Mental Inlander Complex
July 15th, 2006 | PersonalSeiring bergulirnya hajatan Piala Dunia, sering muncul celetukan-celetukan iseng yang mengandaikan jika negara kita berada di bawah administrasi Belanda, Inggris, Portugis (Portugal), atau bahkan Jepang, maka kita bisa “ikutan” Piala Dunia. Celetukan-celetukan tersebut makin lama makin “berbelok” bahwa andai negara kita berada di bawah kekuasaan negara-negara tersebut, kondisi kita akan jauh lebih baik dari apa yang kita rasakan sekarang.
Memang benar. Kita pernah dikendalikan oleh negara-negara besar tersebut. Kita sebetulnya juga pernah berada di bawah jajahan Perancis. Daendels, yang pernah memerintah Hindia Belanda, adalah Gubernur Jenderal yang tidak diangkat oleh Ratu Juliana, karena Belanda saat itu berada di bawah jajahan Perancis dan adik Napoleon lah yang menjabat sebagai Raja Belanda.
Mungkin cuma bercanda. Atau mungkin juga benar-benar serius. Tapi, pernahkah kita menyadari bahwa ungkapan tersebut menggambarkan penyakit kronis yang didera bangsa ini: mental inlander complex. Penyakit ini masih satu rumpun dengan penyakit lain yang pernah saya sebut sebagai sindrom inferioritas.
Gejala-gejalanya bisa dideteksi dengan mudah: perasaan rendah diri, takut bersaing, kurang percaya diri, dan silau terhadap kesuksesan orang (bangsa) lain. Walau terus terpelihara secara kolektif dan tidak pernah kita sadari pengaruhnya, penyakit ini mendorong pada sikap mental yang destruktif: malas, boros, korup, tidak disiplin.
Asal Usul Indonesia
Adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yang pertama kali menggulirkan nama “indonesia” ketika beliau dibuang ke Belanda (1913), dengan mendirikan Indonesische Pers-Bureau. Tahun 1922, Mohammad Hatta, mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, kemudian berinisiatif merubah nama organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Belanda (Indische Vereeniging, 1908) menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia.
Mohammad Hatta menulis, “De toekomstige vrije Indonesische staat (Negara Indonesia merdeka yang akan datang), mustahil disebut ’Hindia’ atau ’Hindia Belanda’. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Di tanah air, Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924, bersamaan dengan Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia. Tahun 1925 kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij) dibentuk oleh Jong Islamieten Bond. Tiga organisasi tersebut yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”, sebelum mendapatkan secara resmi content-nya pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Menurut sejarahnya, nama “indonesia” adalah rekaan James Richardson Logan (1850) untuk mengistilahkan etnografis penduduk suku Melayu yang hidup di kepulauan East Indies (Hindia), sekaligus membedakan dengan penduduk Hindia lain. Istilah tersebut sebenarnya agak merendahkan karena digunakan untuk menyebut suku-suku bangsa di wilayah jajahan Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda).
Kalau jazirah Persia hingga Cina kala itu disebut “Hindia”, Semenanjung Asia Selatan disebut “Hindia Muka”, daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sedangkan tanah air kita mendapat nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga lazim dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Kalau kita kilas balik sejenak, sesungguhnya kita punya nama sendiri yang sudah difatwakan oleh nenek moyang kita: Nusantara. Istilah tersebut termaktub dalam kitab Pararaton dan diklaim oleh Mahapatih Gadjah Mada, yang kemudian dipopulerkan ulang dan diberikan pengertian lebih luas oleh Dr. Douwes Dekker atau Dr. Setiabudhi (1879-1950).
Nama “indonesia” sendiri sejatinya agak asing bagi lidah melayu. Buktinya, kita sering melafalkan “indonesia” dengan fonem “endonesia”. Memang istilah ini dipakai untuk menyebut nama bangsa jajahan Belanda, yang kemudian digunakan founding fathers kita dalam menggali perjuangan politik karena alasan praktis mengingat istilah tersebut sudah dikenal kalangan Eropa kala itu sekaligus untuk menimbulkan perasaan senasib antara suku-suku bangsa yang sama-sama dijajah Belanda.
