Waspada Sosialisme dan Komunisme?
April 23rd, 2007 | PoliticsBeberapa waktu lalu saya ngeliat “canda-candaan” antara Papernas dan FPI di bilangan Sudirman. Sayangnya “canda-candaan” itu harus dibayar mahal mengingat ada korban cedera, bus kota diamuk dan dirusak, dan tentu saja bikin macet seputaran Sudirman yang memang sudah langganan macet.
Malam harinya, Papernas didatangkan untuk berdiskusi di sebuah televisi swasta. Mereka memang mengaku mengusung sosialisme — kendati mengedepankan demokrasi kerakyatan dan tetap mengakui Pancasila serta UUD 1945. Sementara yang duduk di seberang mempermasalahkan soal Papernas yang mengusung jargon, atribut, bendera yang identik dengan komunis. Sayangnya, dialog tersebut lebih mirip debat kusir tanpa ada solusi dan penyelesaian berarti.
Mengenai ketakutan terhadap paham komunis (PKI) yang mungkin tumbuh lagi, sebenarnya wajar adanya. Ideologi tersebut memang boleh dilarang melalui undang-undang demi melindungi kepentingan negara. Pelarangan itu sesuai dengan human rights. Orang-orang Jerman, misalnya, sampai kini pun sangat antipati terhadap Nazi. Atribut, jargon, dan simbol yang identik dengan Hitler dilarang keras di negeri itu.
Saya sendiri tidak terlalu mencemaskan akan “kelahiran” kembali komunisme di Indonesia. Faham kekirian terbukti sangat tidak populer di hati rakyat Indonesia. PKI memang pernah jadi salah satu partai dengan kader luar biasa, namun watak sewenang-wenang dan strategi yang penuh intimidasi membuatnya kontroversial. Apalagi PKI kemudian terpancing untuk melakukan gerakan yang pada akhirnya malah menghancurkan dirinya sendiri.
Terbukti bahwa komunis juga gagal total di Uni Soviet, Yugoslavia, dan negara-negara Eropa timur lainnya. China dan Vietnam memang masih mengaku komunis, namun disebabkan karena “alasan praktis” saja, mengingat merubah suatu paham di negeri tersebut sangat mahal ongkos politik dan ekonominya. Pada prakteknya, China malah membuka pintu lebar-lebar buat pemodal asing (baca: pro-kapitalis). Sosialisme, praktis tak lagi banyak dianut di bumi ini.
Berkaca dari China, sebaiknya kita memang tidak melihat dikotomis antara sosialisme dan kapitalisme. Sosialisme, kalau dilihat dari dalil Karl Marx, adalah usaha ilmiah untuk memproyeksikan perjalanan dan nasib modal. Marx menggunakan pendekatan deterministik yang kemudian jadi ciri khas sosialisme. Sayangnya, untuk bisa konsisten determinis dalam ilmu sosial, seseorang musti mengasumsikan bahwa masa depan berjalan linier.
Faktanya, di masyarakat ada sebagian orang yang lebih cerdas, lebih berbakat, lebih oportunis, yang ingin naik kelas sosialnya (upgrading). Inilah yang kemudian memunculkan kapitalisme: dorongan trial and error yang dilakukan di level individu yang meluas ke masyarakat. Desain asli kapitalisme memang ditujukan buat orang biasa yang ingin naik kelas, baik secara ekonomi maupun politik.
Kapitalisme memang tidak pernah muncul sebelum Marx menuliskannya. Orang yang dicap Marx sebagai kapitalis adalah mereka yang menganut prinsip-prinsip dasar kebebasan memiliki dan berusaha — sesuatu yang tidak dianggap oleh Marx. Marx sendiri menilai bahwa hak milik adalah sumber dari segala bencana kemanusiaan — sesuatu yang jelas tidak realistis. Kapitalisme bukan lahir dari kalangan yang menyebut mereka demikian, melainkan dari orang-orang yang berseberangan ideologi semata-mata untuk merujuk pada golongan yang tak sepaham.
Joseph Schumpeter bilang kapitalisme adalah semangat untuk mengalahkan kaum aristokrat. Hernando de Soto memandang kapitalisme sebagai pemberdayaan kaum marjinal. Max Weber mengaitkannya dengan spirit protestanisme (tidak harus protestan sih), yakni pembebasan manusia akan nasib dan kodratnya. Sementara Deng Xiao Ping bilang to be rich is glorius; kapitalisme adalah untuk meringankan beban negara.
