Anggota DPR ke Luar Negeri

December 29th, 2006 | Politics

Ada bocoran dari Senayan. Sebanyak 17 orang anggota DPR sedang berkunjung ke luar negeri, termasuk beberapa staf dan istri. Mereka mengadakan kunjungan kerja Desember ini dalam rangka studi banding ke Wina, Austria. Kesempatan ini datang bagi Komisi VII yang kebetulan menangani soal energi.

Mereka yang berangkat antara lain:

  • Rafiudin Hamarung (PBPD/Ketua)
  • Ali Mudori (PKB)
  • Ami Thaher (PKS)
  • Catur Saptudi (PAN)
  • Hasurungan Simamora (PDS)
  • M. Hidayat (PKB)
  • M. Najib (PAN)
  • Saleh Jasti (Golkar)
  • Sukartono Hadiwarsito (PD)
  • Sulaiman Fadli (PPP)
  • Syamsul Bachri (Golkar)
  • Taman Achda (PPP)
  • Plus beberapa staf dan isteri yang belum bisa dikonfirmasikan namanya.

Di hari pertama mendarat (kebetulan bertepatan weekend), mereka langsung menuju hotel bintang lima di luar Wina. Hari kedua, mereka mengikuti tur “Sounds of Music” di Salzburg. Besoknya, mereka mengunjungi dua perusahaan lokal dan Kadin Austria. Namun sebagian besar anggota justru ke Parndorf, pusat ritel mewah di Wina. Di hari keempat, mereka baru mengunjungi parlemen untuk membahas soal energi dan mengunjungi Sekretariat OPEC.

Sayangnya, yang membuat rakyat jelata seperti saya ini “less proud” terhadap bapak-ibu terhormat tersebut adalah banyaknya cerita yang (maaf) memalukan dari kunjungan tersebut. Misalnya, kemampuan bahasa Inggris mereka ternyata di bawah standar sehingga harus meminta bantuan penerjemah dari KBRI setempat.

Terlebih lagi, bobot pertanyaan yang diajukan relatif minim kualitasnya. Misalnya seperti, “Apakah Austria itu anggota OPEC?” Atau, “Sebagai anggota Uni Eropa, negara mana saja yang kebijakan energinya berbeda dengan Austria?” Atau, yang lebih parah lagi, “Bisakah penjelasannya dipercepat?” Mungkin harusnya mereka membaca soal ini terlebih dulu.

Cerita lainnya, setiap acara makan siang di restoran di Wina, restroom selalu basah/becek karena digunakan untuk berwudhu secara sembarangan. Tentu saja hal ini membuat malu para pengantar dari KBRI dan mengundang protes dari restoran-restoran tersebut. Bukankah seharusnya wakil rakyat hadir membawa nama harum bangsa dan negara di ajang luar negeri?

Tapi sebenarnya berapa besar pemborosan yang terjadi?

Kalau tidak salah, tiket pesawat round-trip ke Austria (atau daerah Eropa pada umumnya) setidaknya 700 euro. Menginap di hotel bintang lima setidaknya butuh 70-100 euro per malam. Belum lagi anggaran biaya “lain-lain.” Kalikan saja dengan 17 orang selama 7 hari.

Setahu saya (mohon dikoreksi bila keliru), bulan-bulan Desember adalah masa reses bagi parlemen di Eropa. Mereka justru sibuk merayakan Christmas dan tahun baru. Lalu, apakah “logis” jika kunjungan kerja kenegaraan semacam ini dilakukan pada masa reses?

Anyway, ada juga teman yang bercerita bahwa dirinya sempat mengantar pejabat dan istrinya belanja di London. Kalau main ke Harrot, mereka belanja hingga berkarung-karung. Padahal, barang di situ jelas tidak ada yang murah — bahkan untuk ukuran orang Inggris sendiri.

Di Dubai sempat pula anggota DPR mengadakan perjalanan dalam rangka meninjau pelaksanaan pameran pariwisata beberapa waktu lalu. Mereka malah menyempatkan diri keliling mall di Dubai. Plus membeli tas Luis Vuitton yang berbanderol $2000-$3000 — dan barang-barang lainnya.

Sementara itu, sewaktu saya turun ke luar kantor sore tadi, di pelataran bawah ada nenek tua renta mengemis minta-minta uang. Kata beliau, dirinya belum makan selama dua hari.

What a wonderful life, huh?

