Investasi Saham Untuk Pemula
March 9th, 2008 | Investment“When it comes to predicting the market, the important skill is not listening, but snoring. The trick is not to learn to trust your gut feelings, but rather to discipline yourself to ignore them. Stand by your stocks as long as the fundamental story of the company hasn’t changed.”
—-Peter Lynch
“Rule number one of investing is never lose money.
Rule number two is never forget rule number 1″
—-Warren Buffet
Sebagian besar masyarakat kita pernah mendengar kata “saham” namun tak jarang yang masih menyisakan banyak pertanyaan di benaknya. Misalnya, apakah investasi saham bisa dilakukan oleh individu? Atau, andaikata penghasilan saya kurang dari Rp 5 juta per bulan, bisakah saya berinvestasi saham? Atau, seandainya saya ingin berinvestasi, apa tahapannya dan siapa yang harus saya hubungi? Nah, karena ada beberapa email yang mengajukan pertanyaan serupa, maka sekalian saja saya tulis di sini.
Seperti kita tahu, saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Anda membeli saham berarti Anda membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Selama perusahaan beroperasi dan membukukan keuntungan, Anda juga berhak mendapat bagian dalam bentuk dividen. Anda juga bisa mengambil keuntungan dari naiknya harga saham tersebut dari waktu ke waktu. Untuk lebih lengkapnya, silakan download dan pelajari publikasi Bursa Efek Indonesia berikut.
Bagaimana Memulainya?
Sebelum memulai berinvestasi, Anda harus membuka rekening efek terlebih dahulu melalui perusahaan sekuritas yang terdaftar sebagai anggota bursa di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selain itu Anda diharuskan menyetor sejumlah deposit yang bisa bervariasi antara Rp 10 juta - Rp 50 juta. Masing-masing sekuritas berbeda satu sama lain—-ada yang menawarkan full-service, ada yang hanya melayani jual-beli saja. Ada pula perusahaan sekuritas yang memberikan jasa online brokerage, sehingga Anda bisa melakukan jual-beli lewat internet. Beberapa di antaranya adalah:
- Etrading Securities
- Indo Premier Securities
- Phillip Securities Indonesia
- Samuel Sekuritas Indonesia
- Sarijaya Permana Sekuritas
- Supra Securinvest
Daftar lengkapnya bisa dilihat di sini.
Setelah Anda mengisi form, melengkapi persyaratan dan administrasi, biasanya 2-3 hari kemudian Anda bisa mulai berinvestasi. Besarnya fee untuk bertransaksi sekitar 0,2% untuk beli dan 0,3% untuk jual. Perusahaan sekuritas biasanya membolehkan Anda untuk bertransaksi yang nilainya 2-3 kali dari deposit yang Anda setorkan. Dana biasanya ditransfer dari/ke rekening Anda pada T+2 (beli) sampai T+3 (jual).
Namun, Anda juga perlu berhati-hati dengan broker. Mereka dibayar berdasarkan komisi beli-jual—-tak peduli Anda untung atau rugi. Broker-broker nakal bahkan sering menggunakan dana Anda tanpa ijin untuk melakukan trasaksi sendiri. Selain itu, sebagian broker (perusahaan sekuritas) juga bertindak sebagai penjamin emisi (underwriter) ketika sebuah perusahaan mendaftarkan diri di bursa. Demi alasan marketing, mereka punya kepentingan untuk menjaga agar harga saham emiten tersebut tetap “bagus.” Oleh karenanya, jangan jadikan rekomendasi dari analis sebagai sumber utama dalam melakukan investasi—-melainkan sebagai masukan saja. Yang terbaik tentu saja do your own homework!
Analisis Fundamental & Teknikal
Dalam dunia investasi, ada 2 metode yang lazim digunakan sebagai alat, yaitu fundamental analysis (FA) dan technical analysis (FA). FA menilai saham berdasarkan kondisi fundamental perusahaan itu sendiri, karenanya, FA lebih sesuai untuk investasi jangka panjang. Seorang FA sejati biasanya tak cuma sekadar menganalisis data keuangan saja, tetapi juga datang ke perusahaan yang diincar, berbicara dengan manajemen dan pemiliknya, melihat visi-misi dan strategic plan ke depan, dan sebagainya. Tak jarang seorang FA sejati sampai terbang ke seantero dunia demi mengorek informasi langsung dari perusahaan.
Sementara itu, TA menilai harga saham berdasarkan refleksi harga di masa lalu dengan membaca sentimen, tren, dan proyeksi yang mungkin terjadi di masa depan. TA akan membantu Anda memerkirakan arah pergerakan harga, membuat batas-batas pergerakan dalam kondisi tertentu, serta menunjukkan target arah beserta risikonya. TA lazimnya dilakukan dengan bantuan software aplikasi dan banyak mengeksploitasi grafik (chart). Karena sifat dan karakternya, TA lebih cocok untuk trading (spekulasi) dalam jangka pendek atau perlindungan (hedging).
Khusus di Indonesia, ada sebagian orang yang memasukkan bandarmologi analysis (BA) sebagai salah satu alat alternatif. Singkatnya, BA dilakukan dengan mencari rumor dan bisikan tertentu, lalu membonceng bandar saat mereka akan menggoreng sebuah saham. BA hanya sesuai untuk dilakukan dalam waktu yang benar-benar pendek—-dan Anda punya akses untuk menemukan saham mana yang siap untuk digoreng.
