Matinya Profesi Dokter?

May 30th, 2007 | Business

Milton Friedman dalam disertasi PhDnya menulis tentang profesi dokter. Menurutnya, biaya dokter begitu mahal semata-mata karena para dokter mencekik “supply” dokter baru. Akibatnya, keadaan seringkali bertambah ruwet dan ongkos kesehatan menjadi mahal atas komponen-komponen biaya yang tak perlu.

Maaf kalau terkesan ofensif, namun saya melihat adanya indikasi bahwa dokter-dokter saat ini turut andil dalam kemerosotan kesejahteraan (dan kesehatan) bangsa ini melalui proses penciptaan kemiskinan yang simultan dan berkelanjutan. Profesi dokter menjadi transfer dana pasien ke kantong pribadi dokter tanpa ada imbal balik yang sepadan.

Tak sedikit teman yang mengeluh bahwa sakitnya tak juga sembuh sementara kantongnya justru berkurang jauh. Mereka juga mengeluhkan sikap mental dokter yang berlagak seolah-olah hanya dokter yang bisa menyembuhkan penyakit. Faktanya, kini banyak penyakit “remeh” yang justru tak bisa ditangani dokter.

Ada balita yang semula sehat, tiba-tiba demam, lalu esok harinya meninggal. Ada yang didiagnosa terkena demam berdarah, tahu-tahu langsung meninggal. Tetangga saya, beberapa waktu lalu “hanya” mengeluhkan sesak di dadanya, tahu-tahu meninggal. Apa dokter masih bisa bicara soal ini?

Bisnis Kedokteran ala Kartel

Di Inggris, segala urusan kesehatan adalah bagian NHS. Masyarakat bisa mendapatkan pengobatan gratis, namun kompensasi waktu dan tenaganya juga besar. Untuk appointment dokter spesialis harus menunggu 12 minggu. Setelah bisa ketemuan, akhirnya cuma diberi paracetamol.

Masyarakat memang bisa berobat di luar NHS, namun harganya jadi sangat mahal karena dokter-dokter “mengkompensasi” kerugian pendapatan mereka dari kerja di skema NHS. Tak heran kalau dokter kemudian beroperasi ala kartel dengan menerapkan banyak standar dan prosedur yang rumit (dan berlebihan) untuk memangkas “supply” dokter.

Di Indonesia, indikasinya juga serupa. Lebih parah malah. Dokter yang oportunis akan sangat senang menemukan pasien yang cenderung ignorance. Tindakan-tindakan yang overutilization dan/atau unnecessary utilization akan mereka jalankan demi memenuhi kaidah-kaidah ekonomi. Maka tak heran kalau kasus malpraktek atau pelanggaran lainnya sering terjadi — namun tak ada penyelesaian yang jelas dan berarti.

Dan tak cuma dokter, apoteker pun beroperasi layaknya kartel hitam. Kalau Anda mau buka bisnis apotek, “calon” akan apoteker meminta fee sekian di muka untuk dirinya dan organisasi profesinya sebelum apotek dibuka. Padahal kita tahu bahwa risiko bisnis ada di kita. Apoteker dan organisasi profesi tak bisa memberi jaminan apapun akan kelangsungan bisnis kita.

Pendidikan Dokter = Investasi?

Bicara soal hitung-hitungan ekonomi, sebagian mungkin berargumen bahwa untuk menjadi seorang dokter perlu investasi yang sangat besar. Ongkos kuliah di Fakultas Kedokteran di Indonesia (negeri maupun swasta) sangat mahal. Belum lagi buku teks, literatur, dan praktikum yang mau tak mau harus meminggirkan kalangan yang fakir terhadap harta berlebih.

Setelah lulus pun calon dokter belum bisa menjadi seorang dokter “beneran.” Mereka harus menjadi dokter bantu di daerah tertinggal. Calon dokter spesialis malah masih harus melanjutkan studi lagi yang mengeluarkan biaya besar.

Tapi, kalau dianggap investasi, harusnya dokter tak cuma mengejar “high return” semata. Dokter juga sewaktu-waktu harus siap dengan segala konsekuensi “high risk layaknya investasi pada umumnya. Dokter juga harus mau dan siap diajukan ke pengadilan bila pasien merasa dirugikan. Kalau kalah, dokter juga harus siap mengganti kerugian yang biasanya mencapai milyaran rupiah.

Entah kalau di Indonesia. Namun di Amerika, tuntutan dari pasien adalah hal yang lumrah. Sekitar 35 persen pasien dokter kandungan mengajukan tuntutan ke dokternya. Untuk melindungi diri, rata-rata 20 persen dari penghasilan dokter dialokasikan untuk asuransi profesi.

Penyakit Jaman Sekarang

Kalau Anda mau membaca jurnal-jurnal kedokteran kontemporer, boleh dibilang sekarang bukan jamannya lagi bakteri dan virus. Menurut penelitian, causa prima terhadap penyakit yang muncul di diri kita sangat didominasi oleh faktor psikis atau internal diri kita sendiri. Faktor-faktor lain seperti keturunan/genetika, mikroorganisme, pola makan, kondisi lingkungan, perubahan cuaca/iklim, dan sebagainya, persentasenya jauh lebih kecil.

Ada indikasi bahwa orang yang emosional rentan terhadap penyakit darah tinggi dan jantung. Orang yang bertipe pemikir keras rentan terhadap pusing atau migren. Orang yang pemarah sangat mudah terkena batuk. Orang yang strict dan kaku terhadap pendirian biasanya sering kena lever/hepatitis. Perempuan yang mengidap kanker payudara biasanya tipikal emosional. Dan masih banyak lagi contoh lain.

Artinya, menjadi absurd kalau ketika kita terkena penyakit kita malah lari ke dokter — karena penyebab sekaligus penyembuh bagi sakit kita tak lain adalah diri kita sendiri. Jelas bahwa berdasar penelitian-penelitan terkini menunjukkan ketergantungan kita terhadap profesi seorang dokter menjadi sangat berkurang.

Sama persis dengan dua ayat di bawah. Dijelaskan di situ bahwa yang menyebabkan sakit sebenarnya adalah pikiran kita, hati kita, psikis kita, internal kita, karena kesalahan kita sendiri. Dan yang bisa menyembuhkan adalah diri kita sendiri dengan melakukan perbaikan. Kalau kebetulan kita sembuh, pastinya lebih besar karena kesalahan kita yang dimaafkan — bukan semata karena campur tangan dokter.

  • “Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” ~QS An Nisaa’ 79
  • “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” ~QS Asy Syuura 30

Prediksi Saya

Ke depannya, saya memprediksi profesi dokter akan mengalami degradasi, baik soal kualitas, kuantitas, gengsi, maupun prestise di mata masyarakat. Kalau para dokter enggan menegakkan kembali kode etik kedokteran dan menjadikan kesehatan sebagai jasa pelayanan yang bersifat sosial kemasyarakatan, degradasi tersebut akan semakin cepat.

