Human-Centered Economic Activities
June 19th, 2005 | EconomicsSaya selalu percaya bahwa ekonomi sejati adalah berpusat pada manusia, human-centered economic activities. Sumber daya alam cuma mendukung usaha ekonomi berpusat pada manusia. Satu-satunya fungsi sumber daya alam adalah untuk meningkatkan nilai manusia. Ajaibnya, mekanisme ekonomi manusia selalu bisa membuat manusia menyesuaikan diri terhadap berkurang atau hilangnya suatu sumber daya alam.
Mobil bikinan tahun 2000 mengkonsumsi besi baja 40% lebih sedikit daripada bikinan tahun 1960. Plastik, di sisi lain juga telah menurunkan kebutuhan manusia akan logam dan membuat mobil menjadi lebih hemat bahan bakar, lebih aman, harganya lebih terjangkau, dan lebih efisien dengan menggunakan sumber daya alam yang lebih sedikit.
Apakah sumber daya alam akan habis untuk kebutuhan manusia dan mengakibatkan kehidupan manusia terancam? Bila terjadi mekanisme ekonomi yang benar jauh hari sebelum sumber daya alam tersebut habis harganya akan naik luar biasa tinggi. Dari kenaikan harga yang luar biasa tinggi tersebut akan terdapat insentif untuk menggali sumber-sumber alternatif.
Saat Amerika diembargo oleh OPEC di tahun 1970an. Harga minyak yang sangat tinggi membuat orang Amerika mengubah desain mobilnya dan kemudian terciptalah kendaraan yang hemat bahan bakar. Ini adjustment di sisi konsumsi.
Kenaikan harga minyak periode 80an akibat Perang Iran-Irak membuat negara-negara non-OPEC seperti Norwegia dan Mexico menggali minyak di tempat yang sebelumnya tidak ekonomis untuk eksplorasi. Saat ini, Norwegia dan Mexico malah masuk dalam negara produsen minyak terbesar di dunia dengan angka produksi yang bisa lebih tinggi dari beberapa negara OPEC. Ini adjustment di sisi produksi.
Serupa dengan di atas, kita perlu assesment terhadap sumber daya alam kita. Minyak kita memang menipis dan cuma sebentar lagi kita akan jadi importir minyak. Kebijakan pemerintah yang ngawur dalam soal transportasi umum dan urban design, plus ngawur dalam menggunakan PLTD sebagai penghasil sumber listrik adalah biang keladinya. Orang Indonesia ramai-ramai beli mobil dan tiap hari kota-kota besar kita dicekik kemacetan yang membuang-buang bahan bakar sia-sia, plus bikin stress dan sakit penghuninya. Kita tidak melakukan adjustment di sisi konsumsi karena memang mekanisme ekonomi di Indonesia sudah ngawur.
Tetapi di luar itu kita masih punya gas alam yang masih berlimpah. Di beberapa keadaan malah dibakar begitu saja tidak dimanfaatkan. Kita punya energi geothermal terbesar di dunia tetapi cuman dipakai buat merebus telur oleh para turis yang piknik ke gunung. Bandingkan dengan Eslandia yang menggunakannya untuk energi melebur Alumunium. Kita juga masih punya batu bara yang konsumsinya cukup untuk 400 tahun ke depan pada tingkat konsumsi seperti sekarang. Walaupun andai 400 tahun ke depan kita sampai ke teknologi ala Star Trek, tentu kita tidak perlu batu bara lagi bukan?
Saya tidak khawatir dengan sumber daya alam Indonesia. Saya cuma khawatir pada pengulangan kebodohan yang pernah kita lakukan dalam memanfaatkan minyak dan hutan kita.



February 28th, 2007 at 2:26 pm
February 10th, 2008 at 10:25 pm
Comments
June 19th, 2005 at 7:34 pm
sekarang kita udah antri minyak tanah, bentar lagi kita antri beras :D
June 20th, 2005 at 2:21 pm
Yes, I think so. :D