Gorengan (cornering) adalah aksi yang dilakukan untuk memanipulasi harga dengan membuat permintaan yang sangat tinggi atas saham tersebut. Setelah harga sahamnya melewati target point tertentu, mereka kemudian melakukan aksi jual untuk meraih capital gain. Saham-saham gorengan biasanya merupakan saham lapis dua-tiga yang peredarannya tidak banyak dan harganya relatif murah. Mereka bisa naik-turun dengan sangat drastis tanpa sebab yang jelas dan harga saham tidak mencerminkan kinerja yang sesungguhnya.
Mana yang paling tepat? Masing-masing hanya sebuah alat yang akan bermanfaat bila digunakan oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat pula. Saya sendiri lebih menyukai FA karena filosofi saya adalah membeli saham dalam rangka memiliki perusahaan tersebut. Selama ini, semua dihitung hanya dengan kalkulator (atau ponsel) dan dicatat di kertas/map tanpa software khusus. Sejauh ini, saya juga belum pernah menjual saham yang pernah saya beli.
Kalau Anda tertarik mempelajari lebih lanjut fundamental analysis, silakan baca buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham, terbitan HarperBusiness Essential. Aslinya, buku ini terbitan tahun 1973, namun ditulis ulang tahun 2003. Buku Henry Markowitz, Portfolio Selection: Efficient Diversification of Investments, terbitan Yale University Press juga layak dijadikan referensi.
Sementara itu, kalau Anda lebih prefer ke technical analysis, saya sarankan baca buku Technical Analysis of the Financial Markets karya John Murphy, terbitan New York Institute of Finance (1986). Ada juga yang menyarankan buku Technical Analysis A to Z karya Stephen Achelis (2003)—-tapi saya belum pernah baca. Mengenai bandarmologi analysis, sejauh ini nampaknya belum ada buku yang menulis khusus tentang itu. :)
Memilih Saham Unggulan
Setelah rekening efek Anda siap dan Anda sudah bisa melakukan jual/beli saham, maka bagian tersulit dari investasi saham adalah memilih jagoan yang nantinya akan memberikan hasil terbaik bagi kita. Karena saham merupakan tanda kepemilikan kita atas perusahaan, maka ada baiknya untuk berfikir layaknya pemilik bisnis (business owner). Sebelum menentukan perusahaan mana yang ingin dibeli, lakukan investigasi terlebih dahulu terhadap fundamental perusahaan yang Anda incar.
Ada ratusan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Anda bisa memulai dengan menyortir perusahaan-perusahaan dengan bidang bisnis yang Anda pahami atau perusahaan-perusahaan yang memiliki produk dan jasa unggulan. Pilih perusahaan yang Anda perkirakan akan terus bertumbuh selama 10, 20, 30 tahun ke depan. Selanjutnya, sortir berdasar manajemen dan pemiliknya. Pilih perusahaan yang dikelola oleh tim manajemen yang mumpuni. Hindari perusahaan yang punya tren “aneh”, misalnya sebuah perusahaan batubara ketika harga komoditi batubara naik namun harga sahamnya justru turun.
Ada baiknya juga memilih perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah atau grup bisnis yang terkenal profesional. Perusahaan yang dimiliki pemerintah (BUMN) biasanya “dituntut” untuk profitable dan memberikan sumbangan kepada negara melalui penerimaan dividen. Hindari perusahaan yang dimiliki (dikelola) oleh grup-grup bisnis yang memiliki reputasi kurang baik. Berhati-hatilah karena mereka tak jarang melakukan manipulasi laporan keuangan atau melakukan trik financial engineering yang kasar.
Warren Buffett menyarankan untuk memilih perusahaan yang memiliki economic moats, atau keunggulan kompetitif yang sulit untuk ditiru oleh kompetitornya. Economic moats bisa berupa keunggulan dalam bentuk brand (kekuatan merk), cost (efisiensi biaya), switching (”kesulitan” untuk berpindah ke produk/jasa lain), atau protection (perlindungan berupa paten, hak pengelolaan, aturan pemerintah, dsb). Economic moats tersebut akan membuat customer rela membayar lebih tinggi. Oleh karenanya, perusahaan yang memiliki economic moats bagus akan lebih profitable dan tetap bisa bertumbuh—-sekalipun suku bunga atau harga-harga sedang naik.
Sebagian orang juga menyarankan untuk membeli perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar (bluechip) dan yang likuid serta sering dijualbelikan (LQ45). Perhatikan juga bila perusahaan tersebut berencana untuk membeli kembali (buyback) saham mereka. Biasanya itu merupakan pertanda saham mereka dihargai lebih murah dan punya prospek yang bagus di masa depan.
Masih bingung juga? Mungkin Anda bisa sedikit “mencontek” portofolio dari reksadana saham yang selama ini punya kinerja moncer. Isi perut reksadana tersebut bisa dilihat dari laporan tahunan dan/atau prospektus mereka. Anda bisa gunakan portofolio mereka sebagai guidance untuk menyeleksi perusahaan yang akan menjadi tempat Anda berinvestasi.
Nah, kalau Anda menyortir sekian ratus perusahaan yang listing di BEI, maka sampai tahap ini pilihan yang tersisa mungkin tinggal 20-30 perusahaan saja. Cari informasi lebih lengkap tentang kondisi sebenarnya perusahaan tersebut, misalnya dari karyawan, klien, supplier, atau akuntan yang mengaudit perusahaan tersebut. Bila ada waktu, kunjungi perusahaannya supaya mendapat gambaran yang lebih lengkap. Kalau tidak, berarti Anda harus “make sure” bahwa laporan keuangan sudah mencerminkan kondisi sesungguhnya dari perusahaan tersebut.
