Pasar Modal: Mafia dan Ajang Judi?

February 28th, 2009 | Investment

Pasar Modal: Mafia dan Ajang Judi?

Warren Buffet pernah bilang, “It is only when the tide goes out, that you know who was swimming naked.” Tahun-tahun lalu, ketika bursa sedang bullish, even monkey can make money. Namun, ketika krisis datang bertubi-tubi seperti saat ini, baru ketahuan siapa yang bermasalah dan siapa yang benar-benar bermasalah.

Idealnya, sektor riil dan sektor finansial bisa berjalan beriringan menunjang kemakmuran umat manusia. Namun, ketika oknum-oknum yang bergerak di dalamnya sudah tidak lagi berada di jalan yang lurus, bursa menjadi meja judi yang penuh dengan serigala-serigala kelaparan. Kalau sudah begini, yang menjadi korban biasanya selalu yang kecil dan yang lemah.

Bumi Resources: The Next Enron?

Teman saya bilang, saham BUMI adalah saham (maaf) iblis: utang begitu besar, malas membagi dividen, dan manajemen tidak mengutamakan kepentingan investor. Saham ini dimiliki begitu banyak orang. Isu yang beredar juga beragam. Mulai dari rencana go international, menemukan tambang emas, dan segudang rumor lainnya. Manajemen tidak memiliki suara mayoritas, namun kelakuan mereka benar-benar menggelikan.

November 2008 lalu misalnya, manajemen BUMI berjanji akan melakukan buy back terhadap 3,3 miliar saham mereka di harga Rp 2.500 per lembar. Saat itu harga saham BUMI masih ada di kisaran Rp 1.000 per lembar. Januari awal tahun ini, BUMI masih berjanji bahwa rencana buy back dari kas internal tetap akan dilakukan dengan deadline 16 Februari 2009. Harga saham BUMI waktu itu ada di kisaran Rp 500 per lembar.

Surprisingly, Dileep Sivastava malah seenak perutnya mengatakan bahwa buy back bukan sesuatu yang wajib dilakukan. Entahlah. Barangkali menurutnya pasar modal kita tak beda dengan pasar pagi dimana kita bisa berkoar seenaknya. Kalau di NYSE direktur BUMI bisa diseret masuk bui, namun di sini, Bapepam-LK masih saja bersikap lemah lembut kepada mereka.

Selain soal isu buy back, manajemen BUMI juga bertingkah dengan mengatakan hendak mengakuisisi PT Fajar Bumi dan PT Pendopo Energi serta menambah kepemilikan mereka di PT Dharma Henwa Tbk (DEWA). Transaksi ini ditengarai cukup material dan mengandung benturan kepentingan. Lagi-lagi Bapepam-LK berlemah lembut kepada sepak terjang mereka yang jelas-jelas melanggar aturan karena seharusnya mereka melakukan public exposure terlebih dahulu. Lucunya, Bapepam-LK dan BEI minggu ini tidak jadi menggelar rencana pembahasan terhadap BUMI sampai batas waktu yang tidak disebutkan. Aneh.

Sekelompok pemegang saham ritel berusaha meng-counter sepak terjang manajemen BUMI dengan membentuk Kumpulan Investor Pemegang Saham (KIPS) BUMI. Sayangnya, Bapepam-LK kurang suportif terhadap inisiatif ini. Padahal ada free folating saham BUMI sebanyak 58% yang sebenarnya bisa menjadi pengendali di manajemen BUMI. Kalau KIPS BUMI bisa berjalan mulus, seharusnya BUMI bisa lebih dikendalikan. Selain itu, KIPS-BUMI juga bisa menjadi cermin bagi emiten lain agar tak seenaknya berbuat neko-neko di pasar.

Yang juga menjadi pertanyaan bagi saya adalah ketidakterbukaan terhadap repo BUMI. Orang-orang menilai BUMI mahal karena KPC dan Arutmin—-perusahaan bagus yang nampaknya jatuh ke tangan yang salah. Dugaan saya, KPC dan Arutmin memang sudah digadaikan dan saat ini BUMI kesulitan menebus repo mereka. BUMI lantas merengek kepada Pemerintah untuk membantu, namun ditolak mentah-mentah oleh Ibu Sri Mulyani. Mudah-mudahan saya salah. Namun kalau ternyata memang demikian adanya, Mei nanti BUMI bakal gagal bayar dan saatnya BUMI kembali ke habitatnya semula.

Bucket Shop, Fraud, Scams, Swindles

Yang juga masih hangat adalah kasus kolapsnya PT Sarijaya Permana Sekuritas (SP) gara-gara penggelapan dana Rp 245 miliar oleh Herman Ramli (HR). Jujur saja, kasus ini terasa aneh karena ada kesan SP seolah-olah dikorbankan untuk kepentingan yang lebih besar. HR sudah ditangkap 24 Desember 2008, namun SP baru disuspensi pada 6 Januari 2009. Apakah petinggi Bapepam dan BEI ogah kehilangan muka saat Presiden SBY membuka hari trading pertama? Atau sengaja memberi kesempatan agar rekening pihak-pihak tertentu bisa diamankan?

SP adalah sekuritas yang bagus dengan SDM yang cukup dedicated dan profesional. Mereka berdiri sejak 1990 dan punya cabang dan basis nasabah yang tersebar di seantero negeri. Anehnya, solusi penyelesaian kasus SP diarahkan untuk membubarkan SP. Proses verifikasi juga bertele-tele. Akibatnya, nasabah seperti diharuskan untuk memindahkan rekeningnya dari SP. Selain itu, rekening SP juga diblokir. Tentu saja mereka tidak bisa membayar gaji karyawan atau membayar rekening telepon, listrik, hingga sewa kantor. Kalau sudah hancur begini, mana ada investor waras yang mau membeli dan menyelamatkan SP?

Sesungguhnya, apa yang dilakukan HR sebenarnya “wajar” karena semua sekuritas punya fasilitas margin untuk nasabahnya. Siapapun yang memiliki sekuritas, bisa melakukan trading dengan margin semau dia walaupun mungkin tidak sesuai dengan prinsip good corporate governance (GCG). Kalau owner (atau orang penting di negeri ini) meminta sesuatu, sulit bagi manajemen sekuritas untuk berani menolak. Di “dunia persilatan” banyak diketahui bahwa manajemen sebuah sekuritas bisa terlibat aktif dalam penggorengan saham-saham di bursa. Semua itu bisa sah dilakukan dengan berlindung di balik label “pelaku pasar”.

Namun, Bapepam-LK seolah tidak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu dan terkesan melempar tanggung jawab. Common practices seperti HR ini sebenarnya sudah diketahui Bapepam-LK sejak lama, namun mereka tidak melakukan tindakan preventif. Mereka berjanji membuka akses investor area supaya nasabah investor bisa memonitor secara langsung portofolio mereka. Ini tentu aneh. Sama seperti Anda membuka rekening bank lalu diberi buku tabungan dan kartu ATM. Anda memang bisa mengecek saldo Anda tiap saat, tapi siapa yang bisa menjamin uang Anda tidak dibawa kabur oleh oknum bank?

Sudah sepatutnya pemerintah melakukan bail-out atas kerugian nasabah SP dan mencopot pejabat-pejabat terkait yang bertanggung jawab atas kasus tersebut. Regulasi perlu ditinjau kembali sembari mengawasi kelakuan semua sekuritas dengan ketat. HR dan semua pejabat SP yang terbukti bersalah juga harus diproses karena sudah lebih dari dua bulan, namun tak jelas bagaimana kelanjutan nasib HR.

Menilik dari Sejarah

Mei 1995 lalu, Jopie Widjaja dengan leluasa mengambilalih kepemilikan saham PT Bank Papan Sejahtera Tbk. Jopie menguasai saham bank itu karena mampu memanfaatkan lubang aturan pasar modal yang tidak mencantumkan tata cara take over atau tender offer. Jopie kemudian melego 19,80% saham Bank Papan ke Hashim Djojohadikusumo. Dari penjualan saham Bank Papan itu, pemilik perusahaan taksi Steady Safe itu mampu meraup untung besar.

Tak kalah menarik kasus dugaan insider trading lain seperti Semen Gresik (1998), Bank Central Asia (2001), dan Indosat (2002). Dari transaksi saham Semen Gresik, Bapepam mendata ada 90 pihak yang diduga terlibat dan mengetahui proses privatisasi lanjutan Semen Gresik. Dari jumlah itu, ada tiga pihak yang telah secara langsung diduga meraup keuntungan sekitar Rp 55 milyar. Namun, tak ada pihak yang didaulat sebagai tersangka. Kasus ini pun ikut terkubur mengikuti bergulirnya waktu.

Bapepam mengendus dugaan manipulasi pasar atas transaksi saham BCA ketika muncul pergerakan dan perubahan harga saham setelah stock split. Data BEJ menunjukkan dominasi beli dari beberapa broker pada perdagangan 15 Mei hingga 12 Juni 2001. Setelah itu, antara 13-29 Juni, broker yang sama menjual saham BCA sehingga harganya turun. Permainan itu diduga telah menyebabkan manipulasi harga. Namun, menurut Bapepam tidak ada fakta yang mengindikasikan adanya insider trading dalam transaksi itu.

Merrill Lynch Indonesia (ML) diduga melakukan transaksi saham Indosat karena adanya insider information. Pasalnya, Merrill Lynch disebut-sebut sebagai penasihat keuangan Indosat. Selain itu, ML termasuk broker yang paling banyak melakukan transaksi jual dan beli saham Indosat, saat pemerintah melakukan pelepasan saham. Tudingan yang awalnya dilemparkan Laksamana Sukardi itupun tak pernah dibuktikan. Kasusnya lenyap.

Kasus cornering saham Bank Pikko antara Januari sampai Februari 1997 juga menarik. Harga saham Bank Pikko pada periode itu berkisar antara Rp 875 sampai Rp 1.425. Benny Tjokrosaputro melakukan transaksi saham melalui PT Multi Prakarsa Investama Securities dengan menggunakan nama 13 pihak lain. Perdagangan saham Bank Pikko menjadi sangat aktif dan harganya meningkat 20%. Bapepam berupaya mengusut kasus itu, namun Benny Tjokrosaputro dan Pendi Tjandra “hanya” diwajibkan untuk menyerahkan keuntungan yang diperoleh tanpa sanksi hukum lain.

Kasus serupa terjadi pada transaksi saham PT Primarindo Asia Infrastruktur (BIMA) beberapa tahun lalu. Namun, kasus yang cukup menghebohkan itu tak pernah ketahuan hasil akhirnya. Tahun 2004, terjadi juga kasus Bank Global dan kegagalan PT Great River membayar bunga obligasi. Lagi-lagi kasusnya menggantung karena tersangka keburu kabur ke luar negeri. Harusnya pemerintah bisa belajar dari kasus yang sudah-sudah.

Masalah-Masalah Potensial Lainnya

Masalah lain yang juga menarik adalah soal aturan chain listing. Aturan tersebut diberlakukan terhadap induk dan anak perusahaan yang sama-sama listing di bursa. Apabila anak perusahaan menyumbang consolidated income lebih dari 50% bagi induknya, maka ia harus melakukan delisting agar investor terhindar dari risiko yang tidak diinginkan. Contohnya, APEX yang diakuisisi MIRA harus segera delisting.

Namun, ternyata aturan ini terbukti masih pilih kasih. Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dengan induknya Multipolar Tbk (MLPL) atau Global Mediacom (BMTR) dan Media Nusantara Citra (MNCN) sebenarnya juga terkena aturan ini, namun tetap enak saja nongkrong di bursa. Rasa-rasanya, tidak mungkin mereka dikeluarkan karena ujung-ujungnya akan menggerus fee yang masuk ke BEI. Selain itu, BEI sudah berkoar-koar akan menambah jumlah emiten yang terdaftar di bursa.

Aturan lain seperti merjer dan akuisisi model leveraged buy out (LBO) juga nampaknya belum diatur dengan begitu bagus oleh Bapepam-LK. Bisa dibayangkan, Grup Bakrie di tahun 1999 terancam default dan meninggalkan utang lebih dari USD 1 miliar. Utang tersebut secara teknis tidak bisa diubah menjadi equity dan baru bisa lunas setelah lebih dari 100 tahun. Lucunya, Aburizal Bakrie tahun lalu bisa dinobatkan menjadi orang terkaya di Indonesia.

Hal-hal semacam ini hanya terjadi di Indonesia. U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) yang terkenal ganas saja masih kecolongan kasus Enron atau WorldCom—-apalagi di Indonesia?

Concluding Remarks

Teman saya bilang, aturan investasi tidak akan pernah fair. Ini soal hukum alam, yang kecil dan yang lemah selalu jadi korban. Katanya, industri pasar modal memang dirancang sedemikian rupa agar institusi keuangan, emiten yang terdaftar di bursa, maupun brokerage house yang terlibat di dalamnya bisa mendapatkan keuntungan lebih dulu. Bisa “dimaklumi” karena mau tidak mau, pemerintah mendapatkan pendapatan terbesar dari mereka. Mungkin peraturan ini bisa berubah, bila investor retail di indonesia nanti jumlahnya sangat besar, mengalahkan lembaga institusi.

BEI mungkin memang penuh dengan intrik. Harapannya, Bapepam-LK bisa menjadi watchdog agar permainan bisa berjalan secara fair. Namun jujur saja, kasus-kasus semacam ini menunjukkan adanya kesan bahwa Bapepam-LK hanya seperti (maaf) antek dari kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Kalau kepentingan itu meminta suspensi, maka bursa akan disuspen. Kalau kepentingan itu meminta kasusnya jangan diusut, maka Bapepam-LK juga diam saja.

Investasi saham memang berisiko tinggi. Ada banyak risiko investasi di dalamnya seperti capital risk, currency risk, liquidity risk, financial risk, market risk, dan seterusnya. Kalau rugi/kalah karena salah mengambil strategi, it’s perfectly fine. Namun menjadi konyol kalau modal amblas hanya gara-gara regulatornya meleng.