Tentunya ada saja golongan yang melakukan resistensi karena tidak ingin tinggal kelas. Banyak penggagas gerakan antikapitalisme justru biasanya berasal dari golongan-golongan yang merasa terancam status kelasnya. Padahal sejarah mencatat bahwa ekonomi dunia dalam dua abad ini digerakkan oleh sistem kapitalis, baik murni atau campuran. Uni Soviet adalah contoh gamblang betapa pengambil keputusan melakukan tindakan yang justru menimbulkan disinsentif pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang demi kepentingan sesaat pribadi maupun golongan.
Sosialisme memang terkesan stagnan, karena pendekatannya cenderung sentralistik. Niatnya memang mulia, namun sangat rentan agency problem karena terdistorsi oleh kepentingan dan motif politis. Tapi bukan berarti sosialisme mati. Dalam beberapa kasus sosialisme malah lahir dari inisiatif individu, bukan karena sentralisme keputusan. Henry Ford, John Rockefeller, Bill Gates, Warren Buffett misalnya menyumbang jutaan dolar untuk kepentingan sosial. Aksi sosial tersebut bukan lahir dari paksaan, melainkan (meminjam konsep Maslow) untuk aktualisasi diri.
Kapitalisme dan sosialisme memang nggak bisa dilihat secara hitam-putih. Kapitalisme dibangun secara trial and error secara kontinu. Yang salah diperbaiki. Yang kurang coba ditingkatkan. Impetus bagi perbaikan ini justru banyak lahir dari kritik-kritik aliran sosialis. Tanpa tantangan ini, kapitalisme yang sebenarnya dinamis bisa musnah. Kapitalisme adalah kompetisi. Sejauh ada persaingan yang sehat dan dorongan untuk berubah, menurut saya, tidak ada yang salah dengan kapitalisme (dan sosialisme).
Yang saya sesalkan, mengapa musti ada kekerasan, perusakan, pakai bawa-bawa agama lagi.



Comments
April 23rd, 2007 at 11:31 pm
Aliran kiri memang sedang bangkit kembali, ga cuma di sini tapi di belahan dunia lain. Ini terjadi sejak AS punya mainan baru: Terorisme.
Cuma, meski kapitalisme belum tentu baik dan benar, saya masih tetap memilih itu ketimbang sosialisme-komunisme.
April 24th, 2007 at 9:20 pm
mantab tenan…once again…another smart article…
April 25th, 2007 at 7:43 am
kapitalisme akan mengarahkan pada melebarnya kesenjangan… kelompok kecil menguasai sebagian besar aset alam… yang miskin semakin miskin, alam semakin tergerus, satwa kebingungan mencari tempat berkehidupan… haruskah menghamba pada modal?
April 30th, 2007 at 10:33 am
Dalam bahasa orang awam, ekonomi kapitalisme identik dengan “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Ada kompetisi, tapi kadang tiadk fair. Cocok untuk negara-negara yang rentang kesejahteraan orang2nya tiadk terlalu tinggi.
Sementara itu dalam bahasa orang awam juga, ekonomi komunisme identik dengan “pinter goblok sama saja, rajin malas sama saja, serba sama rata”. Tdk ada kompetisi at all, namun membuat rasa nyaman untk orang2. Cocok untuk negara-negara dengan ekonomi rendah dan masih tahap surviving.
Indonesia ? tidak pas dengan sistem kapitalisme total, krn masih ada kesenjangan sangat dalam (entah kenapa). Sementara itu sistem komunisme/sosialisme jg tidak cocok, krn kita tidak lagi dlm masa survival, tp harus mengejar banyak ketertinggalan dg negara lain.
Ekonomi Pancasila mungkin yg pas, in between. CMIIW.
May 4th, 2007 at 7:13 am
FPI ni narsisnya ngalah2in saya loh…
ckck..
May 4th, 2007 at 7:16 am
@ Topan :
Sayah lebih suka kalo endonesa dipimpin diktator budiman.
hehe..
Biar ndak tambah marut ni negara..
May 19th, 2007 at 3:01 am
ngaco nih orang..
May 19th, 2007 at 11:43 am
@atasgw:
yg ngaco sapa nih?