Baca laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan-perusahaan yang Anda incar. Anda bisa menemukannya di sini, sini, dan sini. Alternatifnya, Anda juga bisa men-download di situs web perusahaan yang bersangkutan.
Pilih perusahaan dengan return on equity (ROE) lebih dari 15%. Hal ini menggambarkan bagaimana kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang dimilikinya. Kalau ROE hanya berkisar 8-9%, maka berinvestasi di perusahaan tersebut sama saja dengan menabung dalam bentuk deposito.
Selanjutnya, pilih perusahaan yang pertumbuhan laba (earning growth) stabil berkisar antara 20% atau lebih. Pilih juga perusahaan yang memiliki rasio utang terhadap modal yang relatif rendah dan rasio harga per free cashflow rendah. Artinya, perusahaan bisa menghasilkan kas dalam jumlah besar untuk membiayai operasional perusahaan dan melakukan ekspansi tanpa perlu mengandalkan pinjaman dari luar yang berbiaya tinggi. Rasio debt/capital yang rendah juga memungkinkan perusahaan menghasilkan cashflow yang lebih sehat dan tak terlalu sensitif dengan pergerakan suku bunga.
Sampai tahap ini, mungkin tinggal 10-15 perusahaan saja yang tersisa di tangan Anda.
Memprediksi Harga Wajar Saham
Asumsikan Anda sudah menemukan 10-15 perusahaan terbaik menurut Anda. Lalu, bagaimana cara untuk menentukan harga wajar saham tersebut? Pertama, tentukan earning per share (EPS) dan tren pertumbuhannya untuk 5 tahun ke depan. Kalau pertumbuhannya di atas 15%, gunakan rate 15%; sementara bila pertumbuhannya di bawah 10%, gunakan rate 10%. Kalikan untuk melihat future value pada akhir tahun kelima.
Setelah menemukan EPS pada akhir tahun kelima, kalikan dengan price earning ratio (PER) pada tahun tersebut. PER pada tahun tersebut dihitung dengan aturan sederhana; bila PER kurang dari 20%, gunakan rate 12%; bila PER lebih dari 20%, gunakan rate 17%. Selama ini, penelitian menunjukkan sangat jarang perusahaan membukukan PER tinggi lebih dari 17% selama bertahun-tahun. Setelah dikalikan, Anda akan menemukan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima.
Selanjutnya, tentukan berapa value sebenarnya saham tersebut. Caranya, tambahkan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima dengan dividen yang diperoleh. Dividen dihitung dengan menjumlahkan EPS selama lima tahun dikalikan dengan dividen payout ratio (DPR). Setelah ketemu fair value saham tersebut pada akhir tahun kelima, tinggal mendiskontokan ke nilai sekarang dengan target (hurdle rate) yang kita inginkan.

Perhatikan contoh berikut. Dengan menggunakan hurdle rate 15%, yaitu mengasumsikan saham perusahaan akan memberikan return 15% secara kontinu, saham TLKM bisa dibeli di bawah harga Rp 10.500. Sementara dengan hurdle rate 20%, saham TLKM harus dibeli di bawah harga Rp 8.500. Nah, bila harga saat ini Rp 9.700, kalau mengharap return setidaknya 15% per tahun, Anda boleh membeli sekarang. Namun, bila Anda mengharapkan return setidaknya 20%, Anda harus menunggu sampai harganya turun ke Rp 8.500.
Tentu saja perhitungan tersebut masih sangat kasar. Saya juga menghitung hanya dengan corat-coret. Selain itu, rate yang saya gunakan sangat konservatif karena banyak dari saham tersebut memiliki pertumbuhan EPS dan PER sangat tinggi. Bisa jadi, harga yang nantinya terbentuk jauh melampaui perhitungan tersebut. Tapi setidaknya simulasi di atas bisa jadi acuan untuk menaksir harga wajar suatu saham.
Setelah menemukan 5-7 saham terbaik yang memenuhi hurdle rate Anda dan diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, buy as much as you can. Hold untuk waktu yang lama. Insya Allah 4-5 tahun investasi Anda mulai menunjukkan hasil.
Last but Not Least
Invest your time before invest your money. Sebelum terjun beneran, ada baiknya untuk meluangkan waktu belajar, membaca buku, mengikuti workshop, dan menggali lebih banyak informasi lain. [Promosi: Saya sedang menulis buku lebih detil soal saham. Mohon doa restu, mudah-mudahan bisa segera terselesaikan. :) ]
Jangan lupakan juga aturan dasar dalam berinvestasi: beli perusahaan bagus dengan harga diskon. Don’t be afraid to wait. Cari timing bagus yang memungkinkan Anda membeli di harga murah, misalnya bulan-bulan Januari-Februari. Kalau Anda bisa membeli murah, walaupun harga tidak naik, Anda tetap melakukan “best buying” dan tetap mendapatkan potensi keuntungan melalui dividen.
Bagaimana dengan pergerakan naik turunnya harga? Saya sendiri tak terlalu memedulikan. John Bogle, dalam tesisnya sewaktu masih di Princeton, mengatakan bahwa dalam jangka pendek harga akan selalu bergerak mengikuti psikologi dan sentimen pasar. Namun dalam jangka panjang, harga akan mencerminkan fundamental perusahaan itu sendiri. Selama tembakan kita jitu, dalam jangka panjang, ia akan memberi keuntungan yang cukup lumayan buat kita. Jangan tergoda untuk keluar-masuk hanya karena fluktuasi harga. Lebih baik Anda fokus pada pekerjaan lain atau mencari penghasilan alternatif untuk diinvestasikan lagi ke portofolio Anda.
