Penerimaan CPNS: Sebuah Fenomena
February 25th, 2006 | NewsDi Indonesia -yang notabene merupakan bekas penjajahan- mental pegawai terasa kental dalam mayoritas benak penduduknya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mental tersebut. Hanya saja, kita tentu tahu bahwa kapasitas pemerintah (maupun juga swasta) sangat terbatas dalam menyediakan lapangan kerja. Oleh karenanya, tidak selayaknya kita melulu mengharapkan adanya lapangan kerja yang selalu tersedia. Perlu juga sebagian dari kita untuk bangkit, berinisiatif, dan membuka lapangan kerja sendiri bagi rekan-rekan mereka yang belum mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak.
Beberapa waktu belakangan, pemerintah gencar membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Sudah barang tentu lowongan -yang jumlahnya sesungguhnya tak seberapa itu- ramai direbutkan oleh calon pelamar yang luar biasa besarnya. Asumisnya sederhana, mereka menganggap bahwa PNS adalah jabatan yang “aman”. Negara secara teknis tidak mungkin bangkrut. Ketika kita bekerja dengan kinerja “standar” saja, sudah nampak jalur kenaikan jabatan yang jelas. Asalkan kita tidak berbuat “aneh” dan “kriminal” saja, pendapatan kita lumayan terjamin. Belum lagi ketika kita pensiun kelak, pemerintah masih menggaji kita lewat dana pensiun.
Sementara itu, kalau kita mau berpikir sedikit out-of-the-box, menggantungkan diri kepada pemerintah rasanya kurang bijaksana. Pengeluaran untuk gaji pegawai negeri, yang tertuang dalam belanja rutin APBN, menduduki porsi yang cukup besar. Pemerintahan kita sudah terkenal dengan gaya birokrasi yang tidak efisien, jumlah pegawai yang kurang proporsional, serta kinerja yang “biasa-biasa” saja. Masa sih kita mau menambah beban yang dipikul pemerintah? Apalagi kalau kita menganggap PNS sebagai dead-end job. Duh.
Susahnya, pegawai (atau karyawan) saat sekarang umumnya jarang mempunyai sense of ownership. Akibatnya, saat perusahaan (atau instansi) mendapatkan untung, mereka menuntut bonus berlebih. Sementara ketika perusahaan sedang merugi, mereka enggan ikut merasa peduli. Jangankan membantu “nombokin” kerugian, diberi penundaan pembayaran gaji saja komentarnya sudah nggak karuan. Di sisi lain, ketika terjadi komplain dari pelanggan, mereka umumnya merasa “ini bukan salah gue” atau “emang gue pikirin”.
Memang tidak ada yang salah dengan menjadi karyawan. Ada banyak dari kita yang memang lebih pas untuk menjadi karyawan, terutama terkait dengan aspek risk taking dan decission making. Hanya saja, sebagai karyawan, sudah seharusnya kita menerapkan prinsip “doing more than expected” atau “going the extra mile“. Mental kita harus dipupuk agar kita bisa terus berkembang dari waktu ke waktu. Jangan menganggap bahwa pekerjaan yang ada saat ini adalah dead-end job. Kita masih punya peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri melalui career path yang ada. Dan ketika ternyata perusahaan (atau instansi) Anda tidak memberikan peluang untuk itu, atau if you think you deserve more, do it with gentle. Tuntaskan seluruh tanggung jawab Anda dan resign serta look for another company. You deserve better if you going the extra miles all the time.
Terakhir, buat Anda yang memang memiliki kemampuan berlebih, intuisi bisnis yang kuat, serta kemampuan dalam mengambil keputusan maupun menanggung risiko, menjadi karyawan bukanlah pilihan yang tepat. Find the right person and take the chance. Ada segudang peluang bisnis di luar sana yang cukup menantang (dan menguntungkan) untuk dimanfaatkan. Dan di sekitar Anda ada begitu banyak rekan-rekan yang belum memiliki pekerjaan dan penghidupan yang layak. Kalau memang Anda mampu, bantulah mereka dan ajaklah mereka untuk bekerja sama. Percayalah, tidak mungkin pemerintah maupun swasta mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup. Dan kalau tidak dimulai dari kita sendiri, lalu siapa?
