Memaknai Kembali Tahlilan

February 9th, 2008 | Islam

Tergelitik membaca karikatur Kompas pagi ini, tak cuma meninggalnya mantan presiden Soeharto yang diperingati juga dengan tahlilan selama 7 hari berturut-turut, rasanya budaya Jawa “mengharuskan” setiap orang meninggal dilakukan tahlilan selama tujuh hari (menurut penanggalan Jawa) berturut-turut, juga pada hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000.

Ada yang menyebut acara semacam ini sebagai tahlilan, namun ada juga yang menyebutkan selamatan atau kenduri/kenduren. Biasanya keluarga yang meninggal mengundang kerabat atau tetangga sekitar untuk membaca dan berdoa untuk yang meninggal. Selain bacaan tahlil, tasbih, tahmid, sholawat nabi, seringkali disertai membaca surat Yasin dan ditutup dengan doa. Setelah tahlilan, biasanya keluarga yang meninggal memberikan makanan (kadang amplop) untuk dibawa pulang.

Biarpun saya lahir dan dibesarkan dalam budaya Jawa, namun saya belum pernah menemukan aturan baku soal ini. Kalau saya tanya ke orang tua atau kakek nenek saya dulu, jawabannya klise: ini yang diajarkan pendahulu kita. Kalau saya tanya gimana seandainya nggak pakai tahlilan, selalu dijawab singkat, “ora ilok” (tidak pantas). Tapi ada juga yang berteori bahwa yang demikian ini sebenarnya adalah akulturasi budaya Jawa kuno/Hindu kuno yang memberi pengaruh pada agama Islam saat ini.

Pada dasarnya Islam tidak mengajarkan tahlilan semacam ini. Dalam sebuah hadist riwayat Abu Hurairah, Rasul pernah mengatakan bahwa, “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya.” Artinya, tahlilan—-atau bacaan apapun yang dikirimkan kepada yang meninggal—-sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak.

Selain itu, dari hadist tersebut di atas, ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil.

Pertama. Sebagai orang tua, kita jangan terlalu menggantungkan diri pada “anak sholeh” untuk mendoakan kita setelah kita tiada. Iya kalau mereka mendoakan kita. Kalau nggak? Biar bagaimana pun, anak akan membawa jalan kehidupannya sendiri.

Lebih baik kita mempersiapkan bekal kita sendiri dengan banyak beramal dan berbuat baik, menafkahkan harta di jalan Allah, membagi ilmu yang bermanfaat, termasuk mendidik anak kita dengan baik. Walau anak adalah “milik” kita, kita jangan terlalu berharap mereka akan mendoakan kita. Anggap saja “anak sholeh yang mendoakan orang tuanya” hanya sebagai “bonus.”

Kedua. Sebagai seorang anak yang ingin berbakti dan mendoakan orang tua kita yang sudah tiada, ada baiknya kita melakukan introspeksi terlebih dahulu. Sudah sholeh-kah kah kita? Doa yang diterima adalah doa anak yang sholeh. Artinya, kalau memang ingin mendoakan orang tua kita, tentu kita sendiri harus menjadi sholeh terlebih dahulu.

Menjadi sholeh juga bukan merupakan pekerjaan yang gampang. Menjadi sholeh juga bukan melulu sholat berjamaah di masjid, melainkan lebih dari itu: senantiasa berbuat baik, santun dalam berperilaku, rendah hati, bertutur kata yang tidak menyakitkan hati, dan masih amat sangat banyak lagi.

Untuk “menguji” apakah kita sudah pantas disebut “sholeh” caranya mudah. Kalau kita mendoakan orang lain, pasti banyak dari doa-doa kita yang dikabulkan. Pertanyaannya sekarang, apakah doa-doa kita banyak yang langsung dikabulkan? Kalau belum, apakah pantas kalau kita menyebut diri kita sholeh?

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. amatiran

    Mas, doa orang soleh pun gak selalu langsung dikabulkan?betul bukan ya?
    Mungkin tujuannya tahlilan itu, agar keluarga yang ditinggalkan ikut berdoa, jadi doanya kan berasal dari anak juga.:)perhaps

  2. radit tsu

    Hanya Allah SWT yg pantas menilai shalih tdkny seorng hamba. Ukuran keshalihan seseorng tdk dpt diukur dng ukuran mnusia…
    Yg bs qt lkukan adlh trs brusaha mndektkan diri pd Allah SWT dg ikhlas, tnpa brharap mndpt sebutan “orang shalih” dr sesama manusia…
    InsyaAllah hati qt yg mmpu mrasakan kedekatan hub qt dg Allah SWT. Amiin…

  3. Rian Wahyudi

    bos, bukannya tahlilan itu juga bakalan menyambung silaturahmi pada kerabat atau rekan yang sudah meninggal dunia
    mbaca Qur’an juga
    jadi bermanfaat bagi yang masih hidup & kalo rame-rame kan juga termasuk syiar

  4. Hedi

    Sebelumnya maaf, saya bukan muslim, tapi dari penjelasan temen2 yg muslim, katanya tahlilan itu ada hubungannya juga dengan tradisi dan kultur di masyarakat. Sementara yang laen bilang tahlilan adalah tradisi NU dan bukan di Muhamadiyah. CMIIW.

  5. Nofie Iman

    Memang benar, tahlilan lebih banyak berhubungan soal tradisi/kultur maupun untuk silaturahmi. Tulisan di atas memang lebih mengulas soal sisi agama dan soal anak sholeh-nya.