May 20th, 2007 at 6:44 pm
wah saya kesesta diblog yang benar…tak makan habis seluruh artikelnya….
May 23rd, 2007 at 3:14 pm
Kelihatannya ada beberapa hal yang bermasalah. Sedikit tentang sejarah.
Mungkin maksudnya saat ini tidak populer, karena dulu, seperti halnya kalimat selanjutnya, partai ini pernah masuk empat besar dalam pemilu. Soal gerakan yang menghancurkan diri sendiri, apakah ini maksudnya G30S? Kalau ya, setahu saya masih menjadi kontroversi apakah sebetulnya PKI yang mendalangi gerakan ini.
Lanjut ke sosialisme. Menurut Wikipedia, sosialisme adalah a broad array of doctrines or political movements that envisage a socio-economic system in which property and the distribution of wealth are subject to control by the community.
Setahu saya, bukan hak milik itu sendiri yang menurut Marx menjadi sumber bencana. Tetapi mode produksi dalam mana si kapitalis mengekstrak dan mengakumulasi surplus value dari para pekerja-lah yang menjadi masalah. Bahasa sederhananya mungkin pekerja “diperah” oleh si kapitalis tanpa memperoleh bayaran atau dengan bayaran yang tidak setimpal.
Pernyataan ini sulit diterima IMHO. Anggap saja bahwa status kelas berhubungan dengan kepemilikan (seperti yang lazim dijumpai dalam kapitalisme). Orang-orang yang terancam status kelasnya justru akan cenderung untuk mati-matian mempertahankan status kepemilikan agar tetap di tangan individu. Atau dengan kata lain, mereka cenderung untuk tetap mempertahankan kapitalisme.
Sosialisme, sependek yang saya tahu, ada yang Marxis ada yang non Marxis. Ada yang deterministik (seperti Marx, mungkin), ada juga yang non-deterministik. Tidak semua sosialis percaya pada urut-urutan kejadian seperti yang diramalkan Marx.
Mungkin maksudnya istilah “kapitalisme”. Marx sendiri bereaksi terhadap perkembangan mode of production saat itu (yang diistilahkan sebagai “kapitalistik”).
Menyumbang untuk kepentingan sosial IMHO bukanlah inisiatif yang melahirkan sosialisme, karena kontrol kepemilikan dan keputusan untuk menyumbang (redistribution of wealth) tetap tidak berada di tangan community. Selain itu, kalau berbicara tentang insentif, insentif bagi mereka untuk berinisiatif melahirkan sosialisme adalah sangat kecil, karena mereka sangat diuntungkan oleh kapitalisme yang berjaya sekarang ini.
Sosialisme memang tidak mati. Di Eropa, pemikiran ini masih cukup laku dijual. Buktinya, Segolene Royal dari Partai Sosialis masih mendapatkan suara cukup banyak dalam pemilu Prancis yang baru lalu.
June 3rd, 2007 at 8:06 pm
Iya, ribut2 mulu. Bentrokan, demo, dll.
Damai dikit napa. Pake cara lain, nego, sosialisasi, dll. :)
June 7th, 2007 at 11:06 pm
Dear Sir !
I want to know about ; Ricmark international ltd.Address : akara building,24 de castro street,Wickhams cay 1,Road town,tortola,british virgin island.
Could you help me?Please.
Could you tell me that?
Thank you so much.
BestRegard.
June 17th, 2007 at 1:44 pm
capee degh!!!
lho, gimana engga makin kaya yg kaya? lha wong buat bikin duit, yoo pake duit. bener?
sudah sudah, marilah masing2 menjadi malaikat untuk masing2. daripada sibuk pengen jadi pahlawan… tho pada dasarnya sedikit susu dalam nila sebelanga bisa membawa dampak baik pada pencerahan batin… bukankah cahaya ILAHI datang untuk semuanya. kalu ndak liat??? yee, buta apa ya mata lo???
halakh halakh halakh… makin ngaco ini komentar saia… maabh…
October 27th, 2007 at 11:00 pm
aduh maaf saya telat mengirimkan komentar, udah basi kali ya.. tapi ndak pa-pa skalian menambah khazanah pengetahuan saya (InsyaAllah)..
