seorang “Islami” itu sulit karena Anda harus menjalankan apa-apa yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadist di dalam semua aspek keseharian Anda. Bisa jadi sampai seseorang meninggal pun, ia belum bisa menjadi “Islami” yang utuh karena jumlah ayat dan hadist yang harus diamalkan mencapai ribuan.

Empat tahun lalu, Scheherazade Rehman dan Hossein Askari dari George Washington University mempublikasikan penelitiannya yang berjudul “How Islamic are Islamic Countries?” Artikel yang dimuat pada Global Economy Journal (Volume 10, Issue 2, 2010) tersebut menjabarkan urutan indeks “Islami” dari 208 negara di dunia. Mereka menggunakan beragam indikator seperti sistem ekonomi, kesejahteraan masyarakat, pengelolaan sumberdaya alam, korupsi, sistem keuangan, hingga efektivitas pemerintahan di negara tersebut.

Hasilnya tidak mengejutkan (bagi saya). Peringkat 10 teratas negara dengan indeks “Islami” tertinggi dihuni oleh negara-negara yang sering dicap “kafir”, sebut saja: Selandia Baru, Luxembourg, Irlandia, Islandia, Finlandia, Denmark, Kanada, Inggris, Australia, dan Belanda. Negara “Islam” yang punya indeks “Islami” cukup tinggi hanya Malaysia (38), Kuwait (48), Bahrain (64), Brunei (65), dan Uni Emirat Arab (66). Indonesia harus puas di peringkat 140, berada dekat dengan Arab Saudi yang juga cukup hancur peringkatnya (131). Read more »

Media Sosial Pembawa Sengsara?

March 25th, 2014

Tak bisa dipungkiri, media sosial adalah teknologi yang mampu mengakumulasi beragam informasi yang pernah ada sepanjang sejarah umat manusia dalam format yang begitu ringkas dan sederhana. Media sosial membuat kita bisa mengakses informasi tentang kehidupan dan masalah orang lain hingga membuat kita seolah ikut merasakan langsung pengalaman itu. Siapapun orang itu—kerabat, teman kerja, selebritis, politisi, hingga presiden—they’re just one click away.

Akibatnya, konsep “life streaming” dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Kegiatan memonitor aktivitas orang lain menjadi hal yang wajar. Kita mengikuti aktivitas orang itu lewat Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan sebagainya. Monitoring of oneself and others thus becomes an expected normative part of this social interaction. Sampai-sampai, ketika seseorang yang kita “follow” di media sosial keluar dari pola aktivitas normalnya, kita bisa protes.

Kebiasaan “voyeurism” semacam ini sebenarnya bukan barang baru. Majalah dan tabloid gosip sudah beredar sejak puluhan tahun lalu. Acara-acara “reality show” di televisi juga sudah banyak menghiasi layar kaca. Begitu pula dengan tayangan infotainment yang makin banyak ragamnya. Ratingnya juga selalu tinggi. Kalau acara yang satu sudah mulai terlihat saturated, acara yang lain sudah siap menggantikan. Barangkali mengintip itu memang perbuatan yang menyenangkan. Read more »

Bangsa Indon dan Bangsa Indonesia

February 25th, 2014

Contoh Kelakuan Bangsa Indon

Ada dua jenis manusia yang menghuni bumi Indonesia ini, yaitu Bangsa Indonesia dan Bangsa Indon. Bangsa Indonesia adalah apa yang diceritakan di buku-buku sekolah: sebuah bangsa yang berbudi pekerti luhur, saling menghormati satu sama lain, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bangsa Indonesia adalah manusia-manusia yang tumbuh dengan sikap mental yang positif dan akal pikiran yang cemerlang. Di dunia internasional, mereka adalah potret Bangsa Indonesia yang selalu disegani kawan dan ditakuti oleh setiap lawan.

