Mengapa Begitu Banyak Bencana Alam Terjadi di Indonesia?
January 10th, 2008 | PersonalBeberapa tahun belakangan, Indonesia memang sedang diguncang berbagai bencana alam hampir di seantero negeri, mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus, dan masih banyak lagi. Beragam teori diajukan untuk dijadikan penyebab lahirnya bencana tersebut, mulai dari penggundulan hutan, penyalahgunaan lahan, sampai global warming.
Charles Cohen dan Eric Werker dari Harvard Business School menulis sebuah paper menarik berjudul The Political Economy of “Natural” Disasters. Mereka berpendapat bahwa bencana alam cenderung terjadi lebih sering dan beragam pada negara miskin yang dikelola dengan sistem politik yang buruk. Sejauh mana intervensi politik yang terjadi ternyata juga memengaruhi intensitas bencana alam tersebut.
Pemerintah, menurut Cohen dan Werker, dapat melakukan distribusi kekuatan politik melalui pembelanjaan untuk menangani bencana alam. Pemerintah yang tak punya pendanaan bagus akan terkena racket effect, yaitu secara sengaja memanipulasi populasi korban untuk menarik (dan juga mencuri) bantuan dari luar. Yang menarik, lembaga donor internasional juga sudah “biasa” memberi toleransi atas susutnya bantuan tersebut. Hal ini memicu desperation effect, di mana pemerintahan yang korup punya kemampuan lebih untuk menggandakan “penyusutan” tersebut.
Secara umum, pemerintah dapat menangani atau mencegah bencana alam dengan menggunakan sumber anggaran yang dialokasikan khusus maupun dari sumber pendapatan yang sedianya dialokasikan untuk keperluan lain—-plus sumber-sumber eksternal. Cohen dan Werker ternyata menemukan adanya bias dalam pembelanjaan dana yang bersumber dari anggaran sendiri dibandingkan dari anggaran lain. Semakin banyak pemerintah menggunakan dana dari anggaran sendiri dan tidak mengambil dana dari sumber lain, bencana alam yang terjadi lebih sedikit.
Cohen dan Werker mencontohkan Libya di bawah Muammar Al Qadhafi sejak tahun 1969 hanya mengalami satu bencana alam yang membawa kerugian $42 juta namun tidak menewaskan satu korban pun. Sementara itu Aljazair mengalami 58 bencana alam yang menewaskan hampir 7 ribu jiwa dengan kerugian $10,6 milyar. Mereka juga mencontohkan rezim Apartheid di Afrika Selatan yang menelan korban 1,2 juta jiwa antara tahun 1962 hingga 1989. Namun setelah rezim tumbang, antara tahun 1990 hingga 2002 korban yang timbul “hanya” 95 ribu jiwa. Artinya, penghapusan kasta dan sistem politik yang lebih baik ternyata mengurangi kematian hingga 90%.
Sejak tahun 1900, bencana alam telah menewaskan lebih dari 62 juta orang. Sekitar 85% di antaranya terjadi antara tahun 1900 dan 1950—-dipicu juga oleh peperangan, wabah penyakit, maupun kelaparan. Namun sejak tahun 1990 terjadi peningkatan dimana lebih dari 1 juta orang meninggal dalam bencana alam. Pada tahun 2005, Palang Merah Internasional mencatat negara-negara yang mengalami banyak bencana alam antara lain Kosta Rika, El Savador, Guatemala, India, Meksiko, Nikaragua, Pakistan, Paraguay, Republik Afrika Tengah, Romania, Sudan, dan tentu saja, Indonesia.
Tapi ternyata, fenomena ini sudah tertulis sejak lama dalam Al Qur’an. Secara lebih luas dan gamblang dituliskan dalam QS An-Nisaa 79 bahwa, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Artinya, hal-hal yang tidak “enak” yang kita rasakan—-termasuk di antaranya bencana alam—-tak lain adalah disebabkan oleh diri kita sendiri. Kalau di Indonesia terjadi begitu banyak bencana, kemungkinan memang disebabkan oleh orang Indonesia itu sendiri.
Kalau boleh berpendapat, barangkali bencana ini “lumrah.” Situasi politik dan sosial di Indonesia memang sedang carut marut. Tiap hari kita menyaksikan pemilihan kepala daerah yang saling rebutan kekuasaan. Tiap hari selalu ada berita pencurian, perampokan, sampai korupsi kelas kakap. Kita juga lazim menyimak seorang ayah yang tega memerkosa putrinya sendiri. Sementara itu di jalanan, orang saling serodok seenak perutnya. Tawuran massal dan demo yang menjurus pada aksi anarkis juga sering kita jumpai. Orang saling hujat dan menjelek-jelekkan satu sama lain sudah jadi hal yang biasa.