    Soal NU atau Muhammadiyah, saya no comment. Buat saya, Islam itu satu, tanpa pakai golong-golongan. :)

  6. Godil

    Tahlilan itu ngucapin lapad laa ilaaha illalloh,knapa hrus nunggu cap soleh brangkat mnuju soleh trus qt ngdoa ibadah koq,ingat kalamulloh ‘UD.UNII ASTAJIB LAKUM anda munkin tahu artinya! Thanx u

  7. pandi merdeka

    wah om nofie.. tapi kalo niat ikhlas, dan tulus bukannya dah cukup om.. secara semua keputusan kan kembali yang diatas. terus semangat posting ya om.

  8. ~Mas Kopdang~

    tahlilan itu wajib bagi yang mewajibkan dan dilarang bagi yang melarang…

  9. zaki

    kasi masukan ttg tahlil :
    Imam Ahmad bin Hanbal ra. Berkata dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi :
    Imam Thawus berkata: Seorang yang mati akan beroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sahabat Ubaid ibn Umair berkata: “Seorang mukmin dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan memperoleh ujian selam 7 hari, sedang seorang munafiq selama 40 hari di waktu pagi.” (Al Hawi lil Fatawi as Suyuti, Juz II hal 178)
    Imam As-Suyuthi berkata : “ Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman Imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriyah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 194)
    Kemudian, peringatan demi peringatan itu menjadi tradisi yang seakan diharuskan, terutama setelah mencapai 40 hari, 100 hari, setahun (haul), dan 1000 hari. Semua itu berangkat dari keinginan untuk menghibur pada keluarga yang ditinggalkan sekaligus ingin mengambil iktibar bahwa kita juga akan menyusul (mati) di kemudian hari.
    Kata “haul” tersebut diambil dari sebuah ungkapan yang berasal dari hadist Nabi SAW :
    “’Anil waqidi qoola: kaanan nabiy shollalloohu ‘alaihi wa sallam ya zuuru syuhada-a bi uhudin fii kulli haulin, wa idzaa balaghos sa’ba ro fa’a shoutahu fayaquulu : “Salaamun ‘alaikum bimaa shobartum fani’ma ‘uqbad daari, tsumma Abu Bakrin rodiyallahu anhu kulla haulin yaf’alu mitsla dzalika, tsumma ‘Umarubnul khotob tsumma ‘Utsmanub nu ‘Affaana rodhiyallahu ‘anhuma.
    “Dari Al-Waqidi Rasulullah SAW setiap haul (setahun sekali) berziarah ke makam para syuhada’ perang Uhud. Ketika Nabi SAW sampai di suatu tempat bernama Sya’b, beliau mengeraskan suaranya dan berseru : “Salaamun ‘alaikum bimaa shobartum fani’ma ‘uqbad daari ”
    adapun dalil tentang sampainya pahala pada orang meninggal ataupun untuk mendo’akan orang lain silahkan baca surah Muhammad 19, Al Mukmin ayat 7 - 9, an-Nuh 28, Ibrahim ayat 40-41, Al-Hasyr 10

  10. Godil

    Thanx u mas al alim almukarom al ustad zaky,atas ulasannya tentang Tahlilan tanda kutip kenduren,ana ga perlu beli kitab banyak buat nerangin mereka yg ga suka kenduren,walaupun keterangan ini doip tapi bs qt gunakan utk ningkatkan amal kita

  11. thamid

    Kan gak ada salahnya silaturahmi.
    Kan gak ada salahnya baca tahlil, tasbih, tahmid, sholawat nabi dan surah yasin.
    malah berpahala…

    yg gak baik itu kalau tahlilan malah menjadi beban keluarga yg berduka.
    yg mubazir itu kalau tahlilan cuma sebatas formalitas.
    yg gak etis itu kalau tahlilan jadi ajang fashion show.
    yg bid’ah itu kalau tahlilan dikultuskan.

    kalau mau tahlilan ya luruskan dulu niatnya.

  12. Ahmad Faiz Al-Hakam

    Mas, kalau anda membicarakan tahlilan untuk yang mati, memang kalau di baca di seluruh kitab tafsir kita memahami sebuah ayat yang berbunyi
    وأن ليس للإنسان إلا ما سعى artinya manusia itu amalnya tergantung dari yang dikerjakan, maka kesimpulan para ahli tafsir menyatakan bahwa pahala bacaan orang hidup kepada orang mati itu tidak akan sampai, tapi di dalam kitab al-baid’ah saya membaca sebenarnya pahala orang yang tahlilan itu hanya untuk yang membaca bukan untuk orang yang mati, tapi jika berharap agar pahala itu sampai kepada orang mati tentu bukan pada tahlilannya tapi pada doanya, makanya orang yang bertahlil biasanya dianjurkan untuk berdoa ” Ya Allah sampaikan pahala bacaan tahlil, tahmid dan lain-lain kepada ahli kubur si a, b, c dan lain-lain, bukankah semua doa Allah akan kabulkan ? sebagai mana firman Allah Swt ” Mintalah kau kepada-Ku, maka akan Aku penuhi permohonanmu” jadi kita laksanakan tahlilan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah dan untuk berharap agar Allah berkenan menghadiahkan pahalanya untuk para almarhum. Amin

  13. Irfan

    Saya ngikutin terus tulisan mas nofie ini..
    Banyak yg saya setujui pendapatnya, tp tidak soal tahlilan ini!
    Saya bukan dari latar belakang NU dan Muhammadiyah, tp saya tidak setuju kalau ada yg benci tahlil apalagi mengharamkannya. Karena isi dari tahlilan itu sendiri membaca tahmid , tasbih dan takbir juga doa-doa. Tidak ada hal yang buruk dsana, smua adalah kebaikan, masalah sampai tidaknya doa kita, itu urusan Allah! Yang penting paling tidak kita sudah berusaha, dibanding kita diam dirumah tanpa tahlilan!
    Dan juga yang paling penting adalah;
    Tahmid, dalam bahasa Arab yang artinya : membaca Al-hamdulillah.
    Takbir, yang artinya: membaca Allahu Akbar
    Tasbih, yang artinya: membaca Subhanallah
    sedangkan Tahlil, artinya: membaca LAA ILAA HA ILLALLAAH!
    Apakah anda begitu membencinya atau bahkan mengharamkannya???!!
    Istighfaar!!!

