SES (Socio-Economic Status)
April 27th, 2005 | BusinessPernah dengar istilah ini? SES, atau socio-economic status, adalah peringkat atau stratifikasi masyarakat secara sosial-ekonomi yang disusun berdasar riset badan independen. SES diperoleh dari survey Media Index di berbagai kota, seperti Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung, Semarang, Jogja (plus Sleman dan Bantul), Surabaya, Gerbangkertasila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan), Denpasar, Medan, Palembang, serta Makasar.
Lembaga riset AC Nielsen melakukan pengelompokan berdasar belanja rutin bulanan rumah tangga seperti listrik, air, telepon, uang sekolah, uang rokok, uang bensin, dan lain sebagainya. Tidak termasuk di dalamnya biaya untuk cicilan rumah, angsuran mobil, bayar arisan, tagihan kartu kredit, dan entertainment (nonton bioskop, makan diluar, membeli baju). Beberapa menggunakan istilah “uang hangus” untuk belanja-belanja seperti ini.
Hal yang mendasari penggunaan belanja rutin bulanan sebagai patokan ialah karena orang Indonesia cenderung merasa tidak nyaman jika ditanya tentang berapa pendapatannya. Ada yang suka mengecilkan dan ada pula yang cenderung membesar-besarkan. Hal ini akan mempengaruhi keakuratan. Sebaliknya, dengan menggunakan belanja sebagai ukuran, responden akan lebih terbuka ketika ditanya seberapa besar belanja rutin bulanannya.
Berdasar data dengan update terakhir Oktober 2003, SES dibagi dalam beberapa kelas:
- A1: Rp 2,25 juta ke atas (6%)
- A2: Rp 1,75 juta - Rp 2,25 juta (6%)
- B: Rp 1,25 juta - Rp 1,75 juta (13%)
- C1: Rp 800 ribu - Rp 1,25 juta (24%)
- C2: Rp 600 ribu - Rp 800 ribu (19%)
- D: Rp 400 ribu - Rp 600 ribu (21)
- E: Rp 400 ribu ke bawah(11%)
Jika kita menilik komposisi di masing-masing kota, tentunya persentase tiap kelasnya akan berlainan. Misalnya, di Jakarta persentase kelas SES A akan lebih banyak dibandingkan di Jogjakarta, Sleman, atau Bantul, misalnya.
Untuk menganalisa target market brand yang sangat eksklusif seperti kataknlah BMW, mungkin yang kita bicarakan sebenarnya adalah 0,5% teratas dari populasi atau malah lebih kecil lagi. Dalam hal ini tentu tidak tepat jika kita mengelompokkan target market BMW dalam pengelompokan SES A di atas. Untuk menganalisa target market yang seperti ini, Nielsen menyediakan expenditure detail sampai dengan Rp 10 juta per bulan. Atau, bisa juga menggunakan hasil research lain dengan base affluent consumer seperti ATMS (Asian Target Market Survey) yang hanya menargetkan top 10% of population saja.
Ngomong-ngomong, Anda masuk kelas SES yang mana?



August 1st, 2006 at 2:50 pm
December 27th, 2006 at 9:16 pm
April 1st, 2008 at 10:57 pm
Comments
April 27th, 2005 at 6:38 am
SES mana, nggak tau abis yg punya penghasilan kan ortu hehehe. Btw, Nofie masuk SES mana? . kalo levelnya: Mitsubishi Kuda ,Toyota Kijang, dan Suzuki Baleno, ditaruh dimana neh?
April 28th, 2005 at 6:35 am
waduh gue masuk mana ya?
\* sambil nyari2 sisa jatah bulanan bulanan dari nyokap */
suerr kesisa 50 ribu thok :((
September 14th, 2006 at 1:21 pm
Kalo menurut saya, SES merupakan pengukuran demografi seseorang/ keluarga berkaitan dengan pengeluaran rutin seseorang/ keluarga biasanya dalam tiap bulannya. Namun dalam hal ini pengeluaran tersebut di dalam suatu keluarga atau perseorangan? Kalau saya sendiri ditanya termasuk SES yang mana, agak bingung juga menjawabnya… Dalam hal ini saya masih studi dan belum memiliki penghasilan. Karena kalau yang dimaksud keluarga berarti SES tersebut mewakili beberapa orang, sedangkan kalau perseorangan berarti orang yang telah memiliki penghasilan tetap tiap bulannya, dan melakukan kegiatan konsumsi pribadi. Saya pernah mengalami pengalaman ketika sedang malakukan survei di wilayah jakarta. Dan saya mendapati bahwa beberapa responden agak bingung dalam menjawabnya terutama ketika mewawancarai seorang bapak yang kadang2 bingung dalam menentukan SES (maksudnya pengeluaran bapak itu sendiri atau keluarganya), karena istrinyalah yang lebih mengerti belanja rutin rumah tangganya. Kembali kepada maksud awalnya yaitu bahwa menanyakan pendapatan seseorang terkesan agak kurang sopan dan banyak yang enggan memberikan informasi yang akurat (bisa besar ataupun kecil). Maka demografi pekerjaanlah yang dapat kita jadikan acuan untuk validasi pendapatan dan pengeluaran seseorang, di samping SES juga. Karena pengeluaran seseorang belum tentu mencerminkan pendapatan seseorang, namun sebagian besar survei menyatakan hal tersebut valid. Tapi bagaimanapun juga SES tetap dapat dijadikan sebagai gambaran status ekonomi sosial suatu pasar tergantung pada situasi dan kondisi pasar tersebut berada. Mohon maaf sebelumnya apabila ada kesalahan persepsi dari saya. Terima Kasih.
May 1st, 2007 at 1:53 pm
mau nanya doong…itu pembagian kelas SES berdasarkan Nielsen dapet dari mana ya? boleh tau sumbernya ga?
June 1st, 2007 at 4:09 pm
waduh…..beneer2 aq ga tau trgolong SES yang mana abz yang uang msh bokap ama nyokap sich……
May 4th, 2008 at 9:02 pm
mau nanya, apakah ada data lg yang lebih up date?
dan tolong bantu aku, apakah ada yg punya data SES’y amerika dan indonesia?
ditunggu..
buat tugasss!!!