Investasi di Reksadana
April 26th, 2007 | Investment
Memang pernah disinggung sebelumnya soal investasi dan cara cepat untuk kaya, namun kali ini saya akan coba mengulas lebih detil soal investasi di reksadana. Seperti yang Anda mungkin sudah tahu, reksadana (mutual fund) adalah wahana yang digunakan untuk menghimpun dana masyarakat (pemodal) untuk kemudian diinvestasikan ke dalam portofolio efek oleh manajer investasi (MI). Portofolio efek tersebut bisa berupa saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau kombinasi dari beberapa di antaranya.
Orang bilang jangan letakkan telur-telur Anda dalam satu keranjang. Maksudnya, untuk mengoptimalkan keuntungan sekaligus meminimalkan risiko perlu dilakukan diversifikasi agar bila terjadi kerugian pada satu aset, masih bisa di-cover dengan aset lain untuk menghindari kerugian maksimal. Konsekuensinya, kita perlu membangun suatu portofolio aset, yakni sekumpulan aset dengan berbagai profil risiko yang berbeda seperti saham, obligasi, deposito, dan lainnya. Repotnya, untuk membangun portofolio ideal diperlukan dana yang relatif besar; hitung-hitungan saya, paling tidak perlu Rp 10 miliar.
Reksadana kemudian muncul sebagai solusi agar pemodal tak lagi kesulitan dalam berinvestasi. Kesulitan berupa dana yang mepet, keterbatasan pengetahuan dan informasi, kurangnya waktu dan tenaga untuk memonitor portofolio, dan risiko-risiko lain dapat diatasi dengan reksadana. Sebagai gambaran, penduduk Indonesia saat ini sekitar 230 juta jiwa, namun dana yang terkumpul dalam reksadana baru sekitar Rp 60 triliun saja (2006). Itu artinya reksadana masih merupakan wahana yang bagus dan potensial untuk berinvestasi.
Keuntungan Berinvestasi di Reksadana
- Investor memiliki akses untuk menyusun portofolio dari beragam instrumen investasi yang sulit (dan mahal) untuk dilakukan sendiri.
- Diversifikasi secara otomatis. Portofolio investor dengan sendirinya akan tersebar ke beragam aset sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Barrier to entry rendah. Siapapun bisa memulai berinvestasi reksadana as low as Rp 200 ribu saja.
- Investasi dikelola oleh MI profesional dengan administrasi oleh kustodian dan diawasi secara ketat oleh Bapepam LK.
- Hasil investasi reksadana bukan (belum) menjadi obyek pajak. Kupon dari obligasi hingga saat ini juga belum menjadi obyek pajak.
- Likuiditas tinggi. Unit penyertaan dapat dibeli atau dijual kembali setiap hari bursa melalui MI.
- Investor institusional seperti dana pensiun, bank, perusahaan swasta, juga dapat memetik keuntungan dari reksadana.
- Bagi pemerintah dan perusahaan emiten, reksadana merupakan salah satu sumber dana investasi yang dapat menjangkau investor secara luas sehingga dana terkumpul bisa jauh lebih besar.
Jenis-jenis Reksadana
Berdasar aturan hukumnya, reksadana dibagi menjadi:
- Reksadana berbentuk perseroan
Perseroan menghimpun dana dengan menjual saham perdana (IPO), kemudian menggunakan dana tersebut untuk diinvestasikan dalam berbagai jenis efek.- Reksadana terbuka (open-end investment company); dimana investor bisa membeli saham dari reksadana dan menjual kembali tanpa dibatasi jumlah saham yang diterbitkan.
- Reksadana tertutup (close-end investment company); investor hanya bisa melakukan jual beli melalui bursa efek dimana saham reksadana tersebut tercatat dengan jumlah tertentu.
- Reksadana Kontrak Investasi Kolektif (KIK)
Ini bentuk yang paling lazim, dimana ada kontrak antara MI dan bank kustodian yang mengikat pemegang unit penyertaan (UP). MI diberi wewenang untuk mengelola investasi kolektif dan bank kustodian memiliki wewenang untuk melakukan penitipan kolektif. Reksadana KIK tidak menerbitkan saham melainkan melalui UP sampai sebesar jumlah yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Investor yang berpartisipasi akan mendapat bukti penyertaan berupa surat konfirmasi dari bank kustodian.
Menurut portofolio investasinya, reksadana dibagi menjadi:
- Reksadana Pasar Uang
Reksadana yang mayoritas alokasi investasinya pada efek pasar uang, yaitu efek utang berjangka kurang dari satu tahun seperti SBI, deposito, dan sebagainya. Tingkat risiko (dan return) relatif paling rendah. Reksadana ini cocok untuk jangka pendek sebagai pelengkap tabungan atau deposito. Tidak ada biaya pembelian dan penjualan kembali. NAB/NAV per UP selalu “di-reset” Rp 1.000 setiap harinya. - Reksadana Pendapatan Tetap
Reksadana yang setidaknya 80% alokasi investasinya pada efek utang jangka panjang. Potensi risiko dan return lebih besar daripada tabungan, deposito, atau reksadana pasar uang. Cocok untuk investasi jangka menengah (kurang dari 5 tahun). Ada sebagian reksadana yang membagikan keuntungan berupa dividen secara berkala. - Reksadana Saham
Reksadana yang melakukan investasi sekurangnya 80% dari portofolio ke efek ekuitas (saham). Dibanding reksadana lain, potensi risiko dan return relatif paling tinggi dan cocok untuk jangka panjang (3 tahun atau lebih). - Reksadana Campuran
Alokasi aset merupakan kombinasi antara efek ekuitas dan efek hutang yang tidak termasuk dalam kategori di atas. Potensi risiko dan return biasanya berada di antara reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham.
Terdapat juga beberapa jenis reksadana lain seperti reksadana terproteksi, reksadana index fund, reksadana LQ45 ETF, juga reksadana internasional yang sangat beragam. Pembahasan lebih lanjut insya Allah akan ditulis di kesempatan yang lain.
Manajer Investasi (MI)
Dialah yang bertanggung jawab mengelola dana yang terkumpul dalam reksadana. MI take care terhadap setiap kegiatan investasi, mulai dari analisis investasi, pengambilan keputusan, monitoring pasar, atau mengambil tindakan emergency yang sekiranya diperlukan. MI harus mendapat ijin dari Bapepam LK. MI mendapat imbalan jasa dalam bentuk management fee, performance fee, dan entry/exit fee.
Bank Kustodian
Adalah pihak yang memegang dana investasi sehingga dana investor tidak dipegang langsung dan/atau disalahgunakan oleh MI. Bank kustodian mengawasi setiap penggunaan dana. Biasanya merupakan bank umum yang disetujui Bapepam LK untuk menyelenggarakan jasa kustodian atau penitipan efek secara kolektif dan harta lain serta menerima dividen, bunga, atau hak-hak lainnya. Bank kustodian mengutip custodian fee sekian persen dari dana kelolaan yang dipotong langsung dari NAB/NAV.
Selain sebagai lembaga penitipan dan pengamanan, bank kustodian juga merupakan administrator yang mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya dan bertugas menghitung NAB/NAV setiap jenis reksadana KIK per akhir hari bursa untuk kemudian diumumkan melalui media. Bank kustodian juga berfungsi sebagai transfer agent, yang mencatat seluruh transaksi seperti pembelian (subscription) atau pencairan (redemption) yang dilakukan tiap nasabah.
Selain menyelesaikan transaksi efek, bank kustodian akan memberikan surat konfirmasi sebagai tanda bukti atas setiap transaksi reksadana. Kalau investor melakukan transaksi langsung ke perusahaan pengelola reksadana, tanda bukti akan diberikan langsung kepada investor. Sementara bila investor bertransaksi melalui selling agent (seperti bank), biasanya tanda bukti “dititipkan” di selling agent tersebut.
Prospektus Reksadana
Buat sebagian orang mungkin merupakan dokumen yang garing dan membosankan. Tapi sesungguhnya prospektus adalah bacaan wajib yang perlu dipahami dan dijadikan acuan sebelum investor melakukan investasi di reksadana. Biasanya prospektus mendeskripsikan satu jenis reksadana, namun kadang mendeskripsikan juga beberapa reksadana sekaligus yang dikelola oleh perusahaan pengelola reksadana yang sama.
Periode perhitungan reksadana biasanya dimulai 1 Januari berakhir 31 Desember. Pada tiap periode tersebut biasanya prospektus diterbitkan oleh perusahaan pengelola reksadana. Berikut beberapa bagian penting dalam prospektus reksadana:
- Sampul depan (front cover)
Memuat tanggal efektif reksadana pertama kali dikenalkan, tanggal mulai penawaran, pernyataan disclaimer, penjelasan singkat tentang reksadana (bentuk, tujuan, komposisi), informasi penawaran (jumlah UP, NAV/NAB, biaya-biaya, minimum pembelian), MI, bank kustodian, dan tanggal penerbitan prospektus. - Istilah dan definisi
- Informasi/keterangan reksadana yang ditawarkan
Pada bagian ini berisi berisi mengenai dasar hukum reksa dana, pembentukan reksa dana, penawaran umum, pihak-pihak yang menempatkan dana awal, manfaat dari investasi pada reksa dana yang ditawarkan, dan pengelola reksa dana. - Manajer investasi
- Bank kustodian
- Tujuan dan kebijakan investasi
Sesuai Peraturan Bapepam LK No. IV.B1 mengenai Pedoman Pengelolaan Reksa Dana berbentuk KIK perlu dijelaskan tentang tujuan dan kebijakan investasi reksadana yang ditawarkan, batasan-batasan, kebijakan pembagian keuntungan (profit-sharing), dan proses investasi itu sendiri. - Metode penghitungan nilai pasar wajar
Biasanya memuat Surat Keputusan Ketua Bapepam LK No. Kep-24/PM/2004 19 Agustus tentang tata cara penghitungan nilai pasar wajar dari efek portofolio reksadana. - Perpajakan
- Faktor-faktor risiko
- Imbalan jasa dan alokasi biaya
- Hak-hak pemegang unit penyertaan
- Pembubaran dan likuidasi
- Pendapat dari segi hukum
- Pendapat akuntan tentang laporan keuangan
- Tata cara dan persyaratan pembelian UP
- Tata cara dan persyaratan penjualan kembali UP
- Tata cara dan persyaratan pengalihan UP
- Skema pembelian dan penjualan kembali UP
- Penyebarluasan prospektus dan form pembelian UP
Laporan Keuangan Tahunan Reksadana
Tiap periode (tahun) perusahaan pengelola reksadana harus mengeluarkan laporan keuangan akhir tahun yang diaudit oleh auditor independen. Biasanya disertakan juga surat pemegang saham (shareholder letter) yang ditulis oleh presiden direktur atau MI yang berisi tinjauan tujuan investasi dan kinerja selama periode tersebut. Biasanya dibandingkan juga (benchmarking) kinerja reksadana dengan parameter industri seperti IHSG atau JII.
Laporan tahunan dilengkapi dengan tabel dan grafik untuk membandingkan pertumbuhan reksadana selama periode tertentu dan menjelaskan komposisi/persentase instrumen efek yang dimiliki. Laporan ini juga memaparkan NAB/NAV serta laba bersih yang diperoleh. Selain dari laporan tahunan, NAB/NAV lazim dimuat di surat kabar/majalah terkemuka dan situs internet seperti Bisnis Indonesia (registrasi gratis).
Laporan tahunan juga memuat posisi aktiva dan pasiva di penutupan pasar saham dan obligasi pada tanggal pelaporan. Aktiva adalah seberapa banyak investasi yang dilakukan di pasar, jaminan yang dipegang untuk dipinjamkan, serta piutang yang dimiliki. Pasiva adalah jumlah utang yang digunakan untuk membeli efek.
