Bagaimana Menjadi Konglomerat

February 28th, 2005 | Investment

Mungkin pertanyaan pertama yang muncul adalah bagaimana konglomerat bisa menghimpun dana sedemikian besarnya untuk membangun perusahaan. Padahal, sesungguhnya dana segitu gedenya bisa diperoleh dengan sangat mudahnya melalui dua jurus maut: modal dengkul dan mark-up.

Sebelum konglomerat mendirikan perusahaan, ia akan meminta profesional untuk menghitung secara detil investasi yang diperlukan, termasuk aset, kredit yang bisa diperoleh, modal sendiri yang mesti diperlukan, hingga working capital untuk membiayai operasional. Selain itu perlu ditentukan juga sarana fisik, bangunan dan peralatan, sampai karyawan yang diperlukan dengan berbagai kualifikasinya. Tentu saja semuanya harus disusun secara akurat.

Katakanlah begini, investasi ini seluruhnya memerlukan Rp 130 M. Modal tersebut meliputi modal kerja Rp 20 M; mesin dan perlengkapan anggap Rp 93 M; tanah, bangunan, dan aset tak bergerak Rp 10 M; dan sisanya, Rp 7 M untuk keperluan lain-lain.

Anggap semua proses perhitungan sudah selesai. Langkah selanjutnya adalah kontak supplier mesin di luar negeri dan minta price list untuk mesin-mesin yang kita perlukan. Umumnya, mereka menggunakan harga bruto, tingal bagaimana negosiasinya agar bisa mendapatkan korting yang lumayan. Tingkat korting ini bisa sampai 40% dari price list.

Selanjutnya, tanah dan bangunan pun harus kita cari harga pasti dan harga penawarannya. Termasuk barang-barang lain dan perlengkapan yang diperlukan. Semua dikumpulkan datanya terlebih dahulu, lalu dibuatlah proposal dengan harga baru. Mesin dinilai dengan harga bruto. Tanah dan bangunan pilih harga penawaran yang tertingi, kalau perlu tambah mark-up juga tak masalah selama masih “wajar”. Nantinya, proposal akan muncul dalam dua versi. Versi pertama adalah proposal asli dengan estimasi Rp 130 M. Proposal versi kedua adalah proposal hasil mark-up dengan estimasi sekitar Rp 175 M.

Kemudian, proposal kedua hasil mark-up diajukan ke bank untuk meminta kredit. Sebelumnya, jelas harus ada pendekatan terlebih dahulu (kecuali si konglomerat tersebut punya bank sendiri). Dari rencana investasi sebesar Rp 175 M tadi, si konglomerat cuma minta Rp 135 M saja. Tentunya, ada “uang jasa” untuk kredit yang nilainya cukup besar ini. Besarnya sekitar 1%. Selain itu, direksi bank (apalagi BUMN) sering minta tolong dicarikan kos-kosan buat anaknya yang sekolah di luar kota (dan di luar negeri juga). Ada juga yang nggak mau repot nyari, alias mending beli aja.

Oke. Kita anggap sudah ada deal dengan bank. Sekarang tinggal bagaimana pembangunan proyeknya. Tanah dan bangunan mesti dibikin terlebih dahulu supaya ada “bukti” bahwa proyek ini bukan proyek bohong. Di pembukuan, harga tanah bisa dinaikkan sampai sekitar Rp 15 M. Tapi bisa juga tanah ngutang terlebih dahulu dengan alasan sertifikat yang belum beres.

Lalu bagaimana urusan dengan supplier mesin di luar negeri? Misalkan harga mesin US$ 10 juta net, mereka minta down payment 10%. Sisanya, dibayar pakai L/C yang harus diselesaikan setelah mesin naik ke kapal (FOB). Tapi pencatatan dalam sales contract, harga menggunakan tarif bruto 40% (US$ 14 juta) dan down payment US$ 5 juta. Jadi, L/C yang harus ditanggung tetap US$ 9 juta.

Dana sebesar US$ 5 juta nantinya benar-benar dikirim via draft ke supplier mesin yang bersangkutan. Tapi, US$ 4 juta sisanya, dikembalikan lagi ke rekening pribadi si konglomerat. Bisa juga US$ 5 juta tadi dikirim lima kali masing-masing US$ 1 juta, dimana pengiriman pertama sampai keempat dimasukkan ke rekening pribadi dan pengiriman terakhir dikirim untuk down payment “sebenarnya”. Jadi, bukti draft tetap nampak US$ 5 juta.