Saya jadi ingat pidato inaugurasi Ronald Reagan. Ia berujar, “In this present crisis, government is not the solution to our problem; government is the problem.” Pidato itu dilakukan 20 Januari 1981, namun sungguh relevan dengan keadaan saat ini.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. mp3 search

    Wah gak nyangka bisa komentar pertama …

    Komentar anda tentang manajemen BUMI sangatlah tepat. Jika dilihat dari laporan keuangan 5 tahun terakhir terlihat bahwa saham ini jauh dari layak untuk di jadikan investasi. Pertumbuhan BUMI tidak konsisten jauh dibanding PTBA perusahaan plat merah yang bergerak di sektor pertambangan batubara juga. Belum lagi bicara mengenai Cash Flow yang amburadul dibanding net income yang dihasilkan.

    Dari segi Fundamental maupun Manajemen tidak ada yang bisa membuat BUMI unggul dan layak untuk dibeli dan disimpan dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun kedepan. Persis seperti tulisan anda BUMI kembali ke habitat lama hanya tinggal nunggu waktu saja…

  2. anonymus

    Emang UUD semua indonesia kan
    Aturan dibuat bukan sebagai pengatur ekonomi ato semacamnya tapi sebagai celah mendapat uang

    Baru tahu bakrie punya utang sejuta – 100 tahun
    Kayak utang negara aja

    Enron ke-2, BUMI, kalo udah tahu ada masalah gini kenapa gak dicegah dari sekarang
    Berarti ada pegawai BUMI yang punya saham di perusahaan tersebut juga?

    Nice article
    Btw, bisa pake plugin http://en.gravatar.com/ gak di blog ini supaya tambah mantep

  3. agus

    ….yang kecil dan yang lemah selalu jadi korban…i.

    Seorang teman pernah mengatakan hal serupa, dan menganjurkan agar saya masuk reksadana saja dari pada berinvestasi langsung ke bursa, Menurut Mas Nofie, apakah reksadana dapat membuat posisi tawar investor investor nya menjadi lebih kuat? Bagaimana dengan MISI yang konon merupakan asosiasi investor investor retail? Salam

  4. budi

    Halo Mas,

    Saya penikmat tulisan anda. keep on writing!

    Sekedar masukan:

    http://media-islam.or.id/2007/11/26/mengapa-jual-beli-saham-itu-haram/

  5. satyo

    Tulisan yg bergizi…thx mas Nofie
    cuma saja BUMI tetap jadi saham paling “lezat” di BEI…frekuensi transaksinya pasti no.1 setiap hari…
    kira2 menurut anda, apakah Bapepam akan “menang” melawan BUMI terkait dgn dibentuknya auditor independen untuk meneliti akuisis yg kemahalan itu?

  6. august wadi

    ck ck ck ck, seakan-akan kaya orang sakit hati gara2 ngalami kerugian akibat BUMI, waktu untung kemaren koq ga koar2 ya…emang cuman BUMI yang ngalami penurunan dahsyat liat aja ITMG, TLKM, PGAS, AALI….. bung,
    YA namanya juga pasar modal …..kata “pasar” sendiri mengandung artian tempat jual beli (pertemuan pemilik modal dungu dengan pengusaha haus duit) …persis kayak ciri2 fisik pasar tradisional indonesia yang “kotor, kumuh,banyak preman’na (banyak benturan kepentingan), banyak terjadi kelangkaan dan penyelundupan, dan yg pasti sering kebakaran(kasus) klo pemilik pasarnya ingin naikkan sewa(fee) los pasar(emiten)” hanya cuman lebih berkelas he he he……… tapi menurutku aq enjoy2 aj dan aq bisa dapat gain dari situ, brarti aq jadi investor kelas dunia menyamai George Soros, Warren E Buffet, Jim Rogers (abis wallstreet ga kisruh kayak BEI bukan)…doain ya supaya aq membawa harum nama Indonesia d kancah dunia Investasi…he he he

  7. simon

    Xstrata telah mendapatkan persetujuan pemegang sahamnya untuk mengakuisisi Prodeco, perusahaan tambang batubara di Kolombia, senilai $2 miliar. Berdasarkan prospektus, cadangan batubara Prodeco sekitar 250 juta ton, yang berarti EV/reserve Prodeco sekitar $8/ton.

    Jika kita menggunakan EV/Reserve Prodeco, Fajar Bumi Sakti (FBS) yang memiliki cadangan 98 juta ton akan bernilai sekitar $784 juta (100% basis). BUMI sendiri hanya membayar Rp2.475 triliun ($293 juta) untuk 76.8% kepemilikan di FBS (atau hanya sekitar $206 juta dengan menggunakan nilai tukar US$ sekarang)

    Cara lain untuk melihat hal ini adalah, Prodeco memproduksi 9 juta ton batubara per tahun dengan laba $41 juta atau sekitar $4.55 juta/ton. Sedangkan FBS tahun lalu memproduksi 0.5 juta ton dengan laba $8 juta atau setara $16/ton (*hampir 4x lipat lebih tinggi dari Prodeco*) dan harus memproduksi 4 juta ton per tahun di 2010 sebagai klausul pelunasan pembayaran akuisisi. FBS ditargetkan memproduksi 2.3 juta ton di F09. Bahkan jika margin FBS dibagi 2, untuk memfaktorkan harga dan kualitas batubara, FBS masih mampu menghasilkan laba $8/ton atau $32 juta pada 2010.

    Jika kita menggunakan EV/Reserve Prodeco yang $8/ton pada 2.1 miliar reserve BUMI (diluar FBS & Pendopo) kita akan mendapatkan nilai organik KPC dan Arutmin sekitar $16.8 miliar atau sekitar Rp201.6 triliun dengan menggunakan nilai tukar Rp12.000/US$. Market Cap BUMI saat ini hanya sekitar Rp14.7 triliun.

  8. Remy

    Kalo BUMI adalah gajah di dunia tambang, maka kami hanya semutnya yang coba ikutan mengais manisnya bisnis mineral terutama batubara. Kami punya cv yg bergerak di bidang trading (pemasaran) batubara untuk wil jateng, menawarkan peluang sebagai investor. Minimal invest 100jt. Sistem bagi hasil dengan profit investor setara sktr 5% per bulan. Pemasok dan market sudah ada. Notariil. Lokasi kami Yogya-solo, tapi investor boleh dari mana aja kok. Hanya yang serius, orang pertama, hubungi kami yaa..

    Thanks pak nofie…

  9. edratna

    Saya menganggap, karena saya investor (maksudnya peran saya sebagai investor jika beli saham), maka saya bertindak sebagi pembeli. Sebagai pembeli, saya akan menilai barang yang saya beli tersebut, Banknya saya kenal baik, laporan keuangan selalu terbit tiap 3 bulan di media tertentu, deviden dibayar, dsb nya.

    Juga jika menabung, berapa suku bunganya, apakah masih termasuk pada kriteria penjaminan, sehingga kalau ada masalah, uangku tak hilang. Dan yang lebih penting, jangan menaruh telor dalam satu keranjang.

    Sebagai orang yang pernah kerja di Bank, saya memahami risiko, bahkan menjadi orang yang sangat konservatif. Tabungan yang ada kartu ATM saya batasi besarannya, agar jangan sampai dimanipulasi pihak lain. Saya hanya menarik uang pada kartu ATM yang didepan Bank tsb, yang ada satpamnya, yang langsung bisa protes jika terjadi sesuatu. Agak konyol memang, tapi tabungan yang tak seberapa, yang diperoleh dengan cucuran keringat, harus diperlakukan dengan hati-hati.

    Saya lebih memilih kartu kredit (karena bisa protes jika ada tagihan tak benar), dibanding kartu debet. Saya tetap tak percaya pada kartu debet…walau kata anakku, ibu aneh, kan teknologi untuk membantu. Anak-anakku, sebagai orang teknik, sangat mengagungkan teknologi, padahal dibalik itu semua, sistem yang baik, teknologi aman, tetap ada unsur manusia yang bisa berubah karena godaan.

  10. rav

    Wake up call for everyone who is still hoping:

    We are in the middle of WORLD ECONOMIC WAR. Bagi yang masih wanti2 ada harapan bahwa kondisi global ekonomi sekarang masih bisa recover dalam waktu dekat, FAT HOPE. Kalau mau omong bego dan dijadikan skenario, kondisi ekonomi dunia sekarang seperti AFTERMATH perang dunia, semuanya sudah hancur lebur hanya kondisi asli ditutup-tutupin government-government karena takut akan mengakibatkan global financial panic yang lbh parah seperti november.WE WERE HIT BY FINANCIAL WEAPON OF MASS DESTRUCTION – LEVERAGE. Semua biang keroknya ada LEVERAGE. Subprime ? LEVERAGE. Spending above one means? LEVERAGE. Economy is
    heading into toilet, I will spare you guys from statistic or chart or citation or history study, think about this simply,

    Selama ini krisis ekonomi yang berlalu seperti 1970+, 1998, 2001 global ekonomi masih in moving, demands are still in place, global economy is still growing with emerging players like China, India, krisis2 yang berlalu hanya skala richter 6-7, leverage is still reasonable and people are still spending within their means. That is why we can recover very fast within years.

    Thanks to Alan Maestro idiot Greenspan menurunkan interest rates terendah di awal abad 21, money is abundant and available to everyone, banks are eager to learn, companies and their mothers are expanding with multiple leverages from their assets/equities. PEOPLE BECOMING TO FORGET THEIR BASE.

    Long story short, bagi pemula2 yang belum keep up to speed apa yang mengakibatkan subprime mortgage ( KPR level 2) adalah orang amerika menjaminkan rumah mereka untuk mendapatkan pinjam berkali2 lipat dari nilai rumah mereka, kasus ini sudah terjadi di indonesia dulu di tahun 1998 , dimana konglomerat , kolormerat menjaminkan tanah2 mereka 10x dari nilai wajar tanah mrk kongkalikong dengan pejabat bank dan lari dengan duitnya dan membiarkan kerugian diderita bank yang meminjamkan sehingga terjadinya krisis likuiditas perbankan sampai BANKRUPT.

    Contoh saja, BANK BEGO meminjamkan 10M untuk PAK MALING yang menjaminkan tanahnya yang seharga 1M. PAK MALING menyatakan BANKRUPT, DEFAULT, KABUR, sehingga BANK BEGO msh menderita kerugian 9M setelah menjual tanah tsb. Nah karena kasus tersebut, BANK BEGO akan menderita LOSS di P/L statement dan akan efek ke BALANCE SHEET. Bagi sodara2 yang tidak ngerti cara bekerja Bank, BANK memalak rakyat2, warga2 dengan encourage people to save or put deposit dan memberikan return yang lbh rendah dibawah INFLASI (SHEESH , YES BANKING SYSTEM IS A RIPOFF) , contohnya setelah bank2 mendapat dana dari masyrakat, BANK2 DAPAT MEMINJAM DUIT 2-10x dari SENTRAL BANK UNTUK DISALURKAN SECARA KREDIT, skarang mikir aja, BANK KAN UNTUNG DIKIT AJA KASIH DEPOSITO, COST OF FUNDING 6-8%, salurkan kredit 14-15%, untung hanya 8%-7% toh?? WRONG. Those RIPOFFS, misalnya dengan dana publik 10M, mereka bisa mendapatkan 50M-100M pinjaman/leverage untuk disalurkan ke KREDIT. SEE THE MATHS NOW?

    Setiap 1% yg mrk salurkan, mrk UNTUNG 5-10x , jadi 5-10%., jadi untung 8%-7% = 80%-70%/TAHUN SWEET HUH MO BISNIS APA LAGI KECUALI JADI BANKER??? Belum itung2 BUNGA KREDIT KARD 38% @_@. 38×5-10%??? CUAN SI SI. Nah APA KORELASI TERSEBUT DENGAN ORG2 seperti PAK MALING. Ya OTOMATIS BANK akan kena “Margin call” dari Bank sentral, which still can be managed by BORROWING FROM FELLOW BANKS. TAPI APA YG TERJADI jika NASABAH BANK2 tsb mulai menarik dana2 secara MASSAL DAN PANIC hingga EKUITAS BANK seandainya dari 10M, menjadi 100jt-200jt DENGAN PINJAMAN 50M?? SEHINGGA BANK2 JUGA GA BISA INTERBANK LENDING LAGI. GILA COI , BANK SENTRAL YA KEBAKARAN JENGGOT sampai IKUT SUSAH. Nah tapi yang namanya BANK SENTRAL YA GAMPANG TINGGAL CETAK DUIT TOH, ya sudah Cetak saja trus sampai keq ZIMBABWE, Inflasi melangit, mata uang jadi kertas sembayang org china. YA ITU JALAN TERAKHIR, MAU GA MAU YA SUDAH BANK2 TSB DITUTUP, DIBANKRUTIN, DILIKUIDASI Seadanya. YA YG RUGI SIAPA?? YA NASABAh2 SEPERTI KITA YANG SUDAH MISKIN NABUNG SUSAH2, HEMAT2, DUITNYA ILANG. Makanya roles of government is VERY CRUCIAL in handling crisis.

    Tapi keadaan sekarang beda, sekarang AMERICANS MOSTLY SUDAH SPEND 5-10x dari pendapatan atau equity mrk, DARI ATAS SAMPAI BAWAH, SISTEM AMERICA ITU CACAT. Skrng aja kita msh omong ttg SUBPRIME U$3-4 Trillion case, apalagi PINJAMAN PEMERINTAH AMERIKA DI DUNIA??? Gimana bayarnya AMERIKA??? SEE the point? WEALTH IS BEING VAPORISED GLOBALLY LIKE SMOKE, JUST EVAPORATE DAILY AND DAILY R A P I D L Y. WHY I AM TERRIBLE AFRAID??? PUT IT INTO THIS WAY SKRNG DARI ORG SAMPAI COMPANY sudah spend atas duit yang tidak ada, dibawahnya siapa yang akan menanggung, menjadi NET, DASAR untuk clean up the mess by this financial system???? Sekarang siapa lagi yg ada duit untuk dispend di amerika?? Yang meledak skrng hanya subprime mess, pasti ada DOMINO efek, setelah itu akan menjurus ke CREDIT CARD DEFAULT , LEVERAGE MELTDOWN.