Portofolio dan perputaran portofolio (portofolio turnover) yang dibeli dan dijual selama periode tersebut juga dicantumkan dalam laporan tahunan. Prinsipnya, makin tinggi turnover biasanya menambah biaya transaksi dan menggerus potensi laba. Kebanyakan reksadana agresif yang mengejar pertumbuhan biasanya memiliki turnover sangat tinggi.
Catatan kaki (footnotes), yang mencakup hal-hal lain seperti kebijakan akuntansi, pihak-pihak berkepentingan, serta transaksi affiliasi (arms-length transaction) biasanya juga dicantumkan dalam laporan keuangan tersebut. Selain prospektus, laporan keuangan adalah bahan informasi penting yang mutlak dimiliki dan dimengerti investor guna pengambilan keputusan investasi.
Unit Penyertaan (UP)
Adalah satuan investasi dalam reksadana. Pada saat penawaran umum perdana, UP ditetapkan Rp 1.000 kecuali reksadana pasar uang yang selalu ditetapkan Rp 1.000 setiap awal hari bursa. Bila pada penawaran umum suatu reksadana terkumpul dana sebesar Rp 100 juta berarti ada 100 ribu lembar UP beredar dengan NAB/NAV Rp 1.000/UP.
NAB/NAV dalam rupiah biasanya dihitung sampai 4 angka desimal. Dalam contoh berikut, angka desimal dihilangkan hanya untuk kemudahan perhitungan semata.
Nilai Aktiva Bersih (NAB)/Net Asset Value (NAV)
Mengikuti contoh di atas, misalkan selama suatu periode MI mampu membukukan keuntungan 40% maka dana yang terkumpul akan menjadi Rp 140 juta. Jika sebelumnya NAB/NAV sebesar Rp 1.000/UP, kini nilainya naik jadi Rp 1.400/UP. Misal biaya yang dibebankan 1%, maka NAB/NAV Rp 138,6 juta atau Rp 1.386 per UP. Setelah dikurangi biaya-biaya tersebut, hasil investasi akan menjadi hak investor.
Misalkan saya berinvestasi dengan membeli 50 ribu UP pada penawaran umum, maka saya harus mengeluarkan dana Rp 1.000/UP atau Rp 50 juta. Jika saya ingin menjual UP yang saya miliki saat ini dengan harga Rp 1.386/UP maka saya akan menerima dana sebesar Rp 69,3 juta. Keuntungan yang saya peroleh sebesar Rp 19,3 juta.
Bila saat ini Anda ingin masuk, Anda harus membeli dengan harga Rp 1.386/UP. Misalkan Anda membeli 10 ribu UP, maka Anda harus membayar Rp 13,86 juta. Seandainya beberapa bulan kemudian NAB/NAV turun menjadi Rp 1.350/UP dan Anda ingin menjual reksadana Anda, maka Anda akan menerima dana Rp 13,5 juta. Dalam kasus ini Anda menderita rugi Rp 360 ribu.
Nilai NAB/NAV selalu update tiap hari bursa oleh bank kustodian dan diterbitkan di berbagai media. NAB/NAV tak serta merta menggambarkan mahal tidaknya reksadana. Reksadana yang baru ditawarkan biasanya NAB/NAVnya murah, sementara reksadana yang sudah eksis cukup lama bisa jadi memiliki NAB/NAV tinggi. Namun, NAB/NAV juga bisa dipengaruhi misalkan oleh kebijakan MI untuk melakukan split ratio yang akan mengubah nilai NAB/NAV dan jumlah UP — walau pada akhirnya nilai investasinya sama saja.
Membeli dan Menjual Reksadana
Membeli reksadana dikenakan selling fee tertentu. Misal suatu hari Anda membeli reksadana dengan investasi Rp 10 juta, NAB/NAV Rp 1.350/UP, dan selling fee sebesar 1%. Jumlah UP yang bisa diperoleh dapat dihitung dengan rumus:
UP = [investasi (1 - fee)] : NAB/NAV
UP = [Rp 10 jt (1 - 0,01)] : Rp 1.350/UP
UP = 7.333,3333 unit
NAB/NAV dihitung setiap akhir hari bursa. Jika Anda membayar dan memasukkan inquiry sebelum jam 12.00 WIB, NAB/NAV dihitung pada akhir hari tersebut. Namun juka Anda membeli setelah pukul 12.00 WIB, Anda akan dimasukkan ke NAB/NAV hari bursa berikutnya.
Sementara saat menjual reksadana, Anda akan dikenakan redemption fee. Misal hari ini Anda ingin membeli reksadana yang Anda beli di atas dengan NAB/NAV Rp 2.025/UP dan redemption fee sebesar 1,5%. Besarnya redemption dapat dihitung dengan rumus:
Redemption = UP x NAB/NAV (1 – fee)
Redemption = 7.333,3333 x Rp 2.025/UP (1 – 0,015)
Redemption = Rp 14.627.250
Jadi besarnya keuntungan anda adalah sebesar Rp 4.627.250. Return on investment (ROI) investasi Anda sebesar 46,27%.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Bagaimana cara mengetahui baik/tidaknya MI?
MI tak ubahnya nakhoda yang dituntut piawai mengarungi volatilitas ombak di pasar. Ia harus bisa memainkan portofolionya dengan baik. MI yang baik biasanya punya target (benchmark) tertentu yang bisa (dan harus) dilampaui. Benchmark tersebut bisa IHSG, JII, rata-rata reksadana, kinerja sektoral, atau lainnya.
Jangan buru-buru menjustifikasi kinerja MI yang mungkin minus atau underperform dalam beberapa bulan. Untuk mengukur kinerja perlu dibandingkan selama 1 tahun apakah MI tersebut bisa mengalahkan benchmark atau tidak. Bisa jadi kinerja yang minus selama beberapa bulan merupakan strategi untuk menyiapkan portofolio aset di sektor lain yang akan menanjak di bulan-bulan berikutnya.
Apakah NAB/NAV dan AUM yang tinggi merupakan indikator yang baik?
NAB/NAV memang mempengaruhi dana kita. NAB/NAV tinggi berarti unit penyertaan kita banyak dan dana kita di reksadana tersebut meningkat. Begitu juga sebaliknya. Perubahan NAB/NAV dipengaruhi oleh pergerakan aset reksadana. Misal ada investor besar yang perlu dana kas dan melakukan redeem. MI harus menjual aset reksadananya supaya bisa membayar investor. Dalam hal ini tentu NAB/NAV berkurang.
Kasus lain, MI mungkin sedang mengatur strategi dengan bandar (market maker) di bursa. MI melakukan cut loss dan menjual saham-saham jelek miliknya dan bersiap untuk terbang bersama bandar lain. Adanya cut loss ini bisa juga mengurangi NAB/NAV. NAB/NAV bukan harga mati karena perlu dilihat mendalam bagaimana MI mengatur stuktur portofolionya. Bisa jadi NAB/NAV besar tapi unit penyertaan investornya diperkecil, atau sebaliknya.
Asset under management (AUM) yang besar juga tak bisa dijadikan patokan. AUM besar tapi return tak terlalu bagus berarti MI tak pintar mengelola dananya. Walau begitu, reksadana AUM besar memang cenderung lebih “aman” daripada reksadana dengan AUM rendah. Yang terpenting, tentu saja adalah ritme dan pola performa. MI yang bagus biasanya memiliki kinerja yang stabil dengan return di atas rata-rata pasar.
NAB/NAV tinggi juga tak selalu berarti MI mengoleksi portofolio aset yang mahal. Mahal tidaknya suatu reksadana, menurut saya, harus dilihat pada nilai underlying asset portofolio reksadana itu sendiri.
Apakah saya harus membeli reksadana dengan NAB/NAV tinggi karena banyak investor yang masuk ke sana?
Harus disadari bahwa banyaknya investor yang masuk ke reksadana biasanya lebih disebabkan oleh marketing campaign yang dilakukan — bukan serta merta karena kinerja dan performa MI yang bersangkutan. Kedua, kita hanya bisa menebak-nebak jumlah investor yang terlibat dengan melihat total dana kelolaan (AUM).
Saya pernah membaca paper yang menunjukkan bahwa reksadana unggulan tak selalu sebanding dengan jumlah investor yang terlibat di dalamnya. Reksadana unggulan harus dicermati melalui kinerja selama beberapa periode (tahun) sebelumnya — apakah selalu stabil dan konstan mampu melampaui benchmark pasar. Walau demikian, kinerja masa lalu juga tidak selalu menjamin akan kinerja di masa yang akan datang. Reksadana unggulan di 12 bulan sebelumnya hampir pasti akan memberikan return lebih jelek di tahun berikutnya karena sudah “panas” (overheating). Begitu juga sebaliknya.
Bagaimana prospek reksadana saat ini?
Dilihat lima tahun ke belakang, kinerja reksadana relatif bagus. IHSG sudah tembus level 2.000. Reksadana rata-rata memberi return 20% secara kontinu pada tahun-tahun tersebut. Kalau kita invest Rp 10 juta, bisa dapat return Rp 2 juta. Kalau kita invest Rp 100 juta, return kita Rp 20 juta. Cukup bagus.
Di level makroekonomi, terlihat bahwa BI mempertahankan BI rate-nya stabil di 9%. Cadangan devisa per Maret 2007 naik hingga US$ 47,221 miliar. Ekonomi tumbuh 5,4% y-o-y pada kuartal pertama 2007. Sementara rupiah menguat terhadap USD. Asumsi (dan semoga saja) tidak terjadi bencana atau force majeur, indikator makroekonomi cukup bagus.
Sebagai gambaran, penduduk Indonesia saat ini berjumlah sekitar 230 juta jiwa. Namun dana yang terkumpul dalam reksadana baru sekitar Rp 60 triliun saja (2007). Itu artinya, tiap penduduk Indonesia baru berinvestasi di reksadana sebesar Rp 260 saja. Reksadana masih jadi wahana investasi yang sangat prospektif ke depannya.
Inikah saat yang tepat untuk membeli reksadana X?
Ini pertanyaan sulit. Setelah mengalami crash dua tahun lalu, pasar reksadana saat ini memang sedang tinggi-tingginya yang memungkinkan penurunan kurva yang menukik tajam sangat mungkin terjadi. Tapi menunggu pasar berada pada titik terendah juga sulit. Selain susah diprediksi, investor juga akan selalu dilematis, takut, dan cenderung untuk wait and see.
Buat saya, kapan saja masuk ke reksadana tidaklah jadi masalah karena posisi pasar seperti apapun (tinggi, stagnan, turun) selalu ada kebingungan dan keraguan untuk berinvestasi. Jangan punya pikiran apakah ini saat yang tepat atau tidak tepat untuk masuk. Sebab dengan begini kita bisa jadi tak akan pernah sukses dalam berinvestasi.
Cara terbaik adalah dengan membuat rencana jangka panjang, disiplin, stick with it: rupiah cost averaging (RCA). Prinsipnya, setiap bulan (atau sekian bulan tertentu) kita harus disiplin menyisihkan dana untuk dimasukkan ke program investasi. Jangan pernah merubah rencana ini karena tanpa ada usaha konkrit berkesinambungan, kita akan melewati masa-masa membingungkan dengan berbagai keraguan dan kepanikan yang selalu menghantui.
Bagaimana cara berinvestasi reksadana yang tepat?
Menurut saya, RCA adalah metode investasi yang tepat. Perhatikan ilustrasi berikut. Tabungan Rp 100 ribu yang didiamkan saja dengan bunga 5% per tahun akan bernilai Rp 338.635 saat 25 tahun kemudian. Kalau setiap bulan Rp 100 ribu selalu ditambahkan (dengan tingkat bunga yang sama) akan bernilai Rp 4.772.600 25 tahun kemudian.