Bangsa Indonesia juga memegang teguh akar budaya mereka. Mereka tidak pernah melupakan sejarah bangsa dan menghargai pengorbanan yang sudah dilakukan oleh para founding fathers yang mendahului mereka. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan, tetapi tidak menjalankan agama secara radikal. Mereka menganggap perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai persoalan. Pikiran mereka melangit, tetapi kerendahan hati membuat mereka senantiasa membumi. Read more »

“Follow Your Passion” itu Berbahaya

February 13th, 2014

Banyak pembicara/penulis/motivator yang mengusung jargon “follow your passion.” Anda ingin melanjutkan kuliah tapi bingung memilih jurusan? Follow your passion. Anda ingin berbisnis, tapi masih bingung menentukan bidang bisnis yang ingin digeluti? Follow your passion. Terlihat sederhana dan seolah bisa menyelesaikan masalah bukan? Tapi ada kalanya “follow your passion” itu justru bisa berbahaya. Mengapa begitu?

Pertama, tidak selalu passion kita marketable dan menghasilkan uang. Saya suka menulis, tapi silakan cek daftar orang terkaya di Indonesia. Silakan cek penulis buku-buku best-seller di Indonesia. Saya berani bertaruh bahwa main income mereka yang terbesar bukan dari royalti buku. Saya juga suka bermain golf, tapi populasi pemain golf di dunia hanya 1%. Di Indonesia, para pegolf muda berbakat saja kesulitan mendapatkan sponsorship, apalagi amatiran seperti saya.

Sebagian dari Anda mungkin sama seperti saya—punya passion yang kebetulan tidak seksi dan marketable. Pada awalnya mengikuti passion itu menyenangkan, tapi lama-lama terpaksa gugur juga karena tuntutan keadaan. Akibatnya, passion itu terpaksa harus dipinggirkan dan memilih jalan hidup yang konvensional. Hidup jadi membosankan dan tak punya banyak pilihan. Golf terpaksa ditinggalkan demi melamar jadi PNS. Obsesi menulis novel hanya sebatas mimpi karena terlalu lelah dengan pekerjaan. Read more »

Ketercerabutan Media Sosial di Indonesia

November 8th, 2013

Nampaknya memang ada yang salah dengan pengguna media sosial di Indonesia. Wajar, media sosial barangkali merupakan salah satu temuan terhebat manusia yang sekaligus juga salah satu yang sulit untuk dipahami. Tengok saja, teknologi yang sedemikian maju ternyata sering belum diimbangi dengan perilaku yang sejalan. Misalnya, mengantongi gadget terkini yang mahal, namun berdebat di dunia maya dengan bahasa seperti orang tak pernah kenal bangku sekolah. Contoh lain, seseorang yang dianggap menyalahi “pakem” dengan mudah akan mendapatkan cyber bully di media sosial. Atau, mereka yang “nyleneh” justru mendapatkan panggungnya di dunia maya dibandingkan mereka yang berprestasi.

Ketercerabutan (disembeddedness) ini disebabkan antara lain oleh, pertama, kegagalan dalam memilah antara identitas fisik dan identitas digital. Krisis identitas yang dihadapi manusia modern adalah bagaimana menyeimbangkan antara identitas digital dan identitas fisik/riil. Ketika setiap orang memiliki email dan tergabung dalam jejaring sosial, maka seorang pribadi dengan satu identitas fisik bisa memiliki beragam identitas digital (split personalities). Menariknya, identitas digital ini lahir sebelum kita lahir di dunia fisik dan masih akan tetap hidup di dunia maya kendati pemiliknya sudah meninggal di dunia nyata.

Peradaban manusia di dunia fisik cenderung memelihara perdamaian dan membatasi aspek-aspek negatif yang muncul satu sama lain. Peradaban manusia di dunia maya, sebaliknya, cenderung memungkinkan adanya pelarian dan pembangkangan atas kendali-kendali yang lazim dijumpai dalam dunia fisik. Masyarakat dunia maya sangat mudah terhubung satu sama lain dengan cara-cara yang baru dan terkadang acak (random closeness). Implikasinya, menjadi sangat mudah bagi seseorang untuk membangun weak ties melalui dunia maya, yang kemudian bisa ditingkatkan menjadi medium ties atau bahkan strong ties di dunia nyata. Read more »