    Funny gw lg nonton CNBC org ributin masalah nasionalisasi BANK untuk MENCURI FOKUS bahwa masalah hanya di BANKING, TAPI SELURUH SISTEM kapitalisme yg menggunakan leverage sudah mencapai CRITICAL MASS DAN LAGI MELTDOWN , WE ARE AT WORLD ECONOMIC WAR/MELTDOWN/DESTRUCTION.

    EFEK KE BURSA SAHAM. YES , the effect is we DON’T’ KNOW how to evaluate/value a company now, PER will never be the same, dulu bagi dunia PER 5-10x dianggap wajar/murah, YEA RIGHT, sekarang lg susah2 ada tidak org mau membayar suatu perusahaan dengan PER 5-10x lagi??? I personally DOUBT so, ya kalau PERnya sukur bisa retain at 5-10x at current global market price, WHAT NONSENSE harga2 saham masih diatas PER 10x, hauahuahaua FUNNYYYYYY. Apalagi PER yg diatas 15x LMAO, you have been PUNKED by those ANALYSTS, BANKERS, BANDAR, THEY ARE ALL THIEVES , they DON’T’ CARE about YOU. OPEN YOUR EYES , start to think like our GRANDFATHER GENERATIONS.

    Sekarang argumennya untungnya mungkin China yg akan jadi saviour of the world karena sudah adat chinese dari tradisi nenek moyang MENABUNG, China now has the highest SAVING households, jadi memang yang akan emerge dari AFTERMATH ini will be CHINA OR USA first. We will emerge from this aftermath why? Karena kita semua akan dimanipulasi oleh government2 dan mafia2 global world government akan mencari cara untuk membutakan kita dan get on with our life. MANUSIA ITU GAMPANG DITEBAK, PASAR SAHAM DAN MEDIA TINGGAL DIMANIPULASI DAN MAYORITAS POPULASI PERCAYA KRISIS TELAH BERAKHIR. REMEMBER THIS IS ZERO SUM GAME , just like MADOFF CASE, LAST or SMALL FISHES/COUNTRIES WILL SUFFER THE MOST FROM THIS CRISIS, I FEAR INDONESIA IS ONE OF THEM.

    Enough ranting, tips: forget about GOLD , hold U$D until this crisis ends. Nah sekali lagi dunia dan mayoritas populasi dibutakan oleh manipulator, US$ IS SCARCE NOW. WHY DESPITE US FED RESERVE KEEP PRINTING MONEY LIKE PAPER? YES SO? THINK ABOUT THIS YG SIMPLE SAJA, SEKARANG perputaran AMERIKA seperti begini, HOME VALUES U$ 5 Trillion, CASH U$ 5 Trillion = U$ 10 Trillion in circulation, sekarang home value shrinks 30-40% home values sisa berapa? U$ 3Trillion , CASH U$ 5 Trillion = U$ 8 Trillion YES? BAILOUT HAPPY MEAL, FED RESCUE PACKAGE = total U$ 1.5 Trillion, MASIH DEFISIT U$ 500 million. So GOLD Or US$ now? Emang emas BISA DIMAKAN atau DIMASAK? So jadi apakah hold U$ juga? YES but diversify, PAPER CURRENCY GLOBALLY IS USELESS NOW, MATA UANG YG WORTH DI HOLD HANYA U$ sama RMB karena itu DUA NEGARA YG RUN THE SHOW DAN EMERGE FROM THIS AFTERMATH.

    Hold U$, commodities (food, crude oil) and cash. If you must hold equities, choose the corporation with lowest DEBT, CASH RICH and basic human-need business (TELEKOMUNIKASI, FOOD, CEMENT, ENERGY) yang MANUSIA GA BISA HIDUP TANPA with proper dividend yields, sekarang org ga harap dari capital gain lagi yang akan menentukan harga saham suatu perusahaan, tapi FUTURE DIVIDEND PAYOUT. NO MORE SPECULATING OR LEVERAGING OR GAMBLING, CONSERVE CASH NOW , WAKE UP.

    THANK YOU FOR LISTENING TO MY RANT, SAYA SUKA BERTUKAR PIKIRAN, JADI KALAU MEMANG OMONGAN SAYA BULLSHIT ATAU KOSONG, BOLEH DITANTANG DAN SAYA HARAPDIAJARIN KARENA SAYA MEMANG AWAL2 GA TERPELAJAR HANYA MENGANDALAK ANALISA DAN INTUITION, GOOD LUCK PEOPLE. YOU DON’T HAVE TO BE RICH or HAVE A LOT OF MONEY to be BANDAR, YOU JUST NEED TO UNDERSTAND HOW THE WORLD OPERATES/WORKS and SEE THROUGH THEIR MANIPULATION, DECEIT and LIES, and CONGRATULATION you are BANDAR. HAVE THE KNOWLEDGE AND YOU HAVE A LOT OF MONEY, YOU ARE GEORGE SOROS.Welcome to the CLUB !

  11. gabriel

    ya untuk Buy back kan mesti keluarin dana tambahan buat buy backingan

  12. BARRY

    @rav, Easy on the CAPS please. Saya pribadi sependapat dengan anda tentang ulasan global ekonomi. Yang paling sulit untuk dicerna saat ini adalah kenapa pemerintah Amerika tidak membiarkan perusahaan (mostly banking and automotive – saya tidak akan menamakan perusahaan yang mana) untuk pailit saja. Kalau dilihat Balance Sheet mereka, tidak mungkin bank tersebut bisa survive! Mari bermain secara fair, jangan karena perusahaan tersebut terlalu besar untuk pailit, maka pemerintah terus menerus memompa dana. Dengan cara demikian pihak manajemen tidak akan merasa takut untuk berbuat kesalahan (apalagi yang fatal). Stop meninabobokan manajemen, seret mereka yang terlibat mortgage schemes ke pengadilan (tapi ini akan susah mengingat mereka yang diatas bisa membayar top-notch lawyer yang dapat membebaskan mereka dari kurungan penjara). Saat ini investor perlu kepastian, mana yang tidak bisa survive silahkan ditunjuk pintu keluar.

    Problem lain yang ditakutkan di dunia perbankan Amerika adalah FDIC (badan pemasti uang tabungan di sistem perbankan) yang saat ini di ambang “state of emergency” (atau mungkin sudah).

    Enough with bad news. Melihat ke depan, saya masih ada keyakinan jika recovery akan datang. Kapan dan berapa lama? Saya tidak tahu. Tapi yang pasti Asia akan memimpin recovery phase tersebut. Kenapa? Karena, pertama, Asia sudah pernah mengalami financial crisis di tahun 1997 jadi paling tidak pernah ada persiapan melalui regulasi terpimpin yang sudah diimplementasi oleh pemerintah setempat dan koordinasi dengan regional states. Lalu yang kedua, adalah dari segi kultur, orang Asia lebih rajin menabung ketimbang mereka yang di Amerika. Menabung, percaya atau tidak, memberikan dampak luas dalam perekonomian perbankan suatu negara.

  13. mayor

    Kecewa dan prihatin dengan pasar modal kita,udah pake teriak juga dengarnya pake leher. Saya kira banyak yang gak pernah kepikiran resiko kyk ini bisa ada,bahkan pemain kawakan sekalipun. Keledai2 itu gak bisa diharapkan lagi,dari kasusnya DSFI,TMPI,sampai kasus sp ini gak pernah bisa tuntas dan selalu berulang. Sistem investor area baru dipikirin setelah kasus sp,kapannya sih otak gak telmi BEI juga gak buka tahun kemarin sore. Giliran kebakaran baru sibuk sana sini. Saya liat udah banyak yang udah melirik saham/option NYSE dari IB,TOS,dll. Sementara taruh dulu saham di broker plat merah dengan mkbd besar,nasabah pantas bersikap parno dengan cash ditarik disetor lebih sering. maklumlah kalo bisnis dengan mafia

  14. yudi

    Jangan main2 tuh si Bakrie, semua ada aturan hukumnya. Dikira kita invest di bursa ini buat lawakan kali ya.

    Mungkin bisa pake pasal ini:

    UNDANG-UNDANG TENTANG PASAR MODAL
    BAB XI
    PENIPUAN, MANIPULASI PASAR, DAN PERDAGANGAN ORANG DALAM

    Pasal 90

    Dalam kegiatan perdagangan Efek, setiap Pihak dilarang secara langsung atau tidak langsung:
    a. menipu atau mengelabui Pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apa pun;
    b. turut serta menipu atau mengelabui Pihak lain; dan
    c. membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak mengungkapkan fakta yang material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau Pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli atau menjual Efek.

    Pasal 91

    Setiap Pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga Efek di Bursa Efek.

    Pasal 93

    Setiap Pihak dilarang, dengan cara apa pun, membuat pernyataan atau memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga mempengaruhi harga Efek di Bursa Efek apabila pada saat pernyataan dibuat atau keterangan diberikan:
    a. Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan; atau
    b. Pihak yang bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangan tersebut.

  15. londo

    BEI kan punya BAKRIE juga…btel bnbr bumi dewa enrg unsp…dia kali yg punya perusahaan tbk plg banyak d BEI…ga tau deh perusahaan2 dia beneran atau boongan semua… kalo d Amrik subrpime is the mass destruction untuk orang2, perusahaan2 dan bank2 di sana…kalo d Indonesia boleh ga pada kena subprime tapi kena REPO… SUBPRIME Amrik = REPO Bakrie ahahahaha..dari jaman dulu ga ada yg kalahin dia maen saham,probably not even the Foreign hedge funds.. BUMI dari 50 perak k 8 rebu ampe balik ke 385 skarang 780…cuan brapa tuh dia…bnbr dari stock reverse 250×2=500 terus dari 500 stock spit bukan split jadi 50 ahahaha(not included BNBR stock reverse when 1998 economic crisis happened cause i forget whats the price was that time)..

    Isn’t it amazing how big is the powerful Bakrie influence towards our stock exchange and how much his stocks weight to the market???i don’t know about now but when bumi was 8000 it alone once was weighted 5%..5% is a very heavy weight for a stock market(market mover stock)…once the stock rise it will give significant rally to the market but once it collapsed and does not rise again it will also affect our stock exchange and probably certain politics party because most of the BIG MONEY and HOT MONEY,POLITICIANS MONEY and even small fishes like me are trapped inside it..BUMI is an art of wealth destruction/creation for the people inside the exchange and the market itself..

    If no one BAILOUT the company/stock (which i think the one could settle it is the government..government should investigate,settle and fix all the problems caused by REPO AND UNCLEAR TAKE OVERS )there will be a mass wealth destruction which probably caused the low volume lately and trust issue towards the stock exchange which indirectly delaying capital inflow investments to our country and the stock exchange.

    SP fraud is one of many problems caused by REPO which already took one of it staff life..it is still remain unknown how many are the victims(companies,banks,securities,) OR EVEN HUMAN LIFE this REPO problem caused and took..

  16. Rustam

    Mas Novie yang baik, maaf OOT, tapi saya selalu mengunjungi blogmu.
    mau tanya mas, mendesak, soalnya sudah merebak di medan dan dan sebagian besar pulau sumatera, katanya dulu awal2nya di Bandung.
    Begini mas novie, terkait mengenai bisnis “jual beli Jaringan”
    Orang yang jualan 175ribu, kemudian dapat uang 50ribu klu ada jaringan dibawahnya, kalau ada 2, bonus 27ribu, kalau bisnis2, kayak gini, hati aku bilang kayaknya ga benar deh, tapi sudah terlanjur rame di masyarakat,
    pertanyaannya, pelakunya itu bisa ditangkap ga mas? klu memang ini penipuan? mohon pencerahannya..

    salam
    Rustam

    Oiya, ini dagangan mereka
    http://flexterkita.com/?pg=home
    http://flextersuper.wordpress.com/

  17. Nofie Iman

    Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Kalau dibilang bisnis tersebut legal, saya kok belum bisa menemukan produk dan jasa yang mereka tawarkan. Terlalu “aneh” kalau hanya bisnis jual beli pulsa biasa. Tapi, kalau dibilang bisnis tersebut illegal/penipuan, saya malah bisa dituduh melakukan pencemaran nama baik.

    Kalau yang difokuskan pada “jaringan”, maka biasanya ada titik tertentu sampai jejaring tersebut ambruk. Yaitu ketika para bawahan sudah tidak bisa mendapatkan downline baru. Entah karena pasar sudah jenuh atau karena tidak ada lagi yang bisa diprospek. Sementara yang diatas, tetap nyaman menikmati jerih payah bawahannya.

    Lagi-lagi soal penipuan atau bukan susah dibuktikan. Apalagi masyarakat kita yang (maaf) by nature masih gampang terpikat pada iming-iming keuntungan besar dalam waktu sekejap.

  18. nenyok

    Salam
    Sangat menarik ulasannya, saya menikmati tulisan anda, terimakasih

  19. Rustam

    terima kasih mas, oiya klu tidak berkeberatan dibikin kulasan “netral” mengenai isu seperti ini dunk :) entar biar pembaca yg “menilai” apakah ini bisnis illegal yg nebeng di kedok pulsa, atau legal tapi ya sedikit meragukan juga sih.

    terima kasih buat pencerahanya.

    tabik

  20. widhie

    Yang ingin saya tekankan sebenarnya bukan seperti itu. Kita semua kan tahu bahwa aktifitas pengumpulan dana masyarakat tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau perusahaan. Bank-bank bisa melakukan itu dengan legalitas dari pemerintah dan dalam pengawasan BI. Perusahaan sekuritas juga bisa melakukan itu dengan legalitas dari pemerintah dan dalam pengawasan BAPEPAM. Nah sistem yang sekarang sangat rawan karena BAPEPAM mengaku hanya bertanggung jawab atas efek nasabah, sementara urusan uang di luar pengawasannya. Bagaimana kita percaya untuk naruh uang ke sekuritas sementara setiap saat dan setiap waktu manajemen/owner dari sekuritas itu bisa melarikan uang tanpa ada jaminan apapun?

