ISBN dan KDT
May 18th, 2005 | UncategorizedISBN, singkatan dari International Standard Book Number (Nomor Buku Standar Internasional), merupakan nomor identitas judul buku yang diterbitkan oleh setiap penerbit. Salah satu fungsi utama dari ISBN adalah untuk memperlancar arus distribusi buku, sehingga pemesanan buku dapat dilakukan berdasarkan ISBN dari buku yang bersangkutan. Keuntungan dari cara ini adalah dapat mencegah terjadinya kekeliruan dalam pemesanan buku yang dikehendaki. Misalnya dikarenakan oleh nama pengarang yang sama atau judul buku yang hampir sama tetapi isinya berbeda.
Pencantuman ISBN pada buku-buku yang diterbitkan sekaligus merupakan sarana promosi bagi para penerbit, karena informasi tentang ISBN ini dikumpulkan, diterbitkan dan disebarluaskan baik oleh Badan Nasional yang berada di Jakarta maupun Badan Internasional yang berlokasi di Berlin, Jerman.
Badan Nasional ISBN mempunyai tugas menyebarkan informasi ISBN melalui berbagai terbitan, seperti Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan majalah Berita ISBN. Sedangkan Badan Internasionalnya mewakili Asosiasi Penerbit Internasional (International Publishers Association) dan Federasi Internasional Asosiasi-asosiasi Perpustakaan (International Federation of Library Association/IFLA).
Nomor Buku Standar Internasional ini terdiri atas 10 digit angka yang mewakili tiga pengenal atau identitas dan satu pemeriksa, yaitu: 3 digit pertama berupa pengenal kelompok (group identity), empat digit kedua berupa pengenal penerbit (publisher identity), dua digit ketiga adalah pengenal judul buku (title identity), dan satu digit terakhir merupakan pemeriksa (check digit).
Dalam penulisannya, singkatan ISBN adalah dengan huruf besar dan terletak di depan angka-angka pengenal dan pemeriksa. Antara setiap bagian pengenal dan pemeriksa dibatasi oleh tanda penghubung, misalnya ISBN 979-8006-70-4. Angka pengenal kelompok ISBN untuk Indonesia adalah 979. Dengan demikian setiap judul buku yang mempunyai angka 979 berarti diterbitkan di Indonesia. Saat ini jumlah penerbit yang telah menjadi anggota ISBN sebanyak 548 penerbit.
ISBN diberikan oleh Badan Internasional yang berada di Berlin, Jerman. Di Indonesia badan ini mendelegasikan wewenangnya kepada Perpustakaan Nasional RI sebagai Badan Nasional yang berhak memberikan ISBN kepada para penerbit yang memerlukannya.
Permintaan untuk mendapatkan ISBN dapat ditujukan kepada Perpustakaan Nasional RI, c.q. Pusat Layanan Informasi (Tim ISBN/KDT). Data-data buku yang perlu dikirimkan antara lain judul buku, nama pengarang/penyusun/penerjemah, cetakan/edisi/revisi, tahun terbit, dan kota terbit. Persyaratan lain adalah melampirkan halaman judul, daftar isi kata pengantar, serta surat permohonan dari kantor/lembaga yang akan menerbitkan buku yang dimintakan ISBN/KDT tersebut. Bagi penerbit yang belum mendaftar perlu mengisi surat pernyataan menjadi anggota ISBN dan KDT (Katalog Dalam Terbitan atau CIP/Cataloging In Publication).
ISBN nantinya dicantumkan pada setiap buku yang diterbitkan, dicetak dengan huruf yang cukup jelas sehingga mudah terbaca. Nomor Buku Standar Internasional ini pencetakannya diletakkan di balik halaman judul (verso) dan pada kulit luar belakang (back cover) di bagian tengah bawah. Apabila bukunya tebal maka ISBN dapat juga dicetak pada bagian punggungnya (spine).