Hal yang sama berlaku juga buat reksadana. Asumsi usia Anda sekarang 30 tahun dan hendak pensiun pada usia 60 tahun nanti. Anda menyisihkan Rp 500 ribu per bulan untuk diinvestasikan pada reksadana pendapatan tetap dengan return 12% per tahun. Investasi Anda akan bernilai Rp 120.665.000 saat Anda pensiun. Kalau Anda berinvestasi pada reksadana saham yang bisa memberi return 35% per tahun, maka investasi Anda saat Anda pensiun akan bernilai Rp 11.610.629.000.
Perhitungan di atas tentu sangat konservatif, karena rata-rata reksadana bisa memberi return lebih tinggi dari rate tersebut. Silakan kalkulasikan sendiri jika seandainya Anda menyisihkan bukan Rp 500 ribu per bulan, melainkan Rp 1 juta atau Rp 2 juta per bulannya. Itulah mengapa Albert Einstein pernah berujar bahwa the greatest force in the world is compound interest.
Bagaimana menyiasati biaya-biaya dalam reksadana?
Ini agak tricky karena tiap perusahaan pengelola reksadana punya aturan main berbeda-beda. Ada yang masuknya murah sementara keluarnya berbiaya tinggi. Ada yang masuk-keluar murah, namun ada pemotongan dari NAB/NAV yang kita tak tahu. Ada juga yang menerapkan performance fee yang dibebankan andaikata performa dalam satu periode melebih target sekian persen.
Kadang kita bisa membeli langsung ke perusahaan pengelola reksadana, namun kadang hanya bisa dibeli lewat selling agent (bank). Kadang, membeli reksadana dari bank A bisa lebih murah dari B. Biasanya, membeli via bank swasta atau bank asing jatuhnya lebih mahal karena mereka prefer pada investor menengah ke atas supaya komisi yang diperoleh lebih besar. Membeli via bank pemerintah atau bank swasta menengah yang retail-oriented bisa jatuh lebih murah.
Sebagai contoh, reksadana Schroders yang dibeli via HSBC harus ada dana minimal Rp 50 juta. Melalui BCA, Anda harus jadi nasabah prioritas dengan saldo minimal Rp 200 juta. Sementara membeli via Bank Mandiri atau CommonwealthBank minimal cuma Rp 10 juta. Di CommonwealthBank malah bisa membuka rekening dengan saldo nol dan tetap bebas biaya administrasi dan bulanan.
Terkadang, membeli langsung dan membeli via “switching” jatuhnya bisa berbeda. Misal, untuk masuk langsung ke Schroders Dana Prestasi Plus akan dikenakan fee 2%. Tapi Anda bisa menyiasati dengan membeli Schroder Dana Istimewa yang fee-nya 0%. Setelah itu, Anda bisa switch ke Schroders Dana Prestasi Plus dengan fee hanya 0,5%. Anda bisa menghemat 1,5%. Supaya tak repot bolak-balik, semua transaksi bisa dilakukan hari itu juga. Pembelian diproses hari ini sementara switching diproses untuk hari berikutnya.
Dalam beberapa kasus, fee ini memang bisa dinegosiasikan. Namun, trik-trik di atas juga bisa dilakukan agar bisa menghemat banyak sehingga dana yang diinvestasikan bisa jatuhnya lebih besar.
Haruskah saya membeli reksadana di perusahaan pengelola reksadana yang punya nama?
Ada baiknya ya. Perusahaan pengelola reksadana bonafit biasanya dijalankan secara sangat profesional, mulai dari aktivitas investasinya, administrasinya, pelayanan nasabah, sampai pemaparan jelas biaya-biaya yang ada secara detil. Saya juga menyukai perusahaan pengelola reksadana yang punya nama di dunia internasional. Mereka biasanya memiliki aset kelolaan (AUM) besar dan didukung penuh oleh parent company-nya. Sebagai contoh:
- Schroders Investment Management Indonesia
Berpusat di Inggris dengan AUM total Rp 15 T lebih, dengan Rp 12 T di reksadana dan sisanya di discretionary fund. - Manulife Asset Management Indonesia
Punya AUM Rp 12 T dengan Rp 5 T reksadana dan Rp 7,5 T di discretionary fund. Kantor pusatnya di Kanada. - Fortis Investments Indonesia
Asal Belanda dengan AUM sebesar Rp 7,5 T (Rp 5 T di reksadana dan Rp 2 T di discretionary fund).
Hal ini “menguntungkan” manakala pasar turun dan terjadi redemption rush yang serentak. MI mau tak mau harus menjual asetnya untuk memenuhi kebutuhan likuiditas tersebut. Repotnya, perusahaan pengelola reksadana dengan AUM kecil biasanya terpukul karena akan mengacaukan pengaturan strategi portofolionya. Namun perusahaan pengelola reksadana dengan jaringan internasional biasanya akan selalu dibantu oleh parent company atau grup afiliasi mereka tanpa mengganggu strategi portofolionya.
Hanya saja, terkadang perusahaan pengelola reksadana bagus yang ngetop akan mempunyai customer base yang besar. Karena kewalahan, mereka terpaksa merekrut freelancer (outsource) dari luar yang biasanya dibebani target. Akibatnya, kadang mereka (freelancer) kurang memberikan pelayanan dan informasi yang bagus kecuali memaksakan diri untuk menjual banyak demi mengejar komisi. Karenanya, ada baiknya Anda datang langsung dan bertemu langsung dengan in-house marketing-nya agar tak dikadalin para marketer.
Selain itu, menurut saya the man behind the gun juga tak kalah penting. Kalau menyebut nama-nama MI seperti Michael Tjoajadi (Schroders), Winston Sual (Panin), Cholis Baidowi (Trimegah), atau lainnya, bisa dipastikan jadi “jaminan” investasi kita.
Haruskah saya mendiversifikasi reksadana?
Kalau saya, ya. Diversifikasi ke banyak sektor reksadana berarti menyerap volatilitas yang berbeda pula. Artinya, kita tak perlu takut akan satu volatilitas pasar. Misal ketika pasar saham sedang sangat volatile, kita masih bisa mengandalkan pemasukan bagus dari reksadana pendapatan tetap atau dari reksadana pasar uang. Begitu juga sebaliknya.
Anda bisa mengalokasikan misal 40% ke reksadana saham, 40% reksadana campuran, dan 20% reksadana pasar uang. Asumsinya, bursa saham sedang hangat dan berpotensi tinggi memberi profit. Reksadana campuran dipilih karena MI punya mandat untuk memindah dana dari saham ke instrumen lain guna menghindar dari performa minus. Artinya, potensi return mungkin tak setinggi reksadana saham, tetapi masih di atas reksadana pendapatan tetap dan juga masih cukup “save.” Sementara reksadana pasar uang diambil guna memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Tentu komposisi ini bisa diubah-ubah sesuai preferensi dan profil risiko masing-masing investor. Pun ketika pasar berganti angin, Anda bisa melakukan rebalancing portofolio dan mengubah komposisi tersebut.
Bagaimana kunci sukses berinvestasi di reksadana?
Buat saya, yang terpenting adalah jangan terlalu mudah panik dan terpancing euforia pasar. Santai saja kalau bulan ini minus, karena beberapa saat lagi akan pick-up dengan sendirinya. Juga jangan mudah termakan gosip. Justru ketika pasar panik dan redemption besar-besaran, malah kita bisa membeli dengan harga murah (NAB/NAV rendah) dengan potensi untuk membaik di kemudian hari.
Kedua, horizon investasi Anda sebaiknya harus jangka panjang. Keputusan ada di tangan Anda. Asalkan bisa disiplin dan stick with it, return bagus pasti bisa didapat. Baca juga tentang cara berinvestasi reksadana yang tepat pada item pertanyaan di atas.
Ketiga, pilihlah perusahaan pengelola reksadana dengan latar belakang yang bagus dan stabilitas serta likuiditas yang sudah teruji. Nama-nama besar seperti Schroders, Manulife, Fortis (asing), atau Trimegah, Danareksa, Panin (lokal) mungkin perlu dipertimbangkan.
Apa sajakah risiko berinvestasi di reksadana?
Risiko yang mutlak dihadapi adalah turunnya NAB/NAV ketika pasar sedang kurang bergairah. Risiko lain adalah wanprestasi (default), yaitu kegagalan emiten, penerbit surat berharga, atau pihak lain yang terkait dengan transaksi gagal memenuhi kewajibannya. Reksadana juga tak luput dari risiko likuiditas dalam hal cepat-lambatnya investor dapat mencairkan unit penyertaannya.
Selain menawarkan peluang yang menggiurkan, reksadana khususnya di Indonesia memang masih memiliki potensi risiko seperti kendala peraturan, perlindungan investor, pembenahan internal pengelola reksadana, sampai soal pembelajaran publik agar masyarakat tidak terjebak semata-mata pada iming-iming return yang menggiurkan.
Bapepam LK sendiri belakangan terus menerus menggiatkan pengawasan reksadana. Banyak MI nakal yang ditegur dan dikenai sanksi. Aturan-aturan lain juga terus diperbarui demi melindungi investor. Namun di balik semua itu, mari kita sama-sama belajar dari pengalaman masa lalu dan pengalaman negara lain agar semoga reksadana kita bisa tumbuh dan berkembang dengan bagus.
Last but Not Least
Betapapun, berinvestasi beneran (mungkin) tidak untuk semua orang. Anda memang tak perlu jadi sehebat Warren Buffett, tetapi Anda musti memiliki mindset seorang investor. Investor yang arif, bisa mengalokasikan waktu dan uangnya dengan baik, serta memiliki pengetahuan akan dunia keuangan yang mumpuni. Dan pembelajaran itu butuh proses dan pengalaman yang tidak instan.
Selamat berinvestasi di reksadana dan semoga sukses.
Disclaimer
- Penulis adalah investor reksadana sejak 2002.
- Penulis tidak terafiliasi secara langsung maupun tak langsung dengan perusahaan pengelola reksadana maupun manajer investasi tertentu.
- If you find information in this page is useful enough, bookmark it. I’ll appreciate it and keep updating it regularly.
July 6th, 2007 at 11:36 am
January 6th, 2008 at 1:25 pm
January 9th, 2008 at 11:19 am
February 17th, 2008 at 5:35 pm
March 5th, 2008 at 4:06 pm
April 14th, 2008 at 11:42 am
May 11th, 2008 at 4:09 am
Comments
April 27th, 2007 at 5:53 pm
hehe nah bagian ini yg agak abu2 di lapangan. pihak manajemen investasi selalu bilang reksadana itu murah, cuman 200 ribu aja dapet, tapi kenyataannya calon investor harus bertransaksi via selling agent itu. sialnya nggak semua selling agent nggak ngurus transaksi recehan.
dulu (kl ga salah 3 ato 4 tahun lalu) saya pernah ke citibank buat beli schroders, bawa duit pas 200 ribu. schrodersnya sih nggak pa pa, tapi citibanknya yg membatasi transaksi minimal 10 juta hahahaaa… ketipuuu :p
beda cerita dg ciptadana asset management waktu masih bernama lippo investment management. pihak IM nyebut minimal 250 ribu, pihak selling agent (lippobank) juga mau transaksi segitu. persis.
jadi, situasi gini ini yg kadang bikin drop calon investor yg sudah niat betulan belajar investasi. sudah mempelajari macem2 produk dan perusahaan manajer investasi. sudah menentukan pilihan. ternyata duitnya nggak cukup :p
banyak pihak sering luput nggak memperhatikan selling agent.
