Waspada Sosialisme dan Komunisme?

April 23rd, 2007 | Politics

Beberapa waktu lalu saya ngeliat “canda-candaan” antara Papernas dan FPI di bilangan Sudirman. Sayangnya “canda-candaan” itu harus dibayar mahal mengingat ada korban cedera, bus kota diamuk dan dirusak, dan tentu saja bikin macet seputaran Sudirman yang memang sudah langganan macet.

Malam harinya, Papernas didatangkan untuk berdiskusi di sebuah televisi swasta. Mereka memang mengaku mengusung sosialisme — kendati mengedepankan demokrasi kerakyatan dan tetap mengakui Pancasila serta UUD 1945. Sementara yang duduk di seberang mempermasalahkan soal Papernas yang mengusung jargon, atribut, bendera yang identik dengan komunis. Sayangnya, dialog tersebut lebih mirip debat kusir tanpa ada solusi dan penyelesaian berarti.

Mengenai ketakutan terhadap paham komunis (PKI) yang mungkin tumbuh lagi, sebenarnya wajar adanya. Ideologi tersebut memang boleh dilarang melalui undang-undang demi melindungi kepentingan negara. Pelarangan itu sesuai dengan human rights. Orang-orang Jerman, misalnya, sampai kini pun sangat antipati terhadap Nazi. Atribut, jargon, dan simbol yang identik dengan Hitler dilarang keras di negeri itu.

Saya sendiri tidak terlalu mencemaskan akan “kelahiran” kembali komunisme di Indonesia. Faham kekirian terbukti sangat tidak populer di hati rakyat Indonesia. PKI memang pernah jadi salah satu partai dengan kader luar biasa, namun watak sewenang-wenang dan strategi yang penuh intimidasi membuatnya kontroversial. Apalagi PKI kemudian terpancing untuk melakukan gerakan yang pada akhirnya malah menghancurkan dirinya sendiri.

Terbukti bahwa komunis juga gagal total di Uni Soviet, Yugoslavia, dan negara-negara Eropa timur lainnya. China dan Vietnam memang masih mengaku komunis, namun disebabkan karena “alasan praktis” saja, mengingat merubah suatu paham di negeri tersebut sangat mahal ongkos politik dan ekonominya. Pada prakteknya, China malah membuka pintu lebar-lebar buat pemodal asing (baca: pro-kapitalis). Sosialisme, praktis tak lagi banyak dianut di bumi ini.

Berkaca dari China, sebaiknya kita memang tidak melihat dikotomis antara sosialisme dan kapitalisme. Sosialisme, kalau dilihat dari dalil Karl Marx, adalah usaha ilmiah untuk memproyeksikan perjalanan dan nasib modal. Marx menggunakan pendekatan deterministik yang kemudian jadi ciri khas sosialisme. Sayangnya, untuk bisa konsisten determinis dalam ilmu sosial, seseorang musti mengasumsikan bahwa masa depan berjalan linier.

Faktanya, di masyarakat ada sebagian orang yang lebih cerdas, lebih berbakat, lebih oportunis, yang ingin naik kelas sosialnya (upgrading). Inilah yang kemudian memunculkan kapitalisme: dorongan trial and error yang dilakukan di level individu yang meluas ke masyarakat. Desain asli kapitalisme memang ditujukan buat orang biasa yang ingin naik kelas, baik secara ekonomi maupun politik.

Kapitalisme memang tidak pernah muncul sebelum Marx menuliskannya. Orang yang dicap Marx sebagai kapitalis adalah mereka yang menganut prinsip-prinsip dasar kebebasan memiliki dan berusaha — sesuatu yang tidak dianggap oleh Marx. Marx sendiri menilai bahwa hak milik adalah sumber dari segala bencana kemanusiaan — sesuatu yang jelas tidak realistis. Kapitalisme bukan lahir dari kalangan yang menyebut mereka demikian, melainkan dari orang-orang yang berseberangan ideologi semata-mata untuk merujuk pada golongan yang tak sepaham.

Joseph Schumpeter bilang kapitalisme adalah semangat untuk mengalahkan kaum aristokrat. Hernando de Soto memandang kapitalisme sebagai pemberdayaan kaum marjinal. Max Weber mengaitkannya dengan spirit protestanisme (tidak harus protestan sih), yakni pembebasan manusia akan nasib dan kodratnya. Sementara Deng Xiao Ping bilang to be rich is glorius; kapitalisme adalah untuk meringankan beban negara.

Tentunya ada saja golongan yang melakukan resistensi karena tidak ingin tinggal kelas. Banyak penggagas gerakan antikapitalisme justru biasanya berasal dari golongan-golongan yang merasa terancam status kelasnya. Padahal sejarah mencatat bahwa ekonomi dunia dalam dua abad ini digerakkan oleh sistem kapitalis, baik murni atau campuran. Uni Soviet adalah contoh gamblang betapa pengambil keputusan melakukan tindakan yang justru menimbulkan disinsentif pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang demi kepentingan sesaat pribadi maupun golongan.

Sosialisme memang terkesan stagnan, karena pendekatannya cenderung sentralistik. Niatnya memang mulia, namun sangat rentan agency problem karena terdistorsi oleh kepentingan dan motif politis. Tapi bukan berarti sosialisme mati. Dalam beberapa kasus sosialisme malah lahir dari inisiatif individu, bukan karena sentralisme keputusan. Henry Ford, John Rockefeller, Bill Gates, Warren Buffett misalnya menyumbang jutaan dolar untuk kepentingan sosial. Aksi sosial tersebut bukan lahir dari paksaan, melainkan (meminjam konsep Maslow) untuk aktualisasi diri.

Kapitalisme dan sosialisme memang nggak bisa dilihat secara hitam-putih. Kapitalisme dibangun secara trial and error secara kontinu. Yang salah diperbaiki. Yang kurang coba ditingkatkan. Impetus bagi perbaikan ini justru banyak lahir dari kritik-kritik aliran sosialis. Tanpa tantangan ini, kapitalisme yang sebenarnya dinamis bisa musnah. Kapitalisme adalah kompetisi. Sejauh ada persaingan yang sehat dan dorongan untuk berubah, menurut saya, tidak ada yang salah dengan kapitalisme (dan sosialisme).

Yang saya sesalkan, mengapa musti ada kekerasan, perusakan, pakai bawa-bawa agama lagi.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. Hedi

    Aliran kiri memang sedang bangkit kembali, ga cuma di sini tapi di belahan dunia lain. Ini terjadi sejak AS punya mainan baru: Terorisme.

    Cuma, meski kapitalisme belum tentu baik dan benar, saya masih tetap memilih itu ketimbang sosialisme-komunisme.