Kalaupun ingin tetap bertahan, dokter juga dituntut mengalami ekstensifikasi. Tak cuma menulis resep lantas terima uang, dokter juga selayaknya tulus membantu pasien, memberikan mentoring, meng-encourage pasien untuk penyembuhan dirinya sendiri, dengan mengedepankan personal approach yang tulus dan tak dibuat-buat.

Kembali basic ekonomi, kalau supply dokter tetap terbatas dengan pelayanan yang ala kadarnya, akan terjadi gap antara supply dan demand. Akumulasi kapital akan sia-sia kalau tak disalurkan pada demand yang tepat — semata-mata karena prinsip marjinal ekonomi tak terpenuhi. Sederhana saja.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. Priyadi

    setuju, kalau terus2an seperti ini, profesi dokter terancam oleh dokter2an

  2. Agam

    Untuk dokter umum, aku kurang tau.
    Yang jelas, kalo dokter gigi, kenapa koq mahal?
    karena alat dan bahan2nya mahal2. Semuanya masih import. Indonesia belum ada yang bisa produksi sendiri. Jadi 99,9% buatan luar negeri.
    Pengen tau harganya. Misalnya tang cabut, satu buahnya saja kira-kira sekitar satu juta rupiah. Padahal untuk mencabut, beda gigi, beda tang pula.
    Untuk bahan, misalnya jenis tambalan komposit, kira-kira sekitar 150 ribu. Padahal itu belum termasuk komponen pendukung tambalan lainnya (SubBase, Basis, Etsa, dll). Etsa yang bagus bisa mencapai 600ribu satu botol kecil banget.
    Jadi, kalo murah, trus dokter giginya rugi donk.
    Jadi ya serba susah. Anda punya solusi supaya murah?

  3. Belajar WordPress

    Memang serba salah ya hidup orang yang ndak ngerti apa-apa. Makanya mungkin pengobatan alternatif justru malah marak dan digemari. Selain murah, kesembuhannya lebih bisa diharapkan :) Kalau dokter paling cuma pengen dapat surat keterangan tidak sehat biar tetep dapat gaji :)

  4. irli

    duh kang, commentnya ko banyak ga ditanggepi sih. piye toh :)
    comment2 di reksadana masih menunggu jawaban oleh yg punya rumah

  5. Hedi

    Di Amerika, meski biaya berobat ke dokter mahal banget dan itu sebabnya sebaiknya/harus dicover asuransi, dokter adalah profesi biasa aja. Mungkin kita bisa liat contohnya di film Emergency Room (ER).

    Profesi dokter di AS ga dipandang elite, demikian juga pilot. Nah, di Indonesia justru kebalikannya. Dokter dan pilot profesi priviledge, makanya bisa punya dominasi.

  6. bowie

    Setuju mas,
    Kasus malpraktik di dunia kedokteran Indonesia aku yakin banyak sekali. Sayangnya, dokter selalu berkilah “semua sudah sesuai prosedur”. Susah kan?

    Eh mas, aku dikirimin dong, jurnal / sumber yang terkait sama pernyataan anda “Perempuan yang mengidap kanker payudara biasanya tipikal emosional”

    trims ya,

  7. mbah keman

    bener mas, saya sangat benci dengan dokter sejak lama karena mereka menangani tidak serius dan sok sokan udah gitu mahal lagi…

    saya baru beberap minggu lalu konsultasi penyakit kulit ke dokter kulit spesialis…antri 1 jam ketmu cuman 5 menit.. trus saya cuman tanya penyakit apa dok ini..dia bilang jamur (* saya juga tau pikir saya)…trus tanya lagi kepala sering gatal dok..dia gak lihat ..dan bilang itu juga jamur (kampret nenek juga tau pikir saya ) untuk 2 pertanyaan itu …dalam waktu kurang dari menit..itu dokter minta byar 50 RIbu ..setan saya pikir.., tanpa sedikitpun saya dijamah..kemudia dokter itu tulis resep gak jelas, kemudia saya tanya mana obatnya beli sendiri di apotek… Ok

    dan alangkah kagetnya saya sampai di kasir apoteke…1 buah salep dan beberaoa butir pil saya harus tebus 200 ribu..sial saya bilang ini separo UMR Jogja…

    total biaya yang di keluarkan 250 ribu …untuk penyakit ini,.dan mau tau hasilnua
    teryata gak sembuh sudah 3 minggu,,

    akhirnya saya putuskan beli ,,, obat kulit kalpanak…harga 5000 perak,,, dan sembuh

    anti dokter gw

  8. tari

    wah …tulisannnya menyudutkan banget.kebetulan saya seorang apoteker dan suami saya seorang dokter.ini bukan bermaksud membela diri yah….
    saya rasa baik buruk nya sebuah profesi bukan karena profesinya tapi pribadi masing-masing yang kebetulan menyandang profesi dan gelar itu.
    kalo mau buka apotek trus diminta uang,tanya dong buat apa…..kalo uangnya buat mengurus ijin pendirian apotek…ya wajar dong….masak apotekernya yg bayarin ijinnya…mungkin masalah komunikasi aja kali yah.
    lagian mau tau gaji apoteker berapa? kalo di jombang cuma 1,2 jt,itu berarti per hari cuma 40 rb.sopir angkot juga gajinya lebih banyak dari itu.
    trus….tidak semua dokter spt apa yg ditulis di blog ini.periksa di klinik saya tarif periksa + obat 20-25rb.bayangkan …..dokter kadang cuma dapat uang periksa 5rb.belum lagi kalo di desa ada yg bayar pake pisang, ayam atau sayuran……suerr ini terjadi.memang kalo ada dokter yang berakhlak buruk akan menyebar ke 40 org tapi jika baik `hanya` akan tersebar ke 7 org saja.spt prinsip marketing.nantinya kalo ada dokter yang bersikap buruk dan bekerja tidak dengan hati alias semata-mata karena uang, dengan sendirinya dia akan tereliminasi dari kehidupan ini…..dont worry :)

  9. shaz

    wow hi what language is this in i like your site its very nice thanks

    _____________________________________
    A journey of a young UK based Muslim
    http://www.islam4me.co.uk

  10. Nofie Iman

    bowie
    Nanti coba saya carikan. Soalnya numpuk entah dimana. :)

    tari
    Maaf, bukan bermaksud untuk menuding/menyalahkan. Saudara dan rekan saya ada yang berprofesi sebagai dokter. Saya juga tahu bahwa banyak dokter yang memang berdedikasi dan tak melulu hanya mengejar materi. Tulisan ini hanya mencoba mengangkat dari sudut pandang yang agak beda. Sekali lagi, maaf.

    Mengenai duit yang diminta untuk apoteker, sebenarnya uang ini diluar perijinan dan tak ada surat/invoice/bukti apapun. Teman saya ada tuh yang mau buka apotek dan kena masalah serupa.