Walau terdengar klise, jangan lupa untuk selalu berdoa agar dibimbing dalam membuat analisis dan keputusan investasi terbaik. Kalau investasi Anda sudah sukses, jangan lupakan untuk sisihkan setidaknya 10% dari keuntungan Anda buat mereka yang kurang beruntung. Kalau ada orang lain yang tertarik mencoba mengikuti jejak Anda, jangan segan-segan untuk membagi ilmu dan pengalaman.
Situs Referensi
- Bapepam-LK
- Bisnis Indonesia
- Bloomberg
- Bursa Efek Indonesia
- CNBC
- CNN
- Detik Finance
- E-Bursa
- Financial Times
- KSEI
- Investopedia
- Investor Indonesia
- Reuters
- Stockwatch
- Wall Street Journal
- Yahoo! Finance
Untuk sementara, demikian dari saya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah atau terkesan menggurui. Saya hanya sekadar sharing. Bila ada kritik, saran, atau pertanyaan, please don’t hesitate to ask me. Siapa tahu saya bisa membantu. :)



March 28th, 2008 at 10:01 pm
Comments
March 9th, 2008 at 3:00 pm
I found your site on technorati and read a few of your other posts. Keep up the good work. I just added your RSS feed to my Google News Reader. Looking forward to reading more from you.
Jason Rakowski
March 10th, 2008 at 11:43 am
gimana kalo bung nofie dijadikan rujukan untuk bandarmologi analysis ;)
March 10th, 2008 at 5:27 pm
Mas Nofie,
mau nanya nih….
Beda main saham dengan forex apa yah?
Apakah FA dan TA di kedua sarana investasi itu sama?
Makasih jawabannya
March 10th, 2008 at 10:20 pm
mas nofie ysh,
kasih dong ulasan ttg halal-haram bermain saham. atau kalau pernah diposting, mohon kirim ulang linknya. bagaimana dg saham2 yg di-approve JII? mohon pencerahan yoo..
March 11th, 2008 at 1:54 am
Buat bbg_satriani :
Beda main saham dengan forex apa yah?
bedanya ya obyek yang di-trading-kan, kalo ‘main saham’ yang di-trading-kan adalah saham2 perusahaan yang go public/listing di bursa efek, sedangkan ‘main forex’ yang di-trading-kan adalah mata uang
Apakah FA dan TA di kedua sarana investasi itu sama?
FA untuk saham; yg di analisa adalah kondisi fundamental perusahaan (sudah dijelaskan dengan gamblang oleh Mas Nofie), sedang untuk forex, yg dianalisa adalah kondisi fundamental mata uang-nya, korelasinya tentunya dengan kondisi fundamental ekonomi negaranya.
TA untuk saham maupun forex, software aplikasinya umumnya mirip, sedangkan indikator2 yang digunakan untuk membaca pergerakan harga banyak sekali (bollinger band, Moving Average, RSI, dsb), tinggal disesuaikan dengan trading style masing2 trader saja.
mungkin Mas Nofie bisa menambahkan…
semoga bermanfaat…
March 11th, 2008 at 9:55 am
Mas Nofie, thanx atas sharingnya..
seperti biasa artikel mas Nofie selalu menginspirasi.
March 11th, 2008 at 5:19 pm
tulisan yang bagus dan mudah dicerna bagi pemula ;)
March 12th, 2008 at 1:22 pm
thanks atas postingannnya
sangat bermafaat untuk gw ynag sedang mencoba jadi trader
March 12th, 2008 at 3:19 pm
Dear bang iman..
Terima kasih postingnya yang sangat bagus…cocok sekali dengan yg sedang saya alami
Saya coba2 belajar fundamental perusahaan untuk bisa berinvest jangka panjang dalam saham..seperti kata buffett, memiliki sebuah bisnis yg sehat.
Saya sedang kesulitan untuk membaca laporan keuangan perusahaan terutama dalam menentukan jumlah saham perusahaan tersebut…yang biasanya terdapat dalam kolom Ekuitas dan Kewajiban.
Banyak analisa fundamental mensyaratkan jumlah saham sebagai variabel yang dihitung seperti Price to Value Book, Nilai Saham terhadap penjualan dan Net Tangible Asset per saham, dan Earning per share tentunya.
Bagaimana cara kita menentukan jumlah saham yang beredar?..apakah cukup dengan membagi laba bersih dengan earning per share (EPS)?..sebab saya sedikit ragu.
Mohon pencerahannya..
Saya sangat appreciate, kalau kita bahas lewat japri..(email sudah saya sertakan)..
Terima kasih banyak sebelumnya
March 13th, 2008 at 4:59 pm
Saya ingin menanyakan tentang TLKM.. memang kalo diliat dari tahun 2003.. itu sekitar 2000an… tapi kalo kita perhatikan dari 2 januari 2007 (10.350) hingga 28 desember 2007 (10.150), bukannya naik malah turun. Padahal fundamentalnya kuat sekali. Menurut mas Nofie gimana prospek 5 taun ke depannya? apa mungkin bisa bertahan 15% per tahun?