Hasil terbitan yang dapat diberikan ISBN antara lain:
- Buku tercetak/ terbitan tunggal (monograph)
- Terbitan dalam bentuk mikro (microform)
- Terbitan dengan menggunakan huruf braille
- Pita rekaman teks yang dikategorikan sebagai bacaan
- Media lain, termasuk film pendidikan dan transparansi
Hasil terbitan tidak diberikan ISBN antara lain:
- Majalah
- Buletin
- Jurnal
- Laporan berkala
Badan Nasional ISBN
Tim ISBN/KDT
Pusat Layanan Informasi, Lt. IV-D
Jl. Salemba Raya 28A, PO Box 3624, Jakarta 10002
Telp. (021) 3154863-4, 3154870 (ext. 234, 247)
Fax. (021) 3103554
e-mail: info@pnri.go.id, pusnas@rad.net.id
atau Telp./Fax. di (021) 392 79 19
Badan Internasional ISBN (Jerman)
International Standard Book Number Agency
Staatsbibliothek Preussicher Kulturbeitz
D-1000 Berlin 30
Postdamer Strasse 33
Postfach 1407
Telex. 183160
Telp. (030) 2661 ext. 2338, 2498
March 17th, 2010 at 12:55 pm
Comments
May 19th, 2005 at 8:50 pm
kao KDT itu apa
January 17th, 2007 at 12:50 pm
KDT singkatan dari Katalog Dalam Terbitan.
January 22nd, 2007 at 5:12 pm
Wah, thanks infonya :D
Sangat berguna buat aku yang lagi proses menerbitkan buku.
Cheers!
November 5th, 2007 at 11:05 pm
terima kasih atas artikelnya. kbetulan saya adalah mahasiswa ilmu perpustakaan UI yang mendapat tugas searching artikel ISBN…
April 14th, 2008 at 10:32 am
Ass
Mau nanya, kalau mau jadi penerbit langkah apa yang harus saya tempuh terlebih dahulu?.Tulisan “surat permohonan dari kantor/ lembaga yang akan menerbitkan buku yang diminta ISBN/KDT” di atas itu maksudnya apa? Apa pengurusan ISBN itu sulit dan mahal? Saya berada di Surabaya. Terima kasih
May 14th, 2008 at 10:04 am
Apa mungkin ISBN dan KDT dapat dipalsukan? Apakah ada katalog ISBN yang sudah dikeluarkan Perpusatakaan Nasional ?
Thanks
August 20th, 2008 at 2:48 pm
Bagaimana cara untuk mencari no buku dengan bantuan ISBN ?
September 7th, 2008 at 1:17 am
ISBN di Indonesia itu sudah hancur! Biang keladinya ? Duit! Mau lihat ISBN yang invalid? Ribuan ISBN yang bakal tabrakan? Bacalah tulisan saya di http://www.edu2000.org di bagian Artikel : Industri Buku. Saya sudah 30 tahun berkecimpung di dunia industri buku sebagai karyawan Bagian Marketing dan Promosi.
October 16th, 2008 at 11:18 am
Aku dah pernah tu ngurus ISBN, gampang kok bisa ditunggu hasilnya…asal syarat lengkap aja ada surat permohonan, halaman jdul dst..duit kecil mah cuma 25 rbu. Buat perbit pemula jgn takut bakal tersendat di urusan ISBN..kita harus tetap berkarya..merdeka!
November 26th, 2008 at 6:42 pm
terima kasih info ISBN.
cuman yang jadi pertanyaan saya punya ngak format pengsiian pengajuan ISBN nya, seandainya ada saya minta tolong kirimkan ke e-mail saya : sinahtur@yahoo.co.id.
ditunggu ya..
December 19th, 2008 at 5:09 pm
Walau dikatakan bahwa buletin tidak termasuk diberikan ijin ISBN, tapi apakah buletin harus ada nomor ijin atau nomor terbit sehingga di akui oleh publik. Karena Kami mempuyai media komunikasi buletin informasi kesehatan pelabuhan dan dipublikasikan secara cuma – cuma ke seluruh instansi kesehatan se Indonesia. Mohon solusinya, terima kasih.
December 19th, 2008 at 6:59 pm
kalau sebuah buku naggak ada isbn dan issn konsekuensi dan hukumnya apa ya?
April 16th, 2009 at 12:48 pm
kok ad majalah yang dikasih ISBN
May 6th, 2009 at 3:21 pm
apakah semua buku harus memakai KDT?
Bagaimana cara membuatnya?
May 13th, 2009 at 6:35 pm
Terima kasih atas informasinya…
Ini berguna sekali bagi saya yang berniat menerbitkan buku…
July 17th, 2009 at 7:43 am
Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Dear …… !!!