Shakespeare bilang, “what is in a name?“. Mawar tetaplah wangi kendati namanya bukan mawar.
Tapi faktanya, nama “nusantara” justru menggambarkan kejayaan, kemajuan, dan kemandirian, dibandingkan nama “indonesia” yang lebih menyiratkan penjajahan, pengekangan, dan kemunduran. Bahkan sampai saat sekarang.
Inikah salah satu faktor pemicu lahirnya mental inlander complex?
Mari Belajar dari Sejarah
Salah satu langkah awal untuk membumihanguskan mental inlander complex adalah dengan mempelajari dan mengakui apa saja yang pernah dilakukan dan dihasilkan oleh para penjajah kita, baik itu sesuatu yang “baik” ataupun sesuatu yang dirasa “menyakitkan”. Jujur saja, ketidakpedulian kita kepada sejarah membuat kita sering sulit memisahkan antara “patriotisme”, “politisasi” dan “realita”.
Tidak ada negeri imperialis yang berbudi mulia. Entah itu Jepang, Belanda, Inggris, atau lainnya. Jikalau ada keuntungan yang ditinggalkan, tentu tidak sebanding dengan keuntungan yang mereka peroleh. Jepang, Belanda, Inggris, maupun Portugis, luasnya tidaklah seberapa dibandingkan Kalimantan. Sumberdaya alamnya pun masih terpaut jauh dari kita. Bagaimana mungkin Belanda atau Inggris dapat memupuk kekayaan sebagaimana kita lihat sekarang?
Belanda misalnya. Pada periode 1945-1949, Belanda merupakan imperialis yang kalap. Sudah saatnya RI mengesahkan undang-undang yang menetapkan Ratu Juliana sebagai penjahat perang. Namun, periode pra 1942 juga tetap merupakan realita pahit buat kita. Jangan melulu menggunakan matematika “350 tahun”. Belanda melakukan outsourcing pekerjaan kotor ke bangsa kita dan secara simbolis “menggaji” para raja-raja agar patuh.
Inikah awal lahirnya sikap mental feodal?
Akan tetapi, kita juga tetap perlu “berterima kasih” kepada Belanda. Mereka membuka kebun-kebun baru di hutan belantara, bukan menyabot tanah para inlander. Beberapa peninggalan Belanda juga masih merupakan masterpiece yang belum bisa kita tandingi. Sebutlah Banjir Kanal Barat yang membelah Jakarta. Sampai sekarang, kita bahkan belum bisa menyelesaikan Banjir Kanal Timur agar pemberantasan banjir kota Jakarta bisa lebih terpadu.
Produk imperialisme lain yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah ruas jalan Anyer-Panarukan karya Daendels. Hutan belantara sepanjang 1.000 km sukses diberantas hanya menggunakan kerja paksa. Korban tewas lebih dari 12.000 orang dan tanah maupun bahan lainnya dibebankan pada petani tanpa imbalan apapun. Tapi jalan tersebut masih kita manfaatkan hingga saat ini. Sampai detik ini, saya bahkan masih sulit memahami mengapa selama 30 tahun membangun jalan bebas hambatan (yang sebagian besar di Jawa) cuma bisa menghasilkan sekitar 800 km. Sementara Cina membangun lebih dari 800 km tersebut tiap tahunnya.
Kita juga perlu mengacungi jempol pada Belanda karena bisa menyatukan Nusantara dari Sabang sampai Merauke selama beberapa ratus tahun. Pasangan emas Hayam Wuruk-Gadjah Mada memang pernah sukses menyatukan Nusantara namun hanya bertahan sesaat (128 tahun) hingga pemerintahan Prabu Kertabumi (1478). Kalau dihitung sejak 17 Agustus 1945, kita bahkan baru “berhasil” menyatukan Nusantara selama 61 tahun.
Akankah kita melampaui rekor ini?
Nasionalisme Bidang Ekonomi
Bandingkan negara kita dengan negara-negara tetangga. Harga BBM di negeri-negeri jiran lebih tinggi daripada di Indonesia. Akan tetapi, harga komoditi, makanan, sembako, atau juga ongkos transportasi publik relatif sama dan bahkan cenderung lebih murah.