March 13th, 2008 at 5:22 pm
Semoga bukunya mas Nofie cepet selesei, aku pasti beli deh mas, thanks for all your advice in your blog
March 13th, 2008 at 9:28 pm
Setuju.. saya siap beli bukunya.. & thanks
March 15th, 2008 at 10:32 pm
tadinya udah seneng karena harga saham saya naik tapi berhubung subprime mortage, harga saham saya anjlok banget nih. nyangkut tapi biarin aja deh… :(
March 16th, 2008 at 12:29 pm
Rekan bbg_satriani, sebagian besar pertanyaan Anda sudah terjawab oleh rekan Ibud.
Sedikit saja saya tambahkan, dalam ilmu ekonomi, ada tiga pasar utama yang menunjang perekonomian suatu negara, yaitu pasar keuangan (financial), pasar barang dan jasa (goods and services), dan pasar tenaga kerja (labor). Ketika kita berbicara investasi, maka kita biasanya me-refer pada pasar keuangan. Pasar keuangan sendiri terdiri dari pasar uang dan pasar modal.
Saham adalah produk yang dijualbelikan di pasar modal. Sementara forex/valas merupakan produk yang dijualbelikan di pasar uang. Biasanya, orang bisa mendapatkan untung di pasar modal ketika harga sedang naik; sementara di pasar uang, orang bisa mendapat gain baik ketika pasar sedang naik atau pasar sedang turun. Pada intinya, konsep dasar FA dan TA di kedua instrumen tersebut tak jauh berbeda.
March 16th, 2008 at 12:32 pm
aing tea,
Saya tak berani mengatakan apakah bermain saham halal atau haram. Apabila yang dimaksud “main saham” adalah berinvestasi (hold long-term) dan tidak semata-mata mencari untung dari fluktuasi harga, menurut saya insya Allah halal. Namun, bila yang dimaksud adalah trading jangka pendek, saya tidak berani menjawab. Saya pernah menanyakan hal ini pada orang-orang yang lebih kompeten namun belum menemukan jawaban yang bulat.
Menurut Dewan Syariah Nasional, emiten yang masuk JII adalah emiten yang core business-nya sesuai dengan prinsip syariah dan rasio keuangan berupa utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) tidak boleh melebihi 82%. Selain itu, pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya tak boleh lebih dari 10% dari total pendapatan.
Mereka juga tidak boleh melakukan kegiatan usaha yang dilarang menurut Peraturan Bapepam-LK No. IX.A.13 2(a), tidak melakukan perdagangan tanpa penyerahan barang/jasa, dan tidak melakukan perdagangan dengan permintaan atau penawaran palsu.
March 16th, 2008 at 12:34 pm
Mas Amir Karimuddin,
Jujur saja saya tak pernah mengamati TLKM dari dekat. Sejauh ini yang saya dengar dari teman-teman, lebih banyak berita kurang sedap. Misalnya, TLKM terlalu kental urusan politiknya dan selama ini digembosi sebagai sapi perah. Selama ini juga pendapatan TLKM lebih besar disumbang oleh Telkomsel, bukan dari core business-nya.
Prospek ke depan TLKM jujur saja saya kurang tahu. Pertumbuhan di dunia telekomunikasi Indonesia dikejar dengan perang harga/tarif, bukan dengan peningkatan support quality atau inovasi teknologi dan efisiensi. Nyatanya, saham-saham telekomunikasi (tak cuma TLKM) sejauh ini kinerjanya selalu kurang menggembirakan.
March 16th, 2008 at 12:47 pm
Bpk. Zulqarnain,
Jumlah saham beredar bisa dilihat pada situs BEI di bagian profil emiten. Anda bisa mengetahui berapa banyak saham yang beredar untuk setiap emiten yang terdaftar di bursa.
March 18th, 2008 at 12:26 am
sekadar urun rembug, sebagai pemegang TLKM
TLKM memang barometer IHSG (bobotnya 15% dalam perhitungan index saham) tapi industri telco indo memang udah kurang menarik lagi…penurunan tarif baik telepon maupun sms, perang harga yang terjadi secara ancur2an, consumer yang gampang sekali berganti operator sehingga angka ARPU menjadi kurang relevan. mungkin sementara ini perlu dilirik sektor lain dulu dah daripada telco sector
gimana ke depan? Teknologi berkembang sangat pesat, sehingga menurunkan biaya bandwidth semakin murah. Warnet tarif Rp 5.000/jam saja bisa untung. Kebutuhan bandwidth untuk buka situs ini satu kali saja setara dengan ribuan sms.
TLKM rajanya ADSL, tarif di Indonesia masih yang termahal di Asia. Saya perkiraan sektor ini akan digenjot habis oleh TLKM. Pasalnya kompetitor gak punya fixed line, TLKM tinggal numpang infrastructure nya saja. Bagaimana gak untung? yang lain konsen ke perang harga; untuk ekspansi kemampuanya berkuranng. tlkm sekarang giatnya garap internet, yang lain kayanya akan ngos2an kejar tlkm, karena dah kejebak ma perang tarif.
Kedepanya bisnis transfer data mungkin bakalan bagus. ISP mulai berguguran. Strategi TLKM dengan speedy-nya mengkanibalisasi telkomnet instant bukannya tanpa hitungan. Segmentasi pasar internet di Indonesia paling kecil di Asia Tenggara. Semua orang tahu broadband di Indonesia termahal di Asia. Untuk harga saat ini saja ISP lain sudah tidak kuat melawan.
Hendry
March 18th, 2008 at 7:19 am
Saya cuma beli saham, karena dapat ESOP dan MSOP……lumayan lah….tapi kondisi saat ini, walau fundamental analisis perusahaan bagus, karena pengaruh ekonomi Amerika, harga saham turun drastis.
