Jiplakisasi: Susahnya Berbisnis di Indonesia
January 8th, 2006 | BusinessSalah seorang kerabat saya beberapa waktu lalu membuka usaha counter handphone dalam skala yang tidak terlalu besar. Lokasi yang dia pilih terbilang cukup strategis dan belum banyak pesaing di sekitarnya. Usaha yang dia bangun bersama rekan-rekannya itu perlahan-lahan mulai berkembang dan menguntungkan. Akan tetapi, begitu pelanggan mulai merangkak naik, kawasan sekitar tempat usahanya juga mulai dipenuhi sesak oleh pesaing lain yang menawarkan produk dan jasa serupa.
Saya memperkenalkan istilah jiplakisasi sebagai fenomena yang lazim dijumpai di negeri ini. Anda tentu faham benar tentang apa yang saya sebut sebagai jiplakisasi ini. Ketika satu membuka usaha wartel, kiri kanannya kemudian membuka usaha serupa. Saya menduga alasan “me-too” lebih dominan daripada didasarkan pada perhitungan bisnis yang feasible.
Bicara soal bisnis, salah satu hal penting yang perlu digarisbawahi adalah tentang entry-barrier. Pada kebanyakan bisnis, terutama bentuk bisnis baru, entry-barrier yang ada cukup tinggi. Tetapi, seiring perkembangan waktu dan informasi, entry-barrier tersebut perlahan-lahan akan menurun dan mencapai tingkat tertentu ketika bisnis tersebut berada pada tahap mature.
Gampangnya begini. Ketika saya masuk pertama kali membuka usaha warnet, saya bisa memasang harga tinggi misalnya Rp 15.000 per jam dan saya menikmati keuntungan luar biasa sebagai pionir. Akan tetapi, ketika “ilmu” dan “how-to” untuk membuka dan mengelola usaha warnet mulai tersebar luas, akan banyak pebisnis lain yang membuka usaha serupa. Demi mengejar keuntungan dan persaingan, tarif Rp 15.000 per jam tersebut perlahan-lahan akan turun hingga mencapai tarif standarnya, katakanlah Rp 3.000 per jam. Pada level tersebut, sulit bagi pebisnis manapun untuk mengharapkan keuntungan yang abnormal, kecuali mengharapkan bergelimang darah dalam waktu sekejap.
Pada level teoretis, fenomena tersebut dilukiskan sebagai “red ocean” dan “blue ocean”. Profesor Chan Kim menuliskan fenomena tersebut secara apik sekaligus menunjukkan bagaimana langkah-langkah yang dapat kita tempuh untuk keluar dari persaingan yang berdarah tersebut.
Contoh bagus dari fenomena tersebut bisa kita pelajari dari masa “Demam Emas” di Amerika pada tahun 1850an. Ketika ratusan ribu orang pergi ke California untuk menambang emas dan meraih mimpi menjadi jutawan, seorang penjahit memilih untuk menjahit celana ketimbang ngotot menggali emas. Ia menjahit celana yang kuat dan tahan lama untuk para penambang emas. Tentu saja sang penjahit mendapat order dalam jumlah besar. Benar, dia adalah Levi Strauss, si penjahit yang kemudian memperkenalkan dunia pada celana jeans bermerk Levi’s.
Jadi, daripada sekedar ikut-ikutan berbisnis seperti apa yang dilakukan orang-orang di sekitar Anda, mengapa tidak mencoba menyusun dan merancang bisnis yang entry-barriernya cukup tinggi sehingga menjanjikan profitabilitas yang lumayan buat Anda?



Comments
January 9th, 2006 at 9:18 am
taksi biru yang bukan bluebird group..
bahaya banget, udah jiplak, nipu pelanggan yang niatnya nyetopin bluebird group,
January 28th, 2006 at 9:46 am
I think this is very much true in indonesia. Am not condemning. But the idea of ‘me too’ is simply no originality, hence by passing others in order to be at the top. Got to ‘THINK OUT OF THE BOX’
Hence often it make business such a rival and extremely tight competitive and it looses the essential values of the whole business itself.
January 30th, 2006 at 9:04 am
More on ebook links:
January 30th, 2006 at 9:13 am
More here:
June 4th, 2006 at 2:25 pm
ayo 2 pada bikin tesis ama gw…….www.rizkykios.com
April 16th, 2007 at 1:59 pm
Tapi begitulah mental kebanyakan, sekali sukses yg lain ikut ngekor. Boleh juga sih tp ATM Amati Tiru Modifikasi. Jangan jiplak tok yang penting ada nilai tambah yang membedakan. Wah…wah URL bejibun puyeng aku ngeklik and bacannya. Monggo…..
April 17th, 2007 at 10:04 am
berbicara tentang jiplakisasi,ini adalah masalah yang rumit. hal yang paling awal, yang merupakan modal seseorang dalam berbisnis adalah pendidikan. bagaimana pendidikan kita, apakah kita suka mencontek supaya dapat nilai bagus atau lakukan apa sajalah yang penting nilai. yang penting hasil, hasil dan hasil inilah. kita tak pernah menghargai proses, pengorbanan seseorang dalam menilai kesuksesan. tahunya hanyak enaknya saja. tahu - tahu enakkk. cobalah kita pahami pepatah berikut “THERE IS NOTHING FREE IN BUSINESS”
free=easy, cheap, short or everything that feeling good.
May 3rd, 2007 at 9:29 am
berbicara tentang jiplakisasi,ini adalah masalah yang rumit. hal yang paling awal, yang merupakan modal seseorang dalam berbisnis adalah pendidikan. bagaimana pendidikan kita, apakah kita suka mencontek supaya dapat nilai bagus atau lakukan apa sajalah yang penting nilai. yang penting hasil, hasil dan hasil inilah. kita tak pernah menghargai proses, pengorbanan seseorang dalam menilai kesuksesan. tahunya hanyak enaknya saja. tahu - tahu enakkk. cobalah kita pahami pepatah berikut “THERE IS NOTHING FREE IN BUSINESS”
free=easy, cheap, short or everything that feeling good.(ditulis soekoen)
masalah mencontek itu adalah hak seseaorang. untung dan rugianya dia yang menanggung sendiri. berbeda halnya dengan bisnis. menconnten untuk mendapatkan nilai yang bagus, sedangkan bisnis untuk mendapatkan untung yang besar. dalam bisnis yang dibutuhkan bukan nilai yang bagus IPK yang tinggi tapi skill dan mental yang kuat yang dibutuhkan. sekali kita jatuh, kita harus bisa bangkit lagi. jiplakisasi sudah bukan hal yang aneh diindonesia. dari kecil anak2 kita sudah mulai diajarkan untuk menjiplak gambar, dll.
June 19th, 2007 at 1:41 am
Hello! Good Site! Thanks you! mqgtiqyphlesth
January 17th, 2008 at 12:00 pm
EfhHIA hi nice site thx http://peace.com
March 7th, 2008 at 12:32 am
great work man thx
March 8th, 2008 at 6:39 pm
upskirt