Dibandingkan seperti Jepang, Koreal Selatan, Cina, Vietnam, Thailand, dan seterusnya, mereka memiliki nasionalisme tinggi di bidang ekonomi. Sementara di Indonesia, nasionalisme dipandang sebatas hanya sebagai lambang pemersatu dan perekat kesatuan bangsa.
Sayangnya, hal ini tidak berlaku di bidang ekonomi. Akibatnya, muncullah kasus-kasus seperti impor beras di tengah panen yang melimpah, impor gula terkesan lebih urgent daripada merestorasi pabrik-pabrik tua, kasus demonstrasi buruh besar-besaran, illegal logging yang berimbas pada kerusakan dan bencana alam, pencurian komoditi bahari kita, penyelundupan minyak, dan seterusnya.
Hal ini makin diperpuruk dengan pelarian devisa ke luar negeri yang menjadikan rupiah terdepresiasi, melengkapi laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagian “terpaksa” melakukan korupsi berjamaah karena kenaikan gaji tidak bisa sebanding dengan depresiasi dan laju inflasi.
Pemborosan Massal
Beruntung Indonesia dikaruniai kekayan alam yang begitu melimpah ruah. Baik sumberdaya terbarukan maupun sumberdaya tak terbarukan, semuanya begitu banyak tersedia. Suburnya tanah negeri kita, sampai-sampai digambarkan seperti “tongkat dan batu jadi tanaman.” Ini belum termasuk sumberdaya-sumberdaya baru yang tertemukan. Plus, mungkin, kiriman dan penemuan baru di wilayah yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Sayangnya, kemurahan hati Tuhan ini justru dimaknai sebagai pembenaran untuk bersikap boros dan foya-foya. Di negara-negara non penghasil minyak, pemerintahannya tidak sok populer dengan mencoba memberi subsidi BBM. Sejarah mencatat hanya negara-negara penghasil minyak saja yang “berani” menyubsidi energi. Misalnya seperti apa yang pernah dilakukan Uni Soviet untuk membeli pengaruh terhadap negara-negara satelitnya. Ketika Uni Soviet kolaps, negara-negara satelitnya harus berdikari dalam menyuplai energi.
Akibat tidak menikmati murahnya BBM, di negara-negara non penghasil minyak, infrastruktur fisik dan sosialnya telah disesuaikan terhadap kelangkaan energi. Sementara di Indonesia, paham “minyak murah” terus merasuki segenap sistem sosial, ekonomi, budaya, dan politik kita secara bersinambungan. Ketika bensin dihargai Rp 1.850/liter, kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 12-18 trilyun per tahun. Padahal, anggaran pemda DKI cuma sebesar Rp 12 triliun lho.
Irasionalitas semacam ini muncul akibat pendekatan perencanaan dan implementasi pembangunan yang selalu sentralistis. Pembangunan dikonotasikan selalu sebagai upaya yang top-down, bukannya bottom-up. Jadi, agak wajar juga ketika kemudian pejabat kita (maaf) gila kekuasaan dan kekuatan. Akibatnya jelas: pemborosan besar-besaran.
Ironisnya lagi, pemborosan massal semacam ini juga “diajarkan” bahkan kepada anak-anak usia dini. Misalnya, soal buku pelajaran. Tiap tahun (angkatan), selalu saja ada pergantian. Padahal, secara substansi jelas tidak jauh berbeda; selain sampul, tata letak, atau label kurikulumnya. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk menjawab (menulis) pertanyaan langsung di buku cetak tersebut, bukannya di buku tulis yang terpisah. Imbasnya, begitu ganti tahun ajaran, buku-buku tersebut praktis tidak bisa lagi digunakan atau diwariskan untuk juniornya. Parahnya lagi, koalisi antara pihak penerbit dan sekolah membuat murid terpaksa beli semata-mata karena “nggak enak” dengan guru mereka.