  2. jon

    mantab tenan…once again…another smart article…

  3. timpakul

    kapitalisme akan mengarahkan pada melebarnya kesenjangan… kelompok kecil menguasai sebagian besar aset alam… yang miskin semakin miskin, alam semakin tergerus, satwa kebingungan mencari tempat berkehidupan… haruskah menghamba pada modal?

  4. Topan

    Dalam bahasa orang awam, ekonomi kapitalisme identik dengan “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Ada kompetisi, tapi kadang tiadk fair. Cocok untuk negara-negara yang rentang kesejahteraan orang2nya tiadk terlalu tinggi.

    Sementara itu dalam bahasa orang awam juga, ekonomi komunisme identik dengan “pinter goblok sama saja, rajin malas sama saja, serba sama rata”. Tdk ada kompetisi at all, namun membuat rasa nyaman untk orang2. Cocok untuk negara-negara dengan ekonomi rendah dan masih tahap surviving.

    Indonesia ? tidak pas dengan sistem kapitalisme total, krn masih ada kesenjangan sangat dalam (entah kenapa). Sementara itu sistem komunisme/sosialisme jg tidak cocok, krn kita tidak lagi dlm masa survival, tp harus mengejar banyak ketertinggalan dg negara lain.

    Ekonomi Pancasila mungkin yg pas, in between. CMIIW.

  5. -tikabanget-

    FPI ni narsisnya ngalah2in saya loh…
    ckck..

  6. -tikabanget-

    @ Topan :

    Sayah lebih suka kalo endonesa dipimpin diktator budiman.
    hehe..
    Biar ndak tambah marut ni negara..

  7. hendra

    ngaco nih orang..

  8. gogo

    @atasgw:
    yg ngaco sapa nih?

  9. mbah keman

    wah saya kesesta diblog yang benar…tak makan habis seluruh artikelnya….

  10. Budi

    Kelihatannya ada beberapa hal yang bermasalah. Sedikit tentang sejarah.

    Faham kekirian terbukti sangat tidak populer di hati rakyat Indonesia. PKI memang pernah jadi salah satu partai dengan kader luar biasa, namun watak sewenang-wenang dan strategi yang penuh intimidasi membuatnya kontroversial. Apalagi PKI kemudian terpancing untuk melakukan gerakan yang pada akhirnya malah menghancurkan dirinya sendiri.

    Mungkin maksudnya saat ini tidak populer, karena dulu, seperti halnya kalimat selanjutnya, partai ini pernah masuk empat besar dalam pemilu. Soal gerakan yang menghancurkan diri sendiri, apakah ini maksudnya G30S? Kalau ya, setahu saya masih menjadi kontroversi apakah sebetulnya PKI yang mendalangi gerakan ini.

    Lanjut ke sosialisme. Menurut Wikipedia, sosialisme adalah a broad array of doctrines or political movements that envisage a socio-economic system in which property and the distribution of wealth are subject to control by the community.

    Marx sendiri menilai bahwa hak milik adalah sumber dari segala bencana kemanusiaan

    Setahu saya, bukan hak milik itu sendiri yang menurut Marx menjadi sumber bencana. Tetapi mode produksi dalam mana si kapitalis mengekstrak dan mengakumulasi surplus value dari para pekerja-lah yang menjadi masalah. Bahasa sederhananya mungkin pekerja “diperah” oleh si kapitalis tanpa memperoleh bayaran atau dengan bayaran yang tidak setimpal.

    Banyak penggagas gerakan antikapitalisme justru biasanya berasal dari golongan-golongan yang merasa terancam status kelasnya.

    Pernyataan ini sulit diterima IMHO. Anggap saja bahwa status kelas berhubungan dengan kepemilikan (seperti yang lazim dijumpai dalam kapitalisme). Orang-orang yang terancam status kelasnya justru akan cenderung untuk mati-matian mempertahankan status kepemilikan agar tetap di tangan individu. Atau dengan kata lain, mereka cenderung untuk tetap mempertahankan kapitalisme.

    Marx menggunakan pendekatan deterministik yang kemudian jadi ciri khas sosialisme.

    Sosialisme, sependek yang saya tahu, ada yang Marxis ada yang non Marxis. Ada yang deterministik (seperti Marx, mungkin), ada juga yang non-deterministik. Tidak semua sosialis percaya pada urut-urutan kejadian seperti yang diramalkan Marx.

    Kapitalisme memang tidak pernah muncul sebelum Marx menuliskannya.

    Mungkin maksudnya istilah “kapitalisme”. Marx sendiri bereaksi terhadap perkembangan mode of production saat itu (yang diistilahkan sebagai “kapitalistik”).

    Tapi bukan berarti sosialisme mati. Dalam beberapa kasus sosialisme malah lahir dari inisiatif individu, bukan karena sentralisme keputusan. Henry Ford, John Rockefeller, Bill Gates, Warren Buffett misalnya menyumbang jutaan dolar untuk kepentingan sosial.

    Menyumbang untuk kepentingan sosial IMHO bukanlah inisiatif yang melahirkan sosialisme, karena kontrol kepemilikan dan keputusan untuk menyumbang (redistribution of wealth) tetap tidak berada di tangan community. Selain itu, kalau berbicara tentang insentif, insentif bagi mereka untuk berinisiatif melahirkan sosialisme adalah sangat kecil, karena mereka sangat diuntungkan oleh kapitalisme yang berjaya sekarang ini.

    Sosialisme memang tidak mati. Di Eropa, pemikiran ini masih cukup laku dijual. Buktinya, Segolene Royal dari Partai Sosialis masih mendapatkan suara cukup banyak dalam pemilu Prancis yang baru lalu.

  11. Agam

    Iya, ribut2 mulu. Bentrokan, demo, dll.
    Damai dikit napa. Pake cara lain, nego, sosialisasi, dll. :)

  12. anhminh

    Dear Sir !
    I want to know about ; Ricmark international ltd.Address : akara building,24 de castro street,Wickhams cay 1,Road town,tortola,british virgin island.
    Could you help me?Please.
    Could you tell me that?
    Thank you so much.
    BestRegard.

  13. putri kusnandar

    capee degh!!!

    lho, gimana engga makin kaya yg kaya? lha wong buat bikin duit, yoo pake duit. bener?

    sudah sudah, marilah masing2 menjadi malaikat untuk masing2. daripada sibuk pengen jadi pahlawan… tho pada dasarnya sedikit susu dalam nila sebelanga bisa membawa dampak baik pada pencerahan batin… bukankah cahaya ILAHI datang untuk semuanya. kalu ndak liat??? yee, buta apa ya mata lo???

    halakh halakh halakh… makin ngaco ini komentar saia… maabh…

  14. alley

    aduh maaf saya telat mengirimkan komentar, udah basi kali ya.. tapi ndak pa-pa skalian menambah khazanah pengetahuan saya (InsyaAllah)..
    Saya setuju dengan mas tentang bahwa tak ada yang perlu ditakuti lagi tentang ideology, yang ditakutkan adalah orang yang memiliki paham ideology. Terkadang sesuatu yang kita pahami tertelan mentah-mentah, tidak berusaha untuk mentelaah lebih dalam lagi. Ini salah kaprah.. Sosialisme, kapitalisme, dan komunisme sekrang ini menjadi pengontrol lajur komunikasi, pembangunan, tekhnologi, humanisme di segala penjuru dunia. Tidak bisa di pungkiri bahwa ini memang ada. Tetapi sekali lagi, mungkin tidak harus di branguskan tetapi dipelajari lebih dalam.
    FPI dengan kawan-kawan Papernas, kesannya terlalu dini untuk memberangus ideology, belum ada pengadilan kok sudah di adili. Ini jelas melanggar hukum, hukum negara, juga hukum agama. Kok FPI main hantam kromo, dimana letak keislaman itu?
    Mungkin itu saja mas..
    Terimakasih tulisannya mas..