Sy pingin nanya beberapa hal nich.
1. Kalau mau jadi pengarang bagaimana caranya memperkuat hak paten karangannya?
2. Bagaimana caranya untuk mendapatkan ISBN?
3. Bagiamana caranya mengajukan karangan ke penerbit?
4. Adakah syarat-syarat tertentu seseorang untuk menjadi pengarang?
July 18th, 2009 at 5:02 pm
Halo semua,
Terima kasih info ISBN. Kalau ada yang tau format pengsiian pengajuan ISBN nya, saya minta tolong kirimkan ke e-mail saya : irvan123@yahoo.com.
Ditunggu ya..!
Trmksh.
July 18th, 2009 at 5:19 pm
Untuk mendapatkan informasi Hak Cipta dan Hak Paten, Anda bisa datang ke kantor DIREKTORAT JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL :
Jalan Daan Mogot KM. 24, Tangerang 15119.
Telepon : 62-21-5525388,5524839 Ext.202
Fax : 62-21-5525366
Website : http://www.dgip.go.id
September 8th, 2009 at 2:58 pm
terimakasih ats artikelnya, sangat ebrmanfaat….mungkin kpn2 saya minta ijin baclink..thx
October 20th, 2009 at 9:37 pm
Mohon ‘insights’, Mas. Apakah lewat ISBN ini kita bisa tahu jumlah judul yg diterbitkan setiap bulan dan setiap tahun di Indonesia? Begitu pula jumlah judul per penerbit? Dan, jumlah penerbit di Indonesia?
Untuk informasinya saya ucapkan terima kasih.
Salam,
Kartika
October 29th, 2009 at 10:48 am
saya kutipkan ulasan menarik dari milis pasarbuku
>> Salam,
>>
>> Menarik diskusi tentang ‘perang antar-distributor’ yang diangkat Bang
>> Jonru. Bukunya “Menerbitkan Buku itu Gampang!” terbitan Tiga Serangkai sudah
>> beberapa hari lalu saya baca. Saya menyambut baik buku ini dengan
>> positioning (yang disebutkan) berbeda dari buku saya, “Saya Bermimpi Menulis
>> Buku”. Pembahasannya lebih mengarah pada proses menerbitkan buku. Namun,
>> saya belum sependapat dengan kata ‘gampang’ bahwa menerbitkan buku itu
>> seyogianya tidak gampang, tetapi (masih menurut saya) taktis. Alasannya,
>> selama berkiprah di penerbit sebagai karyawan, pun pernah mendirikan
>> self-publisher (Bunaya), pernah membangun jaringan distribusi direct selling
>> (Kaki Buku), saya mengalami pasang surut kalau tidak mau disebut
>> berdarah-darah dalam banyak hal: produksi – distribusi – spreading – promosi
>> – penagihan.
>>
>> Gejala menarik adalah semangat self-publisher atau independent publishing
>> yang ingin dilakoni banyak penulis/pengarang. Gejala ini baik dan
>> self-publisher oleh mbahnya self-publisher di Amerika, Dan Poynter, dianggap
>> bisnis yang baik. Saya mafhum bagaimana self-publisher kemudian menjadi
>> gerakan budaya di Amerika dan Eropa. Pertama, industri penerbitan sudah
>> sedemikian maju dan strategis. Kedua, jaringan pemasaran sudah terbangun
>> dengan bagus sehingga di beberapa negara terdapat Distributor Nasional yang
>> dikelola secara profesional. Untuk kasus Indonesia, bolehlah kita mengurut
>> dada bahwa masih terdapat banyak kelemahan meskipun kita sebenarnya tidak
>> lebih buruk dari negara-negara tetangga.
>>
>> Saya agak mengambil perhatian ketika di halaman 199, Bang Jonru membahas
>> soal distributor buku. Ada kata ‘tidak adil’, bahkan ‘kejam’ yang disematkan
>> kepada distributor yang meminta diskon 50% hingga 55%. Saya ingin menarik
>> benang merah dari pengalaman mendirikan perusahaan distributor bernama Niaga
>> Qolbun Saliim, anak perusahaan dari MQS Publishing. Mengapa distributor bisa
>> menetapkan angka diskon 50% hingga lebih? Hal ini yang kurang terbahas di
>> buku Bang Jonru yaitu persoalan bisnis menyangkut rugi-laba perusahaan.