Kita Juga Terlalu Mendewakan Televisi
Jaman sekarang, memang “basbang” rasanya kalau kita tidak menggauli televisi. Ya, televisi memang sudah lama muncul sejak Vladamir Zworykin, seorang Amerika kelahiran Rusia, menemukan Iconoscope pada tahun 1923 yang menjadi pesawat televisi pertama. Kemudian pada tahun 1928 muncullah stasiun TV pertama dengan acara yang terjadwal bernama WGY di Schenectady, New York.
Menariknya, menurut buku Broadcasting in America, ternyata ditemukan bahwa penonton televisi terbanyak adalah penonton kelas C, D, dan E; bukan kelas A atau B. Selain itu, penonton televisi terbanyak umumnya juga berpendidikan rendah. Kita memang sering melihat beberapa program-program bermutu di Amerika, tapi sesungguhnya, selebihnya adalah tayangan yang tidak cerdas dan kurang mendidik.
Sama seperti di Indonesia.
Menurut survey AC Nielsen terhadap penonton televisi di Indonesia, makin rendah tingkat pendidikannya, maka makin tinggi pula jam menonton televisinya. Sepanjang bulan Maret 2005, pada jam 18.00-22.00 penonton televisi di Indonesia didominasi kelas penonton C, D, dan E.
Survei tersebut juga menemukan bahwa makin rendah kelas ekonomi seseorang, maka semakin tinggi jam menonton televisinya. Logikanya mudah. Orang berpendidikan lebih tinggi biasanya menyukai kegiatan lain seperti bekerja, membaca, berolahraga, bermusik, aktif dalam kegiatan sosial, atau kegiatan-kegiatan yang produktif lainnya. Juga, orang berpendidikan tinggi umumnya tingkat ekonominya pun bertambah, sehingga mereka memiliki lebih banyak pilihan seperti mengakses internet, menonton DVD, menyaksikan tayangan Pay TV, atau lainnya yang bersifat leisure.
Profil penonton semacam itu “dibenci” oleh stasiun televisi. Menayangkan film tembak-tembakan atau tayangan yang kental dengan adegan “esek-esek” akan menghadirkan jumlah penonton yang jauh lebih membludak dibandingkan dengan diskusi atau talkshow misalnya. Padahal, adegan gedebak-gedubuk, dar-der-dor, atau esek-esek sesungguhnya melecehkan intelektualitas penontonnya.
Syukur kalau Anda sadar. Tapi bagaimana dengan puluhan juta penduduk Indonesia lainnya?
Jadi, stasiun televisi sesungguhnya “mengemban” tugas mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui tayangan-tayangan edukatif dan bermutu. Apalagi profil penonton televisi mayoritas adalah kalangan yang kurang berpendidikan dan lemah dalam kemampuan ekonominya. Namun, lagi-lagi selera pasar berbicara. Dengan jargon “rating” dan “iklan”, televisi dipenuhi oleh tayangan-tayangan yang hanya memanjakan imajinasi penontonnya tanpa berusaha memberikan sesuatu yang bermanfaat. Buntutnya, televisi lantas mengajarkan konsumerisme, kriminalitas, dan tentu saja, pemborosan massal secara bertubi-tubi.
Memang ada satu-dua program yang sangat bermutu. Dalam beberapa kasus, diskusi dan talkshow juga bisa dikemas agar menguntungkan secara bisnis melalui skema marketing strategy yang tepat. Tapi, lagi-lagi, berapa banyak stasiun televisi yang berani melawan mainstream tersebut?
Nation Character Building
Sudah jelas bahwa mental inlander complex yang mendera kita harus diberantas dengan nation character building. Istilah ini dipopulerkan oleh Soekarno pada jamannya yang sesungguhnya me-refer pada budaya asli bangsa kita: gotong royong.
Tapi, apa sih pentingnya gotong royong?
Soekarno pada pidatonya tanggal 1 Juni 1945 mengusulkan satu substansial dasar negara dengan 3 versi, yaitu: Pancasila, Trisila dan Ekasila (Penetapan Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi - Ir Soekarno). Pancasila terdiri dari ketuhanan (religiositas), kemanusiaan (humanitas), persatuan (nasionalitas), kerakyatan (soverenitas), dan keadilan sosial (sosialitas). Trisila terdiri dari sosionasionalisme, sosiodemokrasi dan ketuhanan. Sementara ekasila dimaknai sebagai gotong royong. Soekarno menyebutnya, “Dari Pancasila bisa diperas menjadi Ekasila.”