    Wassalam,
    aLLey

  15. sandz

    ga usa mikirin yg penting mikirin diri kita dolo
    klo udah bisa mikirin diri kita baru mikirin orang

  16. Sigmund

    Ideologi Komunisme atau Sosialisme ada sisi bagus dan jelek nya…so ini semua tergantung pada waktu/masa penerapan nya….bagaimana kondisi negara saat itu, kondisi dunia, dsb-nya.
    Negara yang miskin sebaiknya menjalankan ideologi komunisme, dengan catatan pemimpin2 si negara komunis ini adalah orang yang benar berpikir demi kepentingan rakyat. Sosialisme …. lebih cocok dgn negara yang maju….atau tingkat pendidikan penduduknya jauh lbh bagus. This just my personal opinion.

    Rgds,
    Sigmund

  17. Mr. Master

    yang jelas setau aku komunis lebih mementingkan kehidupan para petinggi2 nya aja… jadi, mulai hari ini dan seterusnya galakkan program GANYANG KOMUNIS!!!

  18. Herman Guritno (Aktivis DPC GmnI Yogyakarta)

    Jayalah Indonesia!
    Salam Sejahtera..
    Ass Wr Wb..
    Perlu diperjelas bahwa kita jangan sampai salah tafsir, bahwa ada perbedaan yang jelas antara Sosialisme Indonesia dan Komunisme kalau memang yang dimaksudkan di atas adalah sosialisme Indonesia. Bahkan antara Marxisme dan Komunisme pun berbeda. Ideologi Komunisme menggunakan ideology Marxisme-Leninisme, sehingga Marxisme itu adalah salah satu dari komponen ideology komunisme. Sosialisme Indonesia pun jelas berbeda dengan Komunisme. Sosialisme Indonesia itu sendiri menjunjung tinggi pluralisme demokratis dan komunisme tidak. Saya pun sepakat bahwa larangan Komunisme berdiri di Indonesia tidak perlu ditarik kembali. Hanya saja jangan kemudian Mengidentikkan apapun yang berhubungan dengan sosialisme itu apalagi sosialisme Indonesia sama dengan komunisme. Mari saya jelaskan sedikit tentang Sosialisme Indonesia itu. Saya menyadari justru cita-cita tentang Sosialisme Indonesia justru sebenarnya hidup dan benar-benar mengakar di jiwanya Indonesia. Perkataan Tata-tentrem, Kerta Rahardja gemah Ripah Loh jinawi yang menjadi simbol dari Bangsa Indonesia pun menjadi bukti bahwa Sosialisme Indonesia memanglah tujuan daripada Bangsa Indonesia. Bukan Kapitalisme, juga bukan Feodalisme yakni Sosialisme indonesia, lebih tepatnya Sosialisme ala Indonesia.
    Yang mengherankan tentu mengapa setiap kali kita mendengar kata tentang Sosialisme Indonesia, terbenak tafsiran yang mungkin saja berlainan maksud dengan pengertian Sosialisme ala Indonesia itu dan bahkan disengaja disalahtafsirkan oleh oknum-oknum yang memang gandrung akan kebencian dan perpecahan. Apa namanya kalau bukan seorang pemecah belah jikalau ia sengaja menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia itu tanpa melihat bahwa Sosialisme Indonesia dengan nurani terbuka, yang karena tujuan-tujuan tertentu menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia yang dulu digelorakan di mukanya Indonesia oleh Presiden Pertama RI, Ir Soekarno dan sebagian Tokoh-Tokoh Bangsa Indonesia di masa yang lampau.
    Sosialisme Indonesia atau sering disebut juga Sosialisme Religius menurut E. Ultrech S.H. adalah Sosialisme yang di Indonesiakan atau Indonesia yang disosialiskan. Ya, Sosialisme ala Indonesia itu muncul di dalamnya jiwa seluruh rakyat Indonesia, tumbuh subur didalam kebudayaan, adat-istiadat Indonesia semenjak dahulu kala, meskipun Sosialisme itu tidak seratus persen diterapkan oleh perilaku bangsa Indonesia. Disebut sebagai Sosialisme Religius itu pun merupakan cerminan dari masyarakat Indonesia yang religius. Jadi salah besar bila Sosialisme Indonesia digambarkan sama dengan Sosialisme di negara-negara lain yakni Sosialisme yang menolak Pluralisme Demokratis. Justru sebaliknya, Sosialisme Indonesia adalah sangat menjunjung Pluralisme Demokratis itu, yakni menjunjung tinggi keberagaman yang ada di bumi Indonesia. Apa sebabnya Sosialisme itu sampai sekarang tidak bisa benar-benar diterapkan seratus persen, meskipun sudah tertanam dalam di sanubari orang per orang rakyat Indonesia. Dahulu kala saat Indonesia belum dikungkung yang namanya sistem kolonialisme dan imperialisme, Indonesia terjebak di dalam sistem Feodalisme. Feodalisme itu lahir karena mental, mental yang terbangun karena adanya pola berfikir yang salah, pola berfikir yang minimnya pengetahuan, pola berfikir yang masih pada berorientasi pada ilusi-ilusi dan ketakutan akan sesuatu dan pola berfikir yang tidak berorientasi pada kesadaran akan persamaan derajat seluruh umat manusia di Indonesia dan di dunia.
    Feodalisme yang kemudian melahirkan sistem Kapitalisme karena adanya proses dialektika makin menambah rintangan menuju cita-cita Sosialisme Indonesia seratus persen, yakni Sosialisme Indonesia yang sejati yang tentu bertambah pula penderitaan rakyat Indonesia. Bertambah suburlah pula mental bangsa Indonesia yang berorientasi pada nilai-nilai di atas, mental yang menerima nasib dan kelemahannya itu, yang menerima adanya “antara atas dan bawah”,sehingga semakin terjebak oleh determinasi pola berfikir tadi. Cita-cita Sosialisme Indonesia pun akhirnya belumlah kita sampai padanya. Dapatlah digambarkan cita-cita Sosialisme Indonesia itu, Sosialisme yang menghendaki kemerdekaan, persaudaraan dan persamaan diseluruh umat manusia, Sosialisme yang sesuai dengan Pancasila, yang merupakan nilai-nilai luhur asli Bangsa Indonesia bukan gambarannya Sosialisme yang selama ini disalahtafsirkan. Penyalahtafsiran tentang Sosialisme Indonesia itu yang juga membuat kita masih belum dapat lepas dari cengkeraman Kapitalisme.
    Mari lanjutkan dan sempurnakan Bangsa ini ke arah Sosialisme Indonesia atau Sosialisme Religius itu, Sosialisme yang menghormati keberagaman termasuk keberagaman agama. Mari bersatu seluruh rakyat Indonesia, kuatkan kerukunan kita. Sosialisme Indonesia itu anti perpecahan, maka hadang semua usaha-usaha yang kian membahayakan Persatuan Nasional. Indonesia adalah satu, yakni persatuan dari sabang sampai merauke.
    Bangkitkan Mental!
    Bangkitkan Persatuan!
    Bangkitkan Indonesia!
    Wass Wr Wb..
    Salam Sejahtera..