  14. Hans vd Boer

    Makna melaksanakan Tahlil dirumah keluarga yang meninggal, Pertama, merupakan peringatan kepada kita yg masih hidup bahwa suatu saat kita akan meninggal juga. Olehnya jangan lupa bertaqwa kepada Allah sesuai dengan perintah dan larangannya.
    Kedua, untuk menemani keluarga yang berduka, dalam silaturrahim sebaiknya dengan menyebutkan nama Allah dan shalawat kepada Rasul. Ketiga, Tidak ada satupun manusia didunia ini dapat mengukur atau menghitung do’a kpd orangtua, mana yang dikabulkan atau tidak dikabulkan. Sebagai anak atau kerabat sebaiknya kita saling mendoakan dalam kebaikan, semoga dikabulkan Allah SWT. Keempat, Bagi yang mau melakukan Tahlil silahkan, bagi yang tidak mau melaksanakan Tahlil, juga silahkan, mengapa hrs dipermasalahkan untuk dijadikan Polemik. Kelima, Jangan selalu berburuk sangka (negatif thinking),marilah kita mulai dengan berbuat kebaikan tanpa saling menyalahkan. Allah Maha Mengetahui.

  15. jaz

    Tidak ada yang melarang membaca tahlil, bahkan kita diperintahkan untuk selalu berdo’a dengan didahului membaca kalimah thoyibah, diantaranya tahlil, takmid, takbir dan tasbih dsbnya. Tapi Allah tidak mewajibkan umat Islam untuk mengadakan ritual / ibadah tahlilan setelah ada anggota keluarga yang meninggal dunia selama 3,7, 40, 100 hari, setahun, 1000 dilanjutkan “ngijing” segala. Bahkan kita dilarang untuk berduka secara berlebihan dengan menangis secara histeris atau merengek-rengek. Juga kita tidak diperbolehkan untuk meramaikan peringatan meninggalnya anggota keluarga dengan berpesta makan-makan dengan menyembelih hewan/daging sebagai jamuan makanan, baik untuk keluarga maupun tamu. Kalau sudah begini namanya mengada-ada, berlebihan dan haram hukumya. Kebiasaan ini kalau tidak dibetulkan lama-lama menjadi adat yang tidak syariah, jauh dari islam, seolah-olah menjadi ibadah dalam islam padahal tidak ada hukumnya.

  16. boogrex

    waduh mas jaz
    baca dong yang di atas kok kayaknya belum baca
    maksudnya meng ada2 itu apa, yang mana
    coba deh baca keterangan dari sahabat2 di atas
    kalo sudah baru komentar

    (^_^)

  17. boogrex

    atou baca disini aja http://jepits.wordpress.com/2008/01/02/tahlilan-pertama-semenjak-hijrah-ke-jakarta-tahun-2005/

  18. accida01

    Untuk saudaraku seiman, saya sependapat dengan penulis ,sebagaimana terjemahan hadist hadist shahih dibawah ini;
    1. Telah berkata jarier bin abdullah albajali; segenap sahabat rosulullah nabi muhammad saw menganggap bahwa berkumpul kumpul dirumah ahli maiyit dan membuat makanan (kenduri) setelah dimakamkan maiyit itu termasuk bilangan setengah meratap.(hadist shahih riwayat akhmad dan ibnu majah)
    2.Telah berkata abdullah bin jafar ; pada saat tersiar khabar terbunuhnya jafar, rosulullah nabi muhammad saw bersabda ; hendaklah kalian buatkan makanan untuk ahli rumah jafar, lantaran mereka itu telah kedatangan perkara yang menduka citakan mereka (hadist shahih riwayat akhmad,abu dawud,turmudzi,ibnu majah,syafi’i,dan thabarani).
    3.Telah diriwayatkan oleh mughni ibnu qudamah ; bahwa jarier pernah datang kepada umar bin khattab ,dimana umar khattab bertanya; adakah diratapkan atas maiyit di kaum kamu ? jawab jarier ;tidak. Lalu umar khattab bertanya lagi; adakah orang orang berkumpul dirumah ahlul maiyit dan membuat makanan ? jawab jarier ya. ! lalu umar khattab berkata; yang demikian itu adalah ratapan (meratap) (hadist shahih riwayat mughni ibnu qudamah)
    4.Apabila anak adam meninggal dunia, maka putuslah amalannya,kecuali tiga perkara ;pertama shadaqah jariyah ,ilmu yang telah diamalkan dan bermamfaat bagi orang lain,dan anaknya yang sholeh yang mendoakan nya (.hadist shahih riwayat abu dawud).
    Penjelasan;
    No.1.Bahwa berkumpul2 dirumah ahli maiyit dan mereka membuat makanan untuk orang yang datang itu oleh sahabat sahabat dan tabiin dianggap meratap . alhasil bikin kenduri yang dikatakan orang malam 1,…2…3…7…40…100 hari dll. adalah termasuk ratapan yang diharamkan oleh rosulullah nabi muhammad saw. Mengerjakan selamatan sebagaimana yang biasa berlaku di indonesia hukumnya bid’ah. dan bid’ah tersebut seringkali mencelakan orang 2 yang tidak mampu.,yang terkadang menjual barang2nya atau menggadaikannya atau meminjam uang guna mengadakan selamatan. Sehingga mereka bisa menjadi tambah susah dan tambah miskin . sesungguhnya menurut pikiran yang waras bahwa orang yang susah itu tidak boleh ditambah kesusahannya ,tetapi harus diberi kesenangan yang bisa menghilangkan /meringankan kesusahannya. Sebagaimana perintah rosulullah nabi muhammad saw untuk keluarga ja’far.
    No2. Bahwa tatkala datang khabar kematian jafar maka rosulullah nabi muhammad saw menyuruh agar orang lain membuat makanan untuk ahlul maiyit ( ahli rumah jafar ) bukanlah ahli maiyit itu(atau keluarga jafar) yang akan memberi makanan buat orang2 yang datang sebagaimana keadaan yang berlaku sekarang ini.
    No.3 Bahwa segenap sahabat telah mufakat ,melarang orang2 berkumpul dan makan makan dirumah ahli maiyit setelah maiyit itu dimakamkan,.karena keadaan yang demikian itu disebut meratap. Sedangkan meratap itu hukumnya haram.
    No.4 Bahwa pahala bacaan alquran semisal tahlilan atau amalan lainnya yang dibuat oleh orang orang yang hidup untuk orang yang mati itu; tidak akan sampai pada simati. Berdzikir itu baik,tapi tidak selamanya hal baik itu menjadi baik bila mana dikerjakan bukan pada momennya atau tempatnya ..shalat itu baik bahkan suatu kewajiban bagi umat islam , tetapi bila dikerjakan bukan pada waktu dan tempatnya niscaya menjadi sia sia. Akhirnya ulama2, ahli fiqhi terlebih lebih imam yang empat sepakat menyatakan bahwa berdzikir dengan cara tsb adalah suatu perkara yang diada adakan , dan segala sesuatu yang diada adakan adalah bid;ah dan bid;ah (lawan sunnah) adalah sesat ,dan sesat tempat di neraka jahannam. Demikian saudaraku seiman maaf kalau kurang berkenan. wassalam