Jadi gotong royong itu sebenarnya adalah Pancasila juga.
Seandainya hanya satu prinsip yang diminta, Soekarno mengatakan harus digali dari tujuan membangun Indonesia, yaitu “semua untuk semua.” Harus dicatat bahwa Indonesia didirikan bukan hanya untuk orang jawa saja atau untuk umat muslim saja, tapi Indonesia buat Indonesia. Kata yang diusulkan adalah kata Indonesia asli: gotong royong (Soekarno: Bapak Bangsa Indonesia - MM Darmawan, 2005).
Gotong royong bukanlah sikap kekurangberanian, kurang percaya diri, atau sikap tidak mandiri. Mengacu pada Indonesia Baru – Anand Krishna, 2005, gotong royong tidak selalu berarti orang-orang sekampung menyumbang ketika kita terkena musibah. Gotong royong juga tidak cuma berarti kita membantu tetangga memperbaiki atap rumahnya. Interpretasi-interpretasi seperti ini justru mengkhianati semangat gotong royong itu sendiri.
Mohon dicatat juga bahwa gotong royong juga berarti kita membantu tetangga kita memberdayakan dirinya, supaya ia mampu memperbaiki sendiri rumahnya. Gotong royong juga berarti memberdayakan diri kita sendiri, sehingga kita tidak menjadi beban bagi tetangga kita. Hanyalah gotong royong seperti itu yang memiliki arti lebih dan memiliki makna yang lebih berarti (p4-5). Gotong royong berarti setiap anak bangsa berjuang bersama untuk memberdayakan dirinya masing-masing (p5).
Gotong royong tidak sama dengan amal-saleh atau dana-punia atau charity. Semua itu hanya menyuburkan benih-benih kelemahan dan ketakpercayaan diri dalam diri para penerima, dan keangkuhan dalam diri para pemberi (p5-6). Gotong royong berarti memikul bersama beban negara dan bangsa ini (p 6). Gotong royong tidak mengenal tangan di bawah atau tangan di atas. Seorang pemberi yang egois tidak lebih baik dari seorang penerima yang lemah (p8).
Gotong royong berarti bahu-membahu. Gotong royong berarti saling bergandengan tangan. Gotong royong adalah sebuah “kesadaran” bahwa kita semua adalah putra-putri ibu pertiwi. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama, walaupun aplikasinya, pelaksanaannya, penerjemahannya dalam hidup sehari-hari bisa berbeda (p8-9).
Gotong royong adalah dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan. Gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, satu karya, satu gawe. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama.
Akhirnya: Penutup
Pendidikan jelas tidak bisa ditinggalkan. Bukan melulu pendidikan ilmu-ilmu empiris seperti sains, budaya, ataupun bahasa; melainkan juga pendidikan karakter (character building). Kita memang sudah (dan sedang) menjalankan itu semua. Tapi apa benar semua sudah tepat, terarah, terukur, dan efektif? Kadang saya merasa kasihan karena seorang murid mengemban beban kurikulum terlalu berat. Pokoknya, murid harus tahu segalanya, karena toh tidak ada ilmu yang tidak berguna. Padahal, bukan itu esensi pendidikan yang sesungguhnya.
Kita juga sering lupa bahwa pendidikan juga tidak melulu dilakukan lewat sekolah, kampus, atau kegiatan non kurikuler. Pendidikan bisa dilakukan kapan saja dimana saja. Pendidikan bahkan bisa disebarkan dengan media apapun juga, termasuk blog. Jadi, sejatinya, kita semua juga bisa ikut berperan aktif dalam pendidikan bangsa ini.