    Herman Guritno

  19. aldhy

    penggunaan kapitalisme sebagai sistem ekonomi indonesia tidak akan menolong negeri ini dari kemiskinan, sebaliknya sumber daya alam di indonesia akan semakin dikeruk untuk kepentingan pihak swasta, sementara rakyat hanya akan menerima melaratnya saja. walapun sekarang dikatakan indonesia menggunakan sistem ekonomi pancasila, namun itu tidak lebih dari sekedar simbol, karena pada prakteknya perekonomian indonesia di buka selebar-lebarnya untuk investor asing. sesuai dengan konsep dasar entrepreneur, mendapatkan untung sebesar-besarnya dari modal sekecil-kecilnya. tentu mereka tidak akan memperhitungkan bagaimana menderitanya rakyat dinegeri ini,
    tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh para pengusaha merupakan alat untuk mempertegas posisinya sebagai pengeruk hasil bumi indonesia raya ini. memang kita tidak menginginkan kembali adanya komunisme di indonesia, tapi paham sosialisme jauh lebih cocok bagi rakyat indonesia.

  20. Anton Tansil

    oh ya?……………………………yang ga paham emang banyak omong ini itu.

    selagi kapitalis cuma nawarin kesenjangangan sosial ga usah heran tu ideologi bangkit lagi.

    Anda2 pikir negara2 kapitalis sekarang ga gerah terus2an menuhin tuntutan para buruhnya.

    tunggu saja ketika negara2 miskin kaya SDA tapi dipenuhi birokrat rakus n tolol kayak Indonesia ini, tiba2 nunjukin harga dirinya di hadapan negeri2 kaya itu

    Apa Anda berharap bahwa kemajuan negeri ini bisa jadi karena birokratnya yang korup? atau kpengusahanya yang cuma bisa spekulan (ada ga di Indonesia kapitalis industrialis kayak Bill Gates?) ataw dari elit2 agama yang sekedar bicara atas nama Tuhan yang sibuk mengukur panjang rok wanita dari mata kaki.

    entahlah! tapi jelas saya lebih percaya kepada rakyat….tunggu saja ketika sekali lagi mereka dibangkitkan

  21. Herman

    Merdeka!

    Ass..
    Untuk menyelesaikan masalah Bangsa tidak segampang membalikkan telapak tangan. Belum selesai masalah yang satu, masalah lain timbul. Kalau memperbaiki Bangsa ini, pilihlah, percayakanlah pada pemimpin yang konsisten sepanjang hidupnya memperjuangkan kepentingan rakyat. Ku tanyakan pada dirimu rekan-rekan, Apakah ada yang engkau lihat dari Pemimpin-pemimpin dan seluruh pejabat di Bumi pertiwi ini yang sekonsisten dengan para Fonding Fathers kita?Sewaktu Zaman Orba berdiri dengan sombongnya, kemana para otoritas negara saat ini pada waktu itu?Bukankah hanya sedikit yang konsisten dalam hidupnya bagi Bangsa ini? Dan sekarang Reformasi sudah dilahirkan, semua pejabat bersandiwara berteriak-teriak atas nama demokrasi. Apa berani para otoritas negara yang duduk sekarang ini pada waktu itu melawan Orba?

    Tapi, dapatlah kita maklumi, kita mengakui bahwa perjuangan kita para pemuda belum konsisten pula dan gagal dalam mengawal bangsa ini pasca orde baru untuk terus berada pada lintasan yang seharusnya. Mudah-mudahan rekan-rekan setanah air memaklumi dan mengevaluasi itu, dan mari bersama-sama kita para Mahasiswa Indonesia dan seluruh elemen pemuda di negeri ini, membentuk sebuah ombak besar yang siap menerjang segala terjangan badai yang dapat mengancam kokohnya Bangsa ini. Janganlah ragu dan berselimutkan diri, gemparkanlah negeri ini dengan semangat perjuangan kita yang berpihak pada rakyat dan kejayaan negeri. Insya Allah, akan merasa bangga Ibu Pertiwi melihat perjuangan kita Pemuda.

    Tajamkanlah perjuangan kita itu, dengan berdiri di atas sebuah pondasi perjuangan. Apakah pondasi itu? Pondasi itu antara lain Independensi Perjuangan, Integrasi Perjuangan, Radikalisasi Perjuangan Massa dan Konsistensi Perjuangan. Siramilah Ke Empat Pondasi Perjuangan Pemuda itu dengan semangat yang mengoncangkan dunia. Jikalau itu dihidupkan terus dan dijadikan sebuah sandaran Perjuangan kita, maka akan datanglah suatu saat nanti zaman baru, yaitu zaman kejayaan Bangsa kita selama-lamanya. Gemblengilah dirimu dengan semangat yang menggemparkan.

    sekian

    Wass..

    Merdeka!
    Jayalah Negeriku!

  22. Herman

    Herman Guritno
    (GMNI YOGYAKARTA)

  23. Malaka

    waduh.. aku salah masuk…

  24. Malaka

    waduh… aku salah masuk… di sini tempatnya orang2 in-TELEK-tual…

  25. arafah

    Wah..wah…
    dunia ini bisa ancur berantakan kalo ada ideologi kapitalisme dan sosialisme-komunisme…
    mau dibawa kemana dunia ini ????
    Cape DEh..
    hare gene jangan bingung mw milih kapitalisme ato sosialisme-komunisme…
    Yang jelas kedua ideologi itu udah rusak abizzzzzzzz..
    gak bisa membangkitkan manusia dengan kebangkitan yang dapat memuaskan akal dan menemtramkan manusia…
    So… ISLAM ADALAH PILIHAN SATU-SATUNYA.
    Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah saja tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan.Islam juga sebagai ideologi tidak hanya sekedar agama. ideologi ini berasal dari Sang Maha Pencipta lagi Maha Pengatur yang diberikan kepada Rasulullah SAW melalui wahyu.
    DIA-lah ALLAH SWT, yang Maha Mengetahui keadaan makhluk2 ciptaan-NYA.
    -Saatnya KHILAFAH memimpin dunia-
    ALLAHU AKBAR!!!

  26. Himmler

    Indonesia patut mencoba paham Fasisme, yg lain adalah omong kosong.

  27. kartosuwiryo aidit ginanjar

    saya sangat tidak stuju jika komunisme dilarang….
    didunia ini baru ada 2 zaman komunisme yaitu aman purba n ketuka komunitas komunis francis pada abad 18 sebelum marx lahir dan itu pun belum berupa negara karena komunime itu tidak ingin adanya negara. bohong jika negara komunisme seperti china cuba sovyet mereke baru pada tatanan feodal dan sosialis…makanya hancur karena salah tafsir tentang komunis itu sendirimengatasnamakan komunis karena komnunis tidak imenghendaki adanya negara. jadi jangan sik tehu jika belum tahu komunisme itu apa…
    kominisme sangat sulit muncul selama ego manusia tentang kekuasaaan atau kekayaan masih ada, karena komunis itu sama rata sama rata ja di kehidupan masyarakat tidak ada penindasasn dari siapapun. dan hal itu harus ditunjang dengan pemahaman agama yang kuat… kata siapa komunis itu atheis,,,itukan hanya kebetulan marx dan pendiri komunis lain yang ateis..
    komunis sangat anti dengan nama kapitalis karena kapitalis memang biadab untuk memperbudak manusia….
    satu lagi G30S PKI itu tidak pernah terbukti secara valid dan meyakinkan karena masuh adanya kontroversi…itukan akal bulus eyang soeharto yang membinasakan PKI lagian pendiri bangasa ini kebanyakan adalah anggota PKI subandriyo dan para golongan muda adalah PKI semua.

  28. Unit Kajian Islami FH unsoed

    saya berdoa pada allah SWT supaya semua orang didunia ini tahu dengan benar komunis itu seperti apa..
    karena marx sendiru tidak tahu secara pasti apa itu komunis dan bahkan dia tidak sering menyebut komunis yang dia selalu dengungkan adalah lawan kapitalisme karena adanya pertentangan kelas.

  29. Unit Kajian Islami FH unsoed

    komunis terjadi pada masa madaniyah dimana komunitas islam pada saat itu tidak ada perbudakan dan penindasan…maka jangan identifikasikan komunis ateis yaaaaaa wasalam

    inggit albukhari ibnu sihab

  30. ikatan remaja Masjid SMA N 7 Tasikmalaya

    betul bahwa komunis bukan ateis..Allah SWT tidak membedakan manusia berdasarkan komunis pancasilais kapitalis atau fasis…yang penting dia islam secara kaffah dan beriman dengan sebenar-benarnya iman. walaupun mungkin banyak orang bilang komunis itu matrelais tapi kita jangan menjudge bahwa mereka ateis atau tidak briman….istighfar belum tentu kita yang benar..low salah pendapat itu fitnah yang notabene lebuh kejam dari pembumuhan

    Abdul Gani,,,,

  31. Dean Farhan

    Wah…. orang ini pasti anteknya mbah soeharto, dan salah baca buku juga tentunya termasuk nenek-moyangnya tidak jelas, jadi tidak mengerti benar paham komunisme dan sosialisme dan perkembangannya di Latin-America, Vietnam, Burma dan China. Sayang sekali…orang-orang yang mengkalim diri intelektual, pengetahuannya dangkal sekali. Atau orang ini, intelnya America dan antek-anteknya… sehingga begitu getol menjunjung negara-negara kapitalis yang sudah mengeruk habis semua kekayaan negeri kita dan membuat perang dimana-mana.

    Atas nama kapitalisme dan privatisasi sebenarnya telah mengurangi peran pemerintah dalam memanage SDM untuk kepentingan rakyat, jadi kapitalisme hanya menghimpun kekayaan untuk kelompok dan orang perorangan tertentu saja. Please tenggok momok kapitalisme di mana-mana. Sehingga dalam menulis tidak seperti duduk di atas menara gading. Sayang ia…negeri ini memiliki anak bangsa yang sok intelektual tapi menyesatkan.

    Berhati-hatilah pada orang seperti ini….!! dan yakinilah kapitalisme tinggal menunggu kehancurannya….rakyatlah yang akan berkuasa.

    Dean Farhan.

  32. karlmoel

    komunisme, sosialisme, islamisme, kristianisme, protestanisme, n isme-isme lain, sangat berbeda dengan komunis, sosial, islam, kristen, protestan etc. isme-isme adalah paham. sementara sosial, kapital, etc merupakan wadah atau bidang, atau tempat hidup manusia.
    bagiku, ada pertanyaan dasar untuk membangun bangsa ini, yaitu di mana kita menempatkan manusia dalam pembangunan? sebagai aktor atau sutradara? sebagai subjek atau objek? adalah kanon pembangunan negara membuat bangsa sejahtera. bila para pemimpin dan wakil rakyat tidak membuat rakyat sejahtera lahir batin, rakyat berhak mengganti mereka.
    sehingga, bila polisi, tni, polisi pamong praja tidak melindungi rakyat berarti mereka tidak punya sopan santun. karena melawan BOS-nya sendiri. maka, rakyat wajib tidak membayar upeti: pajak, dll.
    mari kita buat jelas pola pikir, mental, dan perilaku demi kemajuan bangsa Indonesia.

  33. rexa

    mas,,,
    nulis artikel gmpang yahh….
    mas tu korban sejarah yang diselewengkan…
    yang terlibat dalam G 30 S tu bkn PKI….
    mas tau pada masa tsb PKI mempunyai 1,5juta lbh kader di indonesia???
    bayangin,qlo pelakunya pki,pasti indonesia dah ancur mas….
    PKI cuma korban propaganda jendral AD,…
    lucu nya lg,..Skg pki di larang,…
    tau ga gmn cara pemerintah pada saat itu membantai habis anggota pki dan kader2 nya??
    gila,katanya pancasila,,. tau2 sadis juga…
    di jateng ada 60000 orang yang di bantai
    jatim 50000 orang,di bali 40000 orang,,
    dan msh banyak di daerah lainnya….
    coba deh pikir,..
    misalnya bapak mas tu pembunuh,..
    mas mau gag ikut di hukum krena kjhatan bapa mas???
    egk kn??
    qlo ada hal yang mau di tanyain ttg peristiwa G 30 S,..
    kirim ke rexa_flameboy@yahoo.com
    pst gue jelasin apa yang terjadi tgl 30 sep 65 tu…
    ok???

  34. rexa

    1 lge niyy…..

    qlo tmen2 punya orgnisasi mahasiswa sosialis,,..
    ksi info yah,…
    ke email gue zaa
    hidup kebebasan!!!!!!
    maju sosialis!!!!!!!!!

  35. adhi

    memang seharusnya yang minoritas tidak memonopoli yang mayoritas, tapi kehadiran dua bagian ini juga disebabkan karena “modal” yang dimiliki tiap individu sedari lahir adalah berbeda, contoh simplenya anak orang kaya sudah pasti terjamin pendidikannya dan paling nggak berarti masa depan yang lebih baik namun bagi anak orang miskin kesempatan mendapatkan pendidikan itu tidak sama, malah jauh berbeda. ini kan nyata-nyata nggak adil. kita mau ngomongin komunisme dan sosialisme tapi tanpa pendidikan yang benar dan mendasar, apa jelas arah dan tujuannya?

  36. roach

    sebetulnya ini bukan tentang kapitalisme apa komunisme apa sosialisme. (heran msh ada yg menyamaratakan komunisme dan sosialisme).
    tp lebih pada prinsip keadilan.
    hrs diakui indonesia sudah dicuci-otak habis2an oleh orde baru dan amerika.
    sampai2 memandang paham yg cenderung “kekiri2an” bagaikan setan.
    padahal setan yg sesungguhnya adalah kapitalisme yg jelas2 sumber dr segala kehancuran indonesia selama ini.

    kemajuan ekonomi indonesia pas zaman orba itu hanya fisik semata.
    orang ngutang dimana2 kok dibilang sejahtera?
    setuju bgt dgn posting tentang sosialisme ala indonesia.
    karena kalo mau dilihat baik2, pancasila dan UUD 45 itu semangatnya ya sosialisme!

    keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat indonesia.
    dan utk kaum muslim jg jgn mau terpancing utk mempertentangkan Islam dan sosialisme.
    Islam adalah agama yg jelas2 jg mengusung semangat sosialime.
    keadilan bagi seluruh umat.
    org indonesia bisa jd sosialis tanpa jd ateis.

    semua Founding Fathers Indonesia itu Sosialis! selalu memperjuangkan nasib rakyat Indonesia, walau nyawa taruhannya!
    jd jgn mempersempit paham kiri, kanan, ato tengah.
    yg paling penting lawan semua bentuk ketidak-adilan!
    jgn mau diadu-domba.
    Paham Keadilan itu yg paling penting!

    Peace for Indonesia..Wassalam

  37. wong nasionalis

    gua heran dengan orang yang bingung denga ideologi bahkan meniru ideologi orang gila kaya karl mark, mau nyamar jadi sosialis atau apa aja namanya yang jelas ajaran mark ini telah banyak nerkembang dan di latarbelakangi oleh teori evolusi darwin hingga muncul istilah re-evolusi yang ateis dari karl mark, dan sejarah dunia mencatat tidak ada ceritanya komunis tidak menimbulkan pertumpahan darah… aktifisnya juga begitu.. kalo ga ada kekuatan mereka memancing pertumpahan darah kalo udah kuat membuat pertumpahan darah.. dasar komunis laknat..

  38. wong nasionalis

    Kenapa Kita Menolak Komunisme?

    Dengan mudah, lancar dan aman, kita jawab kini tanya itu. Tapi, menjelang 1965, hampir tiap pejabat, birokrat, politikus, wartawan, bahkan cendekiawan sebisa mungkin menolak. Mereka gagap dan was-was. Khususnya di depan lebih tiga orang.

    Kenapa? Karena komunisme kuat menghipnose sikap dan pikiran massa. Di baris depan, komunisme bergerak menotalirkan orang-seorang. Merubuhkan kapasitas orang untuk patuh dan takluk. Dan membikin orang mencemooh suara yang menyangkal. Mereka dicetak bagai mesin fotokopi: yang langsung merekam “titah” ke kepala. Dan kepala itu 90 prosen kopong.

    Bila Partai Komunis Indonesia mengganyang “Kontrarevolusi”, kepala itu bilang “ganyang!” Ketika PKI menyikat Malaysia, kepala itu bilang “sikat!” Ketika PKI meneriakkan “Hidup Lekra”, kepala itu berseru “hidup!” Kepala itu berisi pikiran yang cuma siap nyala, untuk tugas dan kewajiban tanpa banyak bertanya. Tidak tahu kepala sama berbulu, warna rambut bisa merah, putih, atawa plontos.

    Salah satu kemampuan komunisme memang ada dalam kapasitas menyihir sikap dan pikiran orang, yang dikadernya, terkongkong dalam kategori “lawan vs kawan.” Logika nalar yang berada di dua titik ekstrim.

    Kepala yang kemudian tak membaca laporan International Herald Time , Juni 1988, menilai rontoknya komunisme karena tua dan sempi dada. Terengah-engah mengejar perkembangan melalui sejumlah pembenaran, hingga pada tahun 80-an Vietnam kelaparan dan buruh Polandia menolak kekuasaan Kelas Buruh.

    Tak utuh memahami Cina mengecam kapitalisme, dan mementingkan kesetiakawanan “makan bersama dari kuali yang sama.” Mengenyampingkan pembuktian ekonom Xiang Qiyuan, dari Universitas Furen pada 1982, bahwa eksperimen sama-rasa-sama-rata bikin tenaga produktif jadi melempem. Dan Deng Xiao Ping akhirnya memilih memakmurkan Cina hanya untuk segelintir orang, sebagian besar lagi tertinggal.”

    Dan tak membayangkan pada akhir 80-an, Partai Komunis Cekoslowakia rontok secara ajaib. Setelah 41 tahun berkuasa, dalam jangka sebulan ambruk. Rakyat Cekoslowakia merubuhkan pemerintahan Presiden Husak, memilih Vaclav Havel main sepeda-sepedaan di lorong gedung kepresidenan. Mengangkat seorang sastrawan yang berkata, di negeri di mana kata-kata yang ditulis jujur bisa membuat orang mampir di penjara. Kata-kata justru membuat pemerintah gentar dan rakyat mau dengar. Di mana di negeri orang bebas berkata dan mengkritik, kata-kata boro-boro diperhatikan, apalai menularkan cemas.

    Para Marxis, sejak awal, menolak pikiran “revisionis”: gagasan yang hendak bersikap kritis terhadap pokok-pokok ajaran Marx. Mencetak kepala bernalar hitam putih yang anti pada pikiran yang mau menghujat.

    Mereka menolak surat seorang Eduard Bernstein, pada 1898 –kepada konggres Sosial Demokrasi Jerman–, yang menegaskan : yang salah tetap salah walau bentrok dengan keyakinan Marx dan Enggels di suatu masa, dan yang benar tetap benar walau keluar dari mulut antisosialis.

    Bernstein menulis surat itu setelah melakoni jalan sosialis yang panjang. Setelah, sebagai kader Partai Sosialis Demokrat, menolak sikap keras Kanselir Otto von Bismarck pada kaum sosialis di Berlin. Lalu lari ke Zurich, Swiss, dan meminta memimpin berkala Der Sozialdemokrat– pegangan partai sosialis bawah tanah saat itu. Lalu lari ke London, bertemu Bapak Kedua Kaum Komunis, Frierdrich Engels, dan terperangah. Nujuman kapitalisme runtuh seusai krisis ekonomi Eropa (1873-1890), ternyata tak kesampaian. Sampai akhir 1890-a, kapitalisme tetap bertahan dan hidup buruh malah membaik.

    Surat Bernstein memang ancaman. Ia menyangsikan doktrin pikiran Bapak Pertama Kaum Komunis, Karl Marx –yang wafat Maret 1883 di Highgate, London, dengan meyakini akan terjadinya “periode paling revolusioner” kelak.

    Keyakinan yang oleh Lenin, di Rusia, dipegang erat, dalam konsep dan gerak. “Marxisme mengonsep dunia secara monolitik,” ujar Lenin. Keyakinan yang membuat kata-kata sajak pun, seperti dikatakan Mao Ze Dong di Cina kemudian harus “berguna untuk sebuah kepentingan politik” – ketika menjawab keresahan penulis Cina tahun 1942. Tulisan Marxis, menurut Roland Barthes, tiap katanya menyempit ke arah seperangkat keras.

    Seperangkat asa itu, oleh para pemimpn komunis, digerakkan ke segala penjuru : dari penjuru, cangkul hingga dengkul. Di sebuah tatanan, ia mengipas dari belakang, dan didepan menunjuk paling panjang, menuduh paling tajam. Hasilnya: suasana mencengkram orang untuk patuh, dengan setengah takut kena dakwa, meyakin-yakinkan diri bukan plin-plan. Suasana tatanan novel 1984, George Orwell, yang continuous frenzy, galau tak henti-henti: digerus ilusi musuh di luar, pengkhianat di dalam, dan sesuatu yang harus “diganyang”. Mewaspadai yang “plintat-plintut”, “munafik”, dan “gadungan”, dalam “siskamling” 24 jam terus-menerus.

    “Kamus politik ” Marxis mengutuk pikiran “revisionis”, dengan lantang dan mengemplang. Bila perlu jadi alat bersaing, siapa yang paling muni, antar kolega sendiri. Sampai seorang Mao di Cina mencaci murtad seorang Krushchev di Uni Soviet : “revisionis”.

    Sebenarnya, adalah wajar bila suatu ajaran ideologis memunculkan “revisionis”. Karena biarpun kepala sama berbulu, orang punya latar “ruang dan waktu” berlainan-lainan. Tetapi, ajaran Marxisme sudah bagai agama : setelah menganggap ilmiah, perapalnya merasa kebenaran sudah di tangan. Selebihnya, tinggal soal bertindak.

    Para kepala “foto kopi” pun bergerak, merombak. Risih duduk berjuntai di kusi seminar dan diskusi, melainkan seakan angin ribut, mereka harus bergegas. Segala omong ditutup, mulut ribut dipasung. Kesabaran sangat tipis di sini.

    Dari mana asalnya? Mungkin berawal dari Karl Marx sendiri.

    Karl kecil, menurut seorang penulis, ialah tiran bagi kakak dan adik perempuannya. Anak yang biasa dilecehkan ibunya. Teman yang dicintai sekaligus ditakuti. Meski murid berangka “rata-rata” kelas, ia pintar bersajak yang pedas mencemooh lawan-lawannya. Kepandaian yang tak lekang dimakan waktu sampai ia mati.

    Penulis Soviet, Annekov, bertemu Marx di Belgia tahun 1846. Marx dalam umur 28, tulisnya, merupa sosok berambut panjang, tebal dan hitam, serta punya jenis suara berdering mirip logam. Nadanya, nada orang yang yakin “untuk bertahta di atas pikiran manusia dan selalu siap untuk mendiktekan hukum-hukum….” Siratan sosok kukuh, energik, penuh mau, dan biasa bicara dalam tanda seru.

    Ada yang menilai, Marx terbawa dongeng Promotheus yang membangkang surga para dewa. Ada yang menganggap cucu Yahudi –yang membeci Yahudi ini, mewarisi sikap garang Nabi Yeremiah dalam Taurat. Tetapi apapun informasinya, Marx yang biasa semrawut+lapar+sakit, punya kesukaan tertentu. Suatu hari seseorang bertanya tentang kebahagiaan yang ia sukai. “Berkelahi, “jawabnya enteng.

    Dan kita tahu, Lenin menirunya di Rusia, dan Mao melanjutkannya di Cina. Plus para pengikut menganutinya dengan karakter sikap hitam-putih, tak sabar, dan mekanisme pikiran berpola “kawan vs lawan”, “revolusi vs ……”

  39. roy

    SOSIALISME KEPPARAAAATTTT…..
    KAPITALISME BANGSAAATTTT….

  40. residensil dipa nusantara

    kalo menurut saya gampang aja.
    jgn asal bicara. jgn asal ngomong sebelum tau landasan berpikir dan latar belakang sebuah idiologi.
    arti harfiah dari sosialisme adalah mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat..
    sayangnya idiologi murni sosialisme dirombak dalam beberapa versi menjadi komunis ala lenin dsb di berbagai negara.
    intinya konsep negara sosialis adalah menjunjung tinggi nilai keadilan seadil-adilnya dan kesejahteraan.
    komunis itu sendiri adalah anak cabang dari sosialis yg tentunya berbeda dari tataran filsafat atau pun idiologi itu sendiri, komunisme hanyalah salah satu praktek dari sosialisme itu sendiri..
    saya minta jangan terhadap kata sosialis . karena INDONESIA pun Sosialis namun tentunya sosialis ala indonesia, bukan ala lenin, mao atu pun lainnya
    Bung Karno memeras Pancasila menjadi Trisila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Sosio-nasionalisme dan Sosio-demokrasi.. Kebangsaan disatukan dengan Peri-kemanusiaan menjadi Sosio-nasionalisme, dan Kedaulatan Rakyat disatukan dengan Keadilan Sosial menjadi Sosio-demokrasi. Trisila bisa diperas menjadi Ekasila, eka artinya satu, Ekasila artinya Gotong Royong. Kemudian, Bung Karno berkata: Nah, Saudara-saudara, belakangan, belakangan aku juga berkata bahwa Pancasila ini bisa juga diperas lagi secara lain, bukan secara Ketuhanan Yang Maha Esa, Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi, tetapi bisa diperas pula secara lain, dan perasan secara lain ini adalah Nasakom. Nasakom adalah pula perasan dari Pancasila, dan Nasakom adalah sebenarnya juga gotong-royong, adalah de totale perasan dari pada Pancasila. Jikalau Nasakom adalah perasan dari Pancasila, maka perasan Nasakom adalah gotong royong pula.[31].

    jangan jadi korban pembodohan ORBA yg mencuci otak kita untuk anti terhadap sosialisme..

  41. Ogru_Jahad

    sebenarnya,ga peduli mw itu bentuknya sosialisme kek,kapitalisme kek,komunisme kekkk..

    pada dasarnya itu semua cuma sistem,,ingat CUMA SISTEM YANG DIBUAT SAMA MANUSIA,,manusia menginginkan adanya pola dan pedoman dalam rangka membuat kehidupan menjadi lebih baik..

    yang penting itu penerapannya,percuma kalo sistem nya super-duper-ekstra-bagus tapi kalo yang menjalankan sistem memiliki kualitas buruk,ya sama juga bohong…

    yang ada ya gini2 aja,ngributin ideologi,merasa diri dan sistemnya paling baik,muter disitu2 aja..

    para fakir dan miskin.,mereka ga butuh sistem,mereka butuh wujud nyata..

    ‘halo robin hood,disana ada sherif nottingham’

    G.W.F Hegel
    “Sejarah mengajarkan kepada kita,bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah”

  42. miftah

    Kesalahan dalam memahami definisi bisa berakibat salah dalam menyelesaikan persoalan tersebut, saya rasa ada kesalahan paham, memang semua manusia adalah mahluk sosial tapi bukan berarti yang melakukan aktifitas sosial bisa dikatakan sosialisme, atau mungkin yang dikatakan idiologi kapitalis itu tampak aktivitas melakukan perbaikan trial errornya secara kontinue atau apalah. munculnya idiologi-idiologi ini bisa dilihat dari sejarahnya, paham idiologi kapitalis mungkin sudah tampak jelas bahwa munculnya faham ini berawal dari pertentangan masyarakat eropa dan rusia terhadap para penguasa yang menjadikan agama sebagai alat untuk menguasai dan mengekploitasi masyarakat melalui kaki tangan mereka (para agamawan/ kaum gerejawan), pada saat itulah muncul para filsuf dan dan ilmuwan yang mengingkari agama sama sekali, serta ada pula diantara mereka yang berpendapat untuk memisahkan agama dari kehidupan dan dari penataan urusan kehidupan sejak saat itulah terjadi peperangan yang berlarut-larut diantara mereka. dan pada akhirnya mereka menyepakati ide untuk menjauhkan agama agar tidak turut campur dalam urusan kehidupan. pemisahan ini mengantarkan pada pemisahan agama dari negara sebagai lembaga yang berwenang mengatur kehidupan (jalan tengah). masalah ini selesai dengan kesimpulan mengabaikan agama dan tidak dibahas apakah agama diakui atau tidak, karena pembahasanya dibatasi dengan memisahkan agama dari kehidupan.
    Akan tetapi, mengapa ide pemisahan agama dari kehidupan ini (sekularisme) dianggap juga sebagai jalan tengah? karena pemikiran ini mencoba mendamaikan kaum agamawan (para pendeta nasrani) yang menginginkan segala sesuatu tunduk pada mereka dengan dalih agama dan kekuasaan kaum agamawan. jadi ide sekuler ini mengakui adanya agama tetapi menolak campur tanganya kepada kehidupan jadi persis seperti komentar penulis kenapa harus bawa-bawa nama agama dalm urusan politik (lebih kurang begitu). maka idiologi inilah yang menjadi dasar untuk menyelesaikan semua problem cabang kehidupan. dan faham sekurelisme sekarang lebih dikenal dengan kapitalisme (tampak menonjol bahwa para pemilik modal banyak mempengaruhi kebijakan negara)
    bagaimana dengan sosialisme? idiologi ini lahir dari hasil berfikir para intelektual yang ternama di eropa diantaranya adalah HEGEL, KARL MARX, LENIN, mereka menolak agama dan kekuasaan pendeta nasrani, mereka tidak melihat adanya jalan tengah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. mereka hanya melihat kehidupan ini sebagai materi yang terdiri dari manusia , alam semesta dan kehidupan. materi adalah asal dari segala sesuatu, serta evolusi materi akan mewujudkan segala sesuatu. ini berarti mereka menolak adanya pencipta, sistem ekonominya di bangun berlandaskan pemikiran bahwa manusia dan alam merupakan satu kesatuan. semua nya bersama-sama mengalami perubahan dan perkembangan sebagaimana gigi dalam putaran roda. hal ini berarti seseorang tidak punya kebebasan idiologi dan kepemilikan. negara merupakan supervisor interaksi manusia dengan alam. negara mengikat idiologi keyakinan dan kepemilikan individu. negara adalah sesuatu yang diagungkan dalam idiologi ini.

  43. metem

    tapi dibandingkan kapitalis sosialis lah yang lebih mendukung kesejahteraan masyarakat
    jangan terlalu berpaku kepada sejarah karena sejarah masih banyak yang ditutup-tutupi
    malahan sejarah yang sebenar nya sudah di ganti menjadi kebohongan

  44. Faxi

    KAPITALISME dan SOSIALISME yang merupakan konsep ekonomi yang selama ini sering menjadi perdebatan terbukti sudah gagal membawa kesejahteraan bagi masyarakat dunia….!!!!!!

    kenapa masih saja kita perdebatkan !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  45. ikwan

    tidak sepakat dengan keduanya

  46. ikwan

    sosialisme dan kapitalisme sama-sama membodohi rakyat kecil.

  47. Aku

    aNjing kalian antek2 Neokolim N neolib…!!!!!!
    Jayalah sosialisme!!!!!!!

  48. harapan,

    ya…sementara kita punya harapan….untuk masalh ini…kita pelajari dulu…bolehkan

  49. hendra novi

    kapitalisme adalah paham yang bersifat liberal-indivdualisme(kebebasan seseorang). komunisme adalah paham yang bersifat kurbal-sosialisme(keterkekangan terhadap masyarakat).

  50. iwan

    Indonesia sebenarnya tidak perlu bingung mau memilih ideologi mana………….. karena dari indonesia dengan pancasilanya seharusnya bisa menentukan sendiri kearah mana ekonomi negeri ini, indonesia dengan kekayaan alam yang di miliki tanah subur namun masih saja rakyat nya masih jauh dari yang namanya sebuah hidup makmur sejahtera, apa mungkin itu karena pemerintah Indonesia tidak berani untuk menolak kapitalisme komunisme sosialisme liberalisme. apa yang diragukan sebenarnya oleh negeri ini? dengan kekayaan alam yang dimiliki seharusnya bisa percaya diri untuk mandiri menentukan ekonomi neger ini tanpa harus ada tekanan dari pihak asing ……..

Looking forward to hear your thoughts.