Sarbanes Oxley

April 6th, 2005 | News

Berasal dari nama senator yang mengusulkannya: Paul Sarbanes dan Michael Oxley. Sarbanes Oxley adalah nama lain dari undang-undang reformasi perlindungan investor (The Company Accounting Reform and Investor Protection Act of 2002) yang ditandatangani George Bush bulan Juli tahun 2002 lalu. Banyak yang menyebutkan bahwa undang-undang ini adalah reaksi keras regulator AS terhadap kasus Enron pada akhir 2001. Inti utama dari undang-undang ini adalah upaya untuk lebih meningkatkan pertanggungjawaban keuangan perusahaan publik (good corporate governance).

Undang-undang ini berpengaruh signifikan terhadap manajemen perusahaan publik, akuntan publik (auditor), dan pengacara yang berparaktek di pasar modal. Sebagai contoh misalnya Section 404 yang mengatur kewajiban manajemen membuat laporan penilaian atas kontrol internal perusahaan sebagai bagian dari laporan keuangan. Mengingat sifatnya yang sangat ketat dan berdampak luas, undang-undang ini terbilang kontroversial dan menjadi polemik hingga sekarang.

Referensi lengkapnya silakan kunjungi AICPA atau official website-nya.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. PianoMan
  2. Comments

  3. adi wahyu

    Sorry OOT gak nyambung sama topik yang Nofie bicarakan, gue awam banget soal ginian.

    Nof, kalo kita investasi di smart investment Mandiri di situ dijelasin ada jaminan dari bank kustodian.

    Nah, temenku juga jadi wiraswasta yang bergerak di bidang trading. Gak tau persis apa aja. Yang jelas dia trading di luar negeri dan gak mau ikutan di Indonesia. Katanya terlalu banyak intrik dan kebohongan. Selalu cenderung melorotin client. Dan emang bener sih, gue juga pernah kena. Langsung distop. Tapi udah ilang sampe 35%.

    Katanya, kalo di luar negeri. Uang client ditaruh di bank penjamin. Jadi seandainya si pialang (bener gak?) bangkrut. Maka deposti awal client tetap utuh. Dan ini yang tidak terjadi di Indonesia, dimana uang client ada di perusahaan pialang. Jadi bisa (banyak) aja perusahaan itu nakal.

    Nah, ceritanya aku nanem lagi nih di Mandiri Smart Investment. Mereka jamin nilai deposit awal gak akan hilang. Seburuk2nya gak ada pembagian deviden. Nah pikiranku nyangkut ke bank kustodian itu. Jadi pikiranku uang awal gak ilang deh. Eh ternyata, kemarin deposit awalnya ilang cukup banyak. Jelas dong kaget banget. Padahal dari Bank Mandiri gitu loh! Emang mereka udah kasih klausul2 di kontrak. Tapi mungkin aku aja yang bego. Yang jelas langsung aku stop dan pindahin langsung ke Deposito Muammalat.

    Kesimpulan awalku, jangan percaya sama perusahaan investasi dan sejenisnya yang ada di Indonesia. Biar gede sekalipun. Gue kapok bin kapok.

    Sedih nih, mana inflasi terus. Kalo ditabung jelas rugi biarpun ada uang 1 Milyar dapet berapa sih sebulannya? *Kayak gue ada uang segitu aja hehehe… Gile 1 milyar banyat banget tuh!* Gak sebanding dengan laju inflasi. Kalo investasi perumahan bakal susah mendapatkan dana cair seandainya ada kebutuhan darurat.

    Mungkin gue bakal invest ke temen gue. Dia trading 24 jam kecuali hari libur. Dan temen gue lainnya yg udah invest sama temenku itu udah bisa dapet uang buat modal kawin. Huehehe, bisa dapet bersih 5% perbulan dari investasinya. Gede banget tuh. Tapi rata-rata sih 3%. Mayan lah lebih gede dari Deposito Bank. *tapi gue masih shock, trauma, dan ragu-ragu mau namen lagi biar ke temen yang udah akrab dari SMU sekalipun*

    Oh iya, dia udah gerak di bidang ini selama 3 tahun lebih. Dia kerja dari rumahnya sendiri.

    Ada ide lain gak buat smart investing?

  4. P&D

    Ada tutorial buat invest gak?

  5. Nofie

    Hmm.. smart investment Mandiri? Saya belum gitu jelas sih. Tapi kalau lihat advertisement mereka nampaknya itu semacam investasi di reksadana ya? Mudah-mudahan sih iya.

