Manajemen Strategik ala Britania Raya

Sebagai negara maju berukuran cukup sedang, prestasi tim Inggris di Olimpiade sebenarnya boleh dibilang agak payah. Dibandingkan negara-negara adidaya lainnya maupun negara tetangganya di Eropa, prestasi Britania Raya tak terlalu membanggakan. Bila pada Olimpiade London 1908 mereka bisa meraih 56 medali emas, sesudahnya kecenderungan selalu menurun. Ketika bertanding di negeri sendiri pada tahun 1948, mereka bahkan cuma mendapatkan 3 emas.

Puncaknya terjadi pada Olimpiade Atlanta di tahun 1996. Britania Raya hanya bisa menggondol satu medali emas melalui Steve Redgrave dan Matthew Pinsent dari cabang dayung (rowing). Perolehan itu membuat Britania Raya jatuh di posisi 36 pada total perhitungan medali. Ini adalah titik nadir bangsa Inggris di ajang olimpiade modern.

Bandingkan dengan Olimpiade Rio yang baru saja selesai. Britania Raya bertanding 366 kali pada 25 cabang olahraga yang berbeda. Mereka mendapatkan 27 medali emas, 23 medali perak, dan 17 medali perunggu. Total perolehan yang mereka bawa pulang adalah 67 medali. Torehan ini membuat Britania Raya duduk di peringkat kedua dari seluruh negara yang bertanding di Olimpiade Rio.

Kalau sekarang Britania Raya bisa meninggalkan Olimpiade Rio 2016 dengan kepala tegak, tak lain tak bukan adalah karena jasa PM John Major di masa kepemimpinannya. Gusar dengan torehan prestasi yang memalukan di masa itu, PM John Major mengambil beberapa langkah strategik untuk mengangkat tim Olimpiade Britania Raya dari keterpurukan.

Pertama, ia menggagas pendirian National Lottery. PM John Major berdalih prestasi olahraga hanya bisa diperoleh bila ada pendanaan yang stabil dan kontinu (continuous, stable financing). Tentu saja niatan ini menimbulkan skeptisme dari kementrian lain. Bahkan tak sedikit yang berusaha menggagalkan rencana PM John Major tersebut.

Alasan PM John Major sederhana. Pendanaan olahraga tidak boleh tergantung oleh APBN. Selain tidak menentu, APBN sangat rawan tekanan politik. Terbukti, setelah 22 tahun National Lottery berdiri, Britania Raya kini punya kas berlimpah. Dalam periode prihatin (austerity) seperti beberapa tahun terakhir, UK Sport bisa menggali dana hingga £350 juta untuk olimpiade dan paralimpiade.

Kedua, pemilihan strategik (strategic selection). Britania Raya tidak berinvestasi pada olahraga yang memiliki probabilitas perolehan medali per personil rendah. Sebagai contoh, sepakbola dan bola basket adalah olahraga yang sangat populer di kalangan remaja Inggris. Akan tetapi, UK Sport enggan menggelontorkan dana ke dalamnya. Alih-alih, mereka lebih memilih cabang sepeda, renang, atau atletik yang memiliki rasio pemenangan lebih tinggi.

Ketiga, peningkatan bertahap (incremental innovation). Mereka percaya pada konsep “technical leadership”. Sir Dave Brailsford, performance director dari tim sepeda Britania Raya periode 1997-2014, punya prinsip “aggregation of small gains”. Mereka tak henti-henti mencari perbaikan dan peningkatan—walau hanya seujung kuku jari. Mulai dari hal sederhana seperti pemilihan gel untuk memijat atlit, bantal tidur atlit yang lebih nyaman, hingga satu-dua perbaikan teknik. Mungkin hal ini terlihat remeh, namun bila dijumlahkan, peningkatan tersebut bisa membedakan antara pemenang dan pecundang.

Keempat, kepemimpinan karismatik (charismatic leadership). Setiap organisasi yang baik pasti membutuhkan patron yang kuat. Tim Olimpiade 2016 Britania Raya berutang banyak kepada Andy Murray. Ia membatalkan rencana awalnya lalu memilih untuk bergabung dan tinggal bersama kawan-kawan satu tim di Olympic Village. Hal ini mungkin tidak bisa dihitung secara statistik atau peramalaman komputer, akan tetapi keberadaan Murray jelas mendongkrak moral tim dan meningkatkan rasa kebersamaan (esprit de corps).

Secara umum, PM John Major berhasil menggeser paradigma (behavioral shift) dari paham Thatcherism yang tradisional menjadi lebih profesional. Apabila dulu olimpiade hanya dianggap sebagai sekedar penggembira dan menggenapkan kuota, maka olimpiade kini digarap dengan ekspektasi profesional. Apabila dulu olimpiade dikelola dengan pandangan konservatif, kini olimpiade direncanakan melalui pendekatan manajemen yang strategik dan berorientasi jangka panjang.

Sudah saatnya Indonesia beranjak dari romantika angka, “apa susahnya mencari 26 atlit dari 260 juta penduduk Indonesia?” Prestasi olahraga tak cuma mengandung unsur statistika (kuantitas), tetapi juga kualitas. Kualitas dapat diperoleh dari perencanaan dan pengelolaan yang lebih strategik. Dalam hal ini, tidak ada salahnya kita belajar dari Britania Raya.