>> Semestinya, walaupun bukan orang keuangan, manakala kita bicara soal bisnis
>> penerbitan haruslah ada pembahasan ekonomi penerbitan. Hitungan rugi-laba
>> sebuah perusahaan penerbitan pun tidak saya temukan di bagian mana pun buku
>> Bang Jonru.
>>
>> Kembali soal distributor. Perusahaan MQS beruntung telah memasuki bisnis
>> ini pada fase 90-an sehingga masih bisa memiliki bargaining power karena
>> faktor sejarah dengan toko buku besar semacam Gramedia dengan diskon
>> maksimal 35%. Tidak semua Gramedia karena beberapa yang baru dengan
>> negosiasi baru bisa mencapai angka 37,5% hingga 40%. Beberapa perusahaan
>> distributor yang lahir pada era 2000-an tentu harus lebih berpayah-payah
>> lagi karena dimintai diskon 42%-45%. Dari sini bisa dilihat dari standar
>> rugi laba yang tersisa kalau diberikan ke Gramedia 35% atau rata-rata diskon
>> seluruh toko bisa disebutkan 40% maka yang tersisa dari diskon penerbit
>> adalah 10%.
>>
>> Mengapa Gramedia menjadi patokan? Semua distributor atau penggiat bisnis
>> penerbitan mafhum bargaining position Gramedia yang begitu kuat disebabkan:
>> 1) berada pada tempat-tempat strategis hampir di seluruh Indonesia dan kini
>> memiliki lebih dari 80 toko; 2) manajemen rapi dan profesional; 3) toko buku
>> sangat representatif; 4) pengunjung toko umumnya kelas menengah ke atas yang
>> tidak ada persoalan dengan harga buku. Wajar jika kemudian ditengarai
>> Gramedia menguasai paling tidak 45% pangsa pasar buku nasional. Sekitar 50%
>> dikuasai oleh toko buku tradisional (jaringan satu dua toko buku) ataupun
>> pasar tradisional. Sisanya baru dikuasai oleh toko buku besar lainnya,
>> seperti Gunung Agung, Utama, Tisera, Karisma, dan Gapura.
>>
>> Kembali ke angka 10%, masih ada biaya yang harus ditanggung yaitu biaya
>> pengiriman yang tentu berbeda antara distributor lokal dan nasional. Paling
>> tidak biaya pengiriman memakan porsi 2%-3% maka akan tersisa tinggal 7%.
>> Bagaimana dengan biaya operasional (gaji, utilities, dll.)? Ujungnya dari
>> diskon 50%, distributor hanya bisa mendapatkan 2%-3% keuntungan, minim
>> sekali. Lalu, siapa yang paling beruntung? Gramedia? Mungkin tidak juga
>> kalau kita membedah standar rugi laga mereka dengan investasi tanah,
>> bangunan, dan juga operasional karyawan yang harus dibayar. Jadi,
>> distributor itu mendapatkan untung lebih dari keterampilan mengelola saja
>> dan syukur-syukur dapat keuntungan lebih dari buku-buku best seller yang
>> akan mengurangi beberapa biaya. Adapun distributor yang memberlakukan diskon
>> mencapai 55%, inilah menurut saya yang sudah kurang sehat dan apabila tembus
>> ke angka 60%, ini baru yang namanya ‘kejam bin telengas’.
>>
>> Kalau sudah melihat begini, pahamlah kita bahwa dalam bisnis penerbitan
>> buku semua keuntungan itu terbagi. Siapa yang lebih untung bisa dilihat dari
>> dua faktor: 1) karena memang profesional; 2) karena mencederai integritas
>> (alias penerbit atau distributor tidak jujur). Sebagai penerbit, laba dari
>> cetakan pertama itu dengan standar rugi-laba (biaya) minim, hanya bisa
>> mencapai 10%-12%. Terkadang orang tidak melihat bisnis penerbitan buku ini
>> begitu seksi. Nah, kalau terjadi kasus seperti “Ayat-Ayat Cinta” atau
>> “Laskar Pelangi”, penerbit bisa mendapatkan laba langsung melonjak ke
>> 20%-25%, bahkan lebih. Mengapa? Ada biaya-biaya yang sudah tereliminasi,
>> seperti biaya naskah (editing, layout, desain) dan biaya produksi (tidak ada
>> biaya film atau plat lagi). Jadi, tidak benar pada awal cetakan, penerbit
>> bisa membukukan laba sampai 20%. Bisa saja demikian jika penerbit tidak
>> membayar royalti (termasuk tidak mengurus copyright) dan menggaji orang
>> penerbitan di
>> bahwa UMK. Persentase keuntungannya tentu bertambah.