    Sekarang bayangan sederhana aja, beberapa sekuritas memiliki modal sebatas minimum MKBD. Lalu suatu saat ada orang seperti Soetrisno Bachir jual saham BUMI senilai 350 milyar. Pada T+3, ketika uang hasil penjualan saham itu cair, apakah kita yakin manajemen/owner tidak tergiur untuk mengambil uang hasil penjualan saham tersebut ? Apalah artinya aset senilai MKBD (plus peralatan kantor dll yang nilainya relatif kecil) dibanding 350 milyar?

    Hal semacam ini sudah terjadi di dunia perbankan pada kasus Bank Global dimana ownernya pilih kabur ke luar negeri (yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia), membawa uang sekitar 2 trilyun dengan meninggalkan aset yang nilainya tidak seberapa. Kita berharap manajemen/owner sekuritas punya itikad baik untuk menjaga amanat. Tapi di dunia yang makin kejam ini, dimana jangankan teman, saudara saja disikat, transaksi/bisnis apapun tidak bisa hanya mengandalkan kepercayaan dan itikad baik, mesti ada aturan yang menjaga dan mengawasi agar masing-masing pihak tidak melakukan fraud/wanprestasi.

    Pada kasus Sarijaya, karena banyak cabang-cabangnya adalah remiser/franchise, aset SP yang dimiliki HR sendiri tidak terlalu besar. Tapi karena semua uang dari cabang-cabang itu mengalir ke pusat (untuk pembelian saham maupun hasil penjualan saham), maka manajemen SP pusat (termasuk owner) mengendalikan uang yang relatif sangat besar dibanding aset riil sendiri (milik owner).

    Kekacauan regulasi macam inilah yang membuat investor/nasabah berada dalam posisi lemah jika terjadi masalah. BAPEPAM sebagai lembaga yang berwenang mengawasi industri pasar modal mestinya segera membenahi/melengkapi regulasi yang ada , bukannya malah lempar sana-lempar ini ketika timbul masalah (contohnya: BAPEPAM menegaskan bahwa tugasnya hanya mengurus efek, sementara urusan dana dilempar ke Bareskrim).

    Menurut pendapat saya,sudah saatnya nasabah SP melakukan upaya hukum perdata. Scr pidana sudah ditangani oleh Penyidik, namun secara perdata tdk ada kejelasan sama sekali. Penanganan dan perhatian dari lembaga yg berwenang hanya memakan waktu tanpa arah serta time frame yg jelas. Semua hanya berupa janji bersifat mengulur-ulur waktu.

    Di sisi lain, sebenernya sbg investor kita juga harus membantu dan menjaga diri sendiri serta komunitas kita, sebaiknya sblm invest dimana pun kita cek segala legalitas dr ijin sampe prosesnya sesuai prosedur apa tidak, selain itu kita juga kadang2 berperan merusak sistem yg ada tanpa kita sadari, misalnya minta berbagai macam kelonggaran atau dispensasi dr berbagai aturan bursa, sec yg ketat menjaga aturan maen malah sepi dan dijauhi investor tp sec yg brani kasih kelonggaran dari berbagai macam aturan malah kita dukung, hal ini dpt mendorong para sec untuk mengabaikan aturan maen yg ada utk mendapatkan klien dan utk itu mereka melanggar berbagai macam aturan dan ketika sudah mulai mereka tidak bisa berhenti dan trus melanggar aturan yg akhirnya kita juga yg kena getahnya karena bapepam dan BEI tidak bisa secara mudah menemukan berbagai pelanggaran itu.

  21. Hendra

    lagi sebuah tulisan menarik dan pembelajaran yg sangat bermanfaat bagi saya. btw, time to seek an alternative? :)

  22. Drian

    Beautiful!

  23. lahandi

    Keren nih ulasannya. Lebih keren lagi komentar-komentar pembacanya.

    Jadi bisa spark ide untuk lirik-lirik rap.

    Banyakin lagi tulisan yang macem ini mas. Topiknya agak ‘berat’ tapi kupasannya enak.

  24. Luluk

    Makasih Mas Nofie…keren banget nih ulasannya sekaligus komen2 yang juga informatif. Makasih buat semuanya…

  25. Moel

    Ma

  26. Newbie

    Menarik sekali pembahasannya mas., ampe keblinger saya membayangkan kondisi pasar modal di indonesia., terus terang saya benar2x baru belajar (newbi),. menurut saya itulah resiko yg dihadapi klu hanya keuntungan semata yg dicari., kita kecewa pabila sesuatu yg kita harapkan tdk bsa tercapai., kta kembali kepada nilai kita sebenarnya.

  27. ferdie

    hlo mas nofie.. saya ferdie (20 tahun) udah baca buku2 mas nofie dan sering baca postingannya di blog, teurs belajar2 malah jadi keterusan soal pasar modal dan profit udah konsisten dengan strategi yang cuma ngeluangin waktu 10 menit doang tiap minggu. Terus kemaren awal 2009 udah keluar, ga kena crash sama sekali, malah menikmati untung di deposito dan ORI karena udah kebulu keluar.. dan udah berhasil meraih profit konsisten, rencananya mau minta tolong mas nofie buat ….. (ada deh) hehe email ke saya ya funkyteletubbies@yahoo.com ya. mas nofie ada facebook ga?

  28. TRI

    HLO MAS NOFIE…….. TOLONG TAMPILKAN RUBIK TENTANG APAKAH MUNGKIN PENGUSAHA DAPAT MELAKUKAN LEVERAGED BUY-OUT?????

  29. INDRA

    Si BOZZ itu bisa aja lulusan SD tapi dia kan mampu bayar The best profesional untuk ngurusin hal begini.

    Untuk buang barang 100 juta pada saham likwid, ya tinggal hajar kiri, tapi kalo mau buang barang 100 miliar bukan masalah GAMPANG. Bisa bisa BIDnya KOSONG SEMUA …hehehe…

    Untuk buang barang GEDE, Ihsg harus diangkat 50 point dulu, market dibikin rame, harga diangkat tingggi-2, grafik TA dibikin cakep dulu, dipoles2, keluar berita bagus dikoran, baru dia bisa buang barang. Itupun harus pelan pelan supaya anda engga curiga lagi DIJEJELIN barang puluhan truk banyaknya.

    Jadi JANGAN HARAP, siBOZZ bisa buang barang besok disaat semua MAU JUALAN. IHSG bisa jatoh tapi barang yg kejual mungkin HAMPIR NIHIL. Pendapat embah ini BERBEDA ama tulisan dimedia, yg selalu bilang ADA PROFIT TAKING kalo harga jatoh. Barang gede baru bisa di PROFIT TAKINGin kalo harganya lagi naek. Kalo Barang gede dipaksaain dijual maka harga bisa ANCUR BANGET karena engga ada yg mau pasang BID.

    Case lain:
    Bisa saja Barang Gede dihajar kekiri, tapi tujuannya bukan buang barang tapi mau bikin harganya jatoh, untuk apa ?:
    1. Untuk nurunin penempang agar CL.
    2. Untuk dibeli balik diharga lebih rendah.

    Itulah alasan kenapa kalo HARGA JATOH DALAM SEKALI akan terbentuk Formasi V yang paling VALID untuk technical rebound yang dilanjutkan dengan RALLY panjang karena TERI pada Cut loss semua sedangkan PEMAIN GEDE engga bisa buang barang. TERI kan kalo mau buang barang gampang banget segampang buang upil…. IHSG rally dari 1850 ke 2650 sehabis terbentuk formasi V yg dalam kan ?.

    Disaat NORMAL, kalo anda melihat bid dan offer GEDE dan ada yg hajar kekiri, umumnya yg dihajar adalah groupnya sendiri. Tapi disaat bearish para Market Maker ini bisanya menghilang SEMENTARA, sehingga harga menjadi VOLATILE dan harga bisa jatuh dalam dlm periode yg singkat dan naik lagi seketika.

    Boss (smart money) masuk seperti piramida. Pertama masuk dalam volume segede bagong. Abis itu volumenya dikecilin sedikit demi sedikit sehingga indeks naik terus secara konsisten.

    Boss keluarnya seperti piramida terbalik. Awalnya keluar dikit-dikit supaya indeks tetep naik karena ritel asongan nyedot terus. Waktu pentungan gebukan terakhir terjadi, itu akibat boss ngluarin kopernya yang terakhir. Indeks turun tapi boss udah cuan boanyak. Apalagi ritel masih nyedot karena merasa itu cuma koreksi sehat dalam tren bullish. Duitnya boss sudah aman di parkir di LN.

    Yang sekarang bikin Rp begitu berotot adalah karena duit yang diparkir di LN itu masuk lagi dengan skenario sama. Mungkin kebanyakan juga duit orang kite juga.

    Ini cuma hasil perenungan selama menunggu godot karena bosen ngeliatin indeks bearish dan gak bisa memanfaatkan karena nggak bisa trading.

  30. pensiun kaya

    wah sebuah tulisan yang great dan komentar2 yang great pula, perlu beberapa kali baca untuk nubie seperti saya
    thanks

  31. Training Saham

    Ingin Investasi saham yg liquid..
    Ingin Daftar saham-saham Blue Chips di Amerika..

    vBook (Video Book) pertama ttg Pasar Modal, Saham, Option (Asuransi Saham)
    Bonus : Anda ingin tahu saham-saham yang dipegang oleh Warren Buffet dan George Soros??
    Join >> Training Saham <<

  32. rental komputer

    Gak ngerti untuk yang suka short seling dan mafia serta bandar nakal
    mereka ada kontribusinya terhadap bangsa / masyarakat gak yaa..?

    medingan kontribusi tukang cukur atau tukang ojeg deh buat masyarakat

    salam
    Rental Projector
    Rental Komputer

  33. Dian

    Sekedar sharing dari pendapat2 di beberapa milis:

    Dasar dari analisa pergerakan harga saham seharusnya adalah berdasarkan laporan keuangan emiten yg berarti juga menggambarkan kinerja nya, di gabung dengan faktor resiko dan probabilita kemajuan perusahaan di masa yang akan datang.

    Sementara yang saya baca di millist ini, bahkan pada Pasar ModalIndonesia secara hampir keseluruhan se akan – akan harga saham hanya di tentukan oleh tekanan beli dan tekanan jual yang di sebabkan oleh issue dan rumor.. Sedangkan issue dan rumor itu adalah opini yang bisa di bentuk dan di tiupkan ke pasar oleh para bandar yg tentunya telah merencanakan reaksi pasar dgn adanya issue dan rumor yg mereka tiupkan tersebut sehingga mereka telah lebih dahulu menyiapkan langkah – langkah untuk mengambil untung dari apapun reaksi pasar.

    Saya bukan bicara bohong karena terus terang saya pernah masuk dalam konsorsium goreng – gorengan ini Bos. Untuk jangka pendek dan untuk kepentingan saya pribadi memang sangat enak, tapi apakah saya akan melakukan hal ini terus menerus dan mengorbankan esensi dasar dari pasar modal ?

    Mana motto : MY WORD IS MY BOND yg kita agung2 kan itu ?

    Tidak pernah sama sekali saya membaca minimal analisa laporan keuangan, bagaimana kita akan lebih jauh mengetahui bagaimana cara perusahaan mengeluarkan angka2 di dalam laporan keuangan mereka tersebut. Apakah mereka telah menjalankan good corporate government atau apakah kita para pemain serta para analis hanya di kecoh dengan angka2 laporan keuangan yg telah di rencanakan terlebih dahulu oleh Emiten ?

    Beberapa teman2 saya yg menjabat sebagai Corporate Secretary selalu ketawa begitu melihat para analis mengeluarkan rekomendasi saham, karena mereka telah terlebih dahulu mengetahi bahkan mengatur para analis tersebut dgn angka yg akan mereka keluarkan dan biasanya 99% rencana emiten selalu sesuai dengan rekomendasi yg dikeluarkan oleh para analis yg telah bersusah payah melakukan penghitungan dgn memakai berbagai metode yg canggih2, dan para emiten ataupun para bandar relasi mereka telah menyiapkan berbagai jebakan untuk para pemain yg hanya melihat grafik dan issue, namun memang di akui beberapa dari pemain tetap akan di bagi kue cuan tapi sangat sedikit jika dibandingkan dengan keuntungan yg di raup oleh para bandar atau bahkan para Emiten yg menyembunyikan kepemilikan mereka dgn memakai banyak cara, antara lain dgn memakai perusahaan2 BVI, dan yg sejenisnya, sehingga kesan nya yg bermain itu adalah asing.

    Saya cuma mengajak para millister untuk bisa lebih membuka mata untuk kemajuan pasar modal kita di masa yg akan datang, juga untuk kemajuan serta keuntungan kita bersama yg tentunya akan jauh lebih baik, dari pada kita tiap hari hanya membeo serta mencuri dengar issue serta rumor gorengan.

    ————–

    BVI itu adalah British Virgin Island, sebuah negara kepulauan bekas koloni Inggris, letaknya Caribia atau tepatnya di sebelah timur Puerto Rico.

    Selain itu ada beberapa region yg kira-kira memiliki standar yg sama yaitu, Mauritius, Cayman Island, Macao dan sebuah region di Malaysia.

    Sudah menjadi legenda di Dunia karena hukum mereka memungkinkan bagi semua orang di dunia untuk membuat perusahaan di sana dgn hanya melalui telepon, dan biaya nya sangat murah.