Selamat tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1429 H. Semoga di tahun yang baru hal-hal semacam itu bisa jauh berkurang dari sebelumnya.



Comments
January 10th, 2008 at 9:50 am
Siapa yang menanam benih, apapun benih itu, suatu saat kita akan menuai hasilnya.
Apakah keadaan sekarang ini masa menanam “benih” atau sudah menuai “hasil”, atau kita lagi melakukan keduanya!
Mulailah dari dir sendiri, mulailah dari hal yang kecil dan mulailah sekarang juga.
Kalau kita tidak bisa mengubah orang lain, ubahlah diri kita sendiri.
Yang gawat kalau kita sudah tidak bisa mengubah diri sendiri!
Met tahun baru Hijriyah 1429.
January 10th, 2008 at 5:13 pm
wahh siapa menabur angin, pasti menuai badai. walaupun semua elemen di dunia ini saling berhubungan, bukannya tetap takdir lah yang menentukan.. selamat tahun baru juga mas nofie
January 10th, 2008 at 7:36 pm
Amin. Selamat tahun baru 1429 Hijriyah.
January 11th, 2008 at 12:55 am
Bagus juga analisa duo itu, mas. Tapi saya dengar dari orang spirituil istana Jogja, SBY harus turun dari singgasana karena beliau dekat dengan bencana. Ini bukan klenik, tapi metafisik (katanya) berdasarkan tinjauan model fengshui atau apalah. Artinya, bukan SBY jelek, tapi belum saatnya beliau naik. Gitu sih, katanya. Walahualam :D
January 11th, 2008 at 11:34 pm
Menarik sekali! Tetapi saya ragu bahwa pemerintah bisa “secara sengaja memanipulasi populasi korban”. Bukankah liputan media sekarang sangat luas dan tidak bisa dibendung.
Selamat tahun baru Hijriyah, Mas Nofie.
January 12th, 2008 at 10:00 am
A great post!! Apa yang dituliskan Cohen dan Werker rasanya benar adanya. Disitu ada soal tentang ketidakcakapan dalam mitigasi bencana dan juga tindakan respon yang sigap.
Mungkin contoh yang paling buruk di negeri ini adalah : manajemen DAS yang amat lemah. Tragedi Bengawan Solo, dan sebentar lagi tragedi Ciliwung (yang berulang tiap tahun) merupakan jejak yang amat terang mengenai matinya manajemen DAS.
Mungkin benar, mestinya Jabodetabek mesti dipimpin gubernur setingkat menteri dengan wewenang yang luas dan terintegrasi.
January 12th, 2008 at 4:20 pm
to Hedi: Saya rasa masih maraknya kepercayaan-kepercayaan seperti itu (tentang orang spirituil istana di jogja dan semacamnya) termasuk salah satu dari banyak hal yang menyebabkan Allah masih sering menimpakan bencana di negeri kita ini
January 13th, 2008 at 2:12 pm
Jika melihat blognya pakde Rovicky, dan beberapa artikel di media (kompas dll) Indonesia memang terletak di daerah gunung berapi, dikelilingi lautan, serta terdapat lempeng-lempeng benua yang saling bersinggungan, sehingga memang rawan bencana. Jadi tinggal bagaimana me mitigasi adanya risiko, sehingga meminimalkan kerugian, baik manusia maupun harta benda.
January 14th, 2008 at 4:23 pm
Tema ini bukan hal yang baru dan selalu menjadi topik yang menarik. Saya setuju dengan Bu Ratna [komen terakhir], bahwa upaya memitigasi risiko adalah sesuatu yang memang harus dipahami.
Bedakan antara bencana alam yang dapat dicegah: Banjir atau yang tak dapat dicegah: Gempa, dan bencana yang dapat diprediksi: Gunung Meletus, Tsunami, Longsor..
Masyarakat Indonesia itu tidak berbuat sesuatu yang mengakibatkan bencana, namun karena justru tidak berbuat sesuatu-lah bencana itu menelan korban.
January 17th, 2008 at 12:43 am
“mungkin alam sudah bosan… melihat tingkah kita.. yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa….” mungkin bait-bait syair Ebiet inilah yang bisa menjawab mas :D
January 18th, 2008 at 7:26 pm
Termasuk kelakuan supporter bola, yang sering bikin ‘bencana’ itu ya mas… Kayaknya pantes juga disebut ‘bencana alam’… Hehehe… Lagian, organisasinya dipimpin oleh ‘penjahat’, gimana mau membawa berkah…?
salam.