>>
>> Bedah Distributor
>>
>> Distribusi buku di Indonesia juga menjadi sebuah lahan bisnis seiring
>> bertumbuhnya penerbitan buku. Penerbit dan distributor membangun kerja sama
>> saling menguntungkan. Memang pada ujungnya alih-alih hanya berusaha menjadi
>> penerbit, penerbit pun tergiur menguasai bisnis dari hulu ke hilir hingga
>> lengkap memiliki percetakan-penerbit -distributor/ toko buku. Model begini
>> banyak dilakoni oleh penerbit buku pelajaran dengan modal besar, seperti
>> Erlangga, Ganeca, Tiga Serangkai, Grafindo Media Pratama, dan Intan
>> Pariwara. Penerbit bupel umumnya punya percetakan kapasitas besar,
>> penerbit/editorial yang benar-benar bernuansa industri, dan jaringan
>> pemasaran hingga ke daerah tingkat II dengan ratusan hingga ribuan sales
>> force.
>>
>> Kembali soal distributor, biasanya terbagi dua: 1) distributor skala lokal;
>> 2) distributor skala nasional. Misalnya, skala lokal ada Rara Agency di
>> Jabar, Social Agency di Jateng, Bone Pustaka di Jatim. Kemudian, skala
>> nasional bisa disebutkan Niaga Swadaya (Grup Penebar Swadaya), Lutfi Agency,
>> dan Buku Kita (Grup Agro Media). Penerbit buku umum dalam kategori menengah
>> spesialis (medium-size niche) akan berpikir dua kali jika ingin membangun
>> jaringan distribusi sendiri. Pengalaman saya untuk set-up satu cabang
>> pemasaran di kota besar membutuhkan dana antara Rp50-75 juta dengan 2-3
>> orang karyawan, bahkan untuk kondisi saat ini bisa lebih dari itu. Karena
>> itu, hanya penerbit besar yang kemudian membangun jaringan distribusi
>> sendiri dengan dua kategori: 1) distribusi tertutup/internal (hanya melayani
>> buku-buku dari penerbit sendiri); 2) distribusi terbuka/eksternal (melayani
>> juga buku-buku dari penerbit lain). Penerbit Mizan dengan perusahaan
>> distributornya
>> masuk kategori tertutup. Adapun Penerbit Agro memiliki dua jaringan: Buku
>> Kita diset terbuka dan Trans Media diset tertutup. Penerbit Gramedia
>> memiliki jaringan terbuka lewat perusahaan Bhuana Ilmu Populer (belakangan
>> perusahaan yang awalnya distributor ini pun menjadi penerbit buku) yang
>> populer dengan nama Gramedia Pengadaan. Bahkan, BIP pun memberlakukan diskon
>> hingga 50% untuk spreading seluruh Gramedia di Indonesia.
>>
>> Distributor dengan skala nasional ataupun skala lokal terkadang meminta
>> eksklusivitas persebaran tentu dengan alasan konsentrasi dan fokus yang
>> lebih terarah, tetapi luas. Namun, ada juga yang menerima negosiasi untuk
>> memasarkan secara lokal ataupun terbatas. Jikalau bargaining position
>> penerbit kuat dengan buku yang berkualitas, distributor pasti manut saja.
>>
>> NQS saya set dari awal sebagai distributor terbuka dengan konsentrasi Pulau
>> Jawa, yaitu DKI, Jabar, Jateng, dan Jatim. Kami memiliki pengalaman
>> mendistribusikan beberapa buku dari penerbit Solo, termasuk Aqwam secara
>> lokal dan juga buku-buku dari penerbit kecil/self-publishe r, seperti buku
>> dr. Husein dari RS Holistic Purwakarta dan buku Pak Syafi’i Antonio dari
>> Tazkia Publishing.