    Fasilitas serta kemudahan nya adalah:

    1. Hanya dengan US$100 kita sudah bisa mendirikan perusahaan di sana
    2.. Perusahaan tersebut di kenai biaya tahunan yg sangat murah
    3. Pemegang saham di lindingi oleh undang2 di sana untuk tidak bisa di ketahui oleh siapapun kecuali oleh contact person yg membuat perusahaan dan pemilik atau kuasa pemilik.
    4. Di sediakan juga Direktur dari orang sana in case sewaktu – waktu di perlukan ada yg tampil.
    5. Kalau perusahaan di Singapore berakhiran dengan Pte, Ltd, maka perusahaan-perusaha an tersebut biasanya berakhiran dgn ; Company Limited, Holding Limited, Investment Limited, group limited, dll yg pakai limited.
    6. Bisa juga belakang nya menjadi Incorporation (Inc)
    7.. Dulu pernah ada tax treaty antara BVI ini dengan banyak negara mengenai tax free.
    8. Laporan keuangan perusahaan BVI ini ridak perlu di audit tahunan.
    9. Saking murah nya biaya mendirikan perusahaan di sana, akhirnya sering di katakan sebagai “One Dolar Company”

    Nah sekarang case-case yg pernah terjadi
    1. Ingat BBCA sewaktu di lelang oleh BPPN ?
    Salah satu bidder nya adalah Faralon Invetment Limited. Orang sudah bia menebak siapa yang berada di belakang Faralon sewaktu membeli BCA, namu tidak ada yg bisa membuktikan nya.

    2. Trik ini secara kasar dipakai oleh para emiten lainnya seperti PT. Lapindo Brantas yg kemudian berubah nama menjadi Lapindo Brantas Inc, dimana yg berubah itu sebenarnya bukan hanya nama, tapi juga susunan direksi, pemegang saham yg pada gilirannya akan menghilang kan pertanggung jawaban PT. Lapindo Brantas karena ke 2 company tersebut adalah entity yg berbeda. PT. Lapindo Brantas akan lepas tangan dgn mengatakan bahwa pemilik perusahaan sekarang adalah Lapindo Brantas Inc dan penuntut di persilahkan menuntut ke BVI atau Mauritius atau Caymand Island

    3. Beberapa emiten bahkan secara berani memakai full perusahaan “One Dolar Company” tersebut sebagai pemegang saham mereka dan bahkan sebagai mitra usaha atau pun kreditur. Kita lihat Davo yg melakukan restrukturisasi hutan mereka dulu dengan total memakai beberapa “One Dolar Company” sebagai pemegang saham mereka, kemudian hutang sindikasi yg tidak jadi di ambil juga berasal dari “One Dolar Company” dan kemudian para penuntut mereka yg sekarang di Pengadilan Niaga juga adalah “One Dolar Company”

    4. Masih banyak lagi perusahaan 2 lain nya yg memakai “One Dolar Company” ini untuk melakukan trik 2 jahat di pasar modal, dengan mempergunakan Loop hole dalam sistem pasar modal kita serat mungkin juga ke tdak mengertian para regulator dengan situasi.

    Ada apa di balik ini semua ?

    Apakah knowledge dari Regulator kita yaitu BEI dan Bapepam nggak nyampe sehingga udah keseringan di kadalin baik oleh emiten maupun securities ?

    Saya hanya prihatin aja heheheh

    ————–

    Saya dulu pelaku pasar dan pernah mencoba untuk mengambangkan analisa baru yaitu ANALISA GORENGAN yang pada tahun-tahun krisis dan pada waktu pasar modal mulai mengebal gorengan dan bandar yang baru sedikti makin berani mengatur harga, yang tentunya setelah bermain mata dengan emiten, namun memang para bandar ini lebih jago dan mereka punya team untuk memonitor sehingga analisa yg saya coba ciptakan itu akhirnya kedodoran karena para bandar telah labih dulu menjalin kerjasama dengan cara konsorsium dan bertukar partner setiap kali mau menggoreng saham yang sama.

    Namun sewaktu krisis itu jugalah saya menemukan banyak kecurangan yang di lakukan oleh para Emiten dengan cara mempergunakan loop holes Undang-Undang Pasar Modal serta juga dengan mengambil keuntungan dari rendahnya kemampuan SDM regulator yaitu Bapepam dan BEI, walaupun para staf mereka telah banyak yg belajar gratis keluar negeri.

    Kalau boleh kita refreshing lagi ingatan kita, antara lain yg membuat saya dulu tertarik untuk lebih mengawasi sepak terjang Emiten sampai sekarang adalah, di antaranya:

    - Skenario Kodok makan Gajah dari group Bentoel.
    - Hampir semua corporate action yang di lakukan oleh Lippo Group

    Itu adalah 2 dari sekian banyak Emiten yang mempergunakan celah2 peraturan, sehingga secara hukum mereka tidak salah, namun setelah mereka melakukan Corporate action, Bapepam buru – buru merevisi peraturan.

    - Pailit nya perusahaan publik pertama yaitu PT. Fiskaragung Perkasa, Tbk pada thn 1999 yg sempat menggemparkan pasar modal, namun tidak ada tindakan apa2 dari regulator terhadap emiten ini, setelah mereka dalam 3 tahun (listing 1996 dan pailit 1999) dengan menggondol banyak sekali uang pemegang saham yg mereka dapat sewaktu penawaran perdana dgn prospektus yg sangat menggiurkan ditambah lagi dgn mengemplang hutang MTN mereka dalam jumlah besar, namun asset yg pada laporan keuangan yg di keluarkan hanya beberapa bulan sebelum pailit sebesar lebih dari Rp 500 Milyar, kemudian turun menjadi hanya sekitar Rp 10 Milyar setelah di jual oleh kurator kepailitan.

    - Ingat nggak kasus SMCB yang dgn se enaknya menghapus piutang tidak tertagih yg nilainya gila – gilaan ? kalau nggak salah Rp 1 Trilyun.

    - Masih ingat stock split Lippo Bank dgn nominal yg berbeda ? terus ada lagi perubahan Line of Business.

    - Yg terakhir mulai ada trend pemakaian Offshore company alias BVI dan teman2 nya untuk menyembunyikan yg busuk – busuk, mulai dari kepemiikan saham, hutang sampai kepada buy back nya BBCA oleh Faralon dan hilang nya tanggung jawab Bos PT. Lapindo atas tragedi yg mereka bikin karena secara hukum pemilik saham nya sekarang adalah Lapindo Brantas Inc. yg udh bisa di tebak dima perusahaan itu didirikan, tp yg jelas kalau nanti ada tuntutan, maka PT. Lapindo Brantas udah bisa cuci tangan.

    - Terakhir dgn rontok nya pasar modal Amerika serta bangkrut nya Lehman Brother, saya makin mencoba untuk makin teliti terhadap laporan keuangan Emiten, and GUESS WHAT I FOUND ?

    Coba baca yg teliti Laporan Keuangan DAVO yg terakhir. Kita selalu di cekokin oleh media yg ternyata juga tidak teliti bahwa Lehman Brothers memegang saham Davo sekian persen, tapi setelah saya baca dengan seksama, ternyata kita semua salah.

    Ternyata pemegang saham Davomas bukan lah Lehman Brothers Holding Inc. yg bangkrut itu, karena di dalam laporan keuangan Davomas di sebutkan bahwa pemegang sahamnya adalah Lehman Brothers Investment Pte, Ltd, yang berarti juga sama dengan pemegang saham lainnya yg di penuhi oleh Ltd dan Ltd lagi.

    Nah sekarang siapa yg bego ? dan siapa yang di kadalin ? Hahahaha…. …. satu lagi yg nuntut pailit mereka ini juga Limited lho di belakang nya.

    Sekarang saya juga sedang mengawasi ADARO dan BUMI. Mudah2 an nanti saya bisa mengeluarkan analisa versi saya ini.

    Nah sodara saya yg hanya berkutat di tehnical, apa nggak tertarik untuk membahas masalah yang aneh2 ini ?

    Saya bukan anti tehnical, tapi kita bagi- bagi lahan lah, karena kalau semua orang mengerti tehnical, maka semua orang juga akan mempunyai analisa yg kurang lebih sama sehingga akan mengambil tindakan yg juga kurang lebih sama. Nah kalau udah begini Market nggak akan tercipta dong ?

  34. Dian

    Sekedar sharing (lagi) dari pendapat2 di beberapa milis:

    ————–

    Tapi saya akan katakan saja metode yang saya lakukan selama ini untuk mengetahui apakah perusahaan emiten itu jalannya agak lurus atau udah bengkok habis, karena saya fikir bisa di bilang nggak ada emiten yg benar-benar lurus, apalagi setelah Pasar Modal kita yg istilah keren nya bullish, jadi bahkan para analis sendiri pun tidak mengatahui perusahaan – perusahaan yg di analisa nya secara mendalam, karena terbatasnya waktu dan banyak nya saham – saham yg menjanjikan pergerakannya.

    Metode yg saya lakukan mungkin cukup kuno yaitu:

    1. Mendata Corporate Action mereka selama paling tidak 5 tahun ke belakang.
    2. Mengoleksi Berita – berita dan rumor yang beredar selama periode itu
    3. Menganalisa Laporan Keuangan selama 5 tahun ke belakang
    4. Mencari tahu berita – berita ekonomi dan umum yang sekiranya akan berkaitan dengan bisnis Emiten yg sedang saya amati.

    Selain itu ada juga beberapa analisa serta rekomendasi dari para analis yg sy coba untuk memaksimalkan mangumpulkannya.

    Setelah data – data tersebut saya dapatkan, saya akan membuat analisa perilaku Emiten, dimana hasilnya biasanya nggak akan jauh – jauh dari point-point di bawah ini sebagai petunjuk awal adanya suatu kecurangan :

    1. Biasanya sebelum mengadakan corporate action yg berbentuk Fund Raising, Emiten akan menghembuskan issue bahwa bisnis mereka sangat bagus dan menjanjikan entah dengan cara press release, menghubingi securities company agar memuat analisa tentang prospek bagus dari bisnis mereka atau media expose atau bahkan dgn meng hired PR Company.

    2. Emiten akan menunggu reaksi pasar atas issue yg mereka hembuskan. Kalau rekasi pasar negatif, mereka akan mencoba lagi menghembuskan issue yg lain, tapi kalau reaksi pasar positif, mereka akan lansung melakukan corporate action. Namun tidak menutup kemungkinan mereka membatalkan nya karena pasar bereaksi sebaliknya.

    3. Dalam menghembuskan issue – issue tersebut Emiten akan sangat berhati – hati untuk tidak muncul sebagai whistle blower, karena akan melanggar UU Pasar Modal.

    4. Membeli saham Emiten tersebut dan kemudian mencoba mendatangi atau mengontak kantor Emiten tersebut untuk bertemu dengan management (Direksi) atau karena mungkin saya orang kecil dan tidak akan d temui, saya akan mencari informasi apakah Direksi ini cukup bertanggung jawab untuk menghadiri RUPS/ RUPSLB dari Perusahaannya dengan cara seluruh Direksi bisa menghadiri nya.

    5. Kalau tetap tidak ada berita positif mengenai tanggung jawab Direksi, biasanya saya akan mengontak beberapa teman di Bapepam dan BEI untuk menanyakan apakah mereka sudah pernah bertemu dgn formasi lengkap dari Direksi Emiten ini.

    6. Saya akan mengumpulkan data dan menganalisa berapa kali emiten ini berganti auditor dan saya sambungkan dengan hasil Audit mereka setelah berganti auditor. Apakah ada angka yg mencurigakan, seperti lonjakan atau penurunan tajam dari beberapa item pokok dalam Laporan Keuangan mereka seperti cash, penjualan, modal, hutang dan fixed assets.

    7. Komposisi pemegang saham. Berapa persen yg di tangan publik dan berapa persen yg di tangan founder, karena ini sangat berpengaruh kepada pengambilan kebijakan perusahaan, apalagi di dalam RUPS/ RUPSLB perusahaan tersebut.

    Biasanya kalau Emiten ini berniat untuk memanipulasi pemegang saham publik adalah :

    1. Kalau mau ada Fund Raising, maka akan gencar pemberitaan dan bahkan issue mengenai betapa profitable nya company ini.

    2.. Sebaliknya kalau mau bayar hutang atau ada kewajiban yg akan mengakibatkan keluarnya uang perusahaan, maka laporan keuangan akan dibikin jeblok, dan biasanya juga auditor akan berganti.

    3. Saya biasanya juga akan menemukan pemberitaan – pemberitaan atau issue yg kadang malah bertolak belakang dalam waktu yg relatif singkat.

    4. Dalam bisnis memang ada untung ada rugi, tapi tidak ada pelaku bisnis yg cukup bodoh untuk bertahan dalam rugi tanpa ada inisiatif lain untuk memperbaiki kondisi perusahaan.

    5. Berhubungan lagi dengan angka-angka kenaikan atau penurunan laba atau rugi yang kadang aneh bisa beratus-ratus persen, ini sudah indikasi tidak bagus.

    6. Di dalam laporan keuangan saya akan mencoba melihat apakah cuma laba kotor yg gede sementara laba bersih sangat tidak rasional kecilnya, yg berarti mereka telah menyetel biaya-biaya supaya lebih besar.

    7. Ada juga emiten yg tetap mencantumkan laba yg besar untuk beberapa periode waktu, namun tidak membagi Devident untuk jangka waktu yg cukup lama.

    8. Kalau pun ternyata Emiten tersebut membagi Devident dgn persentase yg sangat kecil jika di bandingkan dgn Laba ditahan yg notabene sebenarnya adalah hak dari pemegang saham.

    9. Komposisi pemegang saham. Berapa persen yg di tangan publik dan berapa persen yg di tangan founder, karena ini sangat berpengaruh kepada pengambilan kebijakan perusahaan, apalagi di dalam RUPS/ RUPSLB perusahaan tersebut.

    10. Ada keputusan RUPS/RUPSLB yg sangat merugikan pemegang saham minoritas namun di setujui di dalam RUPS/RUPSLB seperti keputusan untuk tidak membagi devident walaupun laba cukup besar.