  11. martin

    As always, good writing my friend!

  12. rievees

    Mama saya korban dari mal praktek dr. mata di kota saya, dimana dr.mata tersebut menyandang gelar “dokter teladan” se-kotamadya… Gimana nech ceritanya?

  13. rievees

    Mama saya korban dari mal praktek dr. mata di kota saya, dimana dr.mata tersebut menyandang gelar “dokter teladan” se-kotamadya… Gimana qt mau percaya lagi dgn kualitas dr. dalam negeri kalo begini ceritanya…

  14. Brian

    @atasgw
    Turut prihatin ya. temen kantor saya ada juga yang kena gitu.

  15. arul

    wah pak… paradigma dokter sekarang…
    nah pertanyaan saya masih adakah dokter yang prihatin dengan rakyat kecil?
    seingatku, waktu kuliah calon dokter2 itu pada sering mengabdi kemasyarakat?
    apakah idealisme itu hanya ada pada sosok kemahasiswaan ajah? yah sama dong dnegan sarjana2 lainnya yang setelah kuliah mereka pada gak perhatikan lagi idealismenya….

    bagi saya ke dokter, betul2 parah… kalo misalnya bisa sembuh sendiri yang mending gak usah ke dokter…

  16. arul

    saya sudah hampir baca semua isi postingnya dan sungguh sangat menarik…

    saya link kan ke blog ku yah…:)

  17. Dewwy

    Sekedar share pengalaman aja ttg topik ini. Saya bukan orang yang anti dokter dan belum pernah ada pengalaman buruk dengan dunia kedokteran (amit-amit… jangan sampe deh…). Tapi banyak baca kasus2 dan cukup bikin kesel sekaligus deg-degan kalo bawa anak saya ke dokter. Karena itu saya sangat jarang membawa anak saya ke dokter jika penyakitnya hanya batuk atau pilek. Kadang demam pun saya tdk langsung ke dokter paling hanya saya beri obat penurun panas dengan merk yg selalu sama. Jika 1 kali minum sudah turun saya tidak beri lagi obat tsb. Dan biasanya memang penyakit2 tsb hilang dengan sendirinya. Malah kalo saya bawa ke dokter penyakit itu sembuhnya lama sekali sementara anak saya harus menelan macam2 obat. Saya beranggapan tubuh anak2 saya akan membentuk anti bodi sendiri menghadapi penyakit2 rutin tsb shg menjadi lebih kebal. Saya malah merasa obat2an itu justru melemahkan diri kita dan membuat kita rentan thd penyakit. CMIIW…
    Saya setuju dg pernyataan Nofie bahwa semua penyakit berasal dari diri kita sendiri. Untuk menghindari malpraktek sebaiknya kita berusaha mengenali diri kita dan mencoba mengatur gaya hidup kita. Terutama kita2 yg tinggal di kota besar…. lebih rentan thd penyakit, selain tingkat polusi yg tinggi, jumlah penduduk yg padat juga memberi peluang mudahnya penyebaran penyakit.

  18. naya

    join ya …

    saya rasa, selain kita ‘harus’ mengajak para dokter untuk mengedepankan profesinya menjadi profesi yang dilandasi ketulusan, profesional dan penuh etika, ada baiknya kita melihat faktor-faktor lain yang mendukung terciptanya dokter2 yang seperti ‘itu’ , seperti : sistem pendidikan kita yang membuat ’sekolah dokter’ menjadi profesi yang mahal, rendahnya pengetahuan pasien tentang dunia kesehatan secara umum dan posisi tawar pasien yang lemah terhadap dokter.

    kalo bicara sistem pendidikan, itu tugas kita bersama, masyarakat dan negara. negara ini memang tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. masyarakat indonesia harus lebih aktif dalam memsupervisi seluruh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah … berat memang, tapi inilah faktanya kalau kita ingin menciptakan masyarakat yang madani …

    pengetahuan pasien tentang dunia kesehatan juga harus diupgrade. pengetahuan sederhana tentang penyakit-penyakit gejala seperti demam, flu, sakit kepala atau lainnya seperti fungsi obat, antibiotik misalnya … harus ditingkatkan, sehingga tidak serta merta semua orang harus berombongan ke dokter hanya karena merasa ‘tidak enak badan’. dokternya mestinya juga nggak tertantang kan kalo semua pasiennya datang dengan badan ga enak :D

    yang juga tidak kalah penting adalah meningkatkan posisi tawar pasien di depan dokter. datanglah ke dokter dengan bekal ‘banyak pertanyaan’. catat seluruh pertanyaan yang ingin diajukan, pastikan dokter menjawab semua pertanyaan seperti apa penyebab penyakit, fungsi obat yang diberikan, cara mengkonsumsinya, de el el ….. menolak obat juga boleh lho, kalo dirasa obatnya memang mahal ato ga cocok. ada dokter baik yang bilang, menurutnya kalo ada dokter yang enggan menjawab pertanyaan pasien, tinggalkan saja, cari dokter lain …

    semoga ke depan indonesia menjadi lebih baik dan sehat.
    bravo indonesia sehat 2010 …

  19. dani iswara

    pinter2 memilih dokter..

  20. AGus Bae

    Saya kira dari pertama masuk “Fikul Tas” Kedokteran itu harus di tumbuhkan Pandangan bahwa Profesi Dokter itu untuk pengabdian, dan dilandasi oleh rasa Moral. Bukan Materi saja yang di kejar. Tapi kalo mau Kaya Jadi Dokter “saya rasa itu sebuah opini yang hanya berkembang di Indonesia SAja”

    Aku Gak Mau JAdi Dokter…

  21. Eto

    Bicara mengenai dokter memang sangat menarik… Profesi ini memiliki akar sejarah yang sangat

    panjang. Sebenarnya ada banyak yang dapat disebut dengan “kedokteran”. Akan tetapi yang tumbuh dan

    berkembang di dunia sekarang ini adalah ilmu kedokteran “barat” yang empiris. Selain “barat” ini

    juga terdapat ilmu kedokteran, seperti yang dilakukan bangsa Cina, orang islam, Suku Indian Maya dan

    bangsa2 tua lainnya.

    Kedokteran “Barat” mengedepankan logika empiris yang menjadi dasar berpikirnya, which means that

    everything have to be proven, jadi segala sesuatu itu harus ada bukti ilmiah yang mengikuti metode

    penelitian yang baku.. Apakah ini menutup kemungkinan pengobatan yang belum terbukti(baca:pengobatan

    alternatif)..??

    Kalau mengikuti kaidah diatas, JELAS TIDAK.. tapi segala kemungkinan kan ada, maksudnya.. ada ALLAH

    SWT diatas segalanya yang ilmuNya diatas semua makhluk. Lantas, kenapa dokter “barat” (dokter

    sekarang) tidak terima atas pengobatan alternatif???