    Reksadana sendiri, sepanjang yg saya tau, ada 3 macem: reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, dan reksadana saham. Reksadana pasar uang mayoritas duitnya ditanamkan di instrumen keuangan yg jatuh temponya kurang dari 1 tahun. Reksadana pendapatan tetap mayoritas duitnya ditanamkan di instrumen pendapatan tetap dgn jangka waktu biasanya lebih dari 1 tahun, misal obligasi, surat utang pemerintah, dsb. Sementara reksadana saham, sesuai namanya, mayoritas dananya ditanamkan di saham.

    Return yg saya rasakan, untuk reksadana pasar uang cuma sebatas kejar-kejaran dgn deposito, sekitar 7-8% per tahun. Kalau reksadana pendapatan tetap bisa 11-12%, dan reksadana saham biasanya mampu mencapai 30%. Pernah ada manajer investasi yg bisa nembus 46%-56% tahun lalu, seperti Schroeder Dana Prestasi & Dana Prestasi Plus.

    Saya malah belum pernah denger bhw investasi kita dijamin oleh bank kustodian. Sepanjang yg saya tahu, investasi kita tidak dijamin. Jadi, bisa saja selagi kita invest, bukannya dapet gain, tapi malah loss. Walaupun, menurut saya secara teori, agak susah reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap bisa loss, kecuali kalau perusahaan dimana kita beli surat utang tersebut benar-benar bangkrut. Tapi pada prakteknya banyak juga kok manajer investasi yang menginstrumensikan di surat utang pemerintah, dan secara teknis, pemerintah tidak mungkin bangkrut. Jadi, investasi kita seharusnya gak pernah minus. Kalau kemudian menjadi minus, mungkin karena metode penilaian saja yg berubah (marked to market), yang membuat kita diatas kertas, rugi.

    Di luaran, emang aturannya jauh lebih mature dan pengawasannya ketat. Tapi kalo yg ada semacam jaminan itu, mungkin bukan reksadana (mutual fund) melainkan hedge fund. Dan hedge fund ini memang lebih populer di negara seperti Amerika, misalnya. Salah satu pemain besar hedge fund adalah George Soros, yg dulu menjatuhkan PM Inggris, John Major, dan ngerjain baht Thailand, yg efeknya mendorong krisis moneter di Indonesia.

    Nah, hedge fund ini memang ada semacam jaminan. Istilahnya capital protected fund (dgn proteksi atas prinsipal) dan capital guaranteed fund (dana dgn prinsipal dijamin). Pemain besar hedge fund ini misalnya SG, Bank Dressner, HSBC, dsb. Dan biasanya, return hedge fund ini bisa gila-gilaan dibandingkan reksadana biasa. Hanya saja, perlindungan hukumnya (utk kasus Indonesia), nampaknya belum bisa diandalkan.

    Jadi, mau invest dimanapun, ya monggo saja. Tetapi ada pemeo umum yang lazim di dunia investasi, yaitu (1) trade off antara risk & return, dan (2) jgn meletakkan semua telur dalam satu keranjang. Return yang gede, selalu diikuti oleh resiko yg gede juga. Begitu pula sebaliknya. Dan jangan meletakkan semua duit Anda dalam satu jenis investasi saja (pemeo ini kemudian dikembangkan jadi ilmu teori portofolio).

    Silakan saja kalau Anda mau invest ke teman Anda (saya kurang faham, tapi mungkin trading yg Anda maksud adalah trading valas dan index ya?). Yang penting Anda tahu dana Anda diinvestkan kemana, bagaimana risk preference Anda, dan seberapa berani Anda menanggung resiko itu. Pengalaman selama 3 tahun lebih pastinya jadi point plus dan 3% per bulan sih pastinya juga lumayan, tapi resikonya juga bisa amblas kan? :)

    Ide lain buat smart investing? Dulu pernah ada yang nawarin saya semacam hedge fund, 24% per tahun (dgn initial investment $5,000) dan 28% per tahun ($50,000). Kalo saya pribadi sih lebih prefer ke sektor riil. Dengan duit 50 jutaan udah bisa bikin usaha restoran sea food kecil-kecilan. Kalo kisaran 100-200 juta bisa beli waralaba atau bikin usaha retail. Usaha-usaha semacam ini nantinya bisa jadi penggerak sektor lainnya. Dan, harga tanah di sekitar tempat usaha tersebut, juga seringkali ikut terdongkrak secara signifikan (beli duluan sebelum harganya naik).