    11. Belakangan dengan trend nya pemakaian perusahaan-perusahaan Offshore, BVI, Cayman, Mauritius, Macao, maka analisa saya tambah lagi dengan berapa banyak perusahaan tersebut mempunyai hubungan dengan yg di atas itu. Biasanya, walaupun tidak semua, itu adalah akal-akalan emiten untuk menyembunyikan sesuatu dari publik.

    12.. Sehubungan dengan strategi kepemilikan saham, founder memliliki banyak sekali opsi untuk tetap menjadi pengendali dan pengambil keputusan setiap RUPS/RUPSLB. Caranya adalah dengan membuat perusahaan-perusahaan atas nama orang lain atau dengan memakai nama karyawan, dan yg terakhir adalah membuat Offshore Companies untuk kemudian membeli saham dari market sehingga kalau di perlukan mereka bisa menggunakan voting power mereka, dan lagi mereka juga bisa meramaikan market dgn cara perusahaan Offshore tersebut ikut meramaikan market dgn aktif bertransaksi sehingga para analis akan melihat bahwa ASING masuk, sementara kontrol tetap berada di tangan founder yg telah menjadi INVISIBLE HAND tersebut.

    Kalau indikasi seperti di atas ada dan terjadi, maka bersiap lah untuk untung lumayan dari hasil ikutan gorengan mereka, tapi saya bisa mengatakan bahwa para pemain yg gain itu hanya dapt ampas-ampasnya saja, atau bisa juga rugi besar kalau masuk di waktu yg salah.

    Cuma di sayangkan tidak banyak orang atau bahkan BAPEPAM serta BEI sendiri yang bisa memonitor dan menalarkan hal-hal seperti tersebut di atas, dan lagi Undang-undang Pasa Modal serta Peraturannya tidak atau belum menjangkau hal-hal yang seperti tersebut di atas.

    Bahkan salah seorang teman saya pernah bilang bahwa GOOD CORPORATE GOVERNMENT telah di bawa mati oleh penemu dan penyusunnya yaitu ARTHUR ANDERSEN yg nyangkut karena melanggar GOOD CORPORATE GOVERNMENT yang di susun oleh mereka sendiri.

    Sekedar mau sharing aja. Saya selalu tergelitik setiap kali media memberitakan mengenai Kapitalisasi pasar BEI atau total nilai transaksi per tiap hari uang jumlah nya saya sendiri pusing membayankan banyak nya angka nol di belakang komanya itu, seperti Rp 7 T, Rp 8 T dan rekor awal agustus kemarin yg mencapai Rp 10 T, sebuah nilai yang luar biasa kalau cuma di bayangkan saja.

    Namun adakah di antara kita yang berfikir apakah uang sebesar itu benar-benar rela money atau hanya angka saja seperti halnya subsidi BBM yg di berikan pemerintah kepada rakyat ?

    Please correct me if I am wrong, menurut saya angka itu adalah komulatif dari seluruh transaksi yang terjadi per hari.

    Saya akan sedikit memberi illustrasi :

    - Kalau saya mempunyai uang Rp 300 juta yang saya bawa untuk ber transaksi saham untuk hari ini, maka kejadiannya bisa saja seperti ini.

    - Uang Rp 300 juta saya itu begitu market buka, saya akan belikan seluruh nya kepada saham pilihan saya yg tentunya setelah mendengar rumor, dengan target begitu harga naik satu atau dua point saya akan jual.

    10 menit setelah market buka perkiraan saya benar, lalu saya melikwidasi saham saya tadi itu dengan harga jual total Rp 315 juta.

    Perhitungan komulatif transaksi untuk saya sendiri dalam hanya 10 menit market buka adalah Rp 300 juta untuk beli di tambah Rp 315 juta untuk jual = Rp 615 juta.

    Kemudian uang tersebut dalam satu hari bisa saya keluar masuk sekitar 5 kali (ini perkiraan rata2 transakasi investor perorangan dalam satu gari menurut saya)

    Lalu berapa nilai komulatif transaksi saya dalam satu hari ini ? kalau di rata-ratakan saja setiap kali transaksi saya menggunakan uang Rp 300 juta tersebut ? sehingga dihitung Rp 600 juta setiap kali masuk dan keluar.

    Nilainya adalah 5 dikali Rp 600 juta = Rp 3 Milyar hanya untuk uang yg saya bawa sebesar Rp 300 jt tersebut.

    Nah saya tidak akan memakai referensi jumlah member Millist ini yang bisa mencapai angka 10 ribuan orang, tapi saya akan memakai angka jumlah securities house di Indonesia yang menjadi anggota BEI, yaitu 121 buah Sekurities house.

    Saya ambil angka 60% nya aktif berarti sekitar 73 securities yang aktif dan saya rata-ratakan setiap sekuritas mempunyai sekitar 50 orang nasabah yang bermain sesuai pola saya dan mempunyai uang kurang lebih sama dengan saya yaitu Rp 300 juta. Dan nilai transaksi perorangan nya untuk hari itu adalah juga sama dengan saya yaitu Rp 3 M

    Maka hitunganya menjadi 50 X 73 X 3 M = Rp 10,95 Trilyun.

    Sementara kalau kita hitung real money yang masuk dan beredar pada hari itu adalah

    50 X 73 X 300 juta = Rp 1,95 Trilyun atau hanya 10 Persen dari yang dikatakan kapitalisasi transaksi BEI.

    Anda percaya sekarang bahwa hanya dengan 3,650 orang investor yg menyiapkan uang masing2 sebesar Rp 300 juta bisa membuat Nilai Kapitalisasi sebesar itu ? untuk catatan kita saja, member dari salah satu millist ini saja mencapai 8.000 orang.

    Bagaimana jika ada emiten seperti group nya bakrie yg ikutan ? bagaimana jika asing atau aseng ikutan ?

    Akan tetapi harap di ingat lagi bahwa jumlah itu hanya catatan saja, karena kalau pada penutupan market saya kembali melikwidasi portofolio saya hari ini, maka yang tinggal adalah catatan di sekuritas tentang jumlah transaksi saya yg akan di net off kan saja spread atau selisih nya nanti pada hari penyerahan atau kliring ?

    Jangan anda banding kan dengan pasar real yang terjadi di Glodok, Berbagai ITC serta Tanah Abang. Itu sama dengan membandingkan jeruk busuk dengan apple karena di pasar konvensional ada barang yang bergerak, ada distribusi yang memberi makan banyak orang, sementara di Bursa kita hanya duduk di depan monitor, lalu mencetak uang dengan hanya menjual kertas saham yg sekarang pun sudah tidak berbentuk kertas lagi.

    Sebenarnya dari hitungan sederhana itu kita juga dengan gampang bisa mengira-ngira berapa pendapatan perusahaan sekuritas, tapi untuk hal itu di postingan yg lain mungkin akan kita coba bahas.

    Hal ini juga yang memikin saya tertawa sedih ketika pada tanggal 20 Oktober 2008 yang lalu pemerintah kita CQ Mentri keuangan menyebutkan telah menyiapkan dana talangan sebesar Rp 4 Trilyun untuk intervensi pasar dan menjaga kestabilan Pasar Modal.

    Para pelaku dan pemain pasti tersenyum gembira menyambut sinterklas yg baik hati ini untuk mendapatkan sedikit keuntungan dari rencana buy back pemerintah ini.

    Katanya kita menuju dan berkiblat ke Kapitalis yang meng agung-agungkan pasar bebas dan tidak ada intervensi pemerintah, namun kemudian kita juga meniru Amerika, mbah nya kapitalis untuk melakukan proteksi terhadap industri dalam negri nya, namun ternyata kiblat kita itu pun melanggar prinsip kapitalis sewaktu mereka tidak memberi ijin bagi perusahaan otomotif Jepang yang mau membeli perusahaan otomotif dalam negri mereka yg lagi sekarat, sedangkan kita selain meniru, juga mencoba untuk tetap meyakini sistem kapitalis dengan me listingkan indistri-industri strategis contohnya beberapa BUMN seperti Krakatau Stell.

    Apakah sekarang anda masih percaya bahwa INDEKS atau NILAI TRANSAKSI BEI bisa di jadikan sebagai INDIKATOR EKONOMI Nasional kita ?

    Sebenarnya hal kayak gini yang bikin FA jadi terlihat buruk. ya dressel lah ya BVI Company lah…
    dan makanya banyak yang menyalahkan FA. padahal barangkali orang2 yang salahkan FA itu belum blajar maksimal tentang FA.. udah belum blajar valuasi, makro ekonomi dan cara baca laporan keuangan yang bener.. jangan cuman tau PBV, PER doang.. itu mah gampang berubah…

    Contoh nih… UNVR mahal apa gak???? PER sekitar 40x, PBV sekitar 30X, tapi harganya naik trus..
    nuhhhh… SIPD PBV di bawah 1 tapi harga gak naik2…
    INCO PER 80x tapi harga masih naik…
    ADMF PER cuman 3,5 tapi harga gak naik2..

    ada banyak lagi faktor2 lain…..buanyak n njelimet.. seringkali FA disalakan karena yang gunakan FA mau cuan cepet sih… bener kan..jangan boong deh… kalau lagi BULL Gini , jarang bgt yang ngomongin FA.. TA mulu.. ya iyalah… kan mau cuan cepet… tar kalau NYANGKUT tiba – tiba triak “TRUB FA nya gimana ya?? bagus gak simpan jangka panjang”. telaaattt udah deh.. kalau mau trading, TA aja. ketat CUT LOSS.. gak usah nyari alasan FA….

    Sori nih gw ngomel2. soalnya sering gitu sih.. gak pernah bicarakan FA saat bull, eh tiba2 nyangkut nanya tentang FA.,., ya salah kaprah.. tar kemudian bilang “ahhh..laporan keuangan Bandar yang atur”, padahal gak semuanya…

    Laporan keuangan kalau cuman 1 tahun. MUNGKIN bisa diatur, ini perlu BAPEPAM yang bener2 periksa nih.. tapi kalau dalam 5 tahun SUSAH bgt untuk diatur…makanya kalau lat saham jangan liat lap keuangan 1 tahun doang..liat 5 tahun belakangan.
    (INI POINT PERTANMA minimal 5 TAHUN lap keu yang diteliti).

    Wahhhh… si ELSA labanya naik tuh.. ADHI juga, RATUSAN PERSEN LHO.. SERBUUUU (eh nyangkut)..
    trus nanya “kakak…. suhu..senior… laba naik kok harganya diem sih… tulungin donk ”
    POINT NOMER 2 : LHA….anda pake FA kok ngarep cuan cepet sih.. MINIMAL 1 tahun lah… tanamkan MINDSET INI ya…
    POINT NOMER 3 : Cek dulu labanya dari mana..kalau dari BENER – BENER operasional MURNI perusahaan ya gpp lagi.. contoh BUMI tahun 2007 laba naik sekitar 700% namun BUMI ada perusahaan batubara bukan investasi, sedangkan laba BUMI 2007 SEBAGIAN BESAR berasal dari LAIN – LAIN dalam hal ini PENJUALAN 35% saham anak perusahaan (KPC) kepada TATA POWER (india)…

    ya gak MATCHING lahhh..masa perusahaan batubara jual anak perusahaan.makanya di tahun 2008 laba BUMI ada penurunan sebab POS pendapatan lain2nya udah gak ada lagi..masa BUMI mau jualan KPC mulu..habis lah sumber pendapatannya..
    INGAT YA LABA HARUS DARI OPERASI MURNI bukan dari lain2..silahkan cek ADHI dan ELSA laba nya naik banyak sumbernya dari mana…

    Point Nomer 4 : Pehatrikan REPUTASI SIAPA yang bikin laporan keuangan
    Pehatikan HISTORY pembuat laporan keuangan,…
    kalaukayak UNVR, ASII, ADMF, grup astra, no problem lah ini grup dan perusahaan yang selama ini saya perhatikan JUJUR dalam keuangannya…yang lain kurang perkatikan…

    kalau kata “ah laporan keuangan BD yang atur” makanya pilih perusahaan yang udah TERJAMIN reputasinya…

    POINT NOMER 5 : Lain – Lain
    Perhatikan Rasio hutangnya, hutang dalam bentuk mata uang asing atau rupiah? Profit marginnya ? ROE ?
    Sektornya akut/blue ocean? marketing? real condition? banyak deeehhghhhh

  35. Dian

    Sekedar sharing (lagi) dari pendapat2 di beberapa milis:

    ————–

    TA dan FA memang kadang gak akur,hehehe
    agak sulit sebenarnya kalau kita melihat2 dari yang PTE, LTD, kita sebagai orang awam sulit sekali untukbisa menarik kesimpulan.. sebab ini udah bagian manajemen internal perusahaan. yang seringkali juga RAHASIA..masuk dalam area private nya manajemen..

    Contoh BBCA, masalah farallon, itu gak pengaruhi kinerja BBCA jadi gak selalu buruk kan PTE, LTD dan Cayman…maupun BVI… kit aperhatikan KUALITAS manajemen yan tercermin dari growth dan stabilitas perusahaan..

    TA membahas mengenai psikologis pasar serta SUPPLY/DEMAND..

    anggaplah ini BD mau keluar…
    anggaplah sebuah perusahaan jelek tapi harganya digoreng…
    KETIKA digoreng harga naik.. tapi sesungguhnya, DEMAND bertambah.. DEMAND tetap DEMAND walau dibikin2..makanya harga naik. balik ke hukum ekonomi jaman SMP ketika ada demand dan supply kurang (DEMAND > SUPPLY) maka harga naik..

    ketika tiba – tiba barang bandar cukup, maka BD akan menaikan lagi dan kemudian distribusi (MENURUNKAN harga)… alias buang barang. KETIKA BD membuang barang, tentu SUPPLY barang di pasaran akan bertambah. yang akan menyebabkan harga menjadi turun (balik ke hukum, supply demand) Supply > Demand maka harga turun..