    Jawabnya, bukan tidak terima, akan tetapi ini dilakukan semat-mata untuk meyakinkan kita sebagai

    dokter, selain itu juga untuk menyediakan pelayanan pengobatan yang “BERTANGGUNG JAWAB”.

    Sekarang coba pikirkan bersama…. Dokter yang tidak punya ijin praktek pasti diseret ke

    pengadilan… lalu, ahli pengobatan alternatif yang kemampuannya dipromosikan dari mulut kemulut dan

    tidak terdaftar di pemerintah cuma di berikan “senyuman” saja???

    Memang benar sebagian penyakit dipengaruhi oleh kondisi psikis. Akan tetapi apakah sakit hepatitis

    (awam= liver) yang jelas terbukti di laboratorium akibat virus Hepatitis A, B atau C masih disebut

    akibat psikis ???

    Mana yang lebih menenangkan hati anda, membeli kucing yang jelas diperlihatkan kepada anda warna,

    bentuk tubuh dan jenisnya atau membeli kucing dalam karung yang belum jelas kondisinya?? Mana yang

    lebih menenangkan anda, apakah berobat dengan obat yang terbukti dapat membantu kesembuhan penyakit

    dibandingkan atau dengan bahan2 yang “katanya” bisa membantu kesembuhan anda…

    Memang hal ini akan membuat Anda sekalian dapat mengajukan seorang dokter ke meja hijau karena salah

    pengobatan
    (salah pengobatan….??
    berarti ada pengobatan yang benar dong???
    lalu tau dari mana kalau itu benar??
    pasti ada buktinya kan??)

    Oleh karena itu Sungguh Amat Jarang Sekali ada berita di koran yang memberitakan seorang sin she

    atau Ki, atau Abah yang diajukan ke pengadilan. Kenapa? karena tidak ada standar benar atau salah

    dalam pengobatan yang dia lakukan?? jadi “pengacara ” sulit untuk menuntut mereka..

    Satu lagi, saya sangat ingin berkomentar dengan istlah malpraktik yang sekarang digembar-gemborkan..
    Malpraktik berasal dari dua kata Mal dan praktik.
    Mal = kelainan, kesalahan dan
    Praktik= suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengaplikasikan teori dengan tujuan tertentu (menambah

    ketrampilan, membantu orang lain, mencari penghasilan).

    mari kita analisis, profesi apakah yang memiliki organisasi profesi dan dapat membuka suatu praktik

    mandiri tanpa harus terintegrasi dalam suatu perusahaan??.
    1. dokter
    2. Pengacara
    3. akuntan publik
    4. psikolog
    5. notaris

    kalau kita merujuk pengertian diatas maka istilah malpraktik dapat dikenakan kepada setiap profesi

    diatas. Lantas, Kenapa hanya dokter yang di”label” dengan istilah malpraktik??
    Dimana KEADILAN??
    Silahkan anda jawab sendiri…

    Apakah seorang pemeluk agama islam yang mencuri dapat disebut bahwa pemeluk islam itu pencuri?
    Apakah seorang betawi yang melakukan pemukulan dapat dikatakan bahwa orang betawi itu tukang pukul?
    apakah kesalahan seorang dokter menjadikan semua dokter itu salah?

    Memang benar negara Inggris membebankan biaya kesehatannya kepada National Health Service (NHS).

    Akan tetapi apakah ini kesalahan dokter kalau Indonesia hanya punya Asuransi Kesehatan Miskin

    (ASKESKIN)??

    Pendidikan dokter mahal?? Hal ini memang benar adanya..
    alasan menjadi mahal adalah .. setiap kali suatu teori diajarkan maka seorang mahasiswa kedokteran

    akan langsung mempraktikan teori tersebut di laboratorium yang notabene-nya membutuhkan biaya yang

    tidak sedikit.
    Pertanyaan saya.. apakah anda mau dirawat oleh dokter yang sangat mahir dalam teori akan tetapi

    “melempem” dalam praktiknya?? menjadi dokter itu adalah perpaduan harmonis antara teori dak praktik

    yang baik.

    pendidikan dokter di Kampus negeri mahal?? saya tidak setuju!! saya merasakan hal itu sendiri..

    Saya setuju dengan prediksi anda kalau para dokter tidak mengikuti kode etik maka degradasi akan

    semakin cepat tercapai.
    Saya juga sangat setuju sama pendapat rekan Tari dibawah, dokter yang buruk akan lebih cepat

    “populer” dibanding dokter baik. Dokter yang “buruk” akan tereliminasi dengan sendirinya seperti

    hukum yang berlaku di alam ini.

    Kalau profesi dokter semakin keras dikecam, maka tunggulah saatnya seperti kejadian di beberapa

    negara tetangga beberapa waktu yang lalu dimana para dokter menolak melakukan “tindakan” (operasi,

    penjahitan luka, operasi cesar, pemasangan stent dll).. dan kita semua yang akan merasakan akibatnya

    (ini bukan ancaman tetapi sedikit refleksi saja)

    Menjadi dokter itu mudah, menjadi dokter yang baik itu yang tidak mudah.

    Dokter yang baik adalah perpaduan harmonis antara ilmu yang luas, ketrampilan, rasa kemanusiaan yang

    tinggi dan dibungkus oleh kesadaran akan kelemahannya sebagai makhluk.

    Sudah saatnya orang Indonesia menjadi lebih kritis dalam bersikap dan bertindak.

  22. Eto

    Komen gw ada di blog gw yah.. panjang soalnya.. kalau mo baca buka aja

    http://www.paseban.blogspot.com

  23. dadangharis

    No Comment
    Just merenung (think in silence) dan turut berduka atas para korban

  24. Recht

    Banyaknya kasus malpraktek medis yg kita dengar melalui media masa memang semakin meningkat, beberapa penyebabnya antara lain :

    1.Semakin berkembangnya teknologi kedokteran sesuai dgn semakin beragamnya penyakit yg semakin sulit untk ditangani;

    2. Semakin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat sekarang ini sehingga masyarakat mengetahui apa yg sesuai dgn kebutuhannya dlm hubungan pasien dan dokter, karena skrg ini biaya pengobatan semakin tinggi jadi seorang pasien menuntut penanganan yg lebih lg dari dokter.

    Dgn disahkannya UU no 29 tahun 2004 yg tdnya diharapkan dpt melindungi kepentingan masyarakat dan pihak kedokteran sendiri akan tetapi jika dilihat lebih lanjut didlm UU tsb blm betul2 melindungi masyarakat.

