The Economics of Cristiano Ronaldo

June 13th, 2009 | News

The Economics of Cristiano Ronaldo

Jual beli pemain bola mirip-mirip dengan jual beli saham. Membeli pemain di peak performance bisa dibilang bad timing, sama seperti membeli saham di harga tertingginya. Membeli pemain di puncak permainannya memang bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, ia mungkin bisa berpotensi mendongkrak prestasi klub barunya. Tapi di sisi lain, ia pasti dibanderol dengan harga premium melebihi harga wajarnya.

Setelah mendapatkan Kaka seharga £56 juta kini Madrid menggaet Ronaldo di harga £80 juta. Jumlah yang sebenarnya luar biasa fantastis, sekalipun untuk seorang pemain top kelas dunia. Pembelian ini konon memberikan keuntungan bersih sekitar £67,5 bagi Glazer family, pemilik Manchester United. Untuk ukuran sebuah klub sepakbola—-apalagi di jaman krisis seperti sekarang—-angka tersebut tentu saja luar biasa.

Menurut penelitian Stefan Szymanski (Cass Business School, London), korelasi antara transfer pemain dengan peringkat klub di liga sebenarnya hanya sekitar 16% saja. Sebaliknya, pengeluaran untuk membayar gaji korelasinya cukup signfikan, sekitar 92%. Makin tinggi klub berani membayar pemainnya, biasanya makin tinggi pula peringkatnya di liga. Namun, berapa besar jumlah yang dibayarkan dalam bentuk transfer fee rasanya tidak terlalu memberikan kontribusi signifikan. Read more »

Narsis 2.0

April 12th, 2009 | Personal

Mungkin Anda sudah tahu. Dalam mitologi Yunani kuno, konon seorang pemuda bernama Narcissus sedang berjalan-jalan menyusuri danau. Suatu saat ia membungkuk di tepi danau hendak meminum sedikit airnya. Narcissus baru sadar betapa tampan dirinya dari bayangan yang tercermin di atas permukaan danau dan jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Ia mencoba mengulurkan tangannya dan hendak mencium bayangannya sendiri. Sayangnya, Narcissus kemudian tergelincir dan mati tenggelam. Para dewa mereinkarnasi jasadnya menjadi bunga yang dinamai bunga narcissus.

Agak sulit menebak kapan pertama kali gelombang narsis 2.0 menyerbu dunia maya di Indonesia. Sejak kali pertama blog menjadi populer di Indonesia, gelagatnya memang sudah terlihat. Orang-orang ngeblog hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya eksis di dunia maya—-atau lebih parah lagi, biar nongol kalau kita googling namanya. Tapi gelombang yang agak santer mungkin terjadi ketika Friendster menjadi sangat ngetren ditunjang dengan murahnya ponsel-ponsel berkamera VGA. Read more »

Blog Sudah Mati?

March 21st, 2009 | Uncategorized

“Blog sifatnya hanya tren sesaat… Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu.”
—-Roy Suryo [source]

Teman saya pernah mengutarakan kritiknya, “Kalau semua orang ngomong, trus siapa yang mau dengerin?” Katanya, “Kalau semua orang ngeblog, lantas siapa yang mau baca?” Awalnya saya kurang ngeh dengan komentar itu, tapi lama-lama saya pikir ada benarnya juga. Sekarang siapa saja bisa bikin blog. Jumlah blog di Indonesia juga sudah segitu banyak. Mungkin blog sudah mendekati titik jenuh (saturation level). Read more »

Pasar Modal: Mafia dan Ajang Judi?

February 28th, 2009 | Investment

Pasar Modal: Mafia dan Ajang Judi?

Warren Buffet pernah bilang, “It is only when the tide goes out, that you know who was swimming naked.” Tahun-tahun lalu, ketika bursa sedang bullish, even monkey can make money. Namun, ketika krisis datang bertubi-tubi seperti saat ini, baru ketahuan siapa yang bermasalah dan siapa yang benar-benar bermasalah.

Idealnya, sektor riil dan sektor finansial bisa berjalan beriringan menunjang kemakmuran umat manusia. Namun, ketika oknum-oknum yang bergerak di dalamnya sudah tidak lagi berada di jalan yang lurus, bursa menjadi meja judi yang penuh dengan serigala-serigala kelaparan. Kalau sudah begini, yang menjadi korban biasanya selalu yang kecil dan yang lemah. Read more »

Deciding When to Invest

February 5th, 2009 | Investment

Earlier this week I received a number of questions from readers. They were asking quite similar questions whether it is the right time to top-up their investment in either stocks or mutual funds. As Warren Buffet said, “Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.” One or two years ago, we were very fearful when others are very greedy. But today, others are fearful yet we have not turned greedy.

I should clarify that to be a successful investor, you have to look beyond the conventional realm of the financial markets in today’s economic climate. First, being contrarian does not always mean taking an opposite direction on the same road—-sometimes it just means taking a different road. Secondly, there is a difference between a contrarian and a reverse conformist. A contrarian is not someone who is blindly take an opposite position of the crowd indiscriminately. Read more »