    Dan Supply demand inilah psikologis pasar yang digambarkan oleh TA.
    TA menggambarkan psikologis pasar..

    CONTOH… ketika tahun 2008 HARI pertama BUMI jatuh
    BUMI turun dari 8000an ke 7000an dengan Total Transaksi HAMPIR 4 Triliun..
    Hal ini menandakan bahwa OVERSUPPLY sedang terjadi.
    Saat itu kita gak tau tentang REPO dll kurang dibahas, KARENA YA BUMI LAGI BULLISH, FA gak dipedulikan…
    Bahkan ada analisa FA yang ngomong BUMI Bakal ke 10 bahkan 15 bahkan 20 ribu.
    (LIHAT ASUMSI MEREKA)

    Pada saat over supply terjadi maka arga akan turun dan akan tergambar di chart. jadi memang BD bisa menggambar CHART tapi tetap saja. ada supply demand yeng bener2 terjadi walau karang gak real supply/demand nya..

    Selalu ada 2 sisi…
    Positif dan Negatif…
    Saya kadang agak heran sih…
    kalau udah ngomomongin FA yang jelek.. selalu aja ngoongin DAVO, dll..
    padahal da juga kayak ASII, UNVR yang FA nya bagus bgt.. konsisten bertumbuh dengan baik..
    tapi jarang dibahas FA nya…

    sama juga dengan TA..
    Kalau udah ngomongin TA,ngomongin BG mulu.. kalau nyangkut baru jelek2in TA bilang kalau TA digambar BD segala….
    UNVR secara TA tuh sejak 10 tahun lalu Uptrend..naik dari 35 ampe 12.000

    Seringkali dalam merespon sesuatu emosi kita terpengaruh….

    TA dalam jangka pendk bisa digambar oleh BD..
    Dalam janka panjang, GAK BISA sebab dana BD juga TIDAK UNLIMITED…

    Saya bukan lah expert karena tidak ada orang yg expert di Pasar Modal, semua nya hanya sharing, tapi terus terang belakangan saya jadi sangat khawatir dengan kondisi pasar modal kita, terutama dengan terbatasnya kemampuan Bapepam serta BEI untuk mengawasi atau mungkin juga ada tekanan dari yg kita bilang INVISIBLE HAND nya ekonomi, serta kemampuan para Emiten untuk melakukan trik-trik baru yang se akan-akan tidak terjangkau oleh regulator Pasar Modal.

    Saya telah mencoba melihat kondisi para pelaku Pasar Modal, para Analis serta regulator dan juga kondisi pasar secara keseluruhan dan saya bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa semakin hari para pelaku dan pemain semakin di butakan hanya oleh segala macam bentuk TA an FA.

    Bukan nya saya anti TA dan FA, karena tidak mungkin suatu teori dibuat tanpa adanya bukti konkrit dari teori tersebut, namun yg namanya teori, apalagi Teori Ilmu Ekonomi, kalau kita kembali kepada prinsip Teori ada yg namanya “CATERIS PARIBUS” yaitu “Kondisi-kondisi lain selain yg di muat di dalam teori berjalan normal, apa adanya dan sesuai teori (teori lagi)

    Untuk kondisi sekarang, justru kondisi-kondisi diluar dari apa yg menjadi element dari analisa yg sering berubah tidak menentu dan cenderung memanipulasi sehingga element yg kita masuk kan ke dalam analisa kita bisa jadi menjadi tidak relevan lagi. Lain hal nya jika misalkan semua Emiten melakukan bisnisnya dengan jujur, mengeluarkan angka Laporan Keuangan tanpa pretensi apa-apa atau tidak memiliki rencana tertentu atas angka yg mereka keluarkan tersebut dan fungsi pengawasan berjalan sebagaimana mestinya. Saat itulah TA dan FA akan saya akui 100% akan berhasil.

    Namun di sisi lain, faktor pembentuk harga dan terjadinya transaksi adalah analisa dan persepsi yg berbeda dari setiap penafsirnya sehingga bisa berakibat 2 orang yg memakai teori analisa yg sama akan mengambil keputusan yg berlawanan yaitu satu orang mau menjual sedangkan yg lain ingin membeli.

    Dengan demikian kembali Zero, maksudnya akan ada lagi teori-teori baru dan bahkan akan ada anti teori yg akan melawan arus, karena kalau tidak maka tidak akan ada transaksi.

    Kondisi ideal yg di idam-idam kan setiap pelaku pasar adalah fungsi pengawasan yg berjalan baik sehingga tidak ada menipulasi yg di lakukan oleh baik yg namanya emiten maupun bandar, namun kalau kondisi ini terjadi maka akan banyak sekuritas yg tutup karena semua investor telah mengerti dengan sebenar-benar nya kondisi pasar dan kondisi saham emiten yg akan mereka beli.

    Mangkanya tidak heran kalau setiap pagi e-mail kita di penuhi oleh rekomendasi saham dari para analis tempat kita buka account dan bahkan kita belum mansi pun sudah di telpon oleh para trader sekuritas yang memang mengandalkan income mereka dari komisi transaksi.

    Coba bayangkan kalau fungsi pengawasan berkalan dengan baik sehingga tidak ada rumor, tidak ada issue yang akan menggoyang harga saham, maka akan banyak juga sekuritas yang tutup karena tidak aad lagi spekulan yg main one day trading.

    Bagi perusahaan sekuritas, kepentingan mereka adalah volume transaksi yg sebesar-besarnya karena baik anda jual atau pun beli, rugi maupun untung, mereka nggak ada masalah karena anda tetap akan di kutip fee transaksi. Bagi mereka semakin besar velume transaksi akan semakin besar pula income mereka.

    Itu cara lain dari Bandar untuk nyari duit lalu bagi2 dikit untuk para penggembira yaitu kita-kita ini. Penyakit para pemain kan begitu. Begitu kalah, akan down sebentar, tapi jarang yg ngaku kalau kalah, lalu kembali optimis untuk beli dan beli lagi dan kalau ada yg menang, bisa satu kampung tahu kalau kita lagi cuan.

    Itu karakter dasar manusia yg nggak mau di anggap bodoh atau kalah oleh orang lain, tapi pernah nggak kita jujur kepada diri kita sendiri, seberapa mampu sih kita bermain di pasar modal ini ? dan seberapa yakin kita bisa survive dengan hanya mengandalkan kepada Feeling serta beberapa perangkat analisa dengan nama yg hebat-hebat dan aneh untuk trading ?

    Coba lihat monitor itu deh, dari mana datangnya tekanan jual dan tekanan beli itu ? itu semua kan bisa di rekayasa oleh siapapun, sementara grafik atau komputer tidak mempunyai analisa ke situ dan hanya bertumpu kepada angka yg tertera aja, dan apakah itu yg akan menjadi dasar kita untuk mengambil keputusan buy atau sel ?

    Untuk para founder yg lagi iseng atau lagi mau bagi2 rejeki dgn securities, biasanya akan memakai portfolio saham mereka yg di simpan atas nama publik untuk kemudian mengatur strategi dgn securities tsb.

    Mungkin anda tidak akan percaya bahwa setiap kali ada penawaran, baik itu jual atau beli akan di awasi oleh mereka karena mereka yg tahu persis di mana posisi saham mereka dan berapa jumlahnya, karena emiten kan punya daftar pemegang saham yg bisa di update setiap hari.

    Jadi mohon maaf kalau saya katakan untuk sebagian besar para pemain yg bermain di saham ecek-ecek dan gorengan, jangan kira anda jago kalau bisa cuan dengan saham ini, anda cuma beruntung karena kebetulan lebih dulu memotong jalur strategi mereka sehingga bisa ikut kecipratan remah-remah duitnya. tapi buat yg kejeblos ? itu resiko anda karena hanya mendengar rumor dan lansung masuk. Ini hampir selalu terjadi terhadap pemain baru.

    ——

    Ini adalah cara2 lama, walaupun masih berkelanjutan hingga sekarang. Hubungan mereka itu telah terjalin sangat lama, Makanya ada saham tertentu yg identik juga dg broker tertentu.

    Memang emiten punya data siapa saja yg suka “sliweran” di saham mereka.
    Makanya jangan coba2 ngaku jadi “bandar kawakan” kalau belon ngerasain digebukin oleh “emiten”.
    Anggaplah itu proses per-”ploncoan” yg harus dilalui biar tahu rasanya melawan “BD tulen”.

    Dengan kata lain, sebesar2nya “follower” mendapat gain dari “sedekah” para BD, yg jelas dibandingkan dg gain “yg punya hajat”, gain mereka jauhhh lebih besarrr….

    Tapi terus terang 4 tahun belakangan ini saya mulai menemukan kelemahan dari sistem kapitalis untuk negara berkembang yg seperti Indonesia ini, tapi untuk memulai diakusi menarik ini saya akan mencoba ber argumentasi dari jawaban Bapak.

    1. Panik Effek itu karena semua orang telah beranggapan bahwa PASAR MODAL adalah indikator ekonomi yang sangat Valid, mangkanya tugas kita lah untuk mulai me sosialisasikan bahwa Pasar Modal, terutama di Indonesia bukan lah indikator indikator ekonomi yang valid atau paling tidak bukanmerupakan satu-satu nya indikator ekonomi.

    2. Saya mungkin bisa memaklumi kebijakan Mentri Keuangan dgn mengatakan sudah menyediakan dana talangan tersebut untuk antisipasi terhadap kepanikan tersebut sehingga market tidak jadi bearish dan saya rasa gertakan Ibu mentri ini berhasil karena hanya kurang dari 10% dari dana tersebut yang terpakai pada akhirnya. (Saya akui ini adalah anti teori untuk menggertak market) sehingga para pelaku buru-buru memborong saham terlebih dahulu dengan harapan kalau pemerintah intervensi maka mereka akan jual dan dapat cuan, sehingga dengan tidak mereka sadari terjadi tekanan beli yg berakibat stabil atau bahkan naiknya harga saham dan pemerintah terutama Ibu mentri kita akan tersenyum kecil seperti yg biasa dia lakukan.

    3. Untuk konsumsi, saya kira karena orang kaya biasanya membeli barang import yg hanya sedikit sekali memberi keuntungan kepada peredaran uang di dalam negeri, dengan adanya penghematan, justru mereka akan membeli produk dalam negri yg notabene murah sehingga peredaran uang di dalam negeri justru bertambah.

    4. CAPITAL OUTFLOW.
    Point ini yang akan saya bahas secara serius.
    Indonesia adalah sorga bagi investor asing, kenapa begitu ? lihat saja kebijakan pemerintah yg kadang justru cenderung memihak mereka.

    Kenapa saya mengatakan bahwa Indonesia adalah sorga bagi investor asing ? karena semua nya tersedia secara melimpah disini, mulai dari Fasilitas yang di berikan pemerintah untuk ber investasi, tenaga kerja yg sangat murah serta yg paling penting adalah pasar yang sangat besar. Ingat Indonesia adalah salah satu negara yg jumlah penduduk nya besar.

    Capital Outflow ? kemana mereka mau terbang ? paling ke Vietnam seperti Nike. Namun pemerintah Vietnam juga sudah mulai memperhatikan kesejahteraan buruh nya, sementara di negara kita para investor itu cukup memperhatikan kesejahteraan segelintir pejabat, maka mereka akan tenang meraup untung.

    Saya mungkin akan di anggap sebagai anti Globalisasi tapi saya akan beri illustrasi sebagai berikut.

    - Di suatu daerah di Indonesia mempunyai potensi sumber daya bahan tambang, sebutkan lah emas. Kemudian Mr. X dari negeri antah berantah datang ke Indonesia dan mengatakan kepada pemerintah bahwa dia akan membangun tambang emas di daerah tersebut, maka langkah-langkah yg dia lakukan adalah :

    1. Membuat satu perusahaan lokal atau tetap memakai nama perusahaan nya. Jika membuat perusahaan lokal maka Mr. X akan memberi rejeki kepada Notaris serta instansi perijinan yg terkait.
    2. Membuat kantor serta merekrut staff. kantor bisa beli atau sewa, staff lokal akan di arahkan untuk kerja administrasi.
    3. Membawa staff dari negara antah berantah untuk menjadi atasan para pekerja lokal, walaupun sebenarnya si orang antah berantah ini tidak bisa apa-apa, tapi karena tidak bisa bahasa Indonesia maka mental terjajah kita akan bilang dia orang pintar.
    3. Membayar pajak serta insentif untuk KP atau Kontrak Pertambangan yg akan di lakukan
    4. Pembebasan lahan tempat akan dilakukan penambangan.
    5. Setelah perusahaan berjalan si Mr. X ini akan membayar gaji untuk beberapa gelintir karyawan lokal serta akan membayar pajak (kalau dia mau dan tidak menyetel laporan pajaknya)

    Keuntungan buat rakyat di sekitar penambangan atau bahkan rakyat yg tadinya memiliki lahan tersebut ? Nol kecil. Mereka akan di usir dari lahan yg tadinya mereka punyai yg seharusnya bernilai secara ekonomis untuk mereka, syukur-syukur dapat ganti rugi yg benar-benar rugi, namun beberapa orang lokal yg menjadi karyawan mendapat gaji yg walaupun jauh jika di bandingkan dengan expatriat yg nggak tau apa2, tapi lumayan lah.

    Keuntungan buat pemerintah ? pajak serta insentif-insentif kecil lainnya seperti restribusi penambangan dll.

    Keuntungan Investor ?
    Semua nya dong, dengan hanya berbekal dana untuk investasi yang terkadang mereka juga dapatkan dari berhutang kepada Bank lokal atau bahkan dari listing di Bursa, mereka sudah bisa mendapatkan :

    - Laba Perusahaan bisa mereka bawa balik ke negeri nya dengan jumlah yg berlipat ganda
    - Bisa mempekerjakan tenaga kelas 3 dari negara mereka dengan gaji bak raja di negeri kita ini.

    Sementara kerugian rakyat dan pemerintah ?