  19. bonex

    Assalamu ‘alaikum…… accida01
    Sebelumnya sy minta maaf. mungkin ada kata2 yang kurang berkenan.
    1. Telah berkata jarier bin abdullah albajali; segenap sahabat rosulullah nabi muhammad saw menganggap bahwa berkumpul kumpul dirumah ahli maiyit dan membuat makanan (kenduri) setelah dimakamkan maiyit itu termasuk bilangan setengah meratap.(hadist shahih riwayat akhmad dan ibnu majah). + Hadist yang anda tulis no 3.
    Dari hadist ini perlu kita cermati :
    - bahwa kata berkumpul kumpul dirumah mayit tidak sama dengan tahlilan. Berkumpul disini diartikan kegiatan hanya untuk meratapi (menangis, menyesali dll) maka beda dengan tahlilan.
    - Membuat makanan. Memang Saya tidak setuju kalo yang membuat makanan ahli maiyit. Tapi bagaimana dengan yang membuat makanan warga sekitar yang bukan ahli maiyit? (seperti hadist yang anda tulis nomor 2)
    Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa ahli waris maiyit (anak) disini difokuskan untuk berdo’a (dengan terlebih dahulu membaca tahlil/meng-Agungkan Alllah) selannjutnya ditutup do’a. Kita sebagai saudara/warga sekitar membantu dengan menyediakan makanan dan juga turut berdo’a untuk yang meninggal. Insya’Allah dengan banyak orang yang berdo’a Allah mengabulkan. Amiin

  20. accida01

    To bonex saudaraku
    1.Tahlilan memang tidak sama dengan berkumpul kumpul, namun pada dasarnya seperti yang kita lihat sekarang ini , kebanyakan tahlilan diadakan secara berkumpul kumpul , dari ahli maiyit ,sanak saudara (family) ,dan para tetangga .dan itu diadakan setelah maiyit dimakamkan.maksudnya untuk mendoakan yang meninggal .sedangkan tahlilan tersebut tidak ada anjurannya sama sekali baik dari tabiut tabiin, para sahabat apalagi dari rosullullah sendiri .dan sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa doa orang orang tersebut tidak akan sampai kepada si maiyit kecuali dari anaknya sendiri yang sholeh jadi kalau yang mendoakan itu anaknya sendiri malah diwajibkan .Tahlilan itu merupakan suatu adat yang sudah turun temurun ,yang tidak berdasarkan syari’at islam .tahlilan itu lebih tepat dikatakan dzikrullah atau berdzikir, namun seperti yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa segala sesuatu yang dilakukan bukan pada waktu dan tempat nya akan sia sia belaka walaupun itu maksudnya baik., bahkan lebih menjurus pada perbuatan bid’ah. Ingat saudaraku antara bidah dan sunnah tipis sekali jaraknya, menghidupkan satu bidah sama dengan mematikan satu sunnah. Naudzubillahi min dzalik.
    2.Saya bersyukur kalau anda setuju bahwa seharusnya yang membawa makanan adalah warga sekitarnya bukan si ahli maiyit / keluarga yang ditinggalkan.dan itu seharusnya lebih tepat dilakukan tepat pada saat si fulan meninggal. Agar makanan tersebut bisa disuguhkan kepada pengurus jenazah, keluarga fulan, dan masyarakat yang datang melayat. . Jadi saudaraku jangan lah membuat urusan yang baru dalam agama , karena segala amalan yang tidak ada sanadnya dari tabiut tabiin ,para sahabat dan dari rosululah sendiri akan tertolak. Jadi dzikir atau tahlilan untuk orang yang meninggal adalah bid’ah belaka wallahu a;lam.