>>
>> Sebuah cabang distributor memiliki ujung tombak yaitu sales kanvaser (yang
>> menyisir toko-toko buku) dan juga checker (pengecek stok dan display toko
>> buku). Dalam aktivitasnya sehari-hari, mereka memang berada di lapangan dan
>> kadang berinteraksi dengan sesama sales dari penerbit lain. Interaksi kadang
>> juga bertukar informasi, bahkan tidak jarang malah jadi ajang rekrutmen.
>> Karena itu, tidak heran jika turn-over karyawan menjadi tinggi kalau tidak
>> bagus maintenance- nya di satu distributor. Hari ini dia ada di penerbit
>> atau distributor anu, besok sudah berpindah.
>>
>> Perang Distributor di Gramedia
>>
>> TB Gramedia tetap menjadi ikon penjualan buku di Indonesia. Saya sempat
>> berbincang dengan Pak Hikmat Kurnia di IKAPI DKI. Saya mendapat info bahwa
>> paling tidak kini di Gramedia dalam sebulan masuk 1.200 hingga 1.500 judul
>> buku baru (mungkin campur antara revisi dan front list). Jadi, kalau diambil
>> data Gramedia saja, di Indonesia terbit 14.000 judul buku baru setiap
>> tahunnya. Kondisi toko yang luas itu pun mau tidak mau menjadi terasa
>> sempit. So many books, so little space.
>>
>> Alhasil, buku-buku berebut mencari perhatian. Gramedia bahkan membuat tiga
>> kategori display: 1) Buku Baru; 2) Buku Best Seller; 3) Buku Pilihan. Tiga
>> display rancak inilah yang menjadi incaran penerbit dan diperjuangkan para
>> checker. Sstt… nanti dulu. Checker itu petugas lapangan, tetapi sebenarnya
>> yang berpengaruh adalah tingkat atasnya. Jadi, kalau ada manajer pemasaran
>> atau manajer distributor asyik duduk di kantor dan tidak ngapa-ngapain, hal
>> ini patut dipertanyakan. Kunci keberhasilan di Gramedia (menurut salah satu
>> orang kunci di TB Gramedia) adalah pendekatan personal dan emosional. Nah
>> lho, berarti biang-biang penerbit/distributo r harus mau sowan ke TB
>> Gramedia dan silaturahmi ke store managernya, bukan hanya supervisor
>> pengadaan. Setahu saya, Pak Antonius Riyanto (bosnya Agro) termasuk yang
>> rajin menyambangi Gramedia di manapun dia berada.
>>
>> Saya mendengar juga kisah perang display dari beberapa staf lapangan.
>> Namun, yang jelas perilaku checker memindah-mindahkan display buku biasanya
>> tidak diketahui oleh orang TB Gramedia sendiri (Yang paling gawat kalau buku
>> yang tadinya terdisplay dengan cover depan berubah menjadi terdisplay dengan
>> punggung, apalagi jika judul punggung tidak ada atau tidak terlalu mencolok.
>> Alamat buku tidak bertemu dengan calon pembaca). Kalaupun yang resmi, itu
>> semata karena pendekatan personal dan emosional yang sudah terjalin kuat.
>> Saya sendiri sering nongkrong berlama-lama di Gramedia Matraman dan
>> memperhatikan para checker mengecek lewat komputer, mencatat buku-buku best
>> seller. Dan di luar soal perang tadi, kadang para checker dari satu
>> penerbit/distributo r dengan checker lain saling bertegur sapa dengan hangat
>> dan saling berbagi informasi. Mungkin mereka punya ikatan batin sesama
>> checker meskipun pada dasarnya perusahaan mereka saling berkompetisi.
>>
>> Pada ujungnya, kompetisi di distributor, baik di pasar konvensional maupun
>> inkonvensional memerlukan penanganan profesional, bukan sekadar menggunakan
>> ‘cara-cara preman’. Betul sekali bahwa ini adalah bisnis dan ‘welcome to the
>> jungle’ bahwa tidak ada bisnis yang tidak berisiko. Kita tidak bisa berkisah
>> soal manis-manisnya saja. Bayangkan, jika Anda sebagai self-publisher
>> bertekad mendistribusikan sendiri, Anda harus bersiap menerima berbagai
>> macam perlakuan dari yang mengenakkan hingga tidak mengenakkan- -bahkan
>> tidak peduli siapa pun Anda. Spreading (penyebarannya) mungkin gampang
>> meskipun Anda harus mendatangi toko satu per satu, tetapi pikirkan bagaimana
>> administrasi harus dijalankan (apakah perlu melibatkan istri misalnya?)