April 30th, 2007 at 12:08 pm
halal nggak sih? hehehe…
May 2nd, 2007 at 4:36 am
makasih infonya. Jadi tau banyak tentang reksadana..
btw, PDAnya itu seperti punyaku. Ipaq 4150 :)
May 2nd, 2007 at 11:27 am
@firman firdaus: kalo peduli halal haram pilih aja reksadana syariah :)
May 3rd, 2007 at 6:58 pm
sama dengan firman, saya juga penegen tau apa haram ya…
tapi kalau ada solusi yang syariah, jadi pengen tau info lanjutan. ada yang bisa bantu??
May 3rd, 2007 at 8:44 pm
Hmm.. masih agak bingung soal reksadana. Bingung uang yang mau di investasikan… (ada/tidak) hehe
May 3rd, 2007 at 9:31 pm
Kalau saya hanya punya reksadana campuran saja apakah artinya sudah cukup terdiversifikasi, dengan asumsi MI pasti akan mengatur alokasi aset sesuai kondisi pasar?
Mengapa reksadana syariah sementara ini kebanyakan reksadana campuran? Cuma dua yg saham, DINAR & Trim Syariah Saham (CMIIW). Apa Dewan Syariah masih ragu soal saham?
Mas Nofie, bikin dong tulisan khusus soal reksadana syariah, please? Thank’s
May 5th, 2007 at 10:11 am
@Fahmi!
Saya sudah berinvestasi di 2 MI, Trimegah dan Danareksa, kebetulan langsung kontak ke kantor pusatnya. Alhamdulillah tidak ada tambahan ini itu untuk agent (karena emang langsung). Kalo mau aman sih, investasinya minimal 1 juta.
@Agus
AFAIK, PNM juga punya reksadana syariah ;)
lalu DINAR itu bukan reksadana campuran, melainkan reksadana Indeks karena investasi dilakukan terhadap saham2 anggota JII (Jakarta Islamic Index).
May 5th, 2007 at 10:19 am
firman firdaus & dayani
Mengenai haram atau halal, jujur saja, agak susah karena acuannya harus jelas dalam Qur’an. Beda dengan darah/daging babi atau perzinaan yang jelas-jelas diharamkan, investasi (saham, obligasi, reksadana, forex, dsb) tidak dijabarkan secara gamblang.
Kalau saya pribadi sih menganggap investasi secara umum sebagai sesuatu yang “boleh” — tidak beda dengan perniagaan atau jual beli. Mungkin statusnya bisa berubah jadi “haram” ketika kita misal terlalu greedy, mengambil/memotong hak orang lain, menggunakan cara-cara cheating, atau mungkin berinvestasi dengan uang haram.
Penjelasan lebih lanjut soal ini mungkin akan saya buat di posting lain.
May 5th, 2007 at 10:20 am
agus
Pendapat saya pribadi, reksadana campuran (RC) adalah “hibrida” antara reksadana pendapatan tetap (RDPT) dan reksadana saham (RS). RC biasanya kalau nggak “dekat” ke RDPT ya ke RS. Turnover RC biasanya juga ada diantara RDPT dan RS. Kalau Anda invest RC dan RS, menurut saya, diversifikasinya agak tanggung.
Mengenai reksadana syariah, jujur saya belum tahu persis dan belum pernah berinvestasi di situ. Sejauh yang saya tahu, reksadana syariah menginvestasikan dananya ke emiten yang dianggap bersih dan jauh dari riba. Mengapa banyak di RC? Barangkali karena memang pasar yang paling besar adalah RC.
May 7th, 2007 at 1:24 am
Alhamdulillah kebetulan lagi nyari info reksadana eh sama bang google langsung di recommend ke http://nofieiman.com
Terima Kasih banyak nih Bang Nofie atas infonya moga tetep update selalu
Ada sedikit pertanyaan
@ Nofie Iman
1. Gmn cara invest RD melalui online kebetulan posisi saya di pedalaman KALTIM, tetapi alhamdulillah akses internet 24 jam :)
2. Apa yang dimaksud investasi Forex? dan bagaimana tanggapan bang Nofie dengan tawaran investasi forex di situs http://forexinvesta.com
Looking forward to hearing from you….
May 7th, 2007 at 10:51 am
Ariyanto
Mayoritas perusahaan penyelenggara reksadana mempunyai cabang di beberapa kota, termasuk Kalimantan. Beberapa reksadana juga dijual melalui selling agent (bank) yang tentunya tersebar di hampir seluruh penjuru negeri.
Cara termudah adalah kontak langsung ke perusahaan penyelenggara reksadana, tanyakan mengenai profil/produk mereka, dan bila perlu, mintalah untuk dikirimkan prospektus produk mereka.
Alternatif lainnya, perusahaan penyelenggara reksadana mempunyai situs mereka masing-masing. Anda cukup download prospektus mereka, dan bila tertarik, download juga form pembelian mereka. Anda tinggal melakukan transfer ke bank kustodian, mengisi form pembelian, dan mengirimkan ke perusahaan penyelenggara. Mereka akan mengkonfirmasikan subscription Anda.
Mengenai forex, Anda bisa kunjungi http://nofieiman.com/forex Namun karena topiknya berbeda dengan reksadana, insya Allah pembahasan lebih lanjut akan saya tulis pada kesempatan yang lain.
May 7th, 2007 at 12:47 pm
Terima kasih atas infonya, baru aja ada info bahwa Fortis dan HSBC bikin reksadana syariah. Ada yang punya info lebih lanjut ttg reksadana syariah ini ?
May 8th, 2007 at 10:34 am
Terima Kasih atas jawabannya :)
Salam
Ariyanto
May 8th, 2007 at 12:10 pm
@Amir
@Nofie
Terima kasih atas penjelasannya.
Salam
May 9th, 2007 at 4:27 pm
@Nofie
Salam kenal!
Terima kasih atas informasi yang komplit tentang RD, saya juga masih belajar menjadi praktisi RD, hanya saja untuk menggunakan metode RCA saya belum menggunakan bulanan, baru tahunan karena pembelian RD pada MI saya saat ini minimal Rp500 ribu (kemampuan per bulan saya hanya Rp100 ribu).
Menambahkan informasi mengenai kehalalan investasi, harus dikaitkan dengan hukum jual-beli dan riba. Di dalam Alquran dan Hadits disebutkan halalnya jual-beli, haramnya riba, dan haramnya perjudian.
Dengan begitu, investasi yang halal adalah investasi yang tidak mengandungi barang-barang haram, riba dan perjudian. Ulasan para ulama mengenai hal ini sudah banyak referensinya dan dapat juga dicari pada situs-situs tanya jawab syariah Islam.
Menjawab kepentingan ini, telah ada Dewan Syariah Nasional yang melakukan pengawasan terhadap praktik investasi syariah. Paling tidak jenis investasi yang sudah direkomendasikan oleh DSN adalah tersertifikasi halal.
:)
May 11th, 2007 at 5:44 am
bung nofi kalau di jkt sih invest RD mudah tapi kalau di daerah or kota kecil apa mungkin kita invest RD?? cara gimana?
@ amir
bagi pengalama untuk mulai invest dong. especially yang syariah. mkasih..
May 11th, 2007 at 5:38 pm
pak Nofie,
my sister almost ikutan beginian krn dia punya dana, cuma orang tua ngeri dan takut uang hilang. kemaren sih sempet rencana taruhnya di AXA Mandiri. Tapi bener kan kinerja di masa lampau itu belum tentu mencerminkan kinerja di masa depan? dana ngga bisa diambil seblum 3 tahun or kena penalti weeh.
May 12th, 2007 at 8:10 pm
Pak Nofie terima kasih atas info nya. Saya sudaha beberapa bulan belajar Reksadana ada beberapa yang ingin saya tanyakan :
- kalau ada Investor besar tarik dana dari Reksadana apakah harga NAB/UP nya turun, karena menurut saya kalau harga asetnya tidak turun berarti hanya jumlah unitnya yang turun artinya NAB/UP nya tetap dan nilai uang kita tetap sama (Aman)? betulkah begitu.
- Kenapa reksadana index dikatakan tidak secara aktif membeli saham? lalau uangkita dibelikan apa dalam reksadana index itu ?
Terima Kasih,
Marhan
May 15th, 2007 at 3:13 pm
Hi every body!
I want to know about :Richmark international ltd.Address:Akara building, 24 de castro treet,Wickhams cay 1,Road Town,Tortola,BVI.
Could you help me?
Could you send for me information this company?please.
Thank you somuch.
BstRegard.
May 18th, 2007 at 2:36 pm
Mas Nofie… menarik sekali masalah Reksadana ini… dan sampe saat ini saya belum terjun juga ke INVESTASI ini.. berharap suatu saat bisa terjun juga….
May 19th, 2007 at 5:28 pm
Dear Bang Nofie,
Saya pemula nih di bidang ini. Dari beberapa referensi saya dapatkan data tentang indikator resiko di Reksa Dana, tapi terus terang saya nggak ngerti dengan artinya :
1. Standar Deviasi
2. Risk Adjusted Return (RAR)
3. Sharpe Ratio
4. Alpha
5. Beta
Boleh dong bang dibagi ilmunya tentang hal diatas…
Terimakasih
Sofyan
May 30th, 2007 at 3:40 pm
mas nofie,
mo tanya donk : klo liat postingannya mas nofie ini, berarti di RD ini seperti maen saham, valas, index juga ya. Beli unit penyertaan klo NAB lagi turun en jual klo NABnya lagi naik. bener ga nih ???
Misal saya Beli RD yg harganya 1000/unit trus klo naik jadi 1300/unit ini harus dijual cepet2 ya (dg asumsi statisitik MI kita ga pernah tembus diatas 1300/unit) ? mohon penjelasannya kang ?:)
May 31st, 2007 at 9:03 pm
Mohon maaf buat yang belum terjawab. Saya akan segera membalas pertanyaan Anda. harap maklum.
June 1st, 2007 at 10:31 am
Coba kontak Fortis di:
PT. Fortis Investments
World Trade Center Building, 5th floor
Jl. Jend. Sudirman Kav. 29-31
Jakarta 12920, Indonesia
Tel: +62 21 252 1574
Fax: +62 21 252 1594
June 1st, 2007 at 10:36 am
Coba cari2 info agen Reksadana di kota anda.
Pengalaman di RD Indeks Syariah, kira2 perjalanan investasinya sejalan dengan kenaikan/penurunan di Jakarta Islamic Index [JII]. Karena teknik investasinya memang untuk mengimbangi laju JII.
Untuk RD syariah yang full saham, bisa coba Trim Syariah Saham. Ini produknya Trimegah.
June 1st, 2007 at 10:46 am
Reksadana Index itu kira2 seperti ini Mas:
misalnya di index JII itu 80% uang beredar di 10 saham teratas. Nah, reksadana index berusaha mengikuti secara proporsional dengan menginvestasikan dananya di 10 saham teratas tersebut. Dengan demikian, misalnya index naik 10%, NAB kira2 naiknya sekitar segitu juga.
June 2nd, 2007 at 3:25 pm
irli
Tergantung pilihan individunya. Bisa saja begitu NAB naik langsung jual, atau tetap hold karena (diperkirakan) NAB bisa naik lebih tinggi lagi. Dalam kondisi perekonomian normal, inflasi, dan MI cukup paham investasi, NAB akan selalu naik dalam jangka panjang.
June 2nd, 2007 at 3:26 pm
Sofyan
Standar deviasi, kalau menurut statistik, adalah ukuran lebar dispersi titik tengah distribusi probabilitas. Dispersi tersebut menggambarkan kemungkinan return/risiko di reksadana. Misal return yang diharapkan 15% dan standar deviasi 9%. Maka kemungkinan return riil/aktual berada di antara 6%-24%.
Beta adalah ukuran risiko sistematik atau risiko pasar. Yaitu risiko yang tidak bisa dihindari dengan diversifikasi. Kebanyakan saham punya beta antara 0,6-1,6. Kalau beta adalah slope, alpha adalah intersep terhadap sumbu x. Alpha menggambarkan tingkat perubahan harga. Misalkan alpha negatif, maka return yang diperoleh berada di bawah rata-rata pasar.