Memang, tulisan di atas tidak hanya ditujukan untuk PNS atau karyawan yang bekerja di pemerintahan semata. Lalu, mengapa judulnya “Penerimaan CPNS”? Ah, itu hanya untuk menjaring Google Effect saja. ;)



March 28th, 2006 at 3:41 pm
January 15th, 2007 at 5:56 pm
August 31st, 2007 at 2:31 pm
Comments
February 28th, 2006 at 4:50 pm
apapun di indonesia, jadi penomenah deh ;)
March 7th, 2006 at 2:37 pm
Begitulah keadaan bangsa ini (termasuk saya:cool:) . Kita bangga apabila sudah menjadi pekerja, memakai pakaian rapi bertenteng tas warna hitam adalah impian semua angkatan kerja di negeri ini. saat kita sekolah yang terbayang di kepala adalah menjadi pekerja. dan akhirnya kita terjebak kedalam pemikiran kalo sekolah/kuliah adalah untuk mencari pekerjaan. sudah selayaknya pemerintah mengubah sistem pendidikan yang menghasilkan jutaan angkatan pekerja menjadi angkatan enterpreneur yang akan mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang penuh inisiatif dan dan berbangga pada diri sendiri, bukan menggantungkan pada orang lain apalagi pada bangsa lain.:???:
March 13th, 2006 at 6:42 pm
I agree with you gays
March 15th, 2006 at 1:11 pm
aku sangat bingung kepada negara ini mengapa sebab ya bingungaja!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!so what gitu loh
March 15th, 2006 at 1:14 pm
:razz::roll::wink::cry::eek:sama aja:lol::twisted::mrgreen::twisted::twisted::shock::sad:dsa
March 28th, 2006 at 3:43 pm
jadi ingat “umar bakri в„ў” :grin:
April 4th, 2006 at 9:06 am
Sedikit banyak, saya setuju dengan apa yang Anda ungkapkan.
Opini yang sangat bagus. :smile:
October 6th, 2006 at 6:21 pm
:oops:
lama aja sich pengumuman na???confused dech I jdny!!!!!!!!!
December 5th, 2007 at 7:28 pm
Boleh dibilang di negeri ini hampir semua pejabat “hoaks”; “omong kosong”. Pada proses pelaksanaan pengumuman lowongan CPNS dilaksanakan, Kepala BKD sampai dengan Bupati/Gubernur di depan publik baik melalui media elektronik maupun cetak selalu mengatakan bahwa pengangkatan ini bersih dari unsur KKN. Di belakang layar, mereka seenaknya meloloskan anak, keponakan, sahabat karib, mitra kerja, dan lain-lain; tanpa peduli aturan main dilanggar. Di tempat saya Kab. Boalemo - Gorontalo, bahkan orang yang ga lulus SMP pun lulus CPNS cuma karena Pa’De seorang Assiten di Lingkungan Pemda Boalemo. chik..chik…chik….
January 2nd, 2008 at 7:57 pm
Berarti jadi PNS adalah idola sebagian besar penduduk di Indonesia ya, wah batal deh rencana untuk ngelamar lagi di BUMN atau di Swasta, kayaknya mesti bersyukur nih atas rahmat yang udah Allah karuniakan buat saya dengan menjadi PNS dengan tanpa mengeluarkan uang se “sen” pun…
Hehehe ada sih keluarin uang, ya buat fotocopy ijazah, bikin SKCK, bikin surat keterangan sehat, ya kira2 habis deh 300 rb an :)
BTW selamat berjuang kawan…
February 12th, 2008 at 10:40 am
luar biasa!!!!! pinter sekali anda bikin orang tertipu….heheeee…tapi gak apa-apa meski judul dengan isi gak nyambung..aku suka tulisanmu.memang benar tidak mudah bagi pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja yang cukup bagi angkatan kerja kita.oleh karena itu mari kita mulai dari diri kita sendiri dengan cara mulai berwirausaha dengan modal seadanya. kalau kita punyanya cuma tenaga ya…mulai dari tenaga kita..kalau kita punyanya cuma uang satu juta ya.. mulailah dengan satu juta itu.jangan tunggu nanti lebih baik take action sekarang daripada NATO (No Action Talk Only).oke guys…lets go to make Indonesia better.
April 7th, 2008 at 11:58 pm
PNS yg ada skrg aja pada nganggur2 kok sering banget ada penerimaan PNS baru ya?
Apa gak borosin uang negara aja? *just wondering*