>> hingga pada tahap penagihan.
>>
>> Meskipun tidak diperlukan izin untuk menerbitkan buku, tetapi diperlukan
>> badan hukum untuk menjalankan bisnis. Bang Jonru menganjurkan bahwa Anda
>> sebagai self-publisher bisa meminjam bendera (badan hukum) orang lain.
>> Namun, saya menambahkan bahwa peminjaman bendera ini harus mempertimbangkan
>> aspek hukum di belakang hari seperti hal terjadinya sengketa dengan pemilik
>> bendera atau ada tuntutan pihak lain atas buku Anda yang berujung pada
>> tindakan hukum. Banyak kejadian bisnis model begini akhirnya berujung pada
>> keributan dan merusakkan silaturahmi.
>>
>> Terakhir, sudah menjadi hukumnya dalam bisnis ada yang profesional dan ada
>> yang tidak profesional. Ada penerbit profesional dan ada penerbit tidak
>> profesional. Ada distributor/ toko buku yang masuk daftar putih dan ada
>> distributor/ toko buku yang masuk daftar hitam. Maka yang terbaik adalah
>> “kenali hutannya, bukan pohonnya”. Kenali secara komprehensif belantara
>> penerbitan dan pemasaran buku, bukan sekadar mengenali satu-dua bidang,
>> apalagi cuma kulit pohonnya. Riset mendalam tentunya sangat dibutuhkan.
>> Mengapa demikian? Agar Anda bisa membaca peta/kompas, survive apabila
>> kehabisan bekal makanan, dan mengenali bahaya yang mungkin terjadi di
>> belantara.
>>
>> Tulisan ini semoga mengurai yang belum terberai dan mungkin ada tambahan
>> lain dari yang lebih paham. Hukumnya selalu ada dua kutub yang berlawanan.
>> Arswendo mengatakan “Mengarang itu Gampang”, tetapi Budi Darma menyatakan
>> “Menulis itu Sulit”. Bang Jonru mengatakan “Menerbitkan Buku itu Gampang”,
>> tetapi saya menyatakan “Menerbitkan Buku itu Taktis”. Dua kutub yang
>> berlawanan tidak harus dipertentangkan karena biarkan berjalan dengan
>> persepsi masing-masing. Biar bagaimanapun saya menganjurkan Anda membaca
>> ‘MBIG’ karya Jonru untuk mengayakan khazanah soal dunia penerbitan buku
>> dengan segala pernak-perniknya. Mohon maaf sebelumnya.
>>
>> Terima kasih.
>>
>> Bambang Trim
>> Praktisi Perbukuan Nasional
>>
>> Info: Dengan segala kerendahan hati, insya Allah saya segera menerbitkan
>> buku dalam serial GUIDE (GUdang IDE) dengan judul “TAKTIS MENULIS DAN
>> MENERBITKAN BUKU” dan “TAKTIS MENYUNTING BUKU”. Buku ini akan diluncurkan
>> berkaitan dengan Islamic Book Fair pada Februari 2009. Buku ini saya niatkan
>> secara komprehensif membedah hutan-belantara penulisan dan penerbitan buku,
>> terutama di Indonesia.
>> Kunjungi: http://www.bambangtrim. com untuk berbagai info penulisan dan penerbitan
>> buku.
February 4th, 2010 at 11:58 pm
saya ingin mendaftar ISBN sebuah majalah kampus, yang terbit sejak 2006, dimana dan bagaimana caranya serat berapa biaya yang harus di keluarkan
March 19th, 2010 at 3:46 pm
Boleh tahu seperti apa KDT itu? Saya sempat beli ISBN ke Perpusnas RI, tetapi hanya diberi nomor ISBN-nya saja, KDT-nya sendiri tidak. Mohon penjelasannya. Trims.
June 29th, 2010 at 6:45 pm
Wah,….. artikel yang menarik. Makasih infonya kebetulan kita lagi nyari info tentang ISBN, ISSN dan KDT
sekalian izin copy ya, Mas !