Kalau sebuah portofolio (reksadana) punya angka Sharpe ratio maksimum, portofolio tersebut punya kemampuan untuk meminimumkan probabilitas return yang jatuh di bawah return investasi bebas risiko. (Penjelasannya mungkin lebih enak kalau pakai grafik/gambar)
Setahu saya, RAR itu risk-adjusted rating, bukan risk-adjusted returns. Yaitu metode penilaian portofolio (mirip dengan Sharpe ratio) yang dibuat oleh Morningstar. RAR diperoleh dari pengurangan return relatif terhadap risiko relatifnya.
Insya Allah nanti saya akan tulis yang lebih gamblang soal ini. :)
June 3rd, 2007 at 2:37 am
this is a nice site and looks to have good information but what language is it in?
June 4th, 2007 at 10:32 am
iNDonesian bro shaz
June 5th, 2007 at 2:52 pm
” Barrier to entry rendah. Siapapun bisa memulai berinvestasi reksadana as low as Rp 200 ribu saja ”
saya sebagai orang awam di reksadana mau tanya ni..minggu kemaren saya ke salah satu bank (mungkin saya sebut saja nama bank.. Bank Mandiri).
saya rencananya mau invest reksadana.. namun setoran awal minimal 10 juta. kok berlawanan ya sama keterangan diatas..
untuk orang yang pny pendapatan kayak saya jadi mikir2 lagi neh..hehe..
satu lagi.. apa ya maksudnya selling agent didunia reksadana..apa korelasinya dengan manajer investasi dan bank custodian..
atas penjelasannya terima kasih pren..
June 8th, 2007 at 1:35 am
apa yang dipaparkan bang nofie diatas benar dan masuk akal,bagi rekan2 yang mau memulai investasi reksadana dengan 250rb sudah dapat berinvestasi.sale agent mutual fund yang murah ada di bank commonwelt coba anda kunjungi websitenya di “www.commbank.co.id”
disana ada free&charges jenis reksadana dan min pembelian.dan masalahnya nih anda harus membuka tabungan cw 2jt + meterai 6000,tabungan boleh di nolkan untuk beli jenis reksadana apa saja semua.selanjutnya anda boleh beli RD schroder dana istimewa 250rb dengan entryfee 0%
June 12th, 2007 at 9:30 pm
“Anda harus membuka tabungan cw 2jt + meterai 6000,tabungan boleh di nolkan untuk beli jenis reksadana apa saja semua.”
emang bisa gitu di nolkan?
bukannya ada denda 50 000 kalo tabungannya dibawah minimal?
June 12th, 2007 at 9:58 pm
oki
Mohon diperhatikan bahwa aturan itu berlaku untuk reksadana Schroeder yang dibeli melalui CommonwealthBank. Tidak semua bank memberlakukan aturan serupa.
June 14th, 2007 at 4:03 pm
Dear Sir!
I want to know about: Richmark international ltd ,Address;Akara building,24 de castro street,wickhams cay 1,Road Town,Tortola,British virgin islands.
Cuold you help me?Please.
Could you tell me that?
Thank you somuch.
BestRegard.
June 18th, 2007 at 11:47 pm
kelemahan reksadana apa ya pak??
June 20th, 2007 at 11:27 am
wah infonya lumayan komplet…btw mas nofie ini profesinya apa sihh.. dosen atau malah manager investasi kali yaa…jgn lupa mas resikonya harusnya dijelasin sekalian dong….
Regards
June 20th, 2007 at 11:31 am
eh iya resikonya ternyata dah dijelasin…sorry bacanya kelewatan heee…
June 20th, 2007 at 5:28 pm
@Nofie Imam
Pak mohon informasi detailnya tentang membuka investasi schroders (dana istimewa) lewat Bank Common Wealth doong..
Soalnya saya takut ntar udah sampai sana malah duitnya kurang :((
pertanyaan saya :
1. Tabungan jenis apa yang harus dibuka (nama produknya) ? soalnya dari website mereka kok minimum setoran awal = 2 juta rupiah ( commsave )
dan 2 juta itu sekaligus sebagai saldo minimun, dan di situ tidak ada penjelasan tentang bebas biaya bulanan …
Sedangkan untuk yang bebas biaya bulanan commwealth kok setoran awalnya 50 juta :(
Mohon banget dikasih tahu step2nya Pak, pertama langsung bilang mau buka Reksadana Dana Istimewa, gitu ya Pak ?
Kalo diasumsikan uang saya hanya 250rb apa masih bisa main reksadana (atau anggap saja saya bawa uang 2.250.000 dan yang 2 juta pinjem dari temen dan harus dikembalikan dalam minggu itu juga ) Apakah saya masih bisa menginvestasikan uang saya di reksadana Pak ?
Mohon bantuannya ya Pak… saya masih baru.. karena itu takut juga kalo udah dateng ke banknya malah ditolak karena ndak punya uang banya; :D
Terimakasih sekali Pak
best Regards,
silverant
June 20th, 2007 at 8:18 pm
Anda telah menjelaskan secara sederhana sesuatu yang kompleks. Terima kasih untuk itu.
Saya ingin konfirmasi saja pernyataan anda yakni “NAB/NAV tinggi berarti unit penyertaan kita banyak dan dana kita di reksadana tersebut meningkat.” Menurut saya, NAB/NAV tinggi tidak membuat UP kita jadi banyak, tapi membuat UP kita nilainya menjadi besar. Karena UP jumlahnya akan tetap. Nilainya yang berubah sesuai perubahan NAB/NAV.
Koreksi kedua yakni “Misal hari ini Anda ingin membeli reksadana yang Anda beli di atas dengan NAB/NAV Rp 2.025/UP dan redemption fee sebesar 1,5%.” Mungkin maksud anda ” … Anda ingin menjual reksadana …”.
Bagaimana?
June 24th, 2007 at 1:45 pm
Pak Nofie ysh,
Ada nggak reksadana yang bisa dicicil bulanan dengan metoda auto debet kayak asuransi AXA mandiri, tanpa harus rutin datang nyetor ke selling agent atau setiap nyetor ngisi formulir lalu transfer ke bank custodian lalu ngefax ke MI.Soalnya saya sudah ikut AXA mandiri dan mudah banget, sekali daftar dan setiap bulan didebet 500 rb. Kalau ada reksa dana kayak gitu saya pengen segera ikutan.
TERIMA KASIH ATAS PENCERAHANNYA
June 28th, 2007 at 10:47 am
Dear Mr. Nofie,
Terima kasih atas penjelasan mengenai Reksadana. Kebetulan saya tertarik untuk berinvestasi di reksadana. Tapi ada beberapa pertanyaan yang saya butuhkan konfirmasinya :
1. Secara saya berencana untuk berinvestasi dalam jangka panjang, apakah setiap MI akan selalu mengirimkan laporan secara periodik kepada investornya ( monthly/weekly?)
2. Apakah bisa, pada saat tertentu saya ingin return yang dihasilkan dapat ditransfer ke rekening yang lain setiap bulannya?
Demikian pertanyaan yang saya ajukan, mohon bantuan untuk penjelasannya.
Wassalam,
Daulay
June 28th, 2007 at 10:56 am
junaedi
Ada, tapi tidak semua MI menawarkan sistem demikian. Silakan kontak MI yang bersangkutan.
Daulay
(1) Ada laporan, namun tidak selalu seragam. Ada yang bulanan, dua bulanan, trimester, dsb. Silakan kontak MI yang bersangkutan.
(2) Bisa saja. Silakan kontak MI yang bersangkutan.
June 29th, 2007 at 4:53 pm
Pak Nofie,trims berat atas pencerahan nya.Penjelasan anda bagus sekali ,maklum saya msh nubie di bidang reksadana.
Kalo bole saya bertanya,seandainya saya msk reksadana terproteksi ( Fortis, yg bakal luncur di Juli ini) dimana yg menjadi acuan nya index luar negeri spt hangseng dan MSCI gitu dan kurs nya mata uang asing.Trus seandainya kurs rupiah anjlok gitu,mengingat mata uangnya asing tp nab nya rph,apakah hal tsb baik ato malah jelek thd saya?
Trims byk atas penjelasan nya.
Jonas
July 7th, 2007 at 11:11 am
pak saya saat ini sedang membuat laporan tugas akhir yang berjudul “Reksa Dana Sebagai Alternatif Investasi bagi Investor Kecil”, saya ingin meminta bantuan bapak untuk memberikan referensi tentang reksa dana yang berkaitan dengan laporan tugas akhir saya. Dikirim ke e-mail saya saja fahri_alin@yahoo.co.id. Terima kasih.
July 8th, 2007 at 11:50 am
Pak Iman, saya ada pertanyaan nih? Dari beberapa sumber tentang perencanaan keuangan simpulan sementara saya paling bagus itu memang berusaha memisahkan antara proteksi dan investasi. Sarana proteksi dapat diperoleh dengan cara membeli polis asuransi (baik jiwa, penyakit kritis, atapun lainnya) dan investasi lebih banyak yang menyarankan untuk membeli reksadana. Pertanyaan saya sebenarnya masih bingung untuk membeli unit reksadananya, mereka menyarankan untuk secara rutin (bulanan, triwulanan, dll)?
Bagaimana mau secara rutin membeli unit reksadana sementara saya tidak yakin bahwa setiap membeli dapat nab yang selalu rendah, tetapi adakalnaya naik adakalanya turun? Trus evalusasinya bagaimana dong?Pada bagian ini saya masih ragu untuk membeli unit reksadana dibandingkan dengan membeli unit yang dikeluarkan perusahaan asuransi unit link, yang sudah jelas cara evaluasinya?
bagaimana pak iman?
terima kasih
July 9th, 2007 at 1:28 pm
mcupert
Pertanyaan Anda sebenarnya sudah terjawab secara implisit pada tulisan di atas. Saya pribadi lebih menyukai pemisahan antara investasi “beneran” dengan asuransi.
July 17th, 2007 at 2:08 am
Bung Nofie, menemukan web anda ini sperti dpt pencerahan. Saya sedang berencana berinvestasi di reksa dana, dan sedang browsing2 cari kejelasan. Saya mau tanya:
1. Jadi sebenernya apa bedanya bank yg jual reksadana spt commonwealth dengan manajer investasi spt danareksa, manulife dan fortis?
2. Apakah semua reksadana dananya disetor secara bulanan? apakah ada yang sekali setor [katakanlah 10 jt] lalu sudah.ndak perlu setor2 lagi? dan kl iya, apa bedanya terutama dari segi risiko dan segalanya?
Makasih bgt loh, saya sudah sedikit lb banyak ngerti cuma kok masi ada yg ganjal.
cheers
July 18th, 2007 at 9:32 am
dinzzy
1) Bank seperti Commonwealth merupakan agen penjual produk reksadana, sementara MI adalah pengelolanya. Tapi ada juga bank yang juga “menjadi” MI, seperti Mandiri Sekuritas.
2) Tidak selalu. Terserah pada preferensi investor. Silakan cek prospektus atau tanya ke MI yang bersangkutan mengenai persyaratannya.
Semoga membantu.
July 18th, 2007 at 1:51 pm
Berinvestasi melalui RD sangat bergantung dari tujuan, termasuk juga jangka waktu investasi, serta hal yang perlu diperhatikan juga adalah profile si calon investor itu sendiri. Sanggupkah si calon investor menerima kenyataan bahwa hasil investasinya negatif?
Untuk investor yang agresif dan bisa menerima tingkat resiko negatif yang tinggi dari suatu produk investasi, maka RD saham adalah pilihan tepat.