Kalau saran saya sih, kalau mau berinvestasi saham, sisihkan uang untuk saham…dan jangan dicampur dengan yang lain sehingga nggak deg-deg an. Juga masih ada investasi yang aman lainnya, seperti dalam bentuk deposito dan tabungan, ini untuk jaga-jaga jika harga saham drop seperti sekarang. Tentu saja, biaya operasional bulanan masih dapat dari gaji bulanan….(ini saran orang yang sudah berumur dan konservatif…).
.
March 18th, 2008 at 8:55 am
Kalo saya mulai dari membeli saham2 yg big cap, misalnya:
1.TLKM
2.BUMI
3.ASII
4.INCO
5.BBRI
6.BBCA
7.BMRI
8.PGAS
9.HMSP
10.AALI
March 18th, 2008 at 9:37 am
Hindari Saham :
1. Pertambangan non Energi
2. Perbankan
3. Properti
4. Telekomunikasi
5. Perusahaan Biodiesel
6. Perikanan
7. 3rd liner
8. Yang tidak liquid
9. ETF
10. PER terlalu tinggi di kelasnya
11. Fundamental yang tidak bagus
12. Perusahaan yang lagi ada masalah
13. dll
Invest ke saham :
1. Komoditi –> Timah (Komoditi lain hindari/non energi)
2. Pertambangan energi
3. Consumer goods (INDF, UNVR)
4. Semen
5. Perkebunan
6. dll
Syarat :
1. Beli saat murah
2. Jangan panik waktu menjual
3. Invest long-term >3 bulan
4. Pake uang dingin
March 20th, 2008 at 1:11 am
Mendidik sekali postingnya..
Mas Nofie harusnya sering2 bagi2 ilmunya, orang Indonesia masih banyak yang belum paham dengan saham, malah ada yang ngira seperti judi segala.
March 20th, 2008 at 8:15 am
Mas Nofie…
Thx atas penjelasan mengenai jumlah saham, saya sudah paham sekarang.
Saya mau tanya sedikit masalah stock split (pemecahan nilai saham)
Bagaimana mekanisme stock split itu sebenarnya?
Misal jika kita beli saham TINS sekarang diposisi 27000 kemudian beberapa bulan lagi di stock split 1:10, apakah itu berarti kepemilikan saham kita bertambah?, dari misal 10 lot saat harga 27000 dan menjadi 100 lot saat harga 2700?..
Soalnya kalau saya gak salah liat saham ANTAm yg baru stock split 1:5 juga masih sama jumlahnya, seharusnya kan bertambah 5X lipat? (tolong benarkan kalau saya salah liat informasinya)
Saya masih kurang paham mengenai stock split…
Mohon penjelasannya
Terima kasih
March 20th, 2008 at 8:16 am
oya Mas Nofie
Menurut anda PTPN mana yang kinerjanya paling baik?
Saya dengar tahun ini ada 3 PTPN yang akan go publik
March 20th, 2008 at 9:07 pm
mas nofie saya mau tanya ne, kalo bermain saham kan katanya bisa dapat deviden dan apabila sahamnya naik bisa ambil capital gain. Deviden yang diperoleh itu nantinya akan kita terima dalam bentuk apa dan bagaimana? Apakah deviden itu ditambahkan ke harga saham atau deviden itu diberikan / ditransfer langsung ke rekening pemilik saham?? Terus dikatakan juga untuk berinvestasi di saham dapat dimulai dengan hanya 10jt. Bila demikian apakah hasilnya nanti juga akan sedikit mas sebab yang namanya investasi pasti berhubungan dengan besar kecilnya modal dan jangka waktu.
Mohon penjelasannya, terima kasih.
March 20th, 2008 at 9:40 pm
sekedar komentar aja.
betul pak zulq. kalau 10 lot @ 27000 nanti jadi 100 lot @ 2700. kalo sampean baca di laporan keuangan, biasanya ditulis kok jumlah lembar saham pra/pasca stock split. atau jangan2 sampean keliru menerjemahkan angka modal disetor, modal dasar, saham beredar, dsb?
Hendry
March 20th, 2008 at 9:43 pm
Dividen biasanya dibagikan dalam bentuk tunai (cash) dan nantinya akan dipotong pajak. Namun ada pula yang membagikan dalam bentuk saham bonus atau bahkan tidak memberikan dividen sama sekali. Kalau bentuknya cash, maka akan ditambahkan ke rekening efek Anda.
Ada broker yang hanya menyaratkan deposit awal Rp 10 juta. Tentu saja nantinya Rp 10 juta tersebut (bila dibelikan saham) akan naik atau turun nilainya—-tergantung pergerakan harga yang terjadi. Idealnya, berinvestasi dimulai dengan modal sekitar Rp 100 juta-Rp 500 juta untuk investor individu, supaya bisa menyusun portofolio saham dengan lebih optimal.
March 21st, 2008 at 3:24 am
Bagi para pemula yang berminat utk masuk ke BEJ, saya sarankan tunggu sd akhir Oct/Dec..
BEJ lagi dilanda eksodus:
1. Dana asing berkurang (unwinding carry trade)
2. Harga komoditas (jagung, gandum cs) + energy (oil, gas cs) + logam (emas, perak cs) lagi turun (akhir Maret 2008)
3. Saham di BEJ kebanyakan overvalued, BEJ selama 5 th avg. gain 44% per tahun. Unsustainable. Tahun 2007 sudah plus 60% lebih ( B-Bbbubbble?).