Saya setuju dengan mas tentang bahwa tak ada yang perlu ditakuti lagi tentang ideology, yang ditakutkan adalah orang yang memiliki paham ideology. Terkadang sesuatu yang kita pahami tertelan mentah-mentah, tidak berusaha untuk mentelaah lebih dalam lagi. Ini salah kaprah.. Sosialisme, kapitalisme, dan komunisme sekrang ini menjadi pengontrol lajur komunikasi, pembangunan, tekhnologi, humanisme di segala penjuru dunia. Tidak bisa di pungkiri bahwa ini memang ada. Tetapi sekali lagi, mungkin tidak harus di branguskan tetapi dipelajari lebih dalam.
FPI dengan kawan-kawan Papernas, kesannya terlalu dini untuk memberangus ideology, belum ada pengadilan kok sudah di adili. Ini jelas melanggar hukum, hukum negara, juga hukum agama. Kok FPI main hantam kromo, dimana letak keislaman itu?
Mungkin itu saja mas..
Terimakasih tulisannya mas..
Wassalam,
aLLey
November 3rd, 2007 at 12:45 am
ga usa mikirin yg penting mikirin diri kita dolo
klo udah bisa mikirin diri kita baru mikirin orang
December 4th, 2007 at 4:21 pm
Ideologi Komunisme atau Sosialisme ada sisi bagus dan jelek nya…so ini semua tergantung pada waktu/masa penerapan nya….bagaimana kondisi negara saat itu, kondisi dunia, dsb-nya.
Negara yang miskin sebaiknya menjalankan ideologi komunisme, dengan catatan pemimpin2 si negara komunis ini adalah orang yang benar berpikir demi kepentingan rakyat. Sosialisme …. lebih cocok dgn negara yang maju….atau tingkat pendidikan penduduknya jauh lbh bagus. This just my personal opinion.
Rgds,
Sigmund
March 10th, 2008 at 4:24 am
yang jelas setau aku komunis lebih mementingkan kehidupan para petinggi2 nya aja… jadi, mulai hari ini dan seterusnya galakkan program GANYANG KOMUNIS!!!
March 20th, 2008 at 8:20 pm
Jayalah Indonesia!
Salam Sejahtera..
Ass Wr Wb..
Perlu diperjelas bahwa kita jangan sampai salah tafsir, bahwa ada perbedaan yang jelas antara Sosialisme Indonesia dan Komunisme kalau memang yang dimaksudkan di atas adalah sosialisme Indonesia. Bahkan antara Marxisme dan Komunisme pun berbeda. Ideologi Komunisme menggunakan ideology Marxisme-Leninisme, sehingga Marxisme itu adalah salah satu dari komponen ideology komunisme. Sosialisme Indonesia pun jelas berbeda dengan Komunisme. Sosialisme Indonesia itu sendiri menjunjung tinggi pluralisme demokratis dan komunisme tidak. Saya pun sepakat bahwa larangan Komunisme berdiri di Indonesia tidak perlu ditarik kembali. Hanya saja jangan kemudian Mengidentikkan apapun yang berhubungan dengan sosialisme itu apalagi sosialisme Indonesia sama dengan komunisme. Mari saya jelaskan sedikit tentang Sosialisme Indonesia itu. Saya menyadari justru cita-cita tentang Sosialisme Indonesia justru sebenarnya hidup dan benar-benar mengakar di jiwanya Indonesia. Perkataan Tata-tentrem, Kerta Rahardja gemah Ripah Loh jinawi yang menjadi simbol dari Bangsa Indonesia pun menjadi bukti bahwa Sosialisme Indonesia memanglah tujuan daripada Bangsa Indonesia. Bukan Kapitalisme, juga bukan Feodalisme yakni Sosialisme indonesia, lebih tepatnya Sosialisme ala Indonesia.
Yang mengherankan tentu mengapa setiap kali kita mendengar kata tentang Sosialisme Indonesia, terbenak tafsiran yang mungkin saja berlainan maksud dengan pengertian Sosialisme ala Indonesia itu dan bahkan disengaja disalahtafsirkan oleh oknum-oknum yang memang gandrung akan kebencian dan perpecahan. Apa namanya kalau bukan seorang pemecah belah jikalau ia sengaja menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia itu tanpa melihat bahwa Sosialisme Indonesia dengan nurani terbuka, yang karena tujuan-tujuan tertentu menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia yang dulu digelorakan di mukanya Indonesia oleh Presiden Pertama RI, Ir Soekarno dan sebagian Tokoh-Tokoh Bangsa Indonesia di masa yang lampau.