January 19th, 2008 at 7:39 am
Saya setuju sekali dg pernyataan diatas
British Airways mengalami short landing tapi tidak menelan korban jiwa, earthquake di Jepang yg bisa saja menelan ratusan korban hanya menelan tidak lebih dari 20 orang dan virus flu burung yang hanya menelan beberapa korban di seluruh daratan eropa menunjukkan bagaimana negara maju lebih waspada terhadap bencana. Kalo negara kita urusan perut saja masih gak karuan , jadi klo ntar ada bencana ya dibilang “takdir” saja…. hehehe
February 10th, 2008 at 8:40 pm
aduh….
aura alam indonesia ternyata cukup “sigap & siap” mengamini komunike Bali global warming to warning [sebagai bukti nyata, bukan skadar kata-kata belaka. ciri khas/stereotipe wong indonesia itoe dielingake ndak digugu, kalau belum ada mana bukti nyatanya? lha kalau sudah terbukti… masih berusaha “ngeles” lagi ….., mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita… coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang… dst.
jadi ora tau gathuk wal kepethuk mekaten Gus Ali… alias tetep “bodho” soale ndak menangkap hikmah dibalik i’tibar [bener atau salah ya] hehehe….
wong nyolong khoq ora wedhi malah nantang karo sing dhuwe ???
rombongan perompak/pembalak kayu dari hutan lindung, mulai tebang tegakan pohon, bikin “galangan kayu darurat” dari kayu bulat/gelondongan dibikin balok papan, semua pakai gergaji mesin yang sama [chain shaw] diangkut pake jungle truck & tak takut melawan 1 s/d 2 petugas jagawana [kurus-2] di danai cukong kayu dari malaysia..
bagi orang indonesie, jelas barang keliru khoq malah mencari wadyo bolo [tafsir demokrasi]
wong indonesia kini, klentu ngunjuk obat…globalisasi “wani isin, wedi bener”
apalagi mulai zaman-nya reformasi ditafsirkan jadi repotnasi…..,nopo mboten hebat semua kemendel unjuk keberanian kebablasan…. [keladuk wani, kurang petungan] alias gunggungan
sekarang ini, barangkali juga esok [siklus cakra manggilingan, semoga tidak] :
alam membasahi bumi akhiri kekeringan dengan air langit skala [cukup]= rahmat ; kelebihan [bencana] = banjir bah.
menyeimbangkan siklus daur tata air [hidrologi] dunia u/ dialirkan, buat mendinginkan cuaca atmosfer & hati gerah, memenuhi hajat hidup orang banyak dan sebagian besar disimpan dalam “Tower Bank Air” ada di pegunungan untuk deposito berjangka sedang, saat urat nadi air mulai susut [sungai] hingga bertemu saudaranya kembali di lautan hingga saatnya tiba bersua sebagai hujan musim akan datang, bahkan ada terjebak didalam batuan hingga membeku panjaang [jadi es kutub = kulkasnya bumi].
dilepasnya air dari Tower Bank Air, lewat prinsip gaya gravitasi & berbagai filter-2 media al.: bebatuan mineral, dan akar-akaran tanaman pelindung dari penguapan sinar matahari selain sebagai media hidupnya mengikat butiran tanah menjadi gumpalan-2 kokoh berdiri tegak bagai tembok menanjak di kemiringan punggung gunung [tebing] curam. akar gede mengikat media lapisan tanah lebih dalam dan keras berbagi jalinan kerja sama dengan akar kecil mengikat media tanah permukaan juga lembut.
andai jalinan alami ini dibabat manusia sesuai dikehendaki melebihi batas kuota alam pun diem, dan menyesuaikan diri dalam “mass balance baru” ; kapasitas simpan air pun menyusut tajam! terjadilah ketimpangan neraca air dimana-mana, wilayah surplus air menyusut, daur kekeringan datang lebih awal. kalau ini dibiarkan terjadi & tanpa ada usaha penyadaran oleh ahlinya pada diem & masyarakatnya berbuat tanpa terkendali …. apa yang terjadi kemudian adalah era fenomena “Lamonganisasi” di setiap daerah/wilayah di jawa zona gemah ripah loh jinawi ini [ekstreemnya bingung cebok & susah minum alias hujan kebanjiran, kemarau kekeringan] extreem phenomenon/ kebat kliwat.
kini knapa seringkali terjadi berita bencana tanah & tebing longsor di saat hujan deras mengguyur berhari-2 [lha dahulu khoq jarang terjadi]? barangkali ini berkah “glastnost end perestroika” “keterbukaan” media massa dan jaringan berita swasta atau memang benar-benar terjadi [laju prestasi perusakan alam hebat].
ya sudah seharusnya terjadi, jangan bertanya lagi kawan!
