Risiko, Ketidakpastian, dan Perilaku

Jauh ketika Perang Kemerdekaan di negeri ini masih berkecamuk, Charles Mackay menulis buku berjudul Extraordinary Popular Delusions and The Madness of Crowds. Buku itu ditulis tahun 1841 dan mengulas tentang kegilaan manusia kala itu akan hal-hal gaib, tentang sihir dan ahli nujum, serta tentang gelembung (bubble) ekonomi. Buku Charles Mackay masih dicetak dan menjadi referensi hingga kini karena mengulas kegilaan manusia terhadap hal-hal yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi yang semu, seperti misalnya South Sea Bubble (1720), Mississipi Bubble (1719), dan Tulip Mania di Belanda (1637).

Charles Mackay menulis buku itu jauh sebelum konsep “ekonomi” dijelaskan secara matang seperti ilmu ekonomi yang kita kenal sekarang ini. Akan tetapi, ulasannya tentang risiko, ketidakpastian, dan perilaku ekonomi masih relevan. Sayangnya, meski ilmu ekonomi modern telah berkembang pesat, mengapa kejadian semacam itu terus berulang? Di Indonesia saja, berulang kali terjadi pecahnya gelembung ekonomi semu seperti demam anthurium, ikan lohan, sampai harga properti yang bisa naik hingga luar biasa mahalnya. Termasuk juga beragam skema money game, ponzi scheme, dan arisan berantai yang seakan-akan mati satu tumbuh seribu. Continue reading

Lupakan Resolusi Tahun Baru

Tak usah repot-repot membuat resolusi tahun baru. Hampir pasti Anda akan melewatkannya, menjadikan resolusi yang susah payah Anda buat dengan penuh semangat menjadi sekadar daftar panjang yang sia-sia.

Sejak jaman Adam Smith (1723-1790) dan Jeremy Bentham (1748-1832), ekonom mainstream telah melihat konsumen sebagai pengambil keputusan yang rasional didorong oleh pengejaran tanpa henti akan kepentingan pribadinya. Namun pandangan tradisional ini telah dipatahkan oleh sejumlah bukti empiris dari para behavioural economist yang menemukan adanya anomali dalam perilaku manusia. Berbagai riset menunjukkan bahwa manusia ternyata tidak rasional seperti halnya konsep homo economicus yang diajukan oleh ekonom mainstream.

Ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara hadiah Rp 1 juta hari ini atau hadiah Rp 1,1 juta besok, misalnya, sebagian besar orang akan memilih opsi pertama. Tapi, ketika dihadapkan pada pilihan hadiah Rp 1 juta 30 hari yang akan datang atau Rp 1,1 juta 31 hari yang akan datang, sebagian besar orang justru memilih opsi kedua. Kedua opsi tersebut sama-sama menawarkan tambahan Rp 100 ribu di keesokan harinya, namun perilaku tersebut menggambarkan inkonsistensi pilihan seseorang dalam kurun waktu tertentu yang tidak dapat dijelaskan oleh teori neoklasik. Continue reading

Kutukan BBM Subsidi

Barangkali negeri kita Indonesia tercinta memang terlahir untuk menjadi negeri yang serba tertinggal. Ketika negara lain sudah nyaman dengan energi terbarukan, kita masih nguplek soal pencabutan subsidi BBM. Padahal selain krisis energi, ada masalah lain yang jauh lebih menakutkan: krisis pangan.

Ketika negara lain ramai-ramai melindungi tanah pertaniannya, kita malah pamer jualan mall dan apartemen. Ketika negara lain tulus “ngemong” para petaninya, kita malah mangabaikan mereka. Ketika negara lain sibuk memborong lahan pertanian di negara lain, kita masih sibuk membeli BBM impor.

Ini bukan masalah sepele. Harga pangan dunia terus menerus naik. Indeks harga pangan FAO di tahun 2000 hanya 91,1, sekarang berlipat jadi 209,8 (2013). Selain itu, ketersediaan lahan pertanian makin terbatas. Padahal, populasi manusia di dunia saat ini mencapai 7,125 miliar dan akan terus bertambah. Continue reading

Sopir Taksi vs. PhD

London Cabbie

Percayakah Anda kalau saya bilang bahwa untuk menjadi seorang sopir taksi di London jauh lebih sulit daripada mengambil PhD di LSE?

Data menunjukan bahwa rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 4,5 tahun untuk menjadi seorang London cabbie. Kalau Anda lulus dari pendidikan (disebut The Knowledge), lisensi yang diperoleh hanya berlaku selama 10 tahun. Tes yang harus dilalui (disebut The Appearance) cukup sulit dan berjenjang, bisa sampai 27 kali. Wajar kalau hanya ada sekitar 15 orang lulusan saja per tahunnya dan hanya ada 21 ribu cabbie saat ini.

Para “mahasiswa” didikan The Knowledge (disebut Knowledge Boy atau Knowledge Girl) memang terkenal punya determinasi tinggi dan dedikasi penuh supaya mendapatkan green badge dan bisa mengemudikan kendaraan paling ikonik di London: The London Black Taxi. Di dalam pandangan masyarakat, menjadi seorang cabbie adalah pekerjaan yang keren dan terhormat. Bahkan banyak yang sepakat bahwa ini adalah the best part-time job in the world. Continue reading

Optimalisasi dan Kesenjangan Ekonomi

Ada seorang ekonom muda dari Perancis yang tak terlalu terdengar namanya sebelumnya. Ia menulis buku tentang kesenjangan ekonomi setebal 700 halaman—lengkap dengan sejarah, referensi literatur, dan data yang sangat padat. Menariknya, buku yang sangat serius tersebut malah menjadi bestseller di mana-mana, bersaing dengan Fifty Shades of Grey.

Ekonom tersebut bukanlah Joseph Stiglitz, Paul Krugman, ataupun Robert Solow. Ekonom tersebut “hanyalah” seorang Thomas Piketty. Buku yang ditulisnya berjudul Capital in the Twenty-First Century. Argumen utama dari buku itu juga sangat sederhana: modal yang diinvestasikan dalam pasar saham dan real estate akan bertumbuh lebih cepat daripada pendapatan.

Walau demikian, argumen yang terlihat sederhana tersebut implikasinya panjang. Kemakmuran akan bertumbuh lebih cepat daripada ekspansi yang terjadi dalam sistem perekonomian. Mereka yang “kapitalis” akan cepat melipatgandakan kekayaan mereka, sedangkan mereka yang berpenghasilan rendah dan “tidak kapitalis” menjadi kelompok yang paling dirugikan. Tak pelak, kesenjangan ekonomi (inequality) menjadi makin lebar. Continue reading