Sosialisme Indonesia atau sering disebut juga Sosialisme Religius menurut E. Ultrech S.H. adalah Sosialisme yang di Indonesiakan atau Indonesia yang disosialiskan. Ya, Sosialisme ala Indonesia itu muncul di dalamnya jiwa seluruh rakyat Indonesia, tumbuh subur didalam kebudayaan, adat-istiadat Indonesia semenjak dahulu kala, meskipun Sosialisme itu tidak seratus persen diterapkan oleh perilaku bangsa Indonesia. Disebut sebagai Sosialisme Religius itu pun merupakan cerminan dari masyarakat Indonesia yang religius. Jadi salah besar bila Sosialisme Indonesia digambarkan sama dengan Sosialisme di negara-negara lain yakni Sosialisme yang menolak Pluralisme Demokratis. Justru sebaliknya, Sosialisme Indonesia adalah sangat menjunjung Pluralisme Demokratis itu, yakni menjunjung tinggi keberagaman yang ada di bumi Indonesia. Apa sebabnya Sosialisme itu sampai sekarang tidak bisa benar-benar diterapkan seratus persen, meskipun sudah tertanam dalam di sanubari orang per orang rakyat Indonesia. Dahulu kala saat Indonesia belum dikungkung yang namanya sistem kolonialisme dan imperialisme, Indonesia terjebak di dalam sistem Feodalisme. Feodalisme itu lahir karena mental, mental yang terbangun karena adanya pola berfikir yang salah, pola berfikir yang minimnya pengetahuan, pola berfikir yang masih pada berorientasi pada ilusi-ilusi dan ketakutan akan sesuatu dan pola berfikir yang tidak berorientasi pada kesadaran akan persamaan derajat seluruh umat manusia di Indonesia dan di dunia.
Feodalisme yang kemudian melahirkan sistem Kapitalisme karena adanya proses dialektika makin menambah rintangan menuju cita-cita Sosialisme Indonesia seratus persen, yakni Sosialisme Indonesia yang sejati yang tentu bertambah pula penderitaan rakyat Indonesia. Bertambah suburlah pula mental bangsa Indonesia yang berorientasi pada nilai-nilai di atas, mental yang menerima nasib dan kelemahannya itu, yang menerima adanya “antara atas dan bawah”,sehingga semakin terjebak oleh determinasi pola berfikir tadi. Cita-cita Sosialisme Indonesia pun akhirnya belumlah kita sampai padanya. Dapatlah digambarkan cita-cita Sosialisme Indonesia itu, Sosialisme yang menghendaki kemerdekaan, persaudaraan dan persamaan diseluruh umat manusia, Sosialisme yang sesuai dengan Pancasila, yang merupakan nilai-nilai luhur asli Bangsa Indonesia bukan gambarannya Sosialisme yang selama ini disalahtafsirkan. Penyalahtafsiran tentang Sosialisme Indonesia itu yang juga membuat kita masih belum dapat lepas dari cengkeraman Kapitalisme.
Mari lanjutkan dan sempurnakan Bangsa ini ke arah Sosialisme Indonesia atau Sosialisme Religius itu, Sosialisme yang menghormati keberagaman termasuk keberagaman agama. Mari bersatu seluruh rakyat Indonesia, kuatkan kerukunan kita. Sosialisme Indonesia itu anti perpecahan, maka hadang semua usaha-usaha yang kian membahayakan Persatuan Nasional. Indonesia adalah satu, yakni persatuan dari sabang sampai merauke.
Bangkitkan Mental!
Bangkitkan Persatuan!
Bangkitkan Indonesia!
Wass Wr Wb..
Salam Sejahtera..
Herman Guritno
March 24th, 2008 at 8:07 pm
penggunaan kapitalisme sebagai sistem ekonomi indonesia tidak akan menolong negeri ini dari kemiskinan, sebaliknya sumber daya alam di indonesia akan semakin dikeruk untuk kepentingan pihak swasta, sementara rakyat hanya akan menerima melaratnya saja. walapun sekarang dikatakan indonesia menggunakan sistem ekonomi pancasila, namun itu tidak lebih dari sekedar simbol, karena pada prakteknya perekonomian indonesia di buka selebar-lebarnya untuk investor asing. sesuai dengan konsep dasar entrepreneur, mendapatkan untung sebesar-besarnya dari modal sekecil-kecilnya. tentu mereka tidak akan memperhitungkan bagaimana menderitanya rakyat dinegeri ini,
tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh para pengusaha merupakan alat untuk mempertegas posisinya sebagai pengeruk hasil bumi indonesia raya ini. memang kita tidak menginginkan kembali adanya komunisme di indonesia, tapi paham sosialisme jauh lebih cocok bagi rakyat indonesia.