Ulah sampeyan serakah menata alam sak “kepenake udhele dhewe”, alam sekadar menjalani daur hidupnya saja.[range volume air relatif tetap kagak berubah, hanya filter-2 & sulur akar perekat media bunga tanah dan air yang ada kapasitasnya terlampau kecil. [tinggi tegakan pohon berbanding lurus panjang akar menghujam perut bumi & lebar diameter lingkar daun sejajar rambatan akar menjalar].
Dan diantara berjenis-2 tanaman saling hidup & menghidupi, gak ada persaingan diantara mereka. Indah bukan, tak ada ketidakseimbangan, melainkan seimbang. tanpa akar sebagai sabuk pengikat, dan hamparan kerapatan hijau daun berfungsi ganda melembutkan hentakan tampias butiran air jatuh dari langit dan payung pelembab menaungi butiran tanah, tak mudah terurai dan terlepas ikatannya…rapuh, kusam kering terkena teriknya sinar UV matahari. kalau kehilangan fungsi itu semua humus dan lapisan si bunga tanah terlarut bersama gerusan air, [erosi] jadilah dia bercerai-berai…menjadi tragedi kemanusiaan atau memang manusia mencoba menantang alam, berumah di bawah tebing… coba kalau berani menimbunku, “tak keduk sampai jadi kubangan .. kapok loe” “kasus penambangan sirtu kawasan Ngoro - Kab. Mojokerto & Rembang - Kab.Pasuruan” yang sebenarnya arbotoreum/boster stasiun air bagi jalur Kali Brantas. bagaimana ini, kalau “boster”nya lenyap digondol pemegang izin penambangan golongan C?
maap ini ndongeng pengantar posing kelapa…..
kalau kejadian ini berulang-ulang dan tanpa ada upaya pemikiran mencari akar masalah berikut jalan penyelesaiannya ini menjadi tradisi baru namanya tradisi bencana atau bencana tradisi apa malahan dijadikan sarana mencairkan pos dana penanggulangan bencana alam begitukah? Atau bisa jadi media melatih kepekaan hati dalam berbagi kebahagiaan?
charity care awareness? walah embuh rek…
peran apa dan bagaimana pola berpikir dan bertindak cerdas ala mahasiswa calon pemimpin masa depan berbekal intelektual?
kalau cara belajarnya memakai pola : filsafat lingkungan alam no, problem solve yes.
bagaimana menyelesaikan masalah dengan tuntas, jika tak memahami dan mengenal filosofi perilaku pola lingkungan alam bekerja. bukannya menyelesaikan masalah tanpa masalah [pinjam slogan perum pegadaian] yang terjadi menyelesaikan masalah dengan masalah baru.
contoh sederhana:
fluida mengalir dari satu lokasi tinggi turun ke kawasan lebih rendah.
rekayasa manusia menghendaki kecepatan aliran deras alami atau mekanis [pompa] guna menguras genangan di satu lokasi kawasan, dibuang ke tempat lain, maka dibuat perhitungan matematis [terdapat di ilmu drainase]. andaikan per sektor menghindari dan menghendaki hal yang sama…menolak limpasan air… lantas dibuang kemana kelebihan fluida ini? rawan membuka peluang konflik horisontal sosial kemasyarakatan kemudian menyeret vertikal supra kekuasaan. [andai manusia mengerti bahasa alam] air tanah di kawasan itu mengalami kekurangan akibat pengurangan dalam berbagai hal, butuh di isi ulang/recharge/resapkan kembali kelebihan air[banjir] tadi meresap ke dalam pori-pori tanah di wilayah tersebut sebagai infiltrasi [siklus hidrologi] diabaikan. apa yang terjadi akibat kekurangan air tanah, adalah kekosongan ruang dan penurunan muka tanah [subsidence], diisi oleh air laut merangsek jauh ke daratan [instrusi]. prinsip keseimbangan hukum archimedes/bernoulli? sing bener sing endi? aku ndak ngerti!
uraian diatas, upaya menggambarkan perbedaan pola berfikir kesombongan manusia, ala penggalan-2 penyelesaian masalah, tanpa melibatkan filsafat lingkungan bekerja mengikuti kemauan alam itu sendiri.
issue genting.
kini saatnya berbagi kasih sayang, menyantuni mereka kehilangan periuk nasi juga lauk pauk
dan menjadikan pelipur lara di saat duka lara sedang menimpa mereka, saudara kita juga
kelaparan melanda dimana-mana, dibutuhkan sembako dan pendirian dapur umum juga bantuan medis
dan perannya tl dimana ya? suplai & pasok peralatan portable air bersih atau olah air banjir jadi air bersih!