Pada dasarnya, bank bersedia mencairkan kredit setelah bangunan sudah nampak dan mesin sudah dibayar. Bank juga tidak bisa sekenanya mencairkan kredit karena perlu diaudit oleh akuntan publik. Akuntan pun akan memeriksa berdasar bukti yang ada dan melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait seperti supplier mesin. Mereka umumnya “tahu sama tahu” ketika berhadapan dengan konglomerat Indonesia. Lagipula, mesin-mesin tersebut harga resminya memang bruto. Tidak ada patokan baku untuk discount yang diberikan.

Setelah kredit cair, duit sendiri yang semula dipakai untuk tanah, bangunan, dan uang muka untuk mesin diambil kembali. Tentu dengan untung sebesar Rp 5 M. Biasanya, anak-anak Soeharto bisa mengambil sampai separonya. Tentunya proses pengambilan ini tidak secara cash sekaligus karena sangat mencolok ketika diaudit. Cara yang cukup expert adalah dengan kredit overdraft account dengan jaminan deposito pribadi yang dipergunakan untuk setor modal. Tentunya ditutupi alasan bahwa untuk membiayai investasi tidak bisa secara sekaligus. Jadi, idle money yang ada supaya bisa dimanfaatkan terlebih dahulu.

Pada prakteknya, deposito pribadi ini tidak tersentuh. Dana yang diambil dari overdraft account jumlahnya lebih besar daripada jumlah yang harus dibayarkan. Selebihnya, bisa dimasukkan lagi ke bank dengan menggunakan account baru. Setelah agak banyak, setorkan kembali ke overdraft account dengan dicatat sebagai setoran modal. Nah, dari mark-up ini diperoleh Rp 5 M dari bangunan dan Rp 37 M dari down payment untuk mesin. Jumlah ini melebihi modal sendiri yang mesti disetor sebesar Rp 40 M. Benar-benar modal dengkul.

Urusan teknis dan manajemen biasanya diserahkan begitu saja kepada profesional dan staf-stafnya. Mereka didorong untuk kerja keras dengan iming-iming bonus yang besar. Mereka membuat sistem yang baik, manajemen yang bagus, dan disiplin yang ketat. Kalau ada professional yang bandel, tinggal pecat dengan alasan yang gampang dibuat.

Hanya saja, para konglomerat ini pernah kejeblos semasa krismon. Bunga bank yang semula 17%-20% per tahun meningkat hingga di atas 40%. Belum lagi kurs dolar yang meningkat secara berlebihan ditambah daya beli masyarakat yang drop. Akibatnya, pasar yang semula normal menjadi timpang. Kecuali perusahaan tadi berorientasi ekspor. Tentu saja dengan modal dengkul seperti ini tidak ada perusahaan yang bertahan. Selain itu, nasabah mengambil simpanan di bank. BI mengucurkan bantuan tetapi sekedar untuk mengembalikan tabungan nasabah, bukan untuk menutup utang. Bagi bankir nakal, tentu saja ini adalah kesempatan untuk sekalian menghabisi bank tersebut. Apalagi bank yang dananya digunakan untuk membiayai proyek sendiri yang dimark-up.

Bagaimana dengan bosnya? Tak masalah. Si bos tetap aman karena perusahaan tadi hanya berbekal modal dengkul, bukan berasal dari kantong pribadi si bos.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. wadiyo

    bagus juga tip-nya,,,,,,
    terus dari mana untuk memulainya?

  2. ade

    mas apakah ini ide dari tulisannya embah kwik kian gie ,, dalam bukunya saya mimpi jadi konglomerat toh ??

  3. Nofie Iman

    Terima kasih sudah mengingatkan. Tulisan ini hanya kutipan, tapi saya lupa sumbernya dari mana.

  4. satyo

    benar, ini cuplikan dari buku tipis “saya bermimpi jadi konglomerat”, itu adalah buku kumpulan tulisan Kwik Kian Gie di harian Kompas.
    Berhubung, buku itu sudah lumayan langka, hitung2 sebagai refresh

  5. mason

    enak banget ya bisa jadi konglomerat, apalagi kalo gak perlu keluar ongkos & kerja keras… kapan ya…

    Daftar Kekayaan Bambang Trihatmodjo.