Buat yg sudah pengalaman sih, mungkin sudah mahir menghindari ranjau, tahu kapan lari kapan tiarap…
March 21st, 2008 at 6:56 am
Kalau tunggu sampai akhir Okt/Des, jadi uangnya diapakan dong? Katanya beli saham baiknya pas lagi turun. Beli emas saja?
March 22nd, 2008 at 2:58 pm
Bung Nofie,
Ada beberapa pertanyaan mengenai dividen yang masih belum bisa saya pahami:
1. apakah hubungan langsung antara harga saham, IPO, dengan besarnya dividen (persentase dividen terhadap harga saham tersebut)?.
Sebagai contoh dividen inco tahun ini diudulkan sebesar 0.12 $/lembar saham, sedangkan harga saham inco sekitar 7000 - 7500 (dividen lebih dari 10% harga saham), apakah kita bisa berharap dividen untuk perusahaan “sehat” harus lebih dari 10% x harga saham?
2. Apakah dividen harus proporsional dengan ROE dan harga saham per lambar?
3. Ada saham-saham blue chip yang dividen nya bisa dikatakan kecil, namun harganya tetap tinggi? apakah dalam hal ini investor lebih mengedepankan capital gain daripada dividen?
Satu pertanyaan tambahan yang tidak kalah penting, terutama untuk pemula seperti saya:
Dalam keadaan pasar yang dibayangi kemungkinan resesi di Amerika dan Asia, (market crash?), apakah masih aman untuk memulai investasi saham?
Terimakasih atas pencerahannya.
March 22nd, 2008 at 9:04 pm
Ada banyak teori mengenai pembagian dividen. Saya tulis singkat saja, karena kalau diulas lengkap akan menjadi terlalu panjang.
Secara umum, tidak ada hubungan langsung antara harga saham, IPO, dan besarnya dividen. Dividen merupakan bagian keuntungan perusahaan yang dikembalikan kepada investor setelah dipotong untuk laba ditahan.
Ada perusahaan yang memilih untuk membagikan sedikit (atau bahkan tidak sama sekali) dividen dan menggunakan dana tersebut untuk berinvestasi, melunasi hutang, atau melakukan ekspansi. Dana tersebut cost-nya lebih murah bila dibandingkan perusahaan harus menerbitkan saham (lagi), obligasi, atau pinjam uang ke bank.
Namun ada pula perusahaan yang memilih agak banyak membagikan dividen. Di Indonesia, biasanya perusahaan-perusahaan BUMN agak royal membagikan dividen karena ada tuntutan dari pemerintah untuk menambal defisit APBN.
Tiap kubu juga punya pendukungnya masing-masing. Ada orang yang percaya bahwa lebih baik keuntungan perusahaan digunakan saja untuk mengembangkan usaha. Contohnya, Warren Buffett (Berkshire Hathaway) tidak pernah membagikan dividen—-namun jadi perusahaan holding terbesar dengan harga saham tertinggi.
Ada juga orang yang lebih menyukai pembagian dividen, apalagi bila dividen yang dibagikan cukup besar. Mereka menganggap kalau perusahaan mampu membayar dividen, berarti perusahaan tersebut cukup profitable dan layak investasi.
Memang bisa dikatakan bahwa ada investor yang mengejar capital gain (growth), ada pula yang mengejar dividen (revenue). Mana yang terbaik? Semua dikembalikan ke Anda sendiri sebagai investor.
Insya Allah nanti akan saya bahas lagi lebih detil pada posting tersendiri.
March 26th, 2008 at 9:11 am
saya baru mulai belajar memahami investasi saham kurang lebih satu bulan lalu…..dan ketka saya sedang searching mengenai semua hal tentang saham, karakter, definisi, perilaku, dsb….tiba-tiba saya membaca apa yang ditulis Bang Nofie….eh jadi sedikit lebih tahu dan yang menjadi perhatian saya adalah kata-kata mas nofie…….DON’T BE AFRAID TO WAIT……..its miracle words to me when everyone said “buy now without giving me some fundamental theory about stocks”…….okay bang big big thanks and saya tunggu loh bukunya….
March 26th, 2008 at 3:59 pm
thank a lot om nofie atas paparannya, selama ini susah dapetin info tatacara maen saham macam itu
btw, kalo kita hold beberapa saham selama beberapa waktu (katakanlah 2 th)..bagaimana dgn keberadaan brokernya……apakah broker gak nyuruh kita aktif jual/beli (komisi mereka dpt dari aktifitas itu)
mohon pencerahannya,om nofie
March 26th, 2008 at 10:03 pm
pak raden, saya sih sudah mendiamkan saham2 saya sejak jaman baheula sebelum krisis, ndak masalah, paling brokernya kasih report aja periodik dan kadang2 suka telpon.
Hendry
April 2nd, 2008 at 10:31 am
Artikelnya bagus sekali Bos, semoga mendapat berkah, terima kasih.
April 10th, 2008 at 8:40 pm
Saya lagi mau buat presentasi tentang pasar modal nih..
Tapi jujur aja pengetahuan saya sangat kurang. mohon bantuanya y…
Apa itu proses emisi efek??
Bagaimana harga suatu saham itu ditentukan? Misalnya harga saham telkom itu 10000.
Seleksi macam apa yang dilakukan dalam saham LQ 45??
Trimakasih sebelumnya..
April 12th, 2008 at 7:06 pm
Saya sedang memerlukan contoh perhitungan untuk menentukan harga instrumen2 di pasar modal, seperti saham, obligasi, rights, warrant..
Pengetahuan saya masih sedikit, jadi saya mohon bantuannya ya..