Update (2/1/2006):

Anggaran kunjungan kerja (kunker) para anggota DPRD Jatim ke luar negeri pada 2007 akan meningkat dari Rp 3 M menjadi Rp 5 M pada APBD 2007. Ada anggota dewan yang bisa kunker ke LN dua hingga tiga kali dalam setahun, tapi ada juga yang hanya sekali.

Mereka yang bisa menikmati kunker lebih dari satu kali itu adalah anggota dewan yang menduduki jabatan rangkap di komisi, panmus, panggar, hingga PURT. Dengan anggaran Rp 3 miliar, setiap anggota dewan mendapat bekal Rp 30 juta untuk sekali kunker ke luar negeri. Tentu saja, itu belum termasuk uang saku dari eksekutif maupun tambahan pendapatan lain.

Info via Jawapos.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. ThrowInside » 2008 : Saya bangga sebagai orang Indonesia
  2. Comments

  3. Fernando

    ck..ck…ck….. astagfirullah….
    *hela napas panjang + geleng2 kepala*

  4. Priyadi

    sebenernya, kalo mau studi banding soal energi, di internet juga banyak :)

  5. Anto

    wah, kaget saya kalo ini emang kejadian benar.

  6. cahyo

    speechless :( kok bisa?

  7. Keshia

    DPR ya? g seh emg sebel ma anggota DPR kita yg skr! Ga guna mereka cm makan gaji buta doank!! kerjanya buang2 duit, pengen yg mewah2, kenyangin aja perut sendiri selagi bisa, kan ajimungpung jd anggota DPR gt lhoo..!! Pdhl otak kosong, yg kerjanya males, klo lg rapat DPR kerjanya tidur molo, yg ga peduli sama rakyat, kalo mo ngomong kasarnya mah anggota DPR tuh sampah bngt! u pikir aja klo emg bener kyk gt kyk cerita diatas, itu kan buangin duit banget dan hasil yg didpt tuh ga ada! kan keliatan bngt gt kampungnya ga berpendidikan malu2in aja..

    G harap presiden kita ga kyk gt and bs jd contoh and negur yg laen! Sepengelihatan g sejauh ini pemerintahan diindo skr yg paling mendingan cm Presiden, Wapres ma Jubir presiden, yg laennya parahhh… tp kepolisian skr mendingan dikittttttt drpd yg dulu hehe kerja ga ada hasilnya dl mah, skr seh ada lah biarpun cm dikitttttt…

  8. Brahmasta

    Wah.. menyedihkan sekali ya.. Saya ampe ga tau mau ngomong apa. Mengerikan.

  9. Hari Anggono

    Ah, seandainya aku bisa seperti mereka .. :(

  10. Jan

    Sampai sekarang saya belum ikhlas untuk membayar pajak pada negara, uangnya hanya dipakai untuk foya2 aja. Saya bayar Zakat aja deh!!

  11. Bobby_Rizaldi

    Makanya, jangan asal milih Anggota DPR waktu pemilu!!

    Sebenarnya saya mengerti kenapa harus kunker. Mereka anggota terpilih kan belum tentu expert di bidangnya, spt bidang energi. Untuk membuat suatu RUU, harus menggunakan tenaga expert karena setiap keputusan harus merupakan kajian dari akademik, best practice dan interest anggota masyarakat. Bayangkan kalau setiap fraksi mempunyai pandangan sendiri2 dan nantinya dikumpulkan lagi jadi 1, dimana setiap fraksi memanggil pakar nya masing (dr luar berupa seminar dsb), sudah tentu biayanya besar sekali. Kunjungan kerja hanya salah satu alat saja. Dan karena banyak yang jadi anggota DPR dari partai yang asal menang, kualitasnya juga memble. Nyari nara sumber dan referensi aja gak tau, boro2 pake internet. Milih negara pembanding aja juga memble!! Yang titelnya Doktor, Phd juga sami mawon, pandangannya terlalu kaku sehingga tidak bisa diterima industri, dan akhirnya ke LN juga jalan2 doang..

    Makanya anak muda, jangan acuh kalo pemilu!! Your vote can make a big difference!!