  21. bonex

    To : accida01 saudaraku juga

    Dalam kitab Ihya“Ulumuddin,Imam al-Ghazali menyampaikan sepuluh metode
    yang efisien dan efektif untuk berdo’a, yaitu:

    1. Memilih waktu yang tepat dan memanfaatkan saat-saat mulia seperti
    ramadhan,`Arafah,Jum`at dan saat sepertiga akhir di waktu sahur yang
    merupakan mustajab
    2. Memanfaatkan kondisi yang mustajab(terkabul) seperti kondisi
    sujud,jihad,turun hujan dan diantara azan dan qamat.
    3. Menghadap qiblat,menengadahkan tangan dan mengusap wajah saat
    selesai.
    4. Menyederhanakan suara dan menghindari suara keras.
    5. Menyederhanakan bahasa doa dan lebih utama-bila takut salah
    ucap-menggunakan doa alqur`an dan doa yang diajarkan atau dilakukan oleh
    Nabi(doa matsurat yang diajarkan oleh Rasulullah saw.)
    6. Penuh khidmat,khusyu` dan emosi jiwa.
    7. Bersungguh-sungguh dalam memohon dan berharap yang disertai keyakinan
    akan dikabulkan doanya.
    8. Menekankan permohonannya dan dapat mengulanginya tiga kali tanpa
    disertai prasangka akan lama dikabulkannya.
    9. Memulai doanya dengan dzikir dan pujian kepada Allah serta shalawat
    kepada Rasulullah saw. 10. Itikad tulus dan niat kuat untuk bertaubat
    secara benar.

    Maaf saudaraku bukan saya itu anti atau PRO terhadap tahlilan. Kita harusnya bijak dalam menghadapi segala permasalahan. Jadi jangan terlalu memfonis sesuatu itu bid’ah atau sunnah (seperti yang dikatakan saudaraku, sangat tipis jaraknya). Menurut sepengetahuanku Dzikir atau tahlil bukan tdk ada sanadnya kalau kita melihat cara/metode berdo’a.
    Dzikir atau tahlilan merupakan pembuka untuk kita BERDO’A. Karena ituntuk

  22. bonex

    To : accida01 saudaraku juga

    Dalam kitab Ihya“Ulumuddin,Imam al-Ghazali menyampaikan sepuluh metode
    yang efisien dan efektif untuk berdo’a, yaitu:

    1. Memilih waktu yang tepat dan memanfaatkan saat-saat mulia seperti
    ramadhan,`Arafah,Jum`at dan saat sepertiga akhir di waktu sahur yang
    merupakan mustajab
    2. Memanfaatkan kondisi yang mustajab(terkabul) seperti kondisi
    sujud,jihad,turun hujan dan diantara azan dan qamat.
    3. Menghadap qiblat,menengadahkan tangan dan mengusap wajah saat
    selesai.
    4. Menyederhanakan suara dan menghindari suara keras.
    5. Menyederhanakan bahasa doa dan lebih utama-bila takut salah
    ucap-menggunakan doa alqur`an dan doa yang diajarkan atau dilakukan oleh
    Nabi(doa matsurat yang diajarkan oleh Rasulullah saw.)
    6. Penuh khidmat,khusyu` dan emosi jiwa.
    7. Bersungguh-sungguh dalam memohon dan berharap yang disertai keyakinan
    akan dikabulkan doanya.
    8. Menekankan permohonannya dan dapat mengulanginya tiga kali tanpa
    disertai prasangka akan lama dikabulkannya.
    9. Memulai doanya dengan dzikir dan pujian kepada Allah serta shalawat
    kepada Rasulullah saw. 10. Itikad tulus dan niat kuat untuk bertaubat
    secara benar.

    Maaf saudaraku bukan saya itu anti atau PRO terhadap tahlilan. Kita harusnya bijak dalam menghadapi/melihat segala permasalahan. Jadi jangan terlalu tergesa2 memfonis sesuatu itu bid’ah atau sunnah (seperti yang dikatakan saudaraku, sangat tipis jaraknya). Menurut sepengetahuanku Dzikir atau tahlilan bukan tdk ada dasar/sanadnya kalau kita melihat cara/metode berdo’a.
    Dzikir atau tahlilan merupakan pembuka untuk kita untuk mendo’akan si mayit. Karena itu kita diharapkan pandai2 menyikapi sesuatu. Jadi menurutku, melihat sesuatu itu seharusnya dari berbagai segi. Inti dari dzikir/tahlilan itu adalah do’anya. Wallahu a’lam

    Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya
    orang-orangyang menyombongkan diri dari dari menyembah-Ku akan masuk
    neraka jahannam dalamkeadaan hina dina.”(QS,al-Mu`min:60)

    “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah murka kepadanya.”
    (HR.Tirmidzi)

  23. ARChie

    Kalau mau kebaikan kan tiap hari khan bisa…..baca LAA ILAA HA ILLALLAAH, shalawat, tiap hari untuk si mati kan bisa. ALLAH MAHA TAHU.
    Kenapa harus pakai 7,14, 100, 1000 hari, ada riwayat atau contoh dari Muhammad SAW haru 7 hari? Rule dari mana ??
    Kalau memang dibuktikan itu adalah ajaran atau adaptasi dari ajaran animisme (kayaknya emang sih)…yahh kita tolak dong.
    Kalau kita orang Islam si Indonesia mau terima yang adat tahlilan (dari orang tua) dengan membaca LAA ILAA HA ILLALLAAH, anak muda sekarang bisa dong baca LAA ILAA HA ILLALLAAH, tasbih, tahmid yang sama pada hari Valentine (Hari Kasih Sayang ) untuk orang tua atau yang tersayang yang sudah meninggal. Dan kemudian diwariskan kepada anak cucu kita sebagai hal wajib pada seperti halnya tahlilan. Nggak ada salahnya kan baca LAA ILAA HA ILLALLAAH, tahmid, di hari itu??. Dan itu kan kebaikan yang sama dengan tahlilan — dan sama2 tidak ada di ajaran Islam. Istigfarrrr ????
    Saya bukan yang anti, tapi hanya mengingatkan teman-teman disini bahwa di islam kita sedapat mengikuti apa yang di contohkan oleh nabi kita Muhammad SAW. Kalau yang hukumnya abu-abu kayak tahlilan begini sebaiknya dihindari/tidak dilalukan.