    Memang ada dibuat suatu lembaga yg menampung dugaan2 malpraktek kedokteran yaitu MKDKI, akan tetapi dlm pelaksanaanya hanya di pusat saja, sedangkan di daerah tidak bahkan terkesan tidak jelas

    Jadi pikirkan lg untk menggapai cita2 untk menjadi seorang dokter, bisa2 bukannya untk menyelamatkan jiwa seorang pasien, akan tetapi menjadi malapetaka yg mencelakakan orang lain suda pasti ini adalah perbuatan pidana

    Malapraktek kedokteran merupakan pengingat agar dokter lebih berhati2 lg dalm menjalankan tugasnya

  25. fajar

    Setuju banget mas…!?

    Banyak sekali pengalaman yang telah dialami sendiri bahkan hampir semua anggota keluarga yang pernah merasakan namanya berobat,konsultasi,bahkan perawatan rumah sakit kalau di indonesia khususnya jakarta, entahlah kalau di luar jakarta.Konsultasi kedokter specialis misalnya yang ditonjolkan awal adalah harga konsultasi yang tinggi sementara service ( bagaimana seorang dokter memberikan waktu cukup untuk konsultasi,perhatian pada pasien,mendengar keluhan itu sangat jauuuuh untuk mendapat nilai puas cukup pun tidak yang ada adalah sangat kurang) coba aja anda buktikan sendiri kalau suatu saat antri di klinik dokter atau antar istri anda untuk kontrol kehamilan dsb. maka waktu anda itu seolah dijatah hanya 5 menit maksimal 10 menit…dipanggil,duduk, terus ditanya keluhannya apa? setelah dijawab langsung tulis resep kalupun priksa ala kadarnya pas kita mau mennyakan sesuatu yang mengganjal atau tidak mengerti dengan suatu prosedur medis jawabannya singkat jauh dari kesan informatif jawabannya “oo ngak apa-apa” atau “kalau ada apa2 nanti datang lagi aja”….. kapan kita diperlakukan sebagai pasien? yang hanya dihitung adalah semakin singkat waktu yang diberikan semakin banyak pendapatan dokter itu maka ngak aneh mungkin dokter indonesia kebanyakan “pelit informasi” karena untuk mengenjot omzet sebesar besaranya …bayangin aja biaya konsultasi yang 5 menit untuk dokter spesialis 120 ribuan kalau jam perakteknya 2 jam tinggal dikalikan aja….makanya kalu kita nanya banyak kesannya ngak di pedulikan karena mungkin pikirannya ke materi belaka alias “kejar omzet peraktek” mungkin harus ada saatnya di indonesia ada lembaga perlindungan pasien, kita ngak menutut banyak hanya tolong dilayani sewajarnya kalau kita ada rasa khawatir takut tentang suatu penyakit tanggapi dong….lagian kita juga udah bayar 120.000 Rupiah masa cuman 5 menit tok tanpa terjawab apa masalah kita…..namanya penindasan intelektual.

  26. Adi Wijaya

    biaya dokter yang mahal itu, sebetulnya terjadi akibat biaya pendidikan yang mencekik. sehingga untuk menjadi seorang dokter profesional harus merengguk kocek tebal. biaya mahal untuk berobat itu lazim apabila kontribusi jasanya sebanding bagi mereka yang berada.

    Nah yang perlu kita cermati bahwa, sebagai negara miskin, rakyat negara kita tak bisa terlepas dengan kebodohan dan penyakitan.

    Bagi yang tidak berpunya untuk membayar biaya dokter, harus bisa dimaklumi betul oleh dokter terutama manajemen RS, sehingga mereka lebih diperlakukan sebagai manusia tanpa menghitung status ekonomi mereka. sebab dalam pendidikan dokter saja dikenal kode etik kedokteran yang bukan hanya mengutamakan duit.

    Profesi dokter adalah profesi vital. Bagi mereka yang menggunakan jasa pelayanan tersebut akan berakibat langsung baik buruknya layanan jasa tersebut, bukan seperti guru, advokat, okonom maupun yang lainnya untuk jangka waktu kedepan.

    jadi bagi mereka yang memiliki profesi ini, cobalah untuk konsisten dengan atribut-nya secara objektif. Jika memang tidak tepat untuk profesi ini, mundur lebih terhormat, dari pada maju yang dipaksakan.

    salam,

    Adi Wijaya
    Palembang.

  27. -tikabanget-

    nah.. makanya sayah jadi males ke dokter.. :D

  28. heri

    Sekedar info bahwa HIV - AIDS merupakan juga persekongkolan medis kelas tinggi. Coba baca http://www.virusmyth.com yang menjelaskan disertai bukti2 bahwa HIV tidak ada hubungannya dengan AIDS. Bahkan penemu alat tes HIV yaitu Kary Mullis sendiri mengakui bahwa HIV tidak berhubungan dengan AIDS. AIDS adalah akibat dari penggunaan drugs bagi para junkies dan homosexual. Jika anda kena HIV tapi tak menggunakan drugs ya anda akan sehat2 aja. Banyak bukti yang mengarah pada persekongkolan mafia obat dunia yang melibatkan WHO.

  29. Roess

    Dokter sekarang bnyk yg mata duitan

    mending kerjanya klo profesional, mendng ahli

    busuk lah

  30. Mimi

    Mas,
    Cara berfikir anda kaya’nya pararel banget sama suami saya deh. Dia akur betul sama opini anda soal bisnis dokter (atau dokter bisnis?), makanya ada potongan tulisan anda di tempat saya. Nuwun sewu kalo dianggap lancang, tapi itu melulu gagasan dia.

    Jadi ya, kita sama-sama mau minta permisi, sambil minta maap, gitu!

    Lalu, kalo punya waktu dan masih pengen misuh-misuh soal dokter, ada dokter “mbeling” yang suka “ngrasani” dokter lain yang kaya’nya bisa diajak duet; namanya cak moki di http://cakmoki86.wordpress.com.
    Coba aja.

    Salam.

  31. Adi

    Wah? Analisis gue : dokter tetap dibutuhkan kok. Ambil contoh, utk operasi caesar, kecelakaan lalu lintas pasti tetap butuh dokter. Yg perlu kita waspadain adalah : kongkalingkong antara pabrik obat - dokter - apotek. Mau tahu lihainya mrk bermain? Sales obat entertain dokter dg duit, fasilitas hotel dll agar obat mrk di-resep-kan ke pasien. Si pasien yg lugu ditanya dokter mau cepat sembuh pake obat paten merk anu, bukan obat generik. Apotek jg dientertain ama sales pabrik obat, shg mrk bilang ke pasien, obat yg generik udah abis, tinggal obat paten yg mahal. Gawat kan? Solusinya : sistem asuransi kesehatan nasional. Tapi apa indönesia bisa? Bisa, kalo regulasi udah ada. Dgn demikian sistem asuransi akan mengcover pasien2 yg sakit dg premi dr penduduk2 indo yg sehat. Trus gimana dg kerjasama dokter - pabrik obat - apotek? Yah, semoga mrk diberi hidayah dr Tuhan agar tidak terlibat “bisnis”. Krn tidak ada bukti dan saksi yg bisa diajukan mengingat ke3 pihak sama2 untung. Kasian aja ama pasien yg lugu.