    Ada juga temen yg arisan beberapa orang, patungan main saham. Mulai masuk tahun 97an dengan duit 20-50 juta (waktu itu), sekarang sudah jadi 1 M lebih. Kalo di sektor properti, dulu ada yg pernah beli tanah kavling di perumahan secara borongan (satu jalan diborong semua). Dia dapet diskon lumayan. Lalu, lebar muka tanah tadi diubah jadi 10 m (semakin lebar, rumah akan terkesan makin megah) dan nggak ada tanah dengan lebar segitu di perumahan tsb kecuali di jalan utama. Nggak berapa lama, tanah tadi habis dibeli. Dipotong pajak, komisi marketing, dsb, duit yg dia peroleh cukup lumayan. Apalagi, tanah tadi baru dia bayar uang mukanya saja. Bayangkan saja berapa duit dia dapet…

    Situ nggak tertarik di sektor riil ya? Kan lebih ‘menantang’ tuh. Sebagai start awal, mungkin Anda bisa mulai dgn beli tanah/rumah, lalu dibangun jadi rumah petak atau kos-kosan. Anda dapet capital gain (dari kenaikan harga tanah/properti), dan dapet pembayaran rutin dari penyewa rumah Anda. Nah, duit hasil sewa tadi, menurut saya cukup ’save’, kalau mau diputar di valas, hedge fund, saham, dsb. Kalau pengen lebih banyak additional incomenya, mungkin bisa dikombinasikan antara rumah petak, kos-kosan, di depannya ruko (bisa disewakan, atau buat usaha sendiri seperti toko kelontong dan fotokopian). Temen saya pernah ngelakuin hal serupa, dan katanya, bisa beli Kijang Super (sebelum Kijang kapsul), kurang dari 1 tahun.

    Jadi, smart investment yg bagus ya tergantung orangnya juga. Makin kreatif, makin cerdik, biasanya duit bakalan mengikuti. Good luck! :)

  6. adi wahyu

    Aku di reksadana pendapatan tetap.

    Thx u atas penjelasannya nih. Gitu ya :-?

    FYI, sektor riil udah ada makanya mau menambahkan uang lebihnya di investment. Dan kalo namen di riil lagi bakalan gak keurus. Sepertinya gue memang harus banyak belajar lagi biar tau trik trik nya nih.

    Gue tanya ke temen gue katanya sih, kerugian gue ada dua. Pertama, transaksinya diperbanyak sehingga si pialang dapat banyak komisi. Kedua, kita sebagai nasabah kecil harus ngalah sama nasabah lebih besar. Hmm gak tau deh.

    Oh iya, kalo di Jakarta mau beli tanah, kos, ruko, atau apapun sepertinya gak bisa modal dengkul. Minimal ada uang ratusan juta rupiah atau malah udah tembus 1 Milyar lebih. Sewa juga bisa dengan beban lumayan berat seperti sewa ruko, dan biaya lainnya.

    Kapan-kapan bikin artikel tentang smart invesment ya ;) tapi hal yang berhubungan dengan deposito, saham, bursa berjangka, tidak riil gitu deh hehehe…

    Kalo udah sekalian juga yang riil. :D

    Ditunggu artikelnya ;-)

  7. Hendry

    hm… gmana yach dari pada invest di saham or deposito..
    skr mah rugi, skr ada invest baru ya itu index yang sedang naik daun.
    karena mudah , risk kecil di bandingkan saham, apa lagi deposito zzzz
    ada2 tu bank di tutup ilang dech duit.

    hm…. kalo mau di jelasin panjang bgt.
    gini dech bagi yang berminat invest atau rencana mau invest dan belum tahu sama sekali saya akan mencb untuk memberikan solusi dan invest yang baik

    email saya lucinwie@yahoo.com
    tlp : 0815 86 320 111 hendry

    thx

  8. Martin

    Belajar Forex Trading (Valas Trading)

    forex-trading-tutorial.com adalah kursus online forex trading (valas trading) persembahan bagi seluruh trader valas dimanapun Anda berada.

    http://forex-trading-tutorial.com

  9. muqthi ali

    Rekan-rekan ada yang punya informasi tentng HEDGE FUND ga? trus bagaimana perkembangannya di Indonesia. Boleh ga Bank-bank di Indonesia untuk invest di Hedge Fund. Trims yach. via japri ke muqthi_ali@yahoo.com

  10. Bowie

    Macam reksa dana-nya kurang satu mas, reksa dana campuran.

    Sekedar menambah,
    Beberapa saat lagi akan ada instrumen investasi baru di bursa kita, namanya exchange trade fund (ETF). Saya belum tahu pasti bagaimana bentuknya, tetapi masih saudaraan dengan reksa dana.

  11. wikamaha

    OOT yah, ada yang pengalaman cari duit pakai adsense atau program lainnya? ada yang ajak gabung di link ini apa maksudnya ya? kasih pencerahan dong.

    oya, jalan2 ke situs aku ya, masih baru nieh.

Looking forward to hear your thoughts.