  24. Oko

    rame…rame….sekali …..tahlilannya . . . . . . .
    kalau menurut oko sih, buat mas accida01 yang tidak melaksanakan tahlilan salut atas masukannya dan semoga pendapat mas accida dapat diterima/dimengerti oleh penahlil (yg suka tahlilan), sedangkan untuk yg suka tahlilan salut juga atas alasan-alasannya, semoga Allah memberikan petunjuk kepada seluruh umat islam untuk melaksanakan ibadahnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits
    Mari kita baca lagi Al-Qur’an dan Hadits kemudian kita telaah dan renungkan, ambil yang soheehnya dan tinggalkan yang dooiifnya
    usulan : Bagaimana biar tahlilan tetap dilaksanakan dan ahli mayit tidak disusahkan maka tahlilannya tidak di rumah ahli mayit dan biayanya ditanggung oleh penahlil (urunan/dibagi rata), mau engga yach ? he. . . he . . . he. . . .

    (Mantan Penahlil)

  25. muhamad yudi

    kalo lu kagak percaya doa orang talilan nyampe ke orang yg udah ninggal ,lu MATI duluan entar gw doa,in/tahlil-in nyampe apa ngak biar lu nyaho!!!

  26. aing tea


    yg saya tau:

    setiap ibadah itu diharamkan hukumnya KECUALI yg dicontohkan oleh rasulullah saw.
    karenanya, segala macam ibadah yg tidak dicontohkan oleh rasulullah saw adalah bid’ah, walaupun itu dengan tujuan baik, spt membaca quran/tahmid/tasbih, dsb.

    begitu yaa….

  27. ansori

    silahkan baca artikel ini…. mdh2an ada pencerahan

    http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8834

  28. aing tea

    terimakasih pencerahannya mas ansori..
    ternyata sudah sebegitu jauh penyimpangan yg dilakukan bangsa kita.

    mdh2an kita semua diberi petunjuk. insyallah..!!

  29. Masiri ZM

    hai nofi iman………
    setelah saya membaca pendapat anda tentang TAHLILAN saya sedikit tertarik juga untuk memberikan komentar…
    Allah sangat mencintai orang yang berharap kepadaNya
    Allah mencintai orang yang berdo’a kepada Nya
    Ada salah satu hadis yang menerangkan bahwa kalau kita tidak suka berdoa maka kita tergolong orang yang sombong……..dan kesoombongan itu hanya milik Allah yang maha menguasai seluruh isi alam semesta baik dunia maupun akhirat. Ketika satu keluarga mengadakan tahlilan tak lain adalah sebagai rasa sayang kepada sanak famili yang telah meninggalkannya, tentunya suatu perbuatan baik apabila keluarga yang ditinggalkan mendoakan kepada yang telah meninggal tentunya tujuannya adalah agar yang meninggal diampuni dosanya yang telah di perbuat baik dosa besar maupun dosa kecil. setiap manusia wajib berusaha dan berdo’a masalah dikabulkan atau tidak itu adalahh urusan Allah yang penting kita sebagai manusia jangan sombong dan jangan merasa sudah cukup. tapi yang penting adalah bagaimana kita sebagai mahluk Allah harus berdoa mengharapkan keridaaanNya. Di dalam tahlilan selain untuk mendoakan yang meninggal tapi juga ada unsur lan yang baik yaitu bersilaturahmi dan saling mengingatkan antara kita akan kematian……….. sekian

  30. Yusuf

    Masalahnya kan di dalam tahlilan yng selama ini dilakukan kita bukannya berdoa saja,tapi lebih kepada MENGIRIM PAHALA dari apa yng mereka bacakan semisal surat Yasin,kalau bicara mengirim pahala itukan sama halnya dengan TRANSFER PAHALA,sedang berdoa adalah sesuatu yang disuruh Allah,kan jelas beda antara BER-DO’A dengan MENGIRIM PAHALA,coba saja perhatikan kata2 dari pemimpin tahlilan,kalau dlm bahasa kita nya” dari apa yang kami bacakan ini dari Al-Qur’an,dari Tasbih,dari tahlil,dari tahmid,pahalanya…..kami kirimkan untuk si fulan bin fulan…..tidak menutup kemungkinan mereka juga mengirim pahala2 nya itu kepada Nabi Muhammad dan Keluarga,Syech Abdul Qadir Zaelani….dan orang2 yang mereka sebutkan.
    Kalaulah saya umpamakan,BER-DOA itu sama dengan APLIKASI PERMOHONAN KREDIT kpd BANK,sementara KIRIM PAHALA itu sama dengan TRANFER UANG melalui Bank,maka APLIKASI KREDIT silahkan saja di ajukan!,mengenai dikabulkan atau ditolaknya,itu terserah kepada BANK……….itu tandanya sipengaju kredit memang TIDAK PUNYA UANG makanya bermohon kpd Bank.Kalau kita berdoa kepada Allah,hal itu memang sudah sepantasnya…..masalah dikabulkan doanya atau tidak itu terserah Allah,yang jelas kita hanya memohon,ini sama halnya dng Aplikasi Kredit tadi,TETAPI…….kalau kita TRANSFER UANG,ini adalah hal berbeda,kita menyuruh Bank untuk mengirim Uang kepada si Fulan,itu artinya kita punya uang…yang kita suruh itu Bank..kita bayar fee untuk kerja si Bank itu,kita suruh-suruh itu Bank,karena kita punya uang banyak….Kalau TRANSFER PAHALA kira-kira siapa yang kita suruh-suruh untuk nyampein kita punya pahala itu? Malaikat kah? Jin kah? atau Allah yang kita suruh-suruh? apakah kita sudah kebanyakan pahala?sampai sampai kita kirim-kirim kepada orang lain? artinya bagi yang melakukan hal spt ini,sebenarnya melakukan pelecehan thd Allah yang bisa dia suruh-suruh untuk menyampaikan pahala tsb…sadar kah mereka?
    Kalau anda mengeluarkan dalil hadits dari Abu Hurairah mengenai anak yng soleh,jelas hadits ini bertentangan dng banyak ayat di dlm al-quran yang menjelaskan tidak ada hubungan sekalipun ayah thd anak atau sebaliknya,”Famayya’mal mistqolazarrotin hoiroyyaroh,wamayya’mal mistqoolazarratin syarroyyaroh”.
    Dalam kaitan mayyit,Rasulullah mengajarkan sampai batas liang lahat,dimulai dari:memandikan,mengkafankan,menyolatkan dan menguburkan,setelah itu tidak ada prosesi berkenaan dng yng telah meninggal dunia.