  32. Dino

    dokter pernah membuatku jengkel. Ya gimana lagi..

  33. Lutfi

    Bang Nofie Iman Salam kenal,
    Saya seorang Apoteker, dan kejadian kongkalingkong antara Dokter dan Perusahaan saya juga sering mendengarnya. (saya juga ngak tau pasti karena ngak terjun langsung di bidang marketing).

    Untuk memeperbaiki sistem kesehatan, diperlukan kerjasama dari semua pihak termasuk masyarakat sebagai konsumen. Tentu pula tidak mengurangi peranan pemerintah dan profesi kesehatannya. Masyarakat selaku konsumen harus aktif dalam memeperbaiki sistem, bagaimana caranya gampang anda datang dan gunakan sarana kesehatan yang paling bagus pelayanannya. Misal kalo mau ke dokter ya jangan datang ke dokter yang ngak bener. Kalo mau beli obat di apotek, ya datang ke apotek yang bener yang Apotekernya (minimal AA) selalu ada dan mau memeberikan konsultasi tentang obat yang anda beli.

  34. benny

    salam hangat,saya senang sekali membaca artikel ini. Bagus sekali. Namun, alangkah baiknya jika sudut pandangnya bisa lebih utuh. Karena yakinlah tidak semua dokter seperti yang anda tuliskan. Masih banyak dokter yang memiliki hati nurani. Tapi semangat terus untuk berfikir kritis. Semoga mampu memberikan perbaikan. Amin

  35. kompor

    Mas Nofie, ikhlas membantu, melayani, menolong sesama manusia adalh tingkatan (yang mungkin) tertinggi yang setiap manusia ingin capai dan ada didlm diri setiap manusia.
    Mengenai menurunnya pamor dokter, itu lebih pada persepsi beberapa orang saja, apalagi jika pemahaman tsb disebarkan melalui berbagai media informasi, lalu kemudian sementara orang mengamininya, tapi sebagian lainnya akan meluruskan, mengkoreksi dan tentu saja pertama-tama menyangkalnya.
    Karena saya yakin berbuat baik merupakan bagian dari setiap manusia dan tugas dokter yg membantu org lain adalah bagian dari itu jadi profesi ini akan survive, soal ekonomi, I think doctors follow the trade ……;))
    tks,

  36. Phie

    Tulisan yang menarik. Dilematis kalo’ menurut saya, tapi saya pikir itu tidak semua dokter terganutng. personalnya. Sebenarnya latar belakang pendidikan anda itu apa? Sebab saya juga menemukan tulisan anda tentang akuntansi. Oh ya.. untuk yang akuntansi kontemporer, kalo ada jurnal yang mendukung tolong dikirim.

  37. Nofie Iman

    Phie
    Pendidikan saya finance & accounting. Mengenai jurnal seperti yang Anda minta, insya Allah saya usahakan.

  38. andi wijaya tolol

    g rasa dokter ngak semua begitu………..

  39. jomblo_one

    ah dari tadi ngomongin dokter mlulu…masalah gaji mlulu…, ngapain numpuk2 harta? tuh liat pemanasan global..paling2 juga 100-200 taon lagi yang namanya manusia jangan2 udah gak ada lagi eksistensinya, mungkin udah kembali lagi ke abad pertengahan, segala kendaraan pake kuda,soalnya minyak udah abis, tanaman pangan banyak yang gagal panen, banyak pulau tenggelam,termasuk indonesia kita yang tercinta ini…etc..etc… so what? mendingan kita ngurusin anak cucu kita biar punya survive skill biar bisa eksis di jaman marabahaya yang akan kita hadapi nanti itu…

  40. Amin zamry

    untuk menghindari salah faham antar dokter dan pasien,khususnya konsultasi dokter maka lebih bijaksana kalau pasien menyadari akan keberadaan dia tentang hubungan keduanya,yg sering terjadi masih banyak pasien tdk ngerti bhs indonesia,sementara di pendidikan kedokteran tdk ada pelajaran bahasa daerah diseluruh nusantara,maka pd saat ini dokter akan kesulitan sekali membina komunikasi yg tdk nymbung dan pada akhirnya tdk ada pertanyaan kepasien dan bisa semuanya gratis. dari fakta ini maka dokter lebih suka tugas dijakarta karena semua berbahasa indonesia dan faham akan malpraktek, didaerah dokter kurang berminat,hal ini membuat jakarta penuh dg dokter. Untuk mengatasi semua keluhan mas yarakat maka solusinya seluruh masyarakat indonesia diasuransi tanpa kecuali tapi bukan ASKESKIN. karena programnya bagus maka semua orang mendaftarkan diri menjadi peserta asuransi tsb dan akibatnya pemerintah kesulitan membayar tagihan rumah sakit termasuk dokternya tdk dibayar alias gratis,kasihan jadi dokter di indonesia,masyarakat maunya pelayanan serba cepat profesional dan ramah serta baik hati tapi tdk dibayar,jawabnya tau aja………lah,seingat saya di indonesia ini pendidikan yg aling mahal,paling lama dan susahnya adalah pendidikan dokter,gimana tdk bahan praktek untuk memahami tubuh manusia adalah juga manusia, nah siapa yg mau disini menjadi bahan paraktek gratis kan tdk,atau kalau bisa saya usul kalau bisa mayat mayat untuk bahan praktek sekolah dokter dari peserta ASKESKIN dan sekolah dokter makai kartu miskin, apa ini mungkin? apalagi sekolah dokter ahli di indonesia atau luar negeri wah biayanya minta ampun bisa bisa semua harta dijual,setelah bekerja di rumah sakit semua mau murah dan gratis dgn dibayang bayangi tuntutan malpraktek, jadi langka yg paling bijak adalah semua sekolah di indonesia ini gratis termasuk sekolah dokter dan seluruh warga negara masuk asuransi kesehatan. sekia kementar sekedar mengingatkan.