    - Rakyat sekitar penambangan selain tidak mendapat nilai tambah yg sesuai dengan kehilangan hak mereka atas tanah serta potensi ekonomi yang terdapat di bawahnya, mereka juga mendapatkan dampak rusak nya ekosistem dengan telah di tambang serta di galinya tanah di lingkungan mereka.

    - Secara sosial, dengan berdomisili nya para orang dari negeri antah berantah yang mempunyai uang banyak dan di sertai dengan budaya mereka yg berbeda dari budaya lokal, namun karena uang. sosial masyarakat menjadi berubah, terjadi lah pelacuran, di bangunnya tempat2 hiburan dgn tujuan mendapatkan remah2 dari tuan-tuan berduit itu.

    Kembali ke Capital Outflow, kenapa kita selalu menganggap negara kita ini miskin ? coba cari tau deh ada nggak negara lain yang untuk biaya Pemilu saja bisa mengeluarkan uang Trilyunan ? belum lagi untuk kampanye dan money politic nya.

    Coba kalau orang lokal yang menjadi pengusaha tambang tersebut. Apa mereka juga akan melarikan uang nya keluar negeri ? sama dong dengan kasus BLBI. Tapi minimal dampak pemerataan nya akan lebih terasa.

    Apa salahnya pemerintah berkonsentrasi untuk menggalakkan ekonomi yang seperti itu.
    Saya aja sering jadi sedih setiap kali melihat iklan sekolah atau perguruan tinggi yang mengatakan LULUS DIJAMIN DAPAT KERJA.

    Lah mau jadi pekerja semua orang Indonesia ini ? apa tidak ada yang mau menjadi Bos ?
    menjadi pengusaha, mandiri dll ?

    Contoh lain dalam kasus mengundang Investor ini adalah CAREFOUR, sebuah hyper market bermodal besar.

    Tidak ada nya larangan serta pengawasan, membuat perusahaan besar milik Perancis ini telah merambah kemana-mana, bahkan mereka berani mendirikan hypermarket nya berdekatan dengan pasar tradisional.

    Apa yg terjadi ? memang orang lebih suka ke CAREFOUR yg selain ber AC, barang nya lengkap, juga sepertinya bergengsi untuk berbelanja disana.

    Namun apa yang terjadi dengan para pedagang tradisional yg modal nya hanya cukup untu 1-2 hari ? mereka akan tergilas bangkrut, tutup sehingga menimbulkan pengangguran baru.

    Di CAREFOUR sendiri ? memang banyak sekali menyerap tenaga kerja untuk di gaji, namun ada perbedaan yg cukup besar secara kualitas manusia jika kita membanding kan para pekerja tersebut yg hanya makan gaji jika di bandingkan dengan para pedagang kecil yg walaupun mempunyai modal kecil namun memiliki jiwa Entrepeneurship, mandiri dan ada walau tidak mempunyai modal, tapi mereka mempunyai harapan untuk maju menjadi besar. (baca kisah Bob Sadino)

    Ada banyak kasus lain nya yg sebenarnya sudah bisa untuk manjadi contoh serta pelajaran, misal Freeport, Caltex dll yg sangat banyak jika di sebutkan satu persatu. Bahkan saya pernah berbicara lansung dengan seorang pengusaha dari daratan Cina yang membuka penambangan pasir (katanya) di sebuah pulau di Kepulauan Riau.

    Dia bilang begini: “Saya kalau boleh jujur saya akan bilang kasian dengan orang Indonesia yang mempunyai tanah begitu subur, serta kekayaan alam yg melimpah ruah. Saya berusaha di dalam ijinnya memang menambang pasir sehingga saya bisa membawa semuanya tanpa di olah dulu, dan saya bawa ke negara lain, tapi U tau nggak itu pasir kandungan emas dan logam berharga lainnya sangat tinggi. Dan U tau saya hanya perlu membayar gaji karyawan serta biaya perijinan dan pajak kepada pemerintah U, Sisa nya buat saya semua.

    Saya kemudian mencoba berdikusi dengan beberapa teman dari pemerintahan dan tau nggak apa jawaban mereka ? : “ya wajarlah mereka dapat porsi yang besar dari usaha itu karena kita hanya punya bahan sedangkan mereka punya modal dan tehnologi”

    JUST THAT SIMPLE

    Pertanyaan nya apakah benar kita tidak mempunyai modal ? dan apakah kita tidak bisa membeli atau menemukan tehnologi ?

    Nah terserah apakah saya masuk ke dalam kategori Anti Globalisasi atau bukan, tapi itu keluar dari lubuk hati yg di sertai analisa saya yg telah lama saya amati dan percayalah kepada saya, walaupun ada 10 – 20 buah bom lagi yang akan meledak, para investor tersebut tidak akan beranjak dari Sorga mereka ini.

  36. Jhony Irawan

    Waduh,

    Tulisan saya di beberapa millist banyak di kutip ya ? nggak apa-apa, cuman copyright nya milik saya ya.

    Regads,

  37. irzan

    Saya berani mempunyai dugaan seperti itu berdasar dari “modus operandi” yg sudah terjadi sebelumnya…

    Sepanjang ingatan saya, “reputasi” gerombolan ini sbb:

    - Asing (baca kreditur) aja pernah/bisa mereka “garong” yaitu CxxxxxL.
    Siapa bilang asing selalu “menggarong” duit para trader dan investor di BEI?
    BD lokal pun mampu melakukan “penggarongan” terhadap asing sbg “pembalasan dendam” nkali.
    Kekekek…

    - Bank BUMN dg asset terbesar pun sukses mereka “garong” senilai trilyunan…

    - Beberapa saat lalu salah satu emiten di grup mereka ingin “memperdayai” FA (Finansial Advisor) dengan alasan mencari investor ke LN.
    FA nya (katanye org sich terkenal ) pdhl (mnrt saya pribadi) BxGx.
    Bagaimana bisa posisi semula FA bisa berubah menjadi calon buyer dari asset “penggarong” tsb?.
    Proses ini sempat terliput oleh media massa, untungnya pimpinan FA kena stroke, jadi kesepakatan mereka batal.
    Salah satu member OB yg cukup terkenal mestinya bisa cerita banyak tentang hal ini, karena pimpinan FA yg saya maksud adlah boss beliau…

    - Salah satu member OB yg dijadikan referensi utk fundamental A. pernah dijadikan direksi “boneka” oleh emiten di grup tsb.
    Kalau beliau yg merasa saya “tunjuk hidung”-nya mau sharing, kita semua akan dpt kesaksian yg “valid” bgmn “suka duka”nya menjadi “boneka” di sebuah emiten.
    Makanya kalau mau melakukan proses hukum atas CA dg modus “back door listing, hostile take over, etc” sulit untuk dibuktikan…
    Karena person2 di sana lebih sering sebagai “pajangan”.
    Mirip2 lah kek “pasangan” antrian bid offer kalau di monitor hahahaha…

    - Dst…
    Saya yakin contoh di atas sdh cukup SERAM bagi para trader yg kagak pernah ngakui adanya “perbandaran” apalagi “perbandaran di luar monitor”
    Hehehe…

    OOT dikit…
    Bbrp saat lalu ada nggak yg ngikuti proses “perbandaran” bunga Anthurium?
    Itu juga dimotori oleh para BD (di atas) yg selama ini senengnya “maen saham” eh “menggoreng saham”.

  38. yazgülü

    Thank you for this informative article.

  39. aqua investor

    gak cuma BUMI, liat juga garong yg gede2:

    Jakarta – Penawaran tender offer saham yang dilakukan oleh PT Aqua Golden Mississippi Tbk (AQUA) disambut baik oleh investor, penawaran harga saham sebesar Rp450.000 per saham, dinilai sebagai harga yang sangat baik.

    Hal ini diuraikan Hariyajid Ramelam, Analis pasar dari Kapira Sekurindo di gedung BEI hari ini (8/9/2009).

    Bagi investor yang memiliki saham AQUA sebesar 5,65%, sudah saatnya melepas sahamnya. “Selama ini mereka telah melakukan capital gain . Penawaran yang dilakukan perseroan pun sangat bagus,” kata Hariyajid.

    Harga saham sebesar Rp 450.000 merupakan harga tertinggi AQUA dalam 90 hari terakhir. Ini sebelum pengumuman rencana go private pada bulan Agustus, yang sebesar Rp244.800 per lembar saham.

    Pada sisi yang lain, jika investor kecil mempunyai saham namun sahamnya merupakan saham “tidur” tetap saja tidak menguntungkan. “Saham yang tidak liquid justru akan membebankan indeks,” katanya.

    Usaha AQUA dalam go private sempat gagal dua kali. Namun Hariyajid tetap menilai saham AQUA sangat baik. Tentu karena dinilai dari harga per lembar sahamnya. Perlu diingat, nilai yang dipatok perseroan sudah melebihi hasil penilaian independen.

    Namun permintaan kenaikan harga saham tender offer, masih bisa terjadi. “Tapi ini semua perlu melihat kondisi yang ada. Permintaan kenaikan perlu dipikirkan karena pemilik minoritas relatif tidak memiliki kekuatan untuk mendorong kebijakan,” tambah Hariyajid.
    (dnl/dnl)

    http://www.detikfinance.com/read/2009/09/08/195817/1199416/6/investor-sambut-tender-offer-aqua

    maksa banget buat go private?

    pokoknya untuk DANONE tahun ini if u want to go private 1,000,000 per share less than that is un acceptable

    lagian buat apa sich, maksa banget buat go private, sudah jelas kepemilikan kita gak ada artinya didalam struktur AQUA

    i smell something fishy that they want to kick the other shareholder out and withdraw themselves from the bourses so THEY DONT NEED TO GIVE FINANCIAL STATEMENT TO THE PUBLIC

    it’s obvious there’s something they’re hidden here

    GIVE ME CETIAUW, I CLOSED MY EYES AND SHUT MY MOUTH

    lewat pasar nego juga boleh diatur

    kesempatan emas keluar dari saham bangke ,saham aqua sudah jadi saham bangke setelah penawaran to ini , sisanya yg ngga mau ikut to sahamnya bakal jadi saham bangke engga bakal laku di harga segitu lagi , bakal di cuekin sama pihak danone

    kemungkinan senjata terakhir pihak danone untuk memperkecil persentase kepemilikan saham dengan jalan di reverse stock 20 jadi 1 jadi 1 lembar seharga 9 juta , setelah itu di right issue 1 : 10 dengan harga tebus 9 juta perlembar saham , pasti banyak yg engga mau tebus / ngga bisa tebus akhirnya kepemilikannya terdilusi , akhirnya jadilah saham bangke yang termahal yang ngga bakal laku kalau dijual kepublik kecuali ke danone kalau pihak danone masih mau beli atau malah tiap tahun di riverse stock lagi dan right issue lagi sampai berulang ulang biar makin terdilusi dengan sendirinya

    yang gue denger dari insider katanya sich salah satu alternatif yg akan dilakukan kalau to gagal lagi mau di reverse stock hingga harga satu lembar saham menjadi sangat mahal dan sehingga banyak pemegang saham milik retail menjadi kurang dari satu lot , yg akhirnya kalau mau jual harus dijual dipasar nego kemudian di right isue biar banyak yang ngga mampu tebus haknya , yang berakibat terdilusinya seluruh pemegang retail yg ngga mampu tebus , hingga semakin mudah buat go privatnya dan dananya sebagai pembeli siaga sudah disiapkan sekian te te ( jangan ngeres ya… te te yg dimaksud sekian trilyun trilyun bukan te te payudara cewe lhooo…. he..he…he..

    mari bicara fakta

    saat ini ada 316 pemegang saham publik, dari 316 pemegang saham publik itu 220 pemegang saham adalah pemegang saham ODD LOT alias kurang dari 500 lembar, jadi sisanya adalah 96 pemegang saham

    total saham AQUA adalah 13,162,473 lembar jika dikalikan harga 450 ribu maka kapitalisasinya adalah 5,923,112,850,000 kurang lebih 6 T kurang sedikit

    saham yang saat ini sedang diincar adalah 743,383 lembar saja jika dikalikan harga 450 ribu maka uangnya adalah 334,522,350,000 kurang lebih 335 M kurang sedikit

    IMHO, untuk kompensasi uang tutup mulut tutup telinga dan keluar dari keharusan menyampaikan laporan keuangan ke publik 1 juta adalah harga yang wajar

    tentu saja bisa saja dilakukan reverse stock berkali kali, tapi tetap saja tidak ada gunanya, karena TUJUAN UTAMA DANONE adalah UNTUK MENGHINDARI KEHARUSAN MELAKUKAN PELAPORAN LAPORAN KEUANGAN KE PUBLIK

    we know what you want and i hope you know what i want

    give me 1 million per share, i would gladly get out and forget all about this

    gw pernah baca kapasitas pompa air untuk pabrik AQUA…, trus gw hitung berapa banyak mereka bisa jual dari tabung galon saja…, ngeri gw bayanginya. Company ini mungkin kalau dibilang untung diatas 1T pertahun bukan omong gede juga. Itupun kalau pabrik mereka hanya beroperasi 8-12 jam per hari.

    Kasian petani2 disekitar pabrik mereka. Indonesia adalah negara dengan sumber air tawar terbesar ke 5 dunia…, tetapi masih banyak kekeringan. Water management kurang bagus.

    LET DANONE CONTROL THE INDONESIAN BOTTLING WATER?

    jika petinggi Danone baca posting ini, i know they know what we both know :))

  40. Sewa Projector Murah

    Perusahan seperti harus ditutup karena bukan menguntungkan tapi merugikan investor

  41. alem sohbet

    Nice informative article thank you

  42. okky

    menurut saya krisis 2008 akan terulang kembali saat seperti th 1929 dimana 1932 bursa sahan akan kembali ambruk karena krisis ini belum sepenuhnya pulih apalagi di indonesia masih dipenuhi hot money investor asing….

  43. Amir

    Thanks for your article, niche good

Looking forward to hear your thoughts.