    Wallahu a’lam !

  31. ARChie

    Mas Masiri ZM,
    Janganlah dicampuradukkan kegiatan yang baik ( berdoa, membaca qur’an, silaturahmi ) dengan hal yang buruk - karena akan menjadi buruk,
    Walaupun tahlilan mempunyai sisi baik dengan mem-pererat silaturahmi, membaca quran, mengingat mati, dan penyediaan kotak makanan (catering) dari keluarga si mati ??? - tetapi tidak ada dasar dalam Islam/dicontohkan nabi Muhammad SAW atau bahkan adaptasi dari kebiasaan animisme - cenderung kepada bid’ah, menjadi perbuatan yang buruk.
    Berdoa baik…tetapi ada tempat dan waktu tertentu agar doa kita terkabul, membaca quran baik.. tetapi ada tempat dan waktu tertentu agar membaca quran mendapat pahala (apakah pantas qur’an di teriakkan di pasar??) dan semua hubungan vertikal kepada Allah SWT - ada tuntunannya dalam Islam.Demikian pula dengan silaturahmi (kumpul-kumpul???), mengingat mati (seharusnya setiap hari), kasih sayang ke si mati (lebih baik dengan berdoa sehabis shalat) - tidak harus dengan tahlilan.
    Sebaiknya cari cara yang lebih baik dan Islami dalam memohon dan berdoa bagi keselamatan si mati. Bagaimana anda menjawab pertanyaan Allah nanti, apa dasar anda menyelengarakan tahlilan, dan nabi Muhammad mungkin akan ditanya oleh Allah apakah mewariskan budaya tahlilan(dengan segala pernik-perniknya??) kepada umatnya. Tahlilan di Indonesia ( dan mungkin hanya di Indonesia) cenderung dianggap ritual/ibadah wajib. Ibadah dalam Islam harus ada dasarnya dan menjadi haram bila tidak mempunyai dasar baik dari Quran dan hadist.

  32. mada

    waduh rame juga nich,islam masuk ditanah jawa dengan senyuman,perkawinan (cinta kasih) bukan dengan makian,hinaan,kekerasan.bahkan islam menggunakankan dalang wayang yang sekarang akan dilaknat sebagai bid”ah oleh pendukung ala wahabit.yang berkultur penyamun padang pasir yang sesungguhnya cenderung atheis.tidak ada umat dimuka bumi ini yang tidak terpengaruh oleh latar belakang budaya nya.hidup saling menghormati lebih baik dan mulia.

  33. Yudi

    Kalau saya baca keterangan-keterangan di atas adalah semua berbut baik atau kebaikan. Menurutku yang namanya baik yang paling baik adalah jika dilihat dari sisi aturan-atauran yang telah dibuat oleh Allah dan Rasulnya. Tapi kalau baik hanya dilihat dari sisi napsu kita itu adalah hal yang kuarng baik. ada dicontohkan di atas : “Sholat adalah perbuatan baik, banyak pahalanya, kenapa kita katakan baik? Jika kita melihat dari sisi aturan, karena itu ada perintah yang jelas dari Allah dan ada tata caranya sesuai dengan hadits-hadits. Tapi coba kalau kita lihat dari sisi napsu kita, Sholat itu baik banyak pahalanya, kalau begitu waktu sepanjang hari kita gunakan untuk sholat terus, biar pahalanya berlipat ganda. Nah tentunya tidak seperti itu kan? Kita tetap melaksanakan yang sesuai dengan ketentuan Allah.”. Jadi kenapa harus mempersulit diri kalau memenag Allah tidak mempersulit. Ya mudah-mudahan ini sudah final. Ada baiknya dari Allah SWT kalau ada yang tidak baik dari saya pribadi.

  34. haris

    bung nofie kayaknya ngambil dalilnya lewat searching juga ya,
    trus kasih keterangan menurut ro’yu deh, jadi begitu deh keterangannya…
    agak ngarang-ngarang dikit & subyektif menuruti isi hati sendiri,
    kalo mau ngutip dalil pahami dulu dong bung,
    apalagi surat annisa di artikel aa gym poligami, keterangannya kelewat panjang sampai maknanya jadi ngawur dan melenceng (pasti subyektif sesuai apa kata hati bung nofie).
    sekarang lagi “orang tua jangan terlalu mengharapkan do’a anaknya”
    ya ampun …… opini apa lagi tuh
    orang tua jelas kalau nggak bisa ngasuh anaknya dengan baik dan benar dan berusaha menjadikan anaknya jadi orang saleh tentu akan mendapat dosa dan laknat Allah,
    jadi orang tua mau bersusah payah mendidik anak untuk menjadi anak soleh tentu ingin dapat pahala dan do’a dari anaknya yang soleh.
    anak juga nggak harus menimbang-nimbang dirinya soleh apa nggak untuk do’a in orang tuanya, jelas tanda bakti anak terhadap orang tua yang sudah meninggal atau belum meninggal salah satunya adalah mendo’akan orang tuanya.