Klo mmg msh punya dana lebih stlh menyisihkan seluruh pengeluaran rutin ditambah tabungan untuk kebutuhan yang insidentil, kenapa harus takut dengan resiko pertumbuhan investasi yg negatif?
Biarin aja dana yg sdh ditanam tetap pada tempatnya, klo memungkinkan ditambah aja lg.
Dari seluruh artikel para pakar analis investasi yg saya baca via internet, sepertinya semua sepakat bahwa dalam jangka panjang, saham adalah pilihan investasi yang tepat, termasuk jg RD saham.
July 21st, 2007 at 10:02 pm
saya seorang pegawai dan tinggal di semarang.saya ingin sekali belajar berinvestasi di Reksadana tpi belum tahu secara detail bgmn cra krjnya.apakah di semarang ada ?terima kasih
July 23rd, 2007 at 6:53 pm
Txs to mas nofie..
jadi tau n jelas tentang reksadana..but kalo jumlah uangku cuman di bawah 10 juta bisa ngga ikut reksadana..dimana belinya?
txs sebelumnya
July 25th, 2007 at 7:37 pm
mas nofie,
mas apakah ada perbedaan antara kita beli product reksadana A yg NAB nya masih kecil dengan reksadana B yg NABnya sudah besar
July 28th, 2007 at 8:20 am
Kalau boleh sharing pengalaman nih…bung Nofie..
hasto
Untuk membeli unit RD mungkin bisa nyari informasi perusahaan sekuritas semacam Trimegah, Panin, Manulife dll pada yellowpages ada apa tidak di Semarang. Cara kerjanya mungkin di baca lagi uraian bung Nofie….
retno
Jangankan 10 juta yang 100 rbuan, 250 rbuan juga ada, jadi jangan takut untuk memulai…kalau RD apa yang bisa inves sekecil itu yang saya tahu sih manulife dana saham dan trim kapital…
July 29th, 2007 at 12:08 pm
BEDANYA REKSADANA SM INVESTASI YANG DIPISAHIN ANTARA ASURANSI DENGAN INVESTASI APA YA??????
DIVERSIFIKASI BUKANYA DAH MENYANGKUT REKSADANA CAMPURAN????
TRUS BEDANYA SYARIAH MA NON SYARIAH APA YA???
DANAREKSA INDONESIA BAGUS GA???
August 2nd, 2007 at 7:41 am
Sekedar sharing aja…
Bank Mandiri sedang ada program diskon biaya pembelian reksadana. Jadi semua reksadana (Danareksa, Mandiri, Schroder dan beberapa lagi) biaya pembelian mulai dari 0% s/d 0.5% (normal max 2%) dan minimal pembelian Rp 500.000,- (normal kalo gak salah 10jt).
Tapi syaratnya, harus ada rekening tabungan di Bank Mandiri :)
Oh ya program berakhir 31 Agustus 2007!
August 7th, 2007 at 7:38 pm
mas nofie, terima kasih atas info RDnya..sangat membantu sekali. saat ini saya memang lagi semangat2nya mo jd praktisi RD ( masih “mau”..belum “beli”..msh ngumpulin info..hehe ) buat teman2 yg punya info RD diskon khusus seperti haris boleh juga di kasih tau… thx.
August 7th, 2007 at 9:44 pm
Trims mas nofie !
setelah membaca artikel anda saya jadi tau kalau ada jenis investasi selain tabungan dan deposito.
Selama dua hari ini saya melihat NAB reksadana di koran bisnis indonesia semuanya pada minus, tapi kenapa ya koq untuk reksadana pasar uang nabnya nggak naik ataupun turun, trus bagaimana kita bisa menghitung hasil investasi kita.
mohon penjelasannya mas.
TKS
August 8th, 2007 at 4:31 pm
@Judha
BEDANYA REKSADANA SM INVESTASI YANG DIPISAHIN ANTARA ASURANSI DENGAN INVESTASI APA YA??????
Klo asuransi yg maen di investment di sebut Unit Link , jd sebagian premi kita di masukkan ke investasi , investasinya pun beragam seperti Reksadana…
Menurut saya , mending jangan unit link , klo mau asuransi ya di asuransi murni aja , dan invest bs di reksadana.
DIVERSIFIKASI BUKANYA DAH MENYANGKUT REKSADANA CAMPURAN????
Klo reksadana campuran , diversifikasinya belum bagus bos, kita bisa diversifikasi ke reksadana jenis pasar uang atao pendapatan tetap…
TRUS BEDANYA SYARIAH MA NON SYARIAH APA YA???
Klo syariah ada batasannya bos , utk yg saham dia hanya boleh ambil saham yg listing di JII ( Jakarta Islamic Index ). Utk obligasinya klo gak salah ngambil yg sukuk , atao obligasi perusahan yg bisnisnya tdk menyalahi syariah Islam.
DANAREKSA INDONESIA BAGUS GA???
Lumayan bagus bos utk MI lokal , gw jg punya reksadana mereka…..
@ rizal
utk RD pasar uang nilai NABnya memang selalu tetap , hanya saja nanti jumlah unit yang kita miliki yg akan bertambah….
August 14th, 2007 at 9:51 pm
Hi,
Mau ikutan share ni.. Hari minggu kemarin, kebetulan gak ada kerjaan beres2 file di lemari. Ternyata, ketemu berkas bahwa saya pernah beli reksadana di salah satu perusahaan sekuritas yg cukup terkenal di tahun 2000 (belinya kepaksa, karena marketingnya nelponin terus..).
Ada 2, masing2 Rp 500rb di pendapatan tetap dan satu lagi di saham. Tadi siang iseng ke kantornya. Ternyata yg pendapatan tetap udah dilikuidasi sekitar tahun 2003 dan yg saham masih jalan (selama ini laporannya gak menentu dapetnya, jadinya gak tahu kalau bakaldilikuidasi).
Singkat kata, akhirnya saya minta senuanya ditarik dan ternyata hasilnya gak jelek2 amat. Untuk yg pendapatan tetap uang saya masih bisa ditarik dan totalnya jadi sekitar Rp 950rb-an. Nah, yg saham ternyata NAB nya udah naik kira2 5 kali lipat. Jadinya saya bisa tarik sekitar Rp 2.5 juta-an :)
Melihat hasil ini, agak nyesel juga d (memang selalu belakangan datangnya..). Andaikan saja waktu tahun 2000 itu, saya invest jutaan rupiah..:(
cheers
August 16th, 2007 at 12:21 am
Ada yg mau share pengalaman di agen tertentu & MI tertentu?
Saya lagi pusing aja yg mana yg harus dipilih saking banyaknya pilihan.
thanks
August 20th, 2007 at 5:20 pm
Ass.. Wr. Wb
Aloo Pak Iman…. :D
Pak thks ya sharing knowlegdenya ttg RD, apalagi sy sgt tertarik sekali untuk yg 1 hal itu. Nah itu saat ini saya sdh sedikit tau sistematis n cara kerja RD. Dan sy sdh menentukan pilihan MI berikut produknya. Tapi ada 1 hal yg mengganjal sy saat ini.
Bila sy melakukan pembelian melalui MI langsung kmana-kah hasil keuntungan sy nanti di kredit. Apakah itu berarti sy hrs membeli lwt selling agent dan membuka account disitu.
Krn menurut pengalaman sy, hampir semua selling agent mengenakan biaya2 yg sebenernya yg semestinya dri pihak MI tidak demikian.
Terima kasih atas perhatian dan bantuannya.
Wassalam
Rgrds,
Marvin
August 21st, 2007 at 12:00 am
apa maksudnya reksadana terproteksi ya?
Dimana bisa dibeli?
thx
August 24th, 2007 at 12:06 pm
IvyChen
Mo share dikit. Yg dimaksud dgn reksadana terproteksi tuh maksudnya dana placementnya diproteksi. Jadi kalo anda placement 1 JT anda ga akan LOST 1 JT-nya utk mekanismenya nanti saya share…..Lagi buru-buru soalnya neh.
Regard
FAT LS
August 24th, 2007 at 6:45 pm
Assalamulaikum Wr Wb
Bapk Iman.. pa kbrnya
Btw dmana saya bisa membeli reksadana Schroder Dana Istimewa dengan modal saya sebesar Rp. 3jt
Saya harapkan sekali jawaban atas email ini, paling tidak kontak person atau pihak yg bisa saya hubungi.
Terimakasih atas perhatian dan bantuannya .
Regards,
Marvin
August 24th, 2007 at 7:51 pm
Mengenai reksadana terproteksi. Contoh : Mis anda beli reksa dana terproteksi IDR 10 JT komposisi porfolio ( 70% obligasi/pendapatan tetap, 30 % saham) maka obligasinya dipilih yg pd saat jatuh tempo bisa cover nilai 10 JT itu. Jadi sekalipun sahamnya loss modalnya tetap terproteksi. Itu kalo yg saya tau.
feel free to amend
cheers
FAT LS
August 25th, 2007 at 9:02 pm
om nofie ato bapak2 yang laen saya sebagai pemula dalam RD mau rencananya mo buka RD saya baca di prospektusnya katanya biaya minimal pembelian ada yang mulai 50 ribu (bank mandiri).
nah apakah hal itu benar kita bisa buka akun cuma modal segitu trus apa gak kena fee lain (selain fee pembelian dari pihak RD) koq ada tulisan2 di bawah yang katanya perlu modal awal ampe 10 juta segala ???????
maklum mahasiswa yang lagi belajar seperti saya cuma punya modal dikit
n_n
TQ
August 28th, 2007 at 1:27 pm
ada beberapa hal PENTING yang perlu Qta perhatikan dalam berinvestasi di REKSADANA :
1. Tentukan TUJUAN investasi Qta
2. Berapa Lama Waktu yg Qta Butuhkan untuk MENIKMATI HASIL INVESTASI qta
3. Berapa BESAR HASIL INVESTASI yg qta Inginkan
4. Seberapa KEKUATAN FINANSIAL yg qta Miliki
5. Kenali MANAJER INVESTASI (Perusahaan Sekuritas) dmn anda berminat menanamkan Investasi anda
6. Jangan Pernah TERGODA dg Hasil RETURN BESAR yg ditawarkan oleh perusahaan SEKURITAS baru yg belum terbukti reputasi nya, coz bukan tidak mungkin smua itu merupakan MODUS PENIPUAN perusahaan Investasi.
SELAMAT BERINVESTASI ^_*
August 30th, 2007 at 3:43 pm
diforum ini dibahas semua tentang reksadana..
http://kaskus.us/archive/index.php/t-454812.html
September 7th, 2007 at 4:04 pm
iya ni,saya juga mahasiswa yg juga ingin mencoba reksa dana. Reksa dana yg mana,yg bisa mulai kira2 satu juta atau kalo ada kurang.thanks for the info
September 11th, 2007 at 8:57 am
bagaimana dengan reksadana Syariah ???
apa keuntungan nya jga sama ??????????
September 11th, 2007 at 4:56 pm
kalo mo yg 1 juta-an bisa coba ke bank mandiri, tapi pilihannya ga terlalu banyak, kalo yg rada banyakan bisa ke commonwealth. lo bisa liat di websitenya doLo.
reksadana syariah sama dgn reksadana lainnya, tapi mengacu pada ketentuan syariah. jika jenisnya equity maka dananya di putar pd perusahaan2 yg sesuai dgn ketentuan syariah, misalnya mereka tdk akan invest di perusahaan yg berhub dgn MIRAS, perjudian dLL. utk yg muslim tenang aja, ada dewan syariah kok yg mengawasi kinerja reksadana syariah ini.