  12. Reza

    gila ya, studi kunjungan kerja apa tur wisata nih… sampe jalan2 ke Harrods, belanja LV, ck… ck.. ck… mereka pikir, mereka itu Emir dari Emirate Arab ya? Wake up man, negara kita negara miskin, pendapatan GNP sama dengan negara di Afrika. Ngutang sana sini, segalanya diimpor, mending beli putus, kalo nggak tukar guling ya ngutang… Malu dikit ‘nape, pake pin Garuda di dada, tapi shopping di Harrods.. Kecuali emang kalo itu private trip yang ngga ada hubungannya sama negara…

    Lama-lama negara donor males ngasih pinjaman, nanti kalo udah jatuh tempo, kudu bayar, gak punya duit, rakyat lagi yang di gencet sana-sini. Bensin di naikin lagi, semua-semua di mahalin.. Buat orang Indonesia yang sukses jadi professional di luar negeri, pulang deh dan tularkan etos semangat kerja dan kejujuran yang sudah diperoleh selama ini and get rid of those lazy and dirty politician. To my knowledge, this is how Malaysia and India develop their countries. They send their intellectuals to the developed countries for studying, then call them back home to adopt the system and improve the country.

  13. Alec

    What a waste!!! Uang rakyat dihambur-hamburkan tanpa hasil sama sekali. Kunjungan kerja kan tidak harus ke luar negeri? Next time, panggil aja ahlinya datang dan buat workshop di Indonesia, pasti jauh lebih efektif dan lebih murah.

    Mestinya buat peraturan bahwa kalau mau jadi wakil rakyat minimal bisa berbahasa Inggris dengan baik. Kelihatan malu-maluin saat melakukan “kunjungan kerja” ke luar negeri seperti ini.

    Tapi kalau mau ditanya satu per satu, seberapa sering mereka melakukan kunjungan kerja ke konstituen dan daerah pemilihan masing-masing? Jangan-jangan ada yang belum pernah. Waktu mau pemilu baik-baikin rakyat, setelah pemilu lupa kacang akan kulitnya! Nggak tau diri nih semua wakil rakyat kita!!!

  14. dodski

    bikin miris ya?

    tapi kita mesti objektif juga siy. ngga semua kunjungan kerja ke LN spt itu. ngga semuanya memalukan. dan ngga semuanya sia-sia. cuma porsi yang begini memang spt sedikit sekali dan tidak banyak mendapatkan media exposure.

    enough said, well said…

    laporan pertanggungjawaban mereka yang seharusnya dicecar habis-habisan! biar next time ngga ada ceritanya lagi kunjungan kerja LN menjadi acara yg sia-sia.

    oh… yg begituan masih jadi mimpi yah? *sigh* :(

  15. liana

    wah parah banget tuh, lain kali kalo mo kunjungan ke luar negri, minimal harus tes tofl dulu deh, yang di bawah 550, mending ga usah ikut aja..

  16. APH

    Ha..ha..ha.. hik..hik…hikk… (ketawa muak plus tangis pilu)… Kalau dengar cerita ttg anggota dewan yg terhormat kita dari jaman dulu (baca Orba) sampai sekarang (jaman apa nggak tahu) sama saja..sami mawon…Kadang-kadang sampai timbul pikiran yang kasar banget kalau ngeliat mereka…Ini orang apa bukan yah??? Absurd banget tahu nggak? Yang jelas nggak tahu malu, maklum deh otak nggak ada..moral apalagi…??!! (sorry kalau kasar) Kalau mau negara ini lebih baik yang utama yah itu benahin dulu tuh para anggota dewan kita yang terhormat.Cuma jangan tanya bagaimana caranya yah???

  17. dilLa

    Hehehe… datang2 aja mereka dah bikin pusing sopir KBRI :(
    Bikin eneg ma anggota DPR.

    Btw, kira2 dua bulan kemudian, datang lagi anggota DPR komisi 1.
    Yang satu bener2 beda dr yg 17 org itu. Beliau bahkan menyempatkan singgah & silaturahmi di rumah sopir KBRI yg menemaninya, berdialog dg mhs, keluarga di wina, di samping kunjungan kerjanya.

    Jalan2nya?
    Liat2 markas PBB, Ke restoran Arab buat nraktir mhs, cari buku di British Bookstrore :)

  18. Ecommerce

    DPR ya? g seh emg sebel ma anggota DPR kita yg skr! Ga guna mereka cm makan gaji buta doank!! kerjanya buang2 duit, pengen yg mewah2, kenyangin aja perut sendiri selagi bisa, kan ajimungpung jd anggota DPR gt lhoo..!!

Looking forward to hear your thoughts.