April 13th, 2008 at 7:49 am
Mas Nofie YTH,
Ini saya mau tanya dan konsultasi (boleh ya?)
Saya sudah hampir 4 bulan ini belajar Fundamental Analisis emiten, prinsip2 Buffet ttg konsistensi kinerja ROE, Marjin Laba, Deviden, kuatnya manajemen, biaya/kewajiban yg rendah dan prospek bisnis masa depan..penguasaan pasar (kalo istilah Buffett adalah perusahaan “frenchise”).
Dari beberapa belas perusahaan yg saya teliti (Lap Keuangan minimal 5 tahun), yg di bisnisnya adalah “leader” dan relatif belum punya pesaing…saya punya 3 emiten favorit, yang satu di bidang tambang, yang satu consumer good, dan yang satu adalah infrstruktur.
Bisnis mereka “seakan” tak terkalahkan…ROEnya konsisten diatas 20an%, bahkan ada yng konsisten diatas 60%, marjin labanya 15% bahkan ada satu emiten favorit saya marjin labanya konsisten 40%, history pembagian deviden-nya pun tinggi (3 digit)
Dan emiten yg satu berkinerja paling bagus dari 2 pesaingnya : PERnya paling rendah, ROEnya paling tinggi, Marjin labanya juga paling tinggi, meski PBVnya masih lebih tinggi.
Yang ingin saya konsultasikan karena anggaran yang terbatas (batasan minimal untuk buka account di broker)…
1. Apakah dari anggaran minimal itu saya belikan ketiganya meskipun dapat kuantitas lot yang sedikit? (ketiga emiten tsb harga pe lembarnya relatif sama), ataukah saya pilih yang terbaik dari ketiganya untuk mendapat lot lebih banyak?
2. Baik mana saya membeli salah satu dulu, (atau dua)..dengan jumlah lot lebih banyak? dan menunggu beberapa tahun kemudian untuk membeli ke-2 yg lain…Ataukah saya beli ke-3nya sekaligus sekarang…dan akan “menambahnya” kelak, saat pasar mendukung?
Mohon Pencerahannya
Terima kasih banyak
April 14th, 2008 at 11:51 am
Saya tidak tahu berapa dana Anda yang akan dianggarkan untuk berinvestasi. Namun saat ini memulai investasi saham bisa diawali dengan modal kurang dari Rp 50 juta. Jumlah itu sudah cukup untuk memberi beberapa lot dari saham-saham yang Anda incar—-dengan asumsi harga saham kisaran Rp 9.000-12.000.
Mengenai pembelian, bisa saja dilakukan satu per satu atau sekaligus. Yang jelas, buy on dip selalu pilihan yang terbaik. Beli ketika harganya memang sedang sangat turun. Jangan semua dihabiskan. Sediakan juga dalam bentuk kas supaya bisa menambah investasi (top-up) bila harganya turun lagi.
April 15th, 2008 at 10:16 am
Mas Zulqarnain, jadi penasaran, memangnya jagoan Anda apa? boleh dishare disini? hehe :)
April 15th, 2008 at 11:03 pm
Dear, Mas nofie
Apakah ada situs yang menyediakan demo account atau simulasi bursa efek untuk pemula? Kalau ada, tolong beri tahu saya. Terimakasih
April 16th, 2008 at 12:23 pm
dulu kayaknya ada tuh simulasisaham.com. kalo sekarang nampaknya udah nggak ada. kalo simulasi untuk options sih banyak. broker2 online pada kasih fitur itu soalnya. cmiiw.
April 18th, 2008 at 12:13 pm
Mw mt tLg..
mt data jumlah dan harga saham 6 provider telekomunikasi..
Dkirim k email saya saja..
Thx..
April 21st, 2008 at 2:50 pm
Dear Bang Nofie
Terima kasih atas artikelnya dan sangat membantu sekali.Apalagi bagi saya yang baru hendak memulai dan sedang mempelajari.Terus terang saya buta Finansial,Sudah ada beberapa buku yang saya baca yang berhubungan dengan Finansial,apa kah ada buku kamus tentang Finansial yang lengkap?kalau ada mohon referensinya.
Terimakasih
Daisy
May 8th, 2008 at 8:26 pm
halo, saya bernama david, yg ingin saya tanyakan adalah sekarang saya sudah kelas 3 sma dan sebentar lagi akan melanjutkan ke jenjang perkuliahan. ayah saya meminta saya mengambil jurusan yang berhubungan/mendukung saya untuk dapat menjadi seorang pialang saham selepas saya lulus kuliah. oleh sebab itu bisakah bapak memberikan saya saran jurusan apa yg sebaiknya saya pilih dan universitas mana yang kira2 cocok untuk saya
May 9th, 2008 at 7:56 am
Ass…
Mas bisa gak di list, perusahaan2 sekuritas mana aja yang kira2 bisa profitable, aman dan terpercaya!soalnya saya buta soal dunia ini, tapi ada hasrat untuk tanem invest lewat ini, tapi bingung milih yang mana!! Thanks b4.
Wass…
May 9th, 2008 at 9:40 am
David
Saran saya, pilih di fakultas ekonomi, jurusan manajemen atau akuntansi dengan mengambil konsentrasi keuangan dan pasar modal. Setelah itu sembari jalan, ambil sertifikasi WPPE atau CFA.
Nugie
Perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diakui di Bursa Efek Indonesia bisa dilihat di sini. Kalau ragu, pilih perusahaan yang besar, asing, atau milik pemerintah.