    Ada 3 perlakuan Allah terhadap do,a hambanya yang soleh :
    1. Dikabul
    2. Diganti dengan hal yang lebih baik (menurut Allah)
    3. Ditunda (dijawab di akhirat dengan surgaNya).

    ket diatas ada hadistnya, pasti bung nofie sudah tahu, tapi segitu aja neranginnya biar nggak ngelantur,

  35. Reza Maghraby

    Menurut saya, ibadah adalah untuk dilaksanakan dan bukan untuk dibicarakan.
    Semoga diskusi ini mendapat cahaya dan Ridho-Nya.

  36. Johnson

    saudara-saudaraku yang seiman semuanya. menurutku kalau yang mengalami sendiri mungkin akan lain pertimbangannya. istriku wafat tanggal 4 maret 2008 lalu, karena sakit percernaan. anakku 2 orang, 11 dan 9 tahun. aku mualaf, dan bukan dari kalangan berada. aku sudah laksanakan tahlilan 7 hari atas permintaan orang tua dan saudara-saudara istriku. dan tgl 12 april 2008 pihak keluarga istriku akan melaksanakan tahlilan hari ke-40. jujur saja, semua tdk sesuai keinginan nuraniku. hampir pecah rasanya kepala memikirkan itu. sebagai orang muslim, panutanku yang mulia Muhammad saw, kurang apa beliau, kurang apa para sahabat beliau, mengapa mereka tdk melaksanakan tahlilan? kalau tidak ada hadistnya, atau penjelasannya dalam Al-Qur’an, kenapa sich kita ambil resiko untuk mengira-ngira manfaatnya. tdk melaksanakan tidak ada sangsinya kok. neraka itu resiko yang tidak boleh ditempuh. jangan sampai. aku hanya ingin diberi kesempatan memikirkan kelanjutan hidup yang masih hidup, anak-anakku. tidak semudah yang dibayangkan. tidak sesederhana kelihatannya. shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, Insya Allah sudah mendiang ambil bagiannya. sekarang beri aku kesempatan mendidik anak-anakku untuk jadi anak-anak yang shalih, lalu akan kuajarkan mereka untuk selalu mendo’akan ibunya. jangan bebani aku dg hal-hal yang tak perlu kutanggung. GOD HELP ME!!!

  37. chusnul

    bismillahirrohmanirrohim
    berbicara tentang tahlil,untuk itu saya sampaikan sedikit kata semoga manfaat bagi kita semua amin.
    menurut saya perbuatan tahlil merupakan suatu hal yang tidak dilarang asal dengan tujuan betulbetul mendoakan niat ihlas untuk orang lain dan untuk diri kita.toh pada akhirnya apa yang kita ucapkan dan perbuat selalu untuk menyenangkan orang lain dan silaturohmi

  38. Johnson

    Kami tidak merasa dihibur atau disenangkan, tapi dibebani, biayanya banyak mas, pusing mikirnya, capek. Kami pingin istirahat, menata kembali kehidupan kami yang berantakan. Mencoba kembali hidup normal. Bisa bekerja kembali seperti biasa. Mengingat-ingat kembali orang yang kami cintai, padahal sudah tidak ada, sangat…, sangat menyakitkan, dan sama sekali tidak ada nilai hiburannya. Biarkan kami hidup normal kembali, sibuk bekerja dan belajar, untuk menghilangkan rasa sakit ini. Aku sudah berada di jalan ini, jalan yang menurutku benar, dan ada yang aku panuti. Junjunganku dan para sahabatnya, tidak pernah melakukan ini. Kalau pernah, pasti ada tuntunannya, pasti ada hadistnya.

  39. osbon

    Allahummagfir lil Muslimin Walmuslimat al ahyaai mihum wal amwaat
    (Ya Allah Ampunilah dosa bagi orang Muslim dan Mu’min baik yang masih hidup maupun yang sudah mati) ini tentunya bacaan wajibbagi para khotib saat sholat jum’at

  40. bungasrikandi

    pengalamanku sbg ibu2 yang terjun langsung di masyarakat, hal2 spt tahlilan dll memang tdk bs dihindari, tapi kita bisa berkompromi dan meniadakan pro kontra tahlilan tsb.Ini yg kami lakukan :
    1. Keluarga kita beri pengertian untuk tidak melakukan apa-apa (menyiapkan tempat, menyiapkan makanan dll, pokoknya tidak mengeluarkan materi sedikitpun), semua dikerjakan secara gotong royong oleh tetangga.
    2. Acara yang biasanya diisi tahlilan, kita ganti dengan acara yg diisi oleh tausiah, yang intinya memberikan kekuatan moral, mengingatkan bahwa kematian adalah hal yang biasa, kita semua akan mengalaminya. Dan waktu berduka cukup sampai hari ke-2. Selanjutnya keluarga diberi semangat untuk menata kehidupannya kembali
    3. Perhatian kita tidak sebatas mengurus jenazah, tetapi kehidupan setelah itu. Biasanya kami menyediakan logistik untuk seminggu setelahnya, mendaftarkan anak-anak yang ditinggalkan (yatim/piatu) ke organisasi atau mesjid setempat untuk dibantu baik secara moril maupun materil.

Looking forward to hear your thoughts.