  41. ela

    gw ga stuju bgt tuh kalo smua dokter di hina2. mgkn emg ada dokter yg bener2 ga bener. Gw jg pnh ngliat sndri. tp msh byk jg ko’ yg msh idealis, apalagi dokter yang masih baru. kerja di klinik 24 jam cuma digaji dibawah 70rb shri. Gpp sh sbnrnya msh ckp kn. Kdg biaya pasen mhl bukan dokter yg meriksa yg mo, yg pny klinik tuh. trs pemerintah juga ga bener, mksa2 ptt sgla, jurusan laen mana ada. skrg udh d apus ttp aj mo nyri krj syrat sdh ptt. Kulh ny min 6 thn, wkt co-ass kita banyak menderita. Ngurusin pasen sampe ga tidur, kadang pasen juga mungkin ga tau kali kalo kita juga butuh istirahat, trlmbt dkt ngomel. Kalo mo liat tuh di rsu palembang, tempat laen ga tw y, perawatnya pemalas minta ampun. Mgkn krn PNS ga bs dipecat kali ya. Semua kerjaan mereka dokter muda yang ngerjain. Kalo ga akan keluar kata2 ksr. Perjalanan panjang, tapi hasil nya mgkn ga seimbang bwt di dunia ya, tp yah sabar aja yg dilihat kan usahanya. Mgkn krn itu juga biaya mahal kali ya. kalo Mo ngambil spesialis di indonesia, jangan ditanya ngeluarin duit berapa. Tp sebel jg kl dipojok2in. kl pasen ny lum sembuh dibilang dokter nya ga bnr. Ada efek samping obat dibilang malpraktik lah. Kontrol lg ke’. Dokter itu kan manusia bukan tuhan ya tw sgla ny, yg pst bs nyembuhin org. Kt kn usaha sesuai standar profesi yang kita pelajari. Krn smua pasen pgn sembuh dalam sekejap kdg ngsih obat ga sesuai standar yg kita pelajari wkt kuliah lg. Bnr ga?? Duh.. Sorry y, gw jd curhat disini. Yah mudah2n kedepan semuanya bisa lebih baik aja kali ya..

  42. asthee

    Ak setuju ada dokter yang emeng matre,ngejar harta sampe berbuat yg merugikan px,jg dokter pananormal yang dg bertanya seadanya(coz byk yang antre)lsg nulis resep tanpa berusaha menggali penykt lbh dlm.tp g semua dokter gt ‘kli.Ak yakin itu.Ak byk kenal dokter2 yang idealis,pnh dedikasi,dan bertanggung jwb.Tp ak pernah jd pasien dokter2 yg nyebeli jg.Intinya kembali ke pribadi msg2 lah,g bs di pkl rata.Masy hrs tau hak dan kewjibannya sbg pasien,agar dokter2 nakal g bs berbuat nakal lg.Spt jg profesi lain,SELALU ADA OKNUM. hukum alam.Semoga ak jg termasuk dokter yang “BENER” selama-lamanya.amien………Insyaallah.Eh hati2 jg men”JUDGE” suatu kasus sbg MALPRAKTEK.Menurutku masy awam sulit mengetahui itu malpraktek ato bkn lho.

  43. youngmd

    YOUNGMD

    Saya ingin mengomentari bagian “Penyakit Jaman Sekarang”.

    NOFIE IMAN

    Menurut penelitian, causa prima terhadap penyakit yang muncul di diri kita sangat didominasi oleh faktor psikis atau internal diri kita sendiri. Faktor-faktor lain seperti keturunan/genetika, mikroorganisme, pola makan, kondisi lingkungan, perubahan cuaca/iklim, dan sebagainya, persentasenya jauh lebih kecil.

    YOUNGMD

    Penelitian yang mana? Tampaknya begitu susah ya sekadar menyebutkan sumber atau memberikan referensi. Hanya melontarkan “menurut penelitian ini”atau “ahli itu” tanpa menyebut referensi/sumber secara jelas seharusnya bukan kebiasaan orang yang pernah mencicipi bangku kuliah.

    Lha wong walaupun jelas sumbernya, penelitiannya belum tentu valid metodenya atau kesimpulannya benar, kok.

    Memang faktor psikis juga berpengaruh terhadap kesehatan dan kesembuhan seseorang. Namun, menyatakan bahwa “penyebab UTAMA” (causa PRIMA) terhadap penyakit di diri kita “SANGAT didominasi” oleh faktor psikis atau internal diri kita sendiri sementara faktor genetik, mikroorganisme dan diet “persentasenya JAUH lebih kecil” adalah luar biasa menggelikan.

    Katakan kepada penderita berbagai kelainan mulai dari sindrom Down dan fenilketonuria hingga neurofibromatosis von Recklinghausen dan penyakit Huntington bahwa penyebab utama terhadap penyakit di diri kita sangat didominasi oleh faktor psikis atau internal diri kita sendiri sementara faktor keturunan/genetik persentasenya jauh lebih kecil.

    Dan silakan mempresentasikan semua evidence yang anda punya untuk menyetop banyak uang yang dihabiskan guna menyediakan obat antituberkulosis dan antikusta gratis bagi masyarakat (untuk membunuh mikroorganisme–penyebab yang ternyata “menurut penelitian” presentasinya jauh lebih kecil) jika ternyata penyebab utamanya… sangat didominasi oleh faktor psikis atau internal diri kita sendiri.

    NOFIE IMAN

    Ada indikasi bahwa orang yang emosional rentan terhadap penyakit darah tinggi dan jantung. Orang yang bertipe pemikir keras rentan terhadap pusing atau migren. Orang yang pemarah sangat mudah terkena batuk. Orang yang strict dan kaku terhadap pendirian biasanya sering kena lever/hepatitis. Perempuan yang mengidap kanker payudara biasanya tipikal emosional. Dan masih banyak lagi contoh lain.

    Artinya, menjadi absurd kalau ketika kita terkena penyakit kita malah lari ke dokter — karena penyebab sekaligus penyembuh bagi sakit kita tak lain adalah diri kita sendiri. Jelas bahwa berdasar penelitian-penelitan terkini menunjukkan ketergantungan kita terhadap profesi seorang dokter menjadi sangat berkurang.

    YOUNGMD

    Pak Nofie Iman, kalau begitu cegah saja untuk pergi ke dokter seorang perempuan hamil 9 bulan dengan letak janin lintang, seorang bayi terserang kejang berulang atau sesak napas dan demam tinggi, seorang lelaki tua dengan nyeri kepala dan mata merah, seorang pemuda dengan usus buntu yang meradang dan pecah, seorang remaja dengan penyakit katub jantung, seorang lelaki yang ingin bunuh diri karena disuruh oleh suara-suara halusinasi yang didengarnya, seorang bapak yang muntah darah kehitaman dan seorang ibu yang tulang pahanya patah terbuka. Cegahlah seorang bapak yang bertekanan darah 200/120 dan penglihatan menurun, seorang pemudi dengan nyeri kepala dan muntah hebat, seorang lelaki dengan hepatitis viral kronis dan seorang ibu dengan benjolan kecil yang semakin besar di payudaranya untuk pergi ke dokter.

    Katakan kepada mereka bahwa “penyebab sekaligus penyembuh bagi sakit kita tak lain adalah diri kita sendiri”, “jelas bahwa berdasar penelitian-penelitan terkini menunjukkan ketergantungan kita terhadap profesi seorang dokter menjadi sangat berkurang” dan “lari ke dokter ketika kita kena penyakit” adalah “absurd”. Semoga mereka masih sehat dan bernyawa serta berkumpul dengan keluarga tercinta untuk mendengar Anda mengucapkan itu.