    Baru saja saya mendapatkan tip dari pembaca basa-basi.com melalui e-mail yang mempunyai daftar kekayaan Bambang Trihatmodjo. Silahkan dibaca sebagai pengetahuan tambahan. Ada tips lain? Silahkan e-mail saya di barry AT basa-basi Dot com

    Kapal
    * Bimantara Merek mesin kapal: Mercruiser
    * Citra Merek mesin kapal: Mercruiser
    * Fountain Merek mesin kapal: Yamaha
    * Lemuru Merek mesin kapal: Yamaha
    * Madrim Merek mesin kapal: Detroit
    * Sumbadra Merek mesin kapal: Yamaha
    * Utik Merek mesin kapal: Yamaha

    Mobil
    * Satu BMW Jeep
    * Satu Porsche Cayenne
    * Satu Volkswagen Toureg
    * Satu Toyota Rush
    * Satu Volkswagen Caravelle
    * Satu Mercedes-Benz Jeep
    * Satu Mercedes-Benz Sedan
    * Satu BMW Sedan
    * Satu Hyundai Trajet
    * Satu Mercedes-Benz Jeep
    * Satu Range Rover
    * Satu Hyundai Santa Fe
    * Lima Kijang
    * Satu Pickup

    Tanah
    * Jalan Tanjung 24, 26, Jakarta Pusat: 1.259 meter persegi
    * Jalan Raya Ciganjur, Pasar Ming gu, Jakarta Selatan: 3.105 meter persegi
    * Cisarua, Tugu Selatan, Bogor : 3.579 meter persegi
    * Jalan Tanjung 23, Menteng, Jakarta Pusat: 1.985 meter persegi
    * Jalan KH Wahid Hasyim 40, Kebon Sirih, Jakarta Pusat: 510 meter persegi
    * Jalan Raya Ciganjur, Pasar Ming gu, Jakarta Selatan: 3.000 meter persegi
    * Megamendung, Bogor : 4.650 meter persegi
    * Kampung Satu, Ciganjur, Jakarta Selatan: 867 meter persegi
    * Jalan Simprug Garden II, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan: 2.534 meter persegi
    * Jalan Simprug Blok G No. 19, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan: 492 meter persegi
    * Jalan Simprug Garden II, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan: 4.114 meter persegi
    * Jalan Moh. Kahfi I, Kamp. Setu, Ciganjur, Jakarta Selatan: 2.290 meter persegi
    * Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang: 1.480 meter persegi
    * Kuta, Jimbaran, Bali : 4.350 meter persegi
    * Kuta, Jimbaran, Bali : 300 meter persegi
    * Kuta, Jimbaran, Bali : 5.550 meter persegi
    * Kuta, Jimbaran, Bali : 13.725 meter persegi
    * Ciganjur RT 006/06, Jagakarsa, Jakarta Selatan: 200 meter persegi
    * Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan: 157 meter persegi
    * Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu: 44.765 meter persegi
    * Jalan Simprug Garden II, Grogol Selatan: 2.705 meter persegi
    * Jalan Casablanca, Jakarta Selatan: 21.250 meter persegi
    * Jalan Wahid Hasyim 46-A, Kebon Sirih, Jakarta Pusat: 563 meter persegi
    * Wanakerta, Campaka, Purwakarta: 319.360 meter persegi
    * Cinangka, Campaka, Purwakarta, Jawa Barat: 219.500 meter persegi
    * Cikopo, Campaka, Purwakarta, Jawa Barat: 3.678.140 meter persegi
    * Situbondo, Jawa Timur: 479,6 hektare
    * Tanah di Jalan Cempaka Putih Raya No. 1, Jakarta Timur
    * Jalan Simprug Golf XVI No. 36, Jakarta Selatan.
    * Jalan Tanjung 29, Jakarta Pusat: 1.130 meter persegi
    * Tarogong Kecil, Pondok Pinang, Jakarta Selatan: 1.118 meter persegi

    Rekening Bank
    * Rekening di Bank of America Beverly Hills Main 460 N Beverly Drive, Beverly Hills, California
    * Dua rekening giro bank di BNI Jakarta Pusat

    Saham
    Kepemilikan 99,9 % saham Asriland Penyertaan melalui Asriland:
    * PT Bumi Kusuma Prima: 55 %
    * PT Global Mediacom Tbk (PT Bimantara Citra): 13,82 %