Fat with tha L to tha S
September 13th, 2007 at 3:00 pm
saya ingin menempatkan dana di schroder atau manulife, tapi saya berlokasi di papua. apakah bisa dan bagaimana caranya? thx
September 14th, 2007 at 1:34 pm
Dear bung Nofie,
Sebelumnya saya sudah ikut reksadana disalah satu bank pemerintah. Saat ini saya sedang tertarik untuk membeli produk baru reksadana saham dari PT Danareksa. Saya ingin tahu masukan dari bung nofie mengenai investasi pada produk reksadana yang baru launching (Belum 1 thn) untuk prospek kedepannya.
September 19th, 2007 at 10:41 am
Dear bung Nofie,
saya mahasiswa di aceh, dan juga penjaga di pojok bej di aceh…
saya mau buat skripsi tentang reksadana tapi kebingungan untuk jurnal nya…
tolong bantu saya ya..??
terima kasih unuk sebelumnya.
September 20th, 2007 at 7:04 pm
Dear pak nofie atau bapak-bapak yang lain..
reksadana ini memiliki bukti fisik atau tidak sebagai bukti kepemilikan reksadana tersebut?seperti deposito kan ada sertifikatnya, reksadana gmana?
terima kasih atas jawabannya..
September 24th, 2007 at 10:17 pm
Dear Bung Nofie
saya sudah merasakan keuntungan berinvestasi di reksadana… saat ini ada yang menawari saya untuk berinvestasi “Dinar Iraq”, memang bersifat spekulatif karena mengharapkan ekonomi Iraq membaik untuk bisa mendapatkan untung… bagaimana pendapat bung Nofie? saya tunggu advis & ulasannya…
terima kasih & sukses selalu
September 28th, 2007 at 11:32 am
Thanxs mas nofie iman, info nya sangat berguna sekali buat saya…. sebagai pemula yang sedang mencari-cari alternatif investasi… kalo ada info lagi tentang reksadana syariah saya akan berterimakasih sekali mas nofie… trims
oh iya saya izin untuk ngutip sebagian untuk makalah saya boleh ya… trims again..
October 4th, 2007 at 11:41 am
Bung Nofie,
(langsung saja), setelah baca beberapa prospectus reksadana mawar, manulife, scroder, trim kapital dan panin saya ada beberapa pertanyaan:
1. Kalau beli unit penyertaan -nya kok nggak dapat bukti misal sertifikat atau lainnya, cuma dikasih confirmation statement. Apakah confirmation statment tsb cukup kuat sebagai bukti (secara hukum atau undang undang)? bila dibelakang hari ada masalah.
2. Banyak investor berinvestasi ke reksadana tapi kenapa kok tidak dijamin oleh BI, pemerintah atau lembaga lainnya? apakah ini bisa menjadikan manager investasi seenaknya sendiri? paling tidak pemerintah/bapepam menjamin / mengawasi dananya tidak diselewengkan oleh manager investasi atau oknum.
Oke itu saja. Thanks atas responsenya.
Salam
October 5th, 2007 at 3:06 pm
mas nofie, thx atas infonya.
I have to admit that this is one of my fave blog……thx a lot
October 7th, 2007 at 2:47 pm
@ Sjaiful
Dalam membeli reksadana memang tdk di terbitkan sertifikat seperti halnya deposito. Deposito sendiri utk beberapa bank saat ini sudah tdk menerbitkan sertifikat lagi tapi hanya memberikan confirmation statement saja.
Investasi di pasar modal memang tdk di jamin oleh pemerintah dengan alasan resiko. Mengenai penyelewengan dana, ga udah takut karena dalam mendapatkan izin dalam menerbitkan reksadana mereka harus terdaftar secara hukum. Dan ada BAPEPAM sebagai wasit dalam operasional pasar modal
Feel free to add
aLdo
October 11th, 2007 at 11:13 pm
Mohon saran, jenis reksadana apa yg cocok untuk jangka panjang (diambil stl pensiun) tapi kinerjanya bagus?
Terimakasih
October 15th, 2007 at 7:45 pm
@Apri
Kalo menurut saya utk investasi setelah pensiun reksadana pendapatan relatif cocok. Reksadana ini invest di surat hutang jangka menengah dan panjang seperti obligasi dari pemerintah maupun swasta. imbal hasilnya cukup menarik dan resiko cenderung kecil
Disclaimer mode “on”
Regard
Fat LS
October 17th, 2007 at 10:52 am
NAV/NAB itu apa yah?? mohon pencerahannya.. :D
October 17th, 2007 at 11:31 am
maaf bacanya kelewat
gak taunya ada diatas hehehehee
October 17th, 2007 at 9:07 pm
Mas, saya mau tanya mengenai yang satu ini: http://www.inter-metrofund.com
Tolong diteliti website di atas… Saya bingung kok mereka bisa memberikan return yang sangat cepat dan besar. Hampir musatahil!!!
October 21st, 2007 at 11:15 am
http://www.inter-metrofund.com koq mirip HYIP ya (^_^)
October 23rd, 2007 at 4:27 pm
apakah beda reksadana syariah dengan reksadana konvensional?
October 26th, 2007 at 5:31 pm
Apakah dalam reksadana saham,manajer investasi yg menentukan saham apa yg dibeli atau tidak ? Apakah nasabah cuma menginves dana saja ke reksadana lalu manajer investasi yg mengatur semuanya ?
Terus apa sih maksudnya switching fee ?
Terima Kasih
October 27th, 2007 at 12:27 am
toeng: ya. manajer investasi yg menentukan saham apa yg dibeli. nasabah sekadar inves aja lalu duduk tenang:) switching fee maksudnya berpindah dari satu reksadana ke reksadana lain, misal dari reksadana saham ke reksadana campuran. CMIIW
October 29th, 2007 at 5:58 pm
Makasih Mas artikelnya, ikut kontribusi mendorong saya berinvestasi reksadana. Sekedar info belum 3 bulan NAV sudah naik sekitar 20%, kebetulan saya masuk pada saat IHSG bearish.
October 30th, 2007 at 9:49 pm
Teman kerja saya telah mengikuti reksadana. modal awal 10 jt, para awal tahun 2006. setelah awal tahun 2007 ternyata ia mendapatkan keuntungan yang cukup besar. dana dia menjadi 22 jt lebih. herannya saya, setelah mendaftarkan dirinya ke reksadana, yang dia lakukan hanyalah buka dan buka internet untuk cek point dia. yang saya tanyakan sebenernya cara kerja reksadana itu ginaman sich. (tolong penjelasannya jangan terlalu bertele-tele)
November 2nd, 2007 at 10:09 am
Bagaimana memulai investasi Reksadana ?
Apa saja kiat-kiatnya ?
Terima kasih.
November 2nd, 2007 at 2:28 pm
posting perdana neh…
Aku dah mau mulai invest neh, cuman rata2 NAB reksa dana nya dah pada melambung tinggi. menurut pengalaman, pengetahuan, n semua yg mas nofie miliki (mnrt dukun jg boleh…he3). Mana yang lebih baik invest ke RD dgn NAB 6000(misalnya), atau ke RD dgn NAB 3000. misalkan ke 2 RD tsb rata2 memberikan return yg sama (misalnya) 50 % pertahun. klo bisa dijelaskan lebih detail keuntungan jangka pendek n jangkan panjangnya. Misalkan juga ke 2 RD tsb berbasis SAHAM at CAMPURAN…
Trims bgt sebelumnya..
November 8th, 2007 at 5:34 pm
Perusahaan emang dapat untung apa aja kalo harga sahamnya naik ? Kan yang melakukan transaksi saham yang udah beredar ya para spekulan atau pemegang saham dari masyarakat biasa ?
Thx Be4.. =)
November 13th, 2007 at 11:59 am
pertanyaan saya idem sama ikky, plus kapan waktu yang paling tepat untuk kita beli RD? (mungkin ada bulan2 tertentu dimana RD sedang turun2nya sehingga disitulah saat nya kita invest atau beli RD)
ditunggu reply nya mas nofie
terimasih sebelumnya :)
November 13th, 2007 at 10:49 pm
adhe
Jawaban pendek saya: buy low sell high. :) Penjelasan lengkap sudah saya tulis di atas.
November 20th, 2007 at 10:16 am
Mas Nofie,
menurut mas Nofie lebih baik beli RD langsung ke perusahaan securitasnya atau melalui bank selling agent nya.. thanks..
November 21st, 2007 at 12:42 am
Mas Nofie,
Dimana saya bisa mendapatkan produk RD dari Manulife. saya berada di kota kecil Pati - Jawa Tengah.
November 21st, 2007 at 8:47 am
Prosedurnya sederhana. Anda bisa kontak ke MI tersebut, minta dikirimkan form pembelian atau download dari internet. Setelah itu, Anda isi lengkap dan tanda tangani. Lakukan transfer ke bank kustodian yang ditunjuk. Fax/kirim form pembelian, bukti transfer, dan fotokopi ID Anda. Kalau dokumen diterima sebelum pukul 13.00, NAB menggunakan yang berlaku hari itu. Bila semua lengkap, biasanya mereka akan mengirim surat konfirmasi ke Anda.
Wisma Manulife Indonesia, Lantai 1
Jl. Pegangsaan Timur 1A Jakarta 10320
Telp: (021) 2355 9966 ext. 6013
Fax: (021)314 9841
Email: mami_customer_id@manulife.com
Website: http://www.reksadana-manulife.com
Customer Contact Center: (021) 2355 9999
November 21st, 2007 at 10:34 am
Terima kasih atas infonya mas.
Saya mau tanya lagi. Kalo saya menggunakan metode RCA seperti diatas berarti pada kondisi berapapun NAB-nya baik turun ataupun naik saya tetap rutin nyetornya perbulan. Saya memang berniat invest jangka panjang. Benar gitu ya mas.
Trims.
November 21st, 2007 at 1:12 pm
Sebenarnya lebih bagus kombinasi keduanya. Misal Anda punya Rp 2 juta untuk diinvestasikan tiap bulan. Nah, yang Rp 1 juta bisa pakai RCA, sementara sisanya diinvestasikan kalau market sedang turun dan NAB sedang murah. Istilahnya market timming.
Kalau dalam sebulan market tidak kunjung turun, terserah Anda. Bisa dimasukkan sebelum akhir bulan, atau diakumulasikan untuk diinvestasikan bulan berikutnya. Oiya, komposisi 1 juta RCA-1 juta market timming itu tergantung selera/preferensi Anda ya. Ilustrasi di atas hanya contoh saja
Semoga membantu.
November 21st, 2007 at 1:40 pm
edi
Sama saja. Membeli langsung ke perusahaan sekuritas biasanya lebih murah. Namun terkadang ada juga perusahaan sekuritas yang menyerahkan semuanya ke agen penjual/bank karena tak mau direpoti tetek bengek administrasi.
Kalau Anda perhatikan di prospektus biasanya ada maksimum biaya pembelian (subscription fee). Agen penjual tak akan melampaui batas tersebut. Selisih pembelian antara lewat perusahaan sekuritas dan lewat agen penjual juga tak terlalu material, kecuali investasi Anda lebih dari Rp 10 juta misalnya.
Terkadang membeli lewat bank juga bisa lebih “murah” karena mereka menawarkan paket atau benefit lain yang barangkali Anda perlukan. Jadi, ada baiknya perhatikan dan bandingkan sebelum melakukan pembelian.
November 21st, 2007 at 2:23 pm
halo, kakak saya baru berhenti dari perusahaan, dan ada uang kompensasi sedikit, dan belum ada pekerjaan lagi, kira2 kalau dia saya sarankan mencoba reksadana, dengan asumsi pemula, berapa range modal yg dibutuhkan, atau minimalnya setidaknya, dan bisakah dia hanya mengandalkan reksadana sebagai penghasilan utamanya? lalu langkah pertama sebagai pemula agen manakah yg paling tepat, yg care untuk memberi nilai lebih, mengajarkan dengan jujur dan baik..apakah bank, atau manulife, atau apa? terimakasih banget, dan semoga tanggapannya dapat sangat membantu kami..saya tunggu dengan sangat..