Oh iya, jelas perlu waktu dan effort luar biasa untuk mengubah sikap mental ini. Resistensi terhadap status quo pun begitu kuat. Walau begitu, saya lebih menyikapinya sebagai sebuah langkah positif yang harus dipaksakan. Harapan tentu bergantung pada Anda, saya, dan kita semua. Susah kan mengubah pola pikir dan tindak tanduk bila kita saja nggak pernah sadar?
Bulan depan, Insya Allah kita akan merayakan hari jadi negeri ini. Apa yang sudah Anda berikan buat ibu pertiwi?



February 28th, 2007 at 2:26 pm
Comments
July 18th, 2006 at 8:58 pm
ahhh lebih baik merdeka, wong Indo ini termasuk dari 10 negara terbahagia di dunia loh, mengalahkan amrik dan UK .
malaysia kan dibawah admin nya UK tapi kok gak ikut PD wa ha ha ha
July 20th, 2006 at 4:33 pm
:mrgreen: persis pikiran gw..
July 25th, 2006 at 3:10 pm
halo kunjungan pertama neeh, maap yach kalo lum bisa kasih komen, abis panjang amat posting nya, lagi buru buru neeh
salam kenal yach:mrgreen:
August 1st, 2006 at 9:25 am
Bang Nofie artikel yang mental inlander complex aku posting ke forum di web imm.or.id ya, :), met kenal dari saya
August 20th, 2006 at 10:01 am
SEPUTAR PROKLAMASI 1945
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Pating greges, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil bcrom hinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara.
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Bendera yang dijahit oleh Ibu Fatmawati ini, warna putihnya diambil dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya diambil dari dari kain tukang soto.
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata ditemukan dan disimpan oleh wartawan B. M. Diah. Diah. Beliau menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang.
Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). ?Sate ayam lima puluh tusuk!?, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.
Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun.
Berikut ini adalah PIDATO PROKLAMASI 1945
Saudara-saudara sekalian !
Saya telah minta Saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun !
Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti. Didalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekauatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air didalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.
Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka Rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seiya-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara ! Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami :
PROKLAMASI
Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-sesingkatnya.
Jakarta, 17-8-1945
Atas nama Bangsa Indonesia
SOEKARNO-HATTA
Demikianlah Saudara-saudara !
Kita sekarang telah merdeka !
Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita ! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita ! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia, –merdeka kekal dan abadi.
Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.
Sumber: buku Amanat Penderitaan Rakyat, Penerbit Permata Surabaya dengan sedikit perubahan ejaan.
August 20th, 2006 at 10:03 am
Fakta-fakta seputar proklamasi Indonesia,
17 Agustus 1945
- Revolusi dari kamar tidur. Bung Karno baru bangun pukul 09.00 setelah sebelumnya terkena serangan malaria di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
- Tanpa protokol. Tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!
- Seprei dan Tukang Soto. Bendera Merah Putih terbuat dari kain sprei dan kain tukang soto!
- Perintah Presiden pertama panggil tukang sate! Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
- Teks Proklamasi di Keranjang Sampah. Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
- Proklamator di balik layar. Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.
- Dokumentasi Proklamasi selamat berkat bohong. Peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita karena satu kebohongan. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?
- Hari kelahiran dan kematian. Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.
- Tidak ada jalan Sekarno Hatta di Jakarta. Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.
- Gelar Resmi Proklamator baru 1986. Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.
- Mentri asli Indonesia. Baru setelah merdeka 43 tahun Indonesia punya mentri yang 100% Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
Artikel ini ditembuskan oleh Enda Nasution: http://enda.goblogmedia.com
Lebih lengkap seputar proklamasi (artikel asli oleh Iwan Satyanegara):
http://yulian.firdaus.or.id/2003/08/12/fakta-seputar-proklamasi/
May 24th, 2007 at 3:26 pm
salam kenal ya mo ikut gabung nih …. tapi lom bisa kasih komen…..
malah saya ingin tanya nih….
tips-tips yamg paling kreatif untuk mengubah sikap mental yang luar biasa, seperti apa sih…..??? tanks….
February 5th, 2008 at 9:10 pm
merdeka………..
semoga saudara semua khusus nya bangsa indonesia, agar selalu dapat
memahami makna dari proklamasi kemerdekaan indonesia….
merdeka………..