Cara Memulai Investasi

May 12th, 2013

Cara Memulai Investasi

Tulisan ini dibuat karena banyaknya pertanyaan yang sama ditanyakan berulang-ulang. Saking seringnya mendapat pertanyaan ini, saya bahkan sampai menyiapkan piring cantik buat penanya yang beruntung. (halah) Jadilah saya susun tulisan panjang ini sebagai referensi untuk Anda yang ingin tahu atau baru ingin memulai berinvestasi.

Ada dua poin penting yang menjadi dasar tulisan ini. Pertama: bahwa investasi itu adalah pengorbanan di masa sekarang untuk memperoleh hasil yang lebih baik di masa depan. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Dan kedua: investasi adalah bagaimana membuat money work harder than you, bukan bagaimana Anda bekerja untuk uang.

So, let’s get stuck in. Read more »

Jebakan Motivator

April 29th, 2013

Seandainya saya jadi motivator, barangkali sayalah motivator terburuk di dunia. Pertama, saya tidak suka “nggambleh” berbicara tentang manisnya hidup. Saya lebih suka bercerita (atau menulis) tentang hidup secara apa adanya—ya sisi manisnya, tapi juga lebih sering sisi pahitnya. Kedua, kalau saya kasih motivasi kepada Anda, “ceumungudh kakaaa \(´▽`)/” misalnya, kok kesannya malah garing. :)

Kawan saya pernah berujar dengan nada yang lebih ekstrim, “Ngapain bayar mahal cuma untuk dibohongin dengan cerita manis?” Saya pun cuma membalas ringan, “Orang memang suka dengerin yang seger daripada dengerin yang bener.” Saya bukannya anti atau benci terhadap motivator. Saya hanya tidak menyukai hal-hal yang membuat hidup makin susah dan miserable. Dan keberadaan motivator, karena satu dan lain hal, masuk dalam kategori tersebut.

Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia sedikit banyak memang berpengaruh dalam melahirkan profesi motivator. Mereka yang sudah nyaman di tengah piramida, berusaha untuk mempertahankan posisinya, atau malah berusaha naik kelas. Sementara mereka yang masih ada di bawah, the bottom of the pyramid, juga tergiur ingin naik jadi anggota kelas menengah. Semua ingin merubah hidup. Solusi mudahnya: motivator. Read more »

A Man’s Advice to His 20-Year Old Self

April 22nd, 2013

[Disclaimer: Tulisan ini agak berbeda daripada tulisan biasanya berdasar request dari salah satu pembaca.]

Usia 20an memang periode yang cukup krusial dalam hidup. Kamu akan mengalami transisi yang begitu beragam, mulai dari kuliah, lulus kuliah, terjun ke dunia nyata, menghadapi banyak masalah—where your life is a brand new place.

I’m writing this because I found it to be much harder than I expected. Everyone I’ve talked to about the transition agrees. Yet, nobody talks about this transition much, so I thought I’d write a little something about it. This is the advice that I wish someone had given me when I was 20. Read more »

Enam Tahun Penantian

April 10th, 2013

Ang Lee

Dibandingkan Steven Spielberg, mungkin Ang Lee belum ada apa-apanya. Di malam penganugerahan Academy Award beberapa waktu lalu, Life of Pi “hanya” memperoleh 11 nominasi Oscar. Jumlah ini masih di bawah Lincoln karya Steven Spielberg yang memperoleh 12 nominasi. Tapi ada cerita menarik dibalik perjuangan dan kesuksesan Ang Lee.

Ang Lee mendaftar jurusan perfilman di University of Illinois pada tahun 1978. Ayahnya keberatan dengan pilihan anaknya karena di Broadway hanya tersedia 200 peran untuk 50.000 pekerja seni. Ayahnya makin skeptis karena di masa itu sangat jarang seorang berkebangsaan China bisa menembus industri film Hollywood. Walau begitu, Lee nekat terbang ke Amerika mengejar mimpinya. Keputusan ini harus dibayar mahal dengan memburuknya hubungan Lee dengan ayahnya selama dua puluh tahun berikutnya. Read more »

Evolusi Filosofi

March 25th, 2013

Atas permintaan beberapa penggemar (duh!) di Twitter, saya ingin bercerita sedikit soal filosofi investasi saya. Saya sudah memulai investasi reksadana sejak masih kuliah, dengan modal dana dan pengetahuan ala kadarnya. Dulu saya adalah pendukung investasi reksadana karena relatif mudah bagi pemula. Reksadana juga bagus sebagai batu loncatan sebelum mencoba instrumen investasi lain yang lebih canggih. Di tahun 2008 saya bahkan menulis buku tentang investasi di instrumen ini.

Tapi dalam perjalanannya saya menemukan kelemahan dari reksadana, yaitu “hidden” fee. Fee yang dimaksud bukanlah fee beli/jual (subscription/redemption), melainkan management fee reksadana tersebut. Saya menemui sejumlah reksadana tidak terlalu transparan dalam memaparkan fee pengelolaan reksadana mereka. Mereka juga tidak menyebutkan secara jelas komposisi fee pengelolaan (oleh manajer investasi) dan fee marketing (yang di-share ke agen penjual/bank). Biarpun persentasenya tak seberapa, fee ini cukup mempengaruhi net return yang diperoleh investor.

Sebetulnya ada alternatif lain, yaitu reksadana indeks. Mereka dikelola secara pasif, dengan mengacu pada benchmark (biasanya IHSG atau LQ45), sehingga risiko kesalahan (tracking error) lebih kecil dan biaya pengelolaannya lebih murah daripada reksadana saham. Masalahnya, pada saat itu reksadana indeks belum ada. Seingat saya, cuma ada satu reksadana indeks yang mengacu pada Jakarta Islamic Index—tapi tidak saya pilih karena mereka tidak berinvestasi pada sektor yang cukup bagus: bank dan rokok. Read more »