November 21st, 2007 at 11:05 pm
Bisa saja. Modal yang diperlukan bisa mulai dari Rp 500 ribu saja. Namun penghasilan dari reksadana tidak bisa dipastikan. Kadang bagus, kadang tak seberapa. Kadang bisa rugi juga.
Yang terpenting adalah memilih manajer investasi yang tepat. Apakah Anda ingin melalui agen penjual, bank, sama saja–mungkin fee dan benefit yang ditawarkan sedikit berbeda.
November 22nd, 2007 at 5:25 pm
Keinginan menabung tergantung dari niat kalau menurut saya. Saya sama seperti itu. Susah untuk menabung. Akhirnya saya berfikir, bagaimana dengan tabungan sedikit, tetapi bisa berkembang secara rutin Jawabannya adalah Investasi. Setelah fikiran itu muncul. Saya langsung mensurvey beberapa investasi online. Namun kurang ada yang meyakinkan, sampai akhirnya saya menemukan program investasi koperasi modern yang sangat meyakinkan saya dan sistem yang dipakai sangat logika. Saya mengikuti program eKomit.
November 23rd, 2007 at 11:03 pm
Mas Nofie..
nanya lagi nih… mana yang lebih bagus, investasi di reksadana atau invest di asuransi+investasi seperti di Prulink Syariah Rupiah Managed Fund dari Prudential, karena saya dapat penawaran dari agen nya, mumpung harga per unit nya masih murah (Rp. 1.101,-/unit) baru launching 6 september 2007 yang lalu, terimakasih atas informasinya..
November 24th, 2007 at 8:55 am
Kalau berniat ambil asuransi, saya rasa lebih baik ambil terpisah: reksadana (investasi) sendiri, asuransi sendiri. Kelemahan unit link adalah kita sulit melakukan monitoring karena tidak tahu berapa persen alokasi investasi dan diinvestasikan kemana, berapa persen alokasi asuransi. Selain itu, ada kecenderungan biaya-biaya dan potongan lebih besar.
November 27th, 2007 at 9:55 am
Kalau menurut saya mau ambil paket unit link atau terpisah, tergantung risk profile seseorang. Ada yang suka repot demi penghematan, tapi ada yang suka praktis karena memang sudah mempersiapkan anggaran untuk itu.
Apalagi untuk masalah asuransi jiwa, kita membicarakan kebutuhan jangka panjang. Faktor kepercayaan nasabah thd perusahaan sangat penting. Kalau masih bingung soal pengaturan asuransi dan investasi terpisah, lebih baik terima dulu penawaran unit link tersebut.
Makin cepat mendapatkan proteksi makin bagus, sebab dalam dunia perasuransian, ada 2 pihak yang akan terus mengejar calon nasabah. Agen asuransi atau Maut :).
November 30th, 2007 at 2:04 pm
Pak Iman,
Saya termasuk yang tertarik sebagai pemain RD dan saat ini sedang mencari informasi mengenai apa itu RD serta mekanisme transaksi serta perilaku pasarnya, sehingga sangat senang ketika membaca tulisan Pak Iman serta tanya jawabnya. Dari tanya jawab tsb saya ingin klarifikasi adanya statement : sbg investor kita serahkan saja dana kepada MI lalu kita pantau hasilnya, disisi lain dikatakan kita sbg investor agar memilih RD serta waktu yang dianggap tetap utk membeli dan menjualnya kembali RD tsb.
Terima kasih.
November 30th, 2007 at 8:03 pm
Singkatnya, ya. Bagus tidaknya return yang kelak kita dapatkan sangat dipengaruhi dari bagaimana kita memilih MI dan produk reksadana yang sesuai dengan profil kita.
November 30th, 2007 at 9:42 pm
Mas Nofie,
ada enggak rekomendasi buat kita-kita tentang RD atau MI yang baik, yang sudah memberikan keuntungan pada investasi mas Nofie, thanks.
December 4th, 2007 at 4:15 pm
Bang Nofie
Dimana saya bisa mendapatkan produk RD langsung dr schroeder? thanks
December 4th, 2007 at 4:31 pm
Setahu saya untuk unit link syariah sudah dijelaskan di awal porsi-porsinya, berapa untuk asuransi & brp untuk investasi, juga termasuk perubahan porsi untuk tiap tahunnyya, Sesuai prinsip syariah, harus jelas transaksinya. Begitu ngga mas nofie?
Salut untuk blognya :)
December 4th, 2007 at 4:48 pm
siman
Reksadana Schroeders bisa dibeli antara lain via Commonwealth Bank, HSBC, Citibank, dan Bank Mandiri.
amagus
Kerugian lain adalah opportunity loss, karena ada biaya-biaya yang seharusnya bisa diinvestasikan dan memberi efek compounding. Selain itu, birokrasinya jelas lebih panjang.
December 5th, 2007 at 4:46 pm
Saya mau tanya nih Pak Nofie, saya kan ikut Asuransi Unit Link Manulife 100% saham, dan diinvestasikan di Manulife Asset Managemen, dan proposalnya untuk 25 tahun sih oke, dan misal saya meninggal, keluarga saya juga mendapatkan asuransi + benefit dr unit link kita. Apakah saya sudah benar untuk berinvestasi + asuransi ? Karena uang yg kita asuransikan tidak hangus, tp diinvestasikan jg. Misal saya masih punya uang lebih, sebaiknya saya ikut asuransi pensiun jg, atau diinvestasikan di reksadana saja. Apakah kita harus punya deposito juga untuk jaga2 bila ada kebutuhan mendesak? Maaf bila saya terlalu byk tanya, terimakasih sebelumnya
December 5th, 2007 at 5:18 pm
Hallo bang Iman.
Numpang nanya, mana yang lebih baik beli Reksadana saham yang udah lama launching atau yang baru (karena harga NAB/unit nya sangat jauh berbeda).
Thanks.
oh ya thanks tuk tulisan-tulisan di blog nya…
December 6th, 2007 at 3:19 pm
halo bang nofie
thanks atas artikel anda sangat membantu untuk mengenal apa itu reksadana. Sebetulnya saya juga ingin menginvestasikan sebagian dana saya di reksadana ini karena saya dengar nilai investasinya lumayan menjanjikan, tetapi terus terang saya tidak tahu harus memulai dan memilih program reksadana apa? Karena kalo sekarang kita menyimpan di bank saja nilai investasinya relatif kecil dan lambat berkembang. Mohon penjelasannya. atau newletter via email kalo ada ya…
Thanks
December 8th, 2007 at 5:40 am
Yth. Pak Nofie,
Mohon ijin untuk numpang memperkenalkan forum baru yang didedikasikan khusus membahas tentang reksadana di http://forumreksadana.com
Semoga informasi ini dapat membantu perkembangan reksadana di tanah air.
Terima kasih.
December 12th, 2007 at 4:15 am
Mas Nofie,
Di mana saya bisa membeli RD yang mulai investnya kecil ya, karena kemarin saya ke bank Danamon, karena kebetulan deket kantor saya, tetapi kalo mau beli RD melalui bank Danamon minimal kita harus punya uang Rp. 25.000.000,- (duapuluh lima juta), melalui bank mana yang bisa beli RD di bawah satu atau dua juta, mohon info nya.
thanks
December 12th, 2007 at 10:35 am
Bisa dicoba di Bank Mandiri atau Commonwealth Bank. Atau, hubungi langsung ke manajer investasi dan lakukan pembelian langsung (tidak melalui bank). Setahu saya, manajer investasi seperti Danareksa, Trimegah, Manulife, PNM, dan sebagainya minimum pembelian cuma sekitar Rp 500 ribu.
December 13th, 2007 at 10:52 pm
mas nofie, sy minta sarannya?sy punya dana 30 jt yg tdk terpakai, apa yg hrs sy lakukan untuk menambah uang tersebut, investasi, reksadana atau yg lain ?krn 2 thn lagi sy berencana akan menikah & membayar DP untuk membeli mobil ?trims
December 14th, 2007 at 4:36 pm
Dear Pak Iman,
Saya sedang berada dalam kondisi ingin masuk ke dalam RD. Namun masih ada beberapa hal yang masih membuat saya bingung mengambil keputusan untuk memulainya. Beberapa hal yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Jika dalam sebuah perusahaan MI terdapat 2 jenis RD yang memiliki performance tahunan yang sama (e.g. 60%) dan bergerak dalam bidang yang sama (e.g. equity) namun memiliki NAB/NAV yang berbeda dimana RD-1 memiliki nilai yang lebih rendah daripada RD-2. Menurut P’Iman, manakah yang memiliki progress yang lebih baik? Saya takutnya jika memilih RD dengan nilai NAB/NAV yang tinggi, akan mengalami stagnansi.
2. Apakah maksud dari beberapa istilah:
- Annual Management Fee
- Selling Agency Fee
- Redemption Charge
3. Menurut pendapat Pak Iman, lebih baik masuk ke dalam bidang RD melalui selling agent atau langsung ke MI company?
Untuk ketiga hal ini sangat membingungkan saya untuk mengambil keputusan. Mohon jawabannya dan terima kasih sebelumnya :)
December 14th, 2007 at 11:31 pm
abu farouq
Terima kasih kembali.
Menurut saya, harga NAB tidak terkait dengan kinerja reksadana. Bisa saja reksadana A dengan NAB Rp 1.500 dalam satu tahun ke depan akan berkembang menjadi Rp 1.800, tetapi reksadana B dengan NAB Rp 4.000 dalam satu tahun ke depan malah naik menjadi Rp 5.000.
Yang terpenting bukan harga NAB-nya, melainkan kualitas aset (underlying) penyusun portofolio reksadananya dan reputasi manajer investasi dalam memutar dana kita.
henry
Saya pribadi menggunakan investasi dan asuransi secara terpisah. Alasannya praktis saja. Saya lebih mudah memantau kinerjanya, administrasi relatif lebih lancar dan tidak banyak birokrasi, dan secara umum kinerja investasi secara terpisah lebih bagus daripada unit link. Selain itu saya juga menyimpan dana kas untuk kebutuhan mendesak—-tak semuanya diinvestasikan.
Tapi, apa yang berlaku buat saya bisa saja kurang tepat untuk orang lain. Jadi, silakan Anda menyimpulkan sendiri. :)
December 17th, 2007 at 11:18 pm
Sekadar membantu pak Christoper saja.
Pengalaman saya invest, NAB yang tinggi memang pergerakannya relatif agak lambat, tapi tidak selalu. Jadi, pinter2 pilih aja. Mengenai annual management fee, kalau nggak salah itu biaya yg dibebankan manajer investasi atas jasanya ngurusin reksadana. Kalau selling fee adalah biaya yang dipotong saat kita membeli reksadana. sedangkan redemption adalah biaya saat kita menjual reksadana kita.
biasanya sih membeli langsung ke MI lebih murah daripada lewat selling agent, tapi nggak selalu. bisa saja lewat bank lebih mudah dan malah praktis.
buat pak muliadi,
reksadana bagus pak, asal ngerti dan paham risikonya. saya mulai invest juga waktu mau rencana nikah dan musti bayar cicilan ini itu. asal money managementnya bagus, ini bisa jadi peluang yg menguntungkan.
December 19th, 2007 at 12:40 pm
hai mas, aku belum pernah buka reksadana karena sama seperti teman sebelumnya, kendala uang ga cukup menurut selling agent. aku sekarang lagi kerja diluar negeri ah… banyak baca artikel reksadana jadi tertarik. sebenernya bisa ga sih aku suruh mamaku yang notabene buta masalah keuangan beli reksadana? bisa ga aku monitor dari taiwan sini perkembangannya?? thanks ya….