    Penyertaan Bimantara
    * PT Media Nusantara Citra Tbk: 70 %
    * PT Mobile-8 Telecom Tbk: 60,76 %
    * PT Indonesia Air Transport Tbk: 79,81 %
    * PT Plaza Indonesia Realty Tbk: 18,29 %
    * PT Rajawali Citra Televisi Indonesia : 69,82 %
    * PT Elektrindo Nusantara: 51 %
    * PT Trans Javagas Pipeline: 49 %
    * PT Trihasra Bimanusa Tunggal: 35 %
    * PT Cardig Air: 50 %
    * PT Bima Kimia Citra: 30 %
    * PT Multi Nirotama Kimia: 40 %
    * PT Nusadua Graha International: 36,56 %
    * PT Duta Nusabina Lestari: 30 %
    * PT Usaha Gedung Bimantara: 100 %
    * PT. Citra International Finance & Investment Corporation: 55 %
    * PT Citra International Under-writers: 55 %
    * PT Jasa Angkasa Semesta: 25,50 %
    * PT Plaza Nusantara Realty: 13,5 %
    * PT Serasi Tunggal Karya: 7 %
    * PT Polychem Undo: 60 %
    * PT Bukit Sentul Tbk..
    * PT Gemini Sinar Perkasa: 65 %
    * PT Javalas Artha Asri: 99,99 %
    * PT Andromeda Sekuritas: 33,33 %
    * PT Asri Pelangi Nusa: 96 %
    * PT Bhakti Investama Tbk.: 0,59 %
    * PT Tugure: 20 %
    * PT Asia Pacific Petroleum Refinery Indonesia : 2.500 saham
    * PT Kapsulindo Nusantara: 63 %
    * PT Binajasa Hantarindo: 70 %
    * PT Herwindo Rintis: 35 %
    * PT Bina Cakra Niaga: 45 %

    Penyertaan Bina Cakra:
    * PT Hyundai Indonesia : 99,74 %
    * PT Kawasaki Motor Indonesia : 7,5 %
    * PT Citrakarya Pranata: 70 %
    * PT Senantiasa Makmur: 10 %

    Saham melalui pihak ketiga:
    * PT Panji Rama Otomotif: 1.050 saham melalui Djoko Leksono Sugiarto
    * PT Bina Cakra Niaga: 45 % melalui Abraxas Capital Limited II
    * PT Asri Wahana Intinusa melalui Junanda Puce Syarfuan dan Aziz Mochtar
    * PT Kekar Plastindo melalui Anas Bahfen
    * PT Dinamika Bahari Sejahtera melalui Bimmy Indrawan Tjahja dan Sugeng Tunggono
    * PT Binajasa Hantarindo melalui Bob Hippy
    * PT Javalas Artha Asri melalui Bambang Wibowo
    * PT Grandauto Dinamika melalui Djoko Leksono Sugiarto
    * Brinkley Associates Ltd
    * PT Karang Agung Asri: 70 %
    * PT Cilegon Saran Industria: 25 %
    * PT Cilegon Centra Petrokemin: 25 %
    * PT Pacific Tribina Petrokimia: 25 %
    * PT Asri Safari Bali : 100 %
    * PT Asri Sentra Citraindo: 100 %
    * PT Zaman Bangun Perwita: 100 %
    * PT Cipta Bintani Megah: 50 %
    * PT Mutiara Citra Jayasanti: 60 %

    Penyertaan lainnya:
    * PT Dutarendra Mulia Sejahtera: 20 %
    * PT Karunia Alam Abadi: 43 %
    * PT Kresna Sarana Media: 60 %
    * Berita Yudha Press: 51 %
    * PT Kapsulindo Nusantara: 62,75 %
    * PT Lamicitra Nusantara
    * PT Laksana Citra Nusantara
    * PT Graha Tama Wisesa: 50 %
    * PT Adipuri Inti Satya: 10 %
    * PT Panen Lestari Internusa
    * PT ITCIKU
    * PT Tugu Reasuransi Indonesia : 20 %
    * PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk
    * PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk
    * PT Cardig Lep Internasional: 45 % melalui Cardig Air
    * PT Batamindo Investment Cakrawala (BIC): 50 % melalui Herwindo
    * PT Batamindo Executive Village : 60 % melalui BIC
    * Private Holding Ltd

    Catatan: Silahkan memakai informasi ini dengan lapang dada :)

    http://jawaban.blogspot.com/2008/02/daftar-kekayaan-bambang-trihatmodjo.html

Looking forward to hear your thoughts.