Lupakan Resolusi Tahun Baru

Tak usah repot-repot membuat resolusi tahun baru. Hampir pasti Anda akan melewatkannya, menjadikan resolusi yang susah payah Anda buat dengan penuh semangat menjadi sekadar daftar panjang yang sia-sia.

Sejak jaman Adam Smith (1723-1790) dan Jeremy Bentham (1748-1832), ekonom mainstream telah melihat konsumen sebagai pengambil keputusan yang rasional didorong oleh pengejaran tanpa henti akan kepentingan pribadinya. Namun pandangan tradisional ini telah dipatahkan oleh sejumlah bukti empiris dari para behavioural economist yang menemukan adanya anomali dalam perilaku manusia. Berbagai riset menunjukkan bahwa manusia ternyata tidak rasional seperti halnya konsep homo economicus yang diajukan oleh ekonom mainstream.

Ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara hadiah Rp 1 juta hari ini atau hadiah Rp 1,1 juta besok, misalnya, sebagian besar orang akan memilih opsi pertama. Tapi, ketika dihadapkan pada pilihan hadiah Rp 1 juta 30 hari yang akan datang atau Rp 1,1 juta 31 hari yang akan datang, sebagian besar orang justru memilih opsi kedua. Kedua opsi tersebut sama-sama menawarkan tambahan Rp 100 ribu di keesokan harinya, namun perilaku tersebut menggambarkan inkonsistensi pilihan seseorang dalam kurun waktu tertentu yang tidak dapat dijelaskan oleh teori neoklasik. Continue reading

Kutukan BBM Subsidi

Barangkali negeri kita Indonesia tercinta memang terlahir untuk menjadi negeri yang serba tertinggal. Ketika negara lain sudah nyaman dengan energi terbarukan, kita masih nguplek soal pencabutan subsidi BBM. Padahal selain krisis energi, ada masalah lain yang jauh lebih menakutkan: krisis pangan.

Ketika negara lain ramai-ramai melindungi tanah pertaniannya, kita malah pamer jualan mall dan apartemen. Ketika negara lain tulus “ngemong” para petaninya, kita malah mangabaikan mereka. Ketika negara lain sibuk memborong lahan pertanian di negara lain, kita masih sibuk membeli BBM impor.

Ini bukan masalah sepele. Harga pangan dunia terus menerus naik. Indeks harga pangan FAO di tahun 2000 hanya 91,1, sekarang berlipat jadi 209,8 (2013). Selain itu, ketersediaan lahan pertanian makin terbatas. Padahal, populasi manusia di dunia saat ini mencapai 7,125 miliar dan akan terus bertambah. Continue reading

Sopir Taksi vs. PhD

London Cabbie

Percayakah Anda kalau saya bilang bahwa untuk menjadi seorang sopir taksi di London jauh lebih sulit daripada mengambil PhD di LSE?

Data menunjukan bahwa rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 4,5 tahun untuk menjadi seorang London cabbie. Kalau Anda lulus dari pendidikan (disebut The Knowledge), lisensi yang diperoleh hanya berlaku selama 10 tahun. Tes yang harus dilalui (disebut The Appearance) cukup sulit dan berjenjang, bisa sampai 27 kali. Wajar kalau hanya ada sekitar 15 orang lulusan saja per tahunnya dan hanya ada 21 ribu cabbie saat ini.

Para “mahasiswa” didikan The Knowledge (disebut Knowledge Boy atau Knowledge Girl) memang terkenal punya determinasi tinggi dan dedikasi penuh supaya mendapatkan green badge dan bisa mengemudikan kendaraan paling ikonik di London: The London Black Taxi. Di dalam pandangan masyarakat, menjadi seorang cabbie adalah pekerjaan yang keren dan terhormat. Bahkan banyak yang sepakat bahwa ini adalah the best part-time job in the world. Continue reading

Optimalisasi dan Kesenjangan Ekonomi

Ada seorang ekonom muda dari Perancis yang tak terlalu terdengar namanya sebelumnya. Ia menulis buku tentang kesenjangan ekonomi setebal 700 halaman—lengkap dengan sejarah, referensi literatur, dan data yang sangat padat. Menariknya, buku yang sangat serius tersebut malah menjadi bestseller di mana-mana, bersaing dengan Fifty Shades of Grey.

Ekonom tersebut bukanlah Joseph Stiglitz, Paul Krugman, ataupun Robert Solow. Ekonom tersebut “hanyalah” seorang Thomas Piketty. Buku yang ditulisnya berjudul Capital in the Twenty-First Century. Argumen utama dari buku itu juga sangat sederhana: modal yang diinvestasikan dalam pasar saham dan real estate akan bertumbuh lebih cepat daripada pendapatan.

Walau demikian, argumen yang terlihat sederhana tersebut implikasinya panjang. Kemakmuran akan bertumbuh lebih cepat daripada ekspansi yang terjadi dalam sistem perekonomian. Mereka yang “kapitalis” akan cepat melipatgandakan kekayaan mereka, sedangkan mereka yang berpenghasilan rendah dan “tidak kapitalis” menjadi kelompok yang paling dirugikan. Tak pelak, kesenjangan ekonomi (inequality) menjadi makin lebar. Continue reading

Membeli Kebahagiaan dengan Uang

“Money has never made man happy, nor will it, there is nothing in its nature to produce happiness. The more of it one has the more one wants.” —Ben Franklin

Penelitian memang membuktikan bahwa uang bisa membeli kebahagiaan, tapi pengaruhnya ternyata tidak sebesar itu. Banyak studi psikologi membuktikan bahwa peningkatan jumlah gaji, pada level tertentu, hanya memberikan sedikit (atau bahkan nol) kepuasan. Pada akhirnya, orang akan cenderung menghabiskan berapapun penghasilan yang mereka peroleh.

Sebagai contoh, misalkan gaji Anda naik Rp 5 juta. Anda mulai menambahkan audio set mutakhir di mobil Anda. Anda senang membeli baju-baju bermerk ekslusif. Anda mengambil cicilan rumah yang lebih besar. Begitu seterusnya. Pada akhirnya Anda akan bertanya-tanya, “Gaji saya naik Rp 5 juta per bulan, tapi kemana perginya uang itu?”

Apa kata para pakar tentang fenomena ini? Bagaimana cara kita mengatasi “jebakan” ini? Continue reading