April 21st, 2008 at 12:44 am
oh ya?……………………………yang ga paham emang banyak omong ini itu.
selagi kapitalis cuma nawarin kesenjangangan sosial ga usah heran tu ideologi bangkit lagi.
Anda2 pikir negara2 kapitalis sekarang ga gerah terus2an menuhin tuntutan para buruhnya.
tunggu saja ketika negara2 miskin kaya SDA tapi dipenuhi birokrat rakus n tolol kayak Indonesia ini, tiba2 nunjukin harga dirinya di hadapan negeri2 kaya itu
Apa Anda berharap bahwa kemajuan negeri ini bisa jadi karena birokratnya yang korup? atau kpengusahanya yang cuma bisa spekulan (ada ga di Indonesia kapitalis industrialis kayak Bill Gates?) ataw dari elit2 agama yang sekedar bicara atas nama Tuhan yang sibuk mengukur panjang rok wanita dari mata kaki.
entahlah! tapi jelas saya lebih percaya kepada rakyat….tunggu saja ketika sekali lagi mereka dibangkitkan
May 11th, 2008 at 7:10 pm
Merdeka!
Ass..
Untuk menyelesaikan masalah Bangsa tidak segampang membalikkan telapak tangan. Belum selesai masalah yang satu, masalah lain timbul. Kalau memperbaiki Bangsa ini, pilihlah, percayakanlah pada pemimpin yang konsisten sepanjang hidupnya memperjuangkan kepentingan rakyat. Ku tanyakan pada dirimu rekan-rekan, Apakah ada yang engkau lihat dari Pemimpin-pemimpin dan seluruh pejabat di Bumi pertiwi ini yang sekonsisten dengan para Fonding Fathers kita?Sewaktu Zaman Orba berdiri dengan sombongnya, kemana para otoritas negara saat ini pada waktu itu?Bukankah hanya sedikit yang konsisten dalam hidupnya bagi Bangsa ini? Dan sekarang Reformasi sudah dilahirkan, semua pejabat bersandiwara berteriak-teriak atas nama demokrasi. Apa berani para otoritas negara yang duduk sekarang ini pada waktu itu melawan Orba?
Tapi, dapatlah kita maklumi, kita mengakui bahwa perjuangan kita para pemuda belum konsisten pula dan gagal dalam mengawal bangsa ini pasca orde baru untuk terus berada pada lintasan yang seharusnya. Mudah-mudahan rekan-rekan setanah air memaklumi dan mengevaluasi itu, dan mari bersama-sama kita para Mahasiswa Indonesia dan seluruh elemen pemuda di negeri ini, membentuk sebuah ombak besar yang siap menerjang segala terjangan badai yang dapat mengancam kokohnya Bangsa ini. Janganlah ragu dan berselimutkan diri, gemparkanlah negeri ini dengan semangat perjuangan kita yang berpihak pada rakyat dan kejayaan negeri. Insya Allah, akan merasa bangga Ibu Pertiwi melihat perjuangan kita Pemuda.
Tajamkanlah perjuangan kita itu, dengan berdiri di atas sebuah pondasi perjuangan. Apakah pondasi itu? Pondasi itu antara lain Independensi Perjuangan, Integrasi Perjuangan, Radikalisasi Perjuangan Massa dan Konsistensi Perjuangan. Siramilah Ke Empat Pondasi Perjuangan Pemuda itu dengan semangat yang mengoncangkan dunia. Jikalau itu dihidupkan terus dan dijadikan sebuah sandaran Perjuangan kita, maka akan datanglah suatu saat nanti zaman baru, yaitu zaman kejayaan Bangsa kita selama-lamanya. Gemblengilah dirimu dengan semangat yang menggemparkan.
sekian
Wass..
Merdeka!
Jayalah Negeriku!
May 11th, 2008 at 7:13 pm
Herman Guritno
(GMNI YOGYAKARTA)