inikah perwujudan nyata dari sastra peribahasa indonesia,”karena nila setitik rusak susu sebelanga”?
nila nya itu nafsu angkara [seorang] cukong kayu dan kaki tangannya
setitik nya itu perbuatan menebang & mengkonversi lfungsi ahan di hulu
rusak nya itu timbul sepanjang kanan-kiri lintas Daerah Aliran Sungai [DAS]
susu nya bagai air bah tumpah melanda kemana-mana
sebelanga nya bukan hanya di hulu saja melainkan sampai hilir pun turut menanggung akibat perbuatan si nila
aku durung duwe blog…. yo’ opo carane gawe blog?
salam
kucinge perpus
February 22nd, 2008 at 2:45 am
saya setuju sama pendapat mas Ardy,
tapi bagaimana caranya agar topik kita ini bisa didenger sama semua orang, dan sadar akan pentingnya lingkungan. Lha wong yang dipikirin sebagian besar orang udah duit melulu. segala cara dihalalkan dalam mencari uang,…uang dan uang. yang mereka pikir, gimana cara dapet duit dengan cepet, gak peduli warisan untuk anak cucu.. gak peduli utannya bablas, yang penting, bablas alas-e, kuenceng dompetnya.
katanya teknologi semakin maju, tapi apa iya, kebudayaan, sosial kita, perilaku dan sifat2 kita juga ikut maju? aku nda ngerti, di sini (jakarta) aja, semua orang tau kalo kali penuh sampah, bisa buat banjir. tapi aku liat, semua orang malah buang sampah di kali. lumrah katanya, biar cepet anyut, jadi tempat tinggal nya gak bau sampah.
masalah lumpur sido aja, gak ketulungan. apa iya, kalo lumpurnya terus menerus keluar, tanah nya gak semakin menyusut, lha wong di tadinya lumpurnya itu yang menjaga tanah di bawah kita. satu lapisan hilang,…lapisan diatasnya pasti turun. keadaan juga tambah buruk, gas serta merta keluar dimana-mana? aku bingung, kita musti tinggal dimana lagi?
mo’ positive thinking aja? bisa, bencana alam ini, sudah berulang kali memanggil kita untuk bersatu. Ketika ada banjir, akhirnya, kita saling tolong menolong, tapi aku juga bingung, apa yang ada di pikiran beberapa orang, banjir, saat nya nyolong isi rumah tetangga yang ngungsi. lha,…wong edan. Udah di-ingetin sama Sang Pencipta, bahwa manusia ada untuk bersama, setiap ada bencana, ibarat kita ini semua di-sentil sama Sang Pencipta,….buat refleksi diri. apa iya,…kita harus semua dihukum? kalo disentil aja, udah dicuekin. tapi, selesai bencana, yah kita balik lagi sama ego kita masing2.
tapi satu hal, sulit rasanya kalo kita berharap sama hal hal seperti ini, kalo dari diri kita sendiri gak mau berubah. Beberapa temen aku, mereka tau, mo’ pergi dari rumah, tapi listrik,…ac, tv, lampu dibiarkan aja nyala. wong aku bilangin, malah aku dibilang, udah, jangan bawel, biar aja. toh dia yang bayar. lha, piye.
ah, sudahlah,…aku juga gak bisa ngomong panjang lebar.
pokok-e kalo emang kita masih mo’ punya tempat tinggal, rawat lah lingkungan sekitar kita, jaga ego masing2.
Thanx to all of you.
April 4th, 2008 at 3:10 am
penyebab utamanya tau nggak, nih ada 5:
(1) indo negara paling munafik di dunia, suka menunjukkan ke dunia luar bahwa kita penduduk agama terbesar (emang hebat?), itu mah gak pernah di reken ma org arap, kitanya aja yg GR; (2) banyak pembunuh keji mengatas namakan pembela Allah (emang Allah tuh siapa, kok perlu dibela segala, dasar bego!); (3) kebanyakan ngutuk negara lain, kayaknya indo negara paling suci didunia, padahal juara koruptor; tunjukkan dengan perbuatan, jgn dgn jargon2 agar dilihat orang; (4) sering kurang kerjaan, sok jadi pahlawan ngurusin negara yg ga ada urusannya dgn indo; (5) udah miskin belagu !
April 4th, 2008 at 9:46 am
ah..sok pinter dan sok tau lu…emang lu hidup dimana??? jgn2 lu bagian dari penyebab bencana