    Saya sungguh berharap tidak akan ada seorangpun di luar sana yang percaya hal nonsens yang anda tulis dan lalu akan mencegah dirinya (atau keluarga, teman, tetangganya) mendapat pengobatan dokter yang dibutuhkan. Jika sampai dia menjadi cacat atau mati, hukuman penjara bagi anda tidaklah berlebihan.

  44. youngmd

    To: HERI

    HERI

    Sekedar info bahwa HIV - AIDS merupakan juga persekongkolan medis kelas tinggi. Coba baca http://www.virusmyth.com yang menjelaskan disertai bukti2 bahwa HIV tidak ada hubungannya dengan AIDS. Bahkan penemu alat tes HIV yaitu Kary Mullis sendiri mengakui bahwa HIV tidak berhubungan dengan AIDS. AIDS adalah akibat dari penggunaan drugs bagi para junkies dan homosexual. Jika anda kena HIV tapi tak menggunakan drugs ya anda akan sehat2 aja. Banyak bukti yang mengarah pada persekongkolan mafia obat dunia yang melibatkan WHO.

    YOUNGMD

    Duh, duh, ini lagi. Tolong, jangan telan bulat-bulat semua yang ada di internet (konspirasi, dsb.)
    .
    “AIDS adalah akibat dari penggunaan drugs oleh para junkies dan homoseks”?

    Saya beberapa kali bertemu dengan pengidap HIV yang telah jatuh ke dalam AIDS (anda berapa kali, Pak Heri?) yang ternyata istri para supir. Mereka orang desa dan bukan pencandu narkoba suntik dan gay! Mereka ternyata tertular HIV dari suami mereka yang sering berhubungan seks dengan PSK selama berperjalanan.

    “Jika anda kena HIV tapi tak menggunakan drugs ya anda akan sehat-sehat saja”?

    Oh, ya?! Saya tantang anda: suntikkan darah penderita HIV ke dalam tubuh anda dan kita lihat beberapa tahun lagi apakah anda akan “sehat-sehat saja” atau badan anda mengurus kering dengan diare kronis, tuberkulosis paru, mulut dipenuhi jamur, dan akhirnya meninggal mengenaskan seperti pasien kami, Ny. S dan ibu-ibu lain istri para supir itu.

    Jika anda menolak (dan saya 100% yakin PASTI anda menolak) kita semua tahu jawabannya: Anda seorang pecandu napza dan/atau homoseksual atau semua ocehan anda (dan website) itu dusta belaka.

    Gampang to, tinggal kita buktiin aja dengan badan anda sendiri!

  45. hani

    wah seru juga topiknya………
    saya seorang dokter umum , btw tidak membantah kalau memang ada dokter yang mata duitan atau ga becus kerjanya. BUT….. masih banyak sekali (mostly) dokter dokter yang memegang etika kedokteran , pintar dan diakui di dunia internasional, secara ilmu dan PRAKTEK/ SKILL tidak kalah dengan dokter luar negeri.
    Tidaksalah kan kalau profesionalisme mereka ada harganya. Karena untuk mendapat itu semua perlu modal juga.
    Hal yang tidak fair dalam hal ini adalah sistem di negara ini dokter biasanya hidup dari praktek pribadi (karena kalo jadi dosen /dokter di puskesmas/RSU gaji sangat kecil), sehingga untuk memnuhi kebutuhan yah menerima pasien sebanyak banyaknya . Karena biasanya dokter tidak menerima base salary, kalaupun ada untuk dokter umum yang kerja 24 jam base salary sama dengan base salary cleaning service rs.
    Sedangkan dokter dituntut masyarakat untuk canggih, tahu segala sesuatu ytang terbaru, yang didapat dari workshop,seminar , buku yang tidak murah harganya.

    Oleh karena menerima saja pasien (sebanyak yang bisa), kekurangannya dokter kita mereka jadi tidak ada waktu untuk menerangkan, sehingga pasien menganggap dokter bodoh, tidak mengerti, malpraktek dll, padahal biasanya dokter memang sudah menjalankan prosedur yang berlaku TETAPI tidak menerangkan secara rinci ke pasien, disinilah terjadi miskomunikasi dan ketidakpercayaan dokter dan pasien….
    Kadang saya ngga habis pikir, dokter yang notabene biasanya dari siswa yang tidak bodoh, sudah belajar 6 tahun plus praktek (dipaksa mengabdi) di daerah tertinggal 2 tahun, PLUS harus mengurus ijin kompetensi setiap 5 tahun (salah satu syarat harus ikut seminar dengan angka kredit tertentu), diawasi ketat (kalo ga punya SIP praktek bisa kena 150jt/dihukum penjara), kalo lulusan yang nilainya ga bagus atau lulusan univ yang tidak terkenal tidak bisa praktek di RS bagus, resep yang dikeluarkan harus sesuai dengan pedoman terapi yang up to date( evidence base therapy), harus pake jas putih yang bersih, harus terlihat sehat , ramah, tersenyum,tulusss,kalo salah teraapi bisa dicabut ijin ga bisa cari duit lagi seumur hidup……………………dikalahkan dan ditempatkan dibawah ahli alternatif yang tidak jelas bahan yang dipakai, tidak jelas keahliannya, hanya terkenal karena testimoni kesembuhan beberapa orang, walaupun praktek di tempat kumuh, kalo salah terapi ga ada hukumnya dan kadang kadang membodohi orang dgn hal2 yang ga masuk logika, bahkan yang banyak dijumpai adalah orang yang mustinya bisa ditolong (misalnya batu ginjal) diterapi ga jelas katanya batunya keluar, alih alih malah gagal ginjal. Dan hal kaya gini banyak dijumpai di praktek sehari hari.

    So mau tetap ke dokter apa dukun????

  46. dr. otpicus

    hm, semua penyakit berasal dari psikis ?? mungkin semua pasien saya yang tanya ke saya apakah sakitnya karena “banyak pikiran” udah baca blog ini ya ??
    termasuk yang ada aneurisma di otak, penyumbatan pembuluh darah koroner yang 60%,
    demam berdarah yang jelas2 infeksi virus, USUS BUNTU, TUMOR dsb…
    mas penulis, mana sih jurnal yang mengatakan “Kalau Anda mau membaca jurnal-jurnal kedokteran kontemporer, boleh dibilang sekarang bukan jamannya lagi bakteri dan virus. Menurut penelitian, causa prima terhadap penyakit yang muncul di diri kita sangat didominasi oleh faktor psikis atau internal diri kita sendiri. Faktor-faktor lain seperti keturunan/genetika, mikroorganisme, pola makan, kondisi lingkungan, perubahan cuaca/iklim, dan sebagainya, persentasenya jauh lebih kecil.”
    saya pingin membacanya ? karena kalo hal itu benar, dari pada jadi dokter, mending saya jadi PSIKOLOG!!